Lompat ke isi

Nyali untuk Bertaut/Pahlawan

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas

Aku bingung tentang perasaan ini, ingin kuungkapkan namun rasa malu selalu menemaniku. Kadang aku berpasrah. Seakan berserah tentang kenyataan. Kadang tak selalu mencintai itu indah, namun yang kuyakini, cinta itu indah, hanya bagaimana cara kita melakukan cinta itu. Aku tak benar-benar yakin bisa mendapatkanmu, karena tak ada tanda-tanda bahwa dirimu mencintaiku. Mungkin berhenti mencintaimu adalah cara yang terbaik.

Malam ini bintang mulai bermunculan, langit tampak begitu indah setelah hujan membasahi kota Banyuwangi. Pukul tujuh malam, usai melepaskan lelah, aku memutuskan menepati janji untuk berkunjung ke rumah Hosea. Sore yang tadi sepi berubah ramai, orang-orang lalu-lalang setelah hujan reda. Aku membawa sebungkus daging ayam yang rencananya akan kami bakar malam ini, mungkin sekalian menginap di rumahnya. Malam Sabtu kali ini sepertinya akan penuh cerita.

Perjalanan menuju rumah Hosea terasa menyenangkan. Lampu-lampu jalan berwarna kuning berjajar rapi di pinggir jalan, kedai kopi tampak ramai dipenuhi obrolan hangat, sementara pasangan muda tertawa-tawa sambil berjalan beriringan. Semua itu memberi nuansa yang damai.

Namun, mataku tertuju pada sosok di bawah pohon besar, berdiri sendiri di tengah kegelapan. Gadis berseragam sekolah, wajahnya muram, menunduk, dan basah kuyup. Aku menyalakan lampu motor, dan jantungku sontak berdegup kencang. Itu Pitaloka. Aku tercekat, merasa bersalah, dia belum juga pulang karena hujan deras tadi.

“Pitaloka...” ucapku pelan, berhenti tepat di depannya. Wajahnya kusam, baju basah, sepatu penuh lumpur. Hatinya pasti lelah.

“Ayo naik,” kataku singkat. Ia tak banyak bicara, langsung duduk di jok belakang.

“Maaf ya...” bisikku lirih. Angin malam seakan membawa kata-kataku pergi begitu saja. Perasaan bersalah makin mengikatku. “Mau ikut aku ke rumah Hosea?” tanyaku hati-hati.

“Aku ingin pulang. Aku capek sekali,” jawabnya singkat. Aku mengerti. Tanpa banyak bicara, kuputar gas lebih cepat. Tangannya meraih ujung bajuku, berpegangan erat, mungkin dalam hatinya ia berteriak agar aku tak ngebut.

Sesampainya di rumah, ia turun. “Terima kasih ya, Tlap... maaf merepotkan,” katanya lembut. Ucapannya justru membuat rasa bersalahku semakin dalam.

Ibunya sudah menunggu di teras, wajahnya tampak cemas. Ia langsung menghampiri kami.

“Dari mana saja?” tanyanya tegas, matanya menatapku penuh tanya.

“Aku ketemu Pitaloka di jalan, Bu,” jawabku gugup.

“Bukannya biasanya pulang bareng kamu?” nada ibunya meninggi.

“Tadi saya nggak bawa motor, Bu... jadi Pitaloka pulang sendiri. Barusan saya sama teman,” jelasku, meski hati bergetar.

Aku buru-buru pamit, perasaan bersalah menyesakkan dada. Mungkin ini terakhir kalinya aku bisa mengantarkan Pitaloka pulang. Motor kembali kupacu menuju rumah Hosea, yang entah sudah menungguku sejak tadi.

“Dari mana aja, Tlap? Lama banget, aku kira kamu diculik tuyul,” celetuk Hosea yang udah berdiri di depan rumah dengan gaya bapak-bapak komplek.

Aku jelasin panjang lebar soal drama nganterin Pitaloka pulang. Sambil cerita, raut wajahku jadi mendung kayak cuaca di musim hujan.

“Makanya aku telat ke sini,” kataku sambil menghela napas, lebay banget.

“Oalah… gitu toh. Terus itu apa? Bawa keresek kayak habis belanja di pasar,” kata Hosea, nunjuk ke plastik yang aku pegang.

“Nah ini… bahan bakar kebahagiaan malam ini. Kita bakar-bakar ayam, bro! Lumayan buat isi perut yang udah mogok kerja,” jawabku penuh semangat kayak lagi iklan makanan.

“MANTAPP! Ayo GASS!” Hosea langsung loncat ke dapur, kayak anak kecil habis dikasih uang jajan.

Malam itu kami sibuk jadi “chef dadakan” di depan rumah Hosea. Ayam dioles bumbu ala kadarnya, setengahnya gosong, setengahnya masih kayak ayam hidup. Tapi ya sudahlah, yang penting bisa dimakan. Kami ketawa ngakak sambil cerita segala hal, dari Pitaloka, sampai gosip kelas yang absurd.

Sungguh, Hosea ini teman yang asik banget. Gak ada jaim-jaiman, bahkan pas ketahuan ayam bakarannya lebih mirip “ayam asap edisi gagal produksi,” dia malah bangga.

***

Bermalam di rumah Hosea itu rasanya kayak nginep di rumah sendiri. Orang tuanya ramah banget, bahkan aku sempet dikira sepupu jauh. Aku tidur nyenyak sampai pagi, bangun dengan rambut awut-awutan kayak singa jantan.

Sabtu pagi, aku berangkat sekolah cuma bawa tas yang isinya campur aduk: baju kotor semalam, buku, sama sisa keresek ayam gosong. Tasnya penuh, pundak rasanya kayak dihimpit galon.

Di parkiran, aku lihat Pitaloka turun dari sepedanya dengan wajah sendu ala drama Korea. Aku refleks teriak,

“Pitaloka…!”

Dia nengok datar, ekspresinya kayak lihat iklan sabun cuci piring. Aku dekati dengan muka cemas.

“Kamu semalem gimana?” tanyaku serius.

Dia cuma jawab singkat, “Aku gapapa. Ayo masuk, pelajaran mulai.”

Langsung jalan duluan, aku sama Hosea cuma jadi figuran yang ngikutin dari belakang.

***

Pas jam pelajaran, aku gak tahan. Aku bisik-bisik ke Pitaloka, “Kamu marah, ya?”

Dia lagi sibuk nyatet di papan tulis, terus nengok dengan dahi berkerut.

“Marah? Enggak lah. Aku keliatan marah?”

Aku menatap dia dari samping, sok-sokan romantis. “Lah, kok cuek banget?”

Pitaloka tiba-tiba nyengir nakal. “Hahaha, terserah aku dong. Udah, nanti kamu gak usah nganterin aku lagi deh.”

Aku langsung melongo. “Serius nih? Beneran?”

Dia cuma lempar senyum penuh misteri. “Lihat aja nanti…”

Aku bengong. Lah ini cewek maksudnya apa? Bikin penasaran doang.

Suasana yang tadinya redup tiba-tiba jadi kayak lampu disco, gara-gara tawa Pitaloka pecah lagi. Sumpah, suaranya kayak alarm motor tetangga, bikin suasana langsung rame. Aku jadi inget hari pertama ketemu dia. Heran juga, biasanya aku cuek kayak tembok pagar, tapi entah kenapa sama dia aku jadi gampang ketawa.

Ya sudah lah, aku ikutin aja alurnya. Kalau kata pepatah, “ikut arus aja, jangan malah jadi batu nyangkut di sungai.” Mungkin memang lebih enak ketawa bareng orang konyol kayak dia daripada tenggelam sama pikiran sendiri.

Hari Sabtu memang hari paling top, pulang sekolah lebih cepat, bisa leha-leha, bisa juga begadang sampai ayam tetangga stress. Rencana awal, habis sekolah mau langsung tidur siang. Maklum, tidur itu kan hobi paling murah dan enggak butuh modal bensin.

Aku pulang sendirian kali ini. Rasanya agak aneh, biasanya ada Pitaloka yang suka nebeng atau Hosea yang suka ngajak ngobrol nggak jelas. Sekarang sepi, jadi ya aku curhat aja ke angin. Siapa tahu angin bisa jawab.

Sampai rumah, tiba-tiba ada suara sepeda nyelonong masuk ke halaman. Aku nengok, eh ternyata Pitaloka dengan senyum sok manisnya. Astaga, cewek ini nggak punya mode “off” apa gimana sih? Dia berhenti depan rumahku, teriak nyebut namaku kayak lagi jualan cilok.

Aku langsung bengong. “Lah, ini cewek kok ada aja ulahnya?” pikirku. Dari sekian banyak makhluk hidup di bumi, kenapa harus Pitaloka yang mampir?

“Ngapain kamu ke sini?” tanyaku, agak ketus, biar kelihatan sangar dikit.

“Yaah… kalau nggak boleh aku pulang aja deh…” jawabnya sambil manyun kayak kucing abis diguyur air.

“Ya boleh sih. Yaudah masuk aja…” ucapku, pura-pura males, padahal dalam hati: Yah, ribut lagi deh rumah ini.

“Bu, ini ada temenku,” panggilku ke ibu yang lagi serius nonton sinetron.

Eh, bukannya malu-malu, Pitaloka malah nyelonong akrab. Ngobrol sama ibu kayak udah kenal 10 tahun. Aku sih cuek, langsung kabur ke kamar. Rencananya tidur, tapi telingaku kegatelan juga, jadi aku nguping.

Duh, mulut Pitaloka ternyata kayak speaker aktif. Semua rahasiaku di kelas, kebiasaanku, sampai cara aku tidur… dia beberin ke ibuku. Ya Allah, ini bocoranku parah banget. Daripada emosi sendiri, aku akhirnya memutuskan tidur beneran.

Pas bangun, aku kira rumah udah sepi, tanda Pitaloka cabut. Eh, pas mau ke dapur ambil minum, aku malah nemuin hal yang bikin shock, Pitaloka lagi masak bareng ibuku!

Aku diem di pintu, melongo. “Astaga naga… ini anak bukan cuma nebeng ngobrol, tapi udah nebeng jadi menantu latihan?” Aku langsung curiga, jangan-jangan selama aku tidur, dia udah ngatur-atur isi kulkas juga.

***

Bisnis toko yang didirikan orang tuaku mulai dibangun di lahan yang cukup luas, katanya biar “ada investasi masa depan.” Tapi kalau jujur, buatku itu sama aja artinya: tenaga gratis dari anak sendiri. Jadi, ya sudah, aku pun jadi buruh tak bergaji di proyek keluarga.

Pitaloka? Jangan ditanya. Dia nggak cuma sekali mampir ke rumahku, tapi hampir setiap pulang sekolah nongol aja tuh di halaman. Kadang aku curiga, jangan-jangan dia udah hapal jadwal pintu pagar rumahku kebuka. Anehnya, dia ikut juga dalam urusan pembangunan toko. Minimal bikin minum buat para tukang. Meski sering kali minumannya kebanyakan gula, kayaknya tukang-tukang itu lebih semangat kerja gara-gara kena diabetes kilat.

Lama-lama, Pitaloka makin akrab sama keluargaku. Udah kayak anak kos numpang di rumah orang, main terus sampai kelas sembilan SMP. Aku bahkan sempat mikir, jangan-jangan dia nggak punya basecamp lain selain rumahku. Atau mungkin, rumahku emang udah jadi kafe gratis buat dia nongkrong.

Suatu sore, setelah ngos-ngosan ikut bantu ngangkut kayu (padahal cuma mindahin satu papan, tapi gaya udah kayak mandor), aku tiduran di teras. Angin sore lewat, bikin aku mikir kayak lagi di iklan minuman dingin. Pitaloka duduk di sampingku, tenang banget, kayak nggak ada dosa sudah bikin aku jadi satpam rumah sendiri.

Aku akhirnya membuka percakapan, mumpung ibu lagi di dalam rumah dan nggak bisa jadi CCTV kami.

“Pit, aku mau nanya deh. Kenapa sih kamu ke sini terus? Serius, apa nanti pas SMA juga bakalan gini?” tanyaku sambil megang teh hangat buatan dia, yang jujur rasanya agak kayak air sirup encer.

“Entahlah, Tlap. Aku nyaman aja gini,” jawabnya sambil senyum tipis.

Aku menyeruput teh itu, nelen pelan-pelan, lalu nanya lagi.

“Tapi Pit, dari kelas delapan lho kamu gini terus. Nggak bosen apa?”

Dia cuma jawab singkat lagi.

“Nyaman aja.”

Seketika aku bengong. Rasanya kayak nanya rumus Matematika ke guru, tapi jawabannya cuma, “yaudah, gitu aja.”

Akhirnya aku diem. Mau marah males, mau nanya lagi juga percuma. Kadang aku mikir, aneh juga ya, punya seseorang yang selalu nongkrong di rumah kita tanpa alasan jelas. Tapi di sisi lain, aku juga mikir, “Ya udahlah. Syukur ada yang mau nemenin aku jadi asisten rumah tangga magang.”