Lompat ke isi

Nyali untuk Bertaut/Pahlawan di Tugu Pahlawan

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas

.Setelah kamu membuatku gila, akhirnya kau membayarnya

Nana

[sunting]

Dalam pikiranku yang kian melamun, kuputar lagi ingatanku, namun dalam hatiku merasakan rasa syukur dapat diselamatkan nyawaku oleh seseorang. Entah mungkin rumahku malam ini ramai jika tubuh ini dicium oleh bibir truk tadi siang. Untungnya ada pahlawan yang membuatku merasa behutang budi kepadanya, cowok itu. Kuputar terus, dari pertama aku melihatnya sampai kami berpisah. Ingin aku menanyai namamu tadi, tapi ya sudahlah, pasti kita akan bertemu di sekolah.

Doa seperti apa yang harus kupanjatkan untukmu mas? Terima kasih yang seperti apa yang mampu membuatku tak berhutang seperti ini? Apakah aku harus memohon, Ya Tuhan, temukanlah aku dengan seorang cowok yang tadi menolongku, sekadar mengembalikan botolnya yang tertinggal padaku. Seakan sulit untuk memohon bila tak mengerti namanya, hanya teringat paras wajahnya yang lucu.

Sebenarnya aku bisa menemuinya di hari Senin, kutahu dia satu sekolah denganku, karena dia mengenakan seragam yang sama denganku. Namun murid di SMP-ku juga banyak, sehingga aku tak tahu dia kelas berapa, apakah kelas 8 sama denganku? Aku mulai merinding, wajahnya gentayangan terus dalam setiap napasku. Aku berusaha untuk sejenak beristirahat melupakannya yang ada semakin menjadi-jadi. Kenapa aku ini? Tidak biasanya seperti ini.

Terus termenung di tengah kota, rautku tak seperti biasanya. Aku tetap termangu dan kusimpan dalam-dalam perasaan ini dan hanya gila dalam halusinasiku sendiri. Membuat angan-angan yang seakan mustahil aku miliki. Semakin aku tak pandai menutupi perasaan hatiku, semakin meluap seperti rebusan air. Terima kasih mas…

Pukul 19.00, rasanya bosan. Terdiam dalam kamar, malam minggu yang biasanya keluar bersama Oca, kini dia ada acara penting dengan pacarnya yang sekian minggu mejalani LDR, ya…satu bulan sekali mereka bertemu. Kucoba memejamkan mata, untuk menemui mimpiku. Siapa tahu dalam mimpiku dapat bertemu mas yang menolongku tadi siang.

Dari dalam rumah, terdengar suara gemuruh, tampak para pemuda menyiapkan tubuhnya untuk bermalam Minggu di tengah kota. Dengan ribuan kejenuhan, aku ingin berkelana walau hanya sendiri. Mungkin kali ini aku harus bersahabat dengan kesendirian, tanpa Oca. Kulihat langit membuatku merasa ditemani. Terlihat bintang dan bulan seakan menemaniku di kala tak ada yang kuajak mengobrol. Tak terlalu banyak awan yang menutupi, namun seperti malam-malam biasanya, tetap hangat dan tak terlalu dingin.

Aku bangkit untuk menghias diri, memakai parfum dan membasahi rambut ikalku agar lebih segar. Memakai baju lengan panjang, agar tak terlalu kedinginan. Celana kulot melekat dalam pahaku. Membawa uang secukupnya, karena kutahu tak ada orang yang kutraktir, karena kadang Oca selalu membawa uang sedikit bila keluar denganku, ah … menjengkelkan.

Aku mencengkeram setir sepedaku dan perlahan kukeluarkan dari dalam rumah. Kutemui ayah dan ibu untuk berpamitan. Kumenyalakan mesin sepedaku, perlahan berjalan sambil menyapa tetangga sekitar. Berjalan sendirian dengan santainya. Sambil mengikuti arus pikiran yang tetap saja muncul paras cowok misterius itu, kusebut saja sementara dengan sebutan, Mas Lucu, karena ekspresi yang cengengesan-nya.

Aku tak tahu harus ke mana, kucoba ke utara entah sampai mana aku memberhentikan sepeda ini. Kunikmati setiap tempat yang terlewati. Kupandangi dari kiri dan kanan. Melihat para muda-mudi bermesraan, membuat iri perasaan, dan membayangkan bila dia dapat seperti itu suatu saat nanti.

Berkilo-kilo meter jalan kulewati, kumenikmati tepi jalan terdapat lampu kuning yang begitu cantik, menghiasi kota ini. Semakin aku berjalan, semakin lama semakin macet. Padatnya tak dapat untukku putar balik. Apa lagi berhenti. Aku berada di tengah jalan raya dengan kemacetan yang parah. Tepatnya di Tunjungan. Macet ini membuatku semakin kesal. Sambil berjalan perlahan, aku melihat-lihat sekitar, mungkin saja aku bertemu dengan seseorang yang aku kenal, bahkan bila tak keberatan, aku akan ikut gabung dengannya.

Kemacetan membawaku Menuju Tugu Pahlawan, dengan tugu yang menjulang tinggi, terlihat gagah dari kejauhan, aku tak sengaja melihat satu titik yang tidak aku sangka melihat cowok yang ada dalam pikiranku. Cowok yang mencemari pikiranku dengan ribuan pertanyaan, dengan bayangan parasnya, dengan rasa rindu yang sulit tertahan. Kemacetan tatap terjadi, jarakku dan dia begitu jauh. Sekitar tiga puluh meter, aku terus memandangimu Mas Lucu. Tak ingin aku lepaskan pandangan ini.

Aku berusaha mendekatinya, namun jalan membuatku semakin kesal. Seakan memisahkan antara aku dan dia. Aku jarak tak mendukungku? Aku melihat dia sedang bersama temannya, aku perlahan mengikutinya dari belakang walau hanya sekitar tiga puluh meter. Dia terlihat berbelok dan menuju ke Tugu Pahlawan, yang kebetulan aku juga akan ke sana. Dia berbaju hijau, dengan temannya yang berbaju hitam. Warna bajunya yang gelap, membuatku harus lebih jeli lagi agar tidak kehilangan jejaknya.

Macet ini membuatku membuang menit-menit berhargaku. Waktu yang terbuang oleh jarak, membuatku berpisah dengan pandanganku ke cowok itu. Aku kehilangan jejaknya. Namun aku berkeyakinan bahwa dia akan ke tugu pahlawan. Yang sangat aku takutkan adalah, bila ternyata dia tidak ada di sini. Atau mungkin hanya berhenti sejenak lalu pergi. Aku ketinggalan jejaknya, sudahlah, masih ada hari Senin untuk bisa bertemu.

Tiba-tiba seseorang menampar pelan pundakku. Sontak sedikit kaget aku memutar leher untuk mencoba melihat siapa yang menyentuhku. Apa yang kucari akhirnya dapat kutemukan. Perasaanku seakan tidak karuan. Seperti tak memedulikan bulan yang bersinar dengan binarnya, atau sang mentari yang terbenam di sore hari.

Aku mencoba terdiam dan tak mengawali dengan kata-kata. Namun senyumku kupasang dengan segala perasaan yang menggumpal hingga tenggelam dalam hatiku yang paling dalam, tak terseret oleh arus waktu, tetap dalam perasaan yang sama. Ketika senyumnya terlontar, tentu aku masih memasang raut muka kaget.

“Mas yang tadi kan?” tanyaku sebagai bahan utama pembicaraan. Aku tahu dia pasti mengerti jawaban atas pertanyaan yang kulemparkan menuju telinganya. Namun dari tutur pertamanya, memang ada sesuatu yang ingin dia katakan.

“Woy…botolku! Waduh…akhirnya ketemu juga, kamu bawa apa tidak?” sontak pikiranku pecah dengan logatnya yang kocak, ya ampun, kukira ada apa.

“Ya ampun mas, gak aku bawa, hari Senin ya mas?” kuucapkan dengan sumringah.

“Yaudah, tolong dijaga ya, itu botol keramatnya ibunya Matlap,” ujar salah satu temannya. Ooo…jadi namanya Matlap, yah…panggilan Mas Lucu udah gak kupakai deh.

“Iya…” jawabku dengan singkat, namun senyumku tak lepas dari bibirku, tatapan mataku tak berpaling dari wajahnya. Tetap fokus pada kedua matanya yang indah dan bersinar terpantul oleh cahaya kuning oleh lampu sekitar.

“Terima kasih Mas, tadi udah. . .” belum selesai aku bicara, langsung dipotong.

“Bagaimana tanganmu? Masih sakit? Maaf ya!” ucapnya dengan bumbu panik, ya ampun Mas Matlap, masih sempat menanyakan kondisi tanganku, padahal sudah tidak kenapa-kenapa, tapi aku mencoba cari perhatian darinya deh, hehehe.

“Masih sakit sih, tapi gak apa-apa, yang penting nyawaku masih bisa selamat,. . .” jelasku yang sebenarnya tertawa dalam hati.

“Lain kali hati-hati, maaf juga terlalu keras dalam menasihatimu, oh iya, kamu bawa botolku?” tanyaku sambil sedikit mengangkat alisku.

“Aku bawa pulang tadi, ada kok di rumah, tenang, aman kok. . .” ucapnya dengan tawanya, giginya terlihat putih, matanya tetap mengilat dan indah.

“Na. . .ayo!” seseorang sekitar sepuluh meter memanggilnya. Sontak aku teringat bahwa aku akan menanyai namanya.

“Ya udah Mas, aku duluan, aku udah dipanggil temenku,” dia terburu-buru dan mulai melangkah kakinya ke arah temannya. Sontak aku mulai cemas dan gelisah. Pertanyaan yang aku rancang begitu banyak, seakan amburadul.

Sontak dalam benakku ada pertanyaan yang paling penting. “Namamu siapa?” teriakku ketika dia berjalan cepat sambil melambaikan tangannya. Kepalanya sedikit menoleh ke arahku, sambil tersenyum lebar.

Kami berbincang dan berkenalan sekalian dengan teman-temannya, ternyata mereka semua kocak, padahal leluconnya tidak terlalu lucu, namun mereka semua bisa tertawa terbahak-bahak. Aku memperkenalkan diri pada mereka, begitu pula mereka, ternyata mereka semua adalah kakak kelasku, kelas 9.

“Besok pagi pukul tujuh tepat, aku tunggu di Balai Kota Surabaya, cari aku ya!” ucapnya dengan sedikit memberikan senyumnya. Teman-temannya langsung menahan tawa, dan pura-pura tidak mendengar ucapan Mas Matlap.

“Akan aku usahakan, mas” singkatku menganggukkan kepalanya. Sontak mataku melebar dan alisku terangkat naik. Aku mendengus perlahan karena dengan senang hati aku menerima tawarannya, tapi aku berlagak jual mahal, hahaha... .