Lompat ke isi

Nyali untuk Bertaut/Sahabat Pemilik Hati

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas

Perasaan yang lama kujaga, telah dimiliki oleh seseorang yang lebih tepat, mungkin aku bukan cerminan seorang wanita dengan paras cantik dan hati lembut, seakan tak pantas dengan hatiku yang tak selembut dia. Kuikhlaskan kebahagiaanmu walau tak bersamaku. Kita jadikan sejarah tentang cerita kita, dan akan sangat bersyukur bila waktu dapat membuat kita lupa.

Aku kembali ke hotel untuk berkemas. Entah sampai kapan hati yang sendiri ini harus bertahan. Kadang aku bahkan bertanya pada diriku sendiri, jangan-jangan jodohku memang belum lahir ke dunia.

Siang itu, ketika aku hendak pulang kembali ke Banyuwangi, lift hotel terbuka. Nana keluar dengan wajah penuh cemas, napasnya tersengal seperti habis berlari. Ia langsung menghampiriku.

“Suamiku… kecelakaan,” katanya terbata, air matanya hampir jatuh.

Tanpa pikir panjang, kami bergegas menuju rumah sakit yang tak jauh dari hotel. Di ruang tunggu, aku menemaninya. Suaminya sedang ditangani dokter, sementara aku hanya bisa menunggu dengan sabar. Waktu terasa berjalan lambat. Aku sempat keluar membeli makanan, lalu kembali, namun semuanya masih sama, belum ada kepastian.

Sore tiba, kabar yang datang bukanlah kabar baik. Nana harus menginap di rumah sakit malam itu. Ia menangis, tangis yang terasa berat, seolah ada sesuatu yang ia sembunyikan. Perlahan, aku memancingnya agar jujur.

Kecelakaan itu membuat suaminya lumpuh. Dokter mengatakan, pemulihan akan butuh waktu lama, bahkan mungkin tak akan kembali seperti semula. Suaminya sudah sadar, bisa diajak bicara, dan Nana akhirnya menceritakan siapa aku. Ia bilang akulah orang yang menemaninya ke rumah sakit. Tak lama, suaminya meminta untuk bertemu denganku.

Aku ikut Nana masuk ke kamar rawat. Saat melihat wajah pria itu, jantungku berhenti sejenak. Aku terpaku, tubuhku kaku, ingatanku berputar mundur ke masa lalu. Lalu mata kami bertemu, tajam, dalam, sekaligus membingungkan.

“Ho… Hosea?” bibirku bergetar.

Ya, suami Nana adalah sahabat SMP-ku dulu di Banyuwangi. Aku hampir tak percaya. Semua kenangan lama berkelebat di kepalaku. Aku ingat betul, Hosea pernah bercerita tentang perempuan yang sangat ia cintai, perempuan bernama Nana.

Kini, takdir membawaku ke hadapan mereka berdua.

Dalam perbincangan panjang yang penuh haru, Hosea mengakui kelumpuhannya membuat ia merasa tak mampu lagi menjaga Nana. Dengan suara yang berat, ia mengatakan sesuatu yang membuat dadaku sesak:

“Aku ingin kamu yang menjaga Nana. Aku ingin dia bersama lelaki yang bisa membuatnya bahagia. Jangan pikirkan aku, aku sudah cukup tahu bahwa aku tidak bisa lagi menjadi suami yang seutuhnya.”

Aku terdiam, tidak tahu harus berkata apa. Hatiku seperti diremas. Bagaimana mungkin aku merenggut rumah tangga sahabatku sendiri, sekalipun dengan restunya?

Hosea melanjutkan, suaranya lirih namun tegas, “Nana masih suci, dan aku rela bila ia menikah denganmu. Aku tidak ingin ia menderita bersama suami yang lumpuh seperti aku.”

Air mataku hampir pecah mendengarnya. Hatiku dipenuhi rasa bimbang. Aku selalu mencintai Nana, sejak lama, sejak dulu. Dan kini, ia seperti ada dalam genggamanku. Tapi dalam waktu yang sama, aku juga merasa menjadi pengkhianat.

Aku berpikir keras, bergulat dengan diriku sendiri. Hingga akhirnya, aku menerima permintaan Hosea.

Malam itu juga, Hosea dan Nana bersepakat untuk bercerai. Namun anehnya, meski aku akan segera memiliki wanita yang selama ini aku puja, hatiku tidak tenang. Bayangan Hosea, dengan segala kebaikan dan ketulusan hatinya, terus menghantuiku.

Malam itu aku belajar satu hal: terkadang cinta datang bersama luka, dan bahagia pun bisa terasa seperti pengkhianatan.

Dari sore sampai malam aku terus melamun, seperti orang lagi nungguin undian berhadiah yang tak kunjung diumumkan. Seakan aku lebih baik menderita daripada bahagia di atas penderitaan orang yang dulu pernah baik padaku. Malam pun tiba, perceraian sudah di ujung acara, tinggal pencet tombol Enter aja rasanya. Aku sempat terdiam, seperti orang lupa password email, mikirin hasil renunganku.

"Aku… aku nggak jadi deh," kataku.

Mereka bengong. Aku ulangi lagi biar jelas, "Aku minta perceraian ini dibatalkan, karena kalau lanjut aku nggak akan bisa bahagia. Aku nggak tenang lihat Hosea menderita. Lagian Hosea orangnya baik, sabar, dan kalau lagi lapar pun masih bisa senyum. Aku yakin Nana bakal bahagia sama dia."

Hosea langsung bengong campur haru, Nana juga sempat melotot tapi akhirnya ikut setuju. Perceraian batal, aku merasa jadi pahlawan ala sinetron tapi versi diskonan. Setelah itu aku pamit, katanya mau balik ke Banyuwangi. Di kepalaku sudah ada rencana besar: kejar Pitaloka, nikahin, hidup bahagia selamanya. Ending yang kelihatan indah banget di bayangan.

Aku pulang ke Banyuwangi dengan langkah bak pemenang lomba lari, ketemu ibu, langsung kupeluk sambil bilang, "Bu, siap-siap ya, sebentar lagi punya menantu cantik." Tapi wajah ibu malah kusut kayak baju nggak disetrika. Dia masuk kamar, bawa sebuah amplop undangan. Deg! Undangan pernikahan Pitaloka… sama orang lain!

Hatiku langsung kayak HP jatuh ke bak mandi, nyala sih masih nyala, tapi suaranya sember. Aku masuk kamar, kunci pintu rapat-rapat, mulai nangis di atas diary. Tangisku sampai belepotan kena kertas, jadinya mirip kaligrafi abstrak. Aku nulis terus, curhat curhat curhat, kayak status Facebook tahun 2010.

Dua jam nulis, aku udah kayak penulis skripsi yang dikejar deadline, bedanya nggak ada dosen pembimbing. Badan lelah, mata bengkak, akhirnya ketiduran.

Besoknya aku sadar, undangan itu sudah lewat dua hari lalu. Fix, aku kalah start. Pitaloka resmi jadi milik orang lain. Aku merasa jadi laki-laki paling bersalah, kayak tukang servis yang bikin barang makin rusak.

Akhirnya aku jalani hidup sendirian. Dari umur 20-an sampai kepala 30, tetap jomblo akut. Ibuku sempat nunggu cucu, tapi nggak kesampaian sampai beliau meninggal. Tinggallah aku sendiri di rumah, tanpa istri, tanpa anak, cuma ada setia dengan… kipas angin yang berdecit tiap malam.

Kerja keras iya, uang ada, tapi tetap aja rasanya hampa. Di umur 32 ini aku cuma bisa pasrah. Kadang kupikir, mungkin Tuhan memang menggariskan aku bukan buat punya pasangan, tapi buat jadi penulis diary kelas berat.

"Kadang hidup nggak kasih kita apa yang kita mau, tapi kasih kita banyak bahan buat jadi stand up comedy gratis."