Lompat ke isi

Nyali untuk Bertaut/Sebuah Kenangan

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas

Aku terus menggerutu senang dalam batinku. Memberimu sebuah kenangan yang entah akan kamu jaga atau tidak. Aku membalut hari-hariku dengan bayanganmu, terasa indah memang merasakan cinta yang pertama. Entah akankah cinta ini ada ujungnya? Aku masih berjalan beberapa langkah dari tempat aku memulai, aku juga tidak tahu, sampai tempat apa aku berbaur dengan kesedihan. Dalam reluh riuh tetap bayanganmu yang menggelora. Kuingat cahaya kuning terpantul dalam bola netramu. Tampak indah aku memujimu, cantik, seperti yang pernah kubisikkan padamu.

Matlap

[sunting]

Satu Hari Kemarin

Satu hari kemarin sudah cukup membuatku senyum semringah, seakan dunia tiba-tiba menjadi ruang yang lebih terang dari biasanya. Entah cerita apa yang menantiku hari ini? Akankah aku kembali tersesat tanpa menemukan ujung? Kadang aku berharap, agar kisah ini memang tak pernah berujung. Biarlah aku tetap terperangkap dalam labirin cinta pertama, cinta yang polos namun penuh rasa penasaran.

Aku runtuh di dalam hatinya. Segala keadaan tak lagi kupedulikan, seolah hidup hanya memiliki satu pusat, yaitu dia. Entah apakah ada orang lain yang merasakan kegilaan yang sama sepertiku? Banyak orang mungkin akan menertawakan, menganggap cinta anak SMP hanyalah cinta monyet, sekadar suka, sekadar kagum, lalu hilang seperti asap. Tapi aku percaya, jodoh memang sudah ditulis, meski untuk meraihnya, terkadang tak cukup hanya menunggu. Ada langkah yang harus diambil, ada jemputan yang harus dilakukan.

Seperti hari-hari sebelumnya, matahari kembali menyapaku. Namun ada yang berbeda di pagi minggu ini. Kota yang kucintai terasa lebih hidup, mungkin karena di dalamnya ada seseorang yang kini membuat jantungku berdetak lebih kencang.

Mimpi yang singgah semalam justru menendangku keluar dari selimut, menyuruhku bersiap lebih cepat dari biasanya. Jika hari minggu biasanya kupakai untuk tidur panjang, kini aku terbangun lebih awal, dengan satu tujuan yang membuatku tak bisa diam: menemuinya.

Ayah dan ibuku menatapku penuh heran. Mereka tahu aku tak biasa keluar sepagi ini. Hanya saja, mereka memilih diam, membiarkanku sibuk dengan persiapanku.

Aku kenakan kaos putih sederhana, celana hitam, lalu sabuk bermotif tengkorak yang sebenarnya tertutup oleh kaosku. Entah mengapa, sabuk itu selalu kupakai hanya di momen-momen tertentu, seakan menjadi simbol keberanian yang kusimpan diam-diam. Rambutku kutata dengan rapi, meski aku tahu angin di jalan dan helm motor akan segera merusaknya. Tapi tak apa, setidaknya aku memulai dengan niat yang baik.

Ibu sempat memperhatikanku dari pintu kamar, tatapannya seperti menyimpan tanda tanya. Aku hanya bisa membalas dengan senyum kikuk, lalu menyemprotkan parfum berlebihan ke seluruh tubuh, sampai kamarku penuh wangi yang menusuk.

“Buk, aku main,” teriakku, sambil perlahan mendorong motor ke halaman.

“Mau ke mana? Tumben sepagi ini,” suara ibuku terdengar penuh curiga.

“Hehehe…” aku hanya menjawab dengan senyum yang tak bisa kusembunyikan, mencoba menutupi degup yang semakin kencang di dada.

Mesin motorku meraung pelan, menunggu dipacu. Jam di ruang tamu menunjukkan pukul 06.47. Masih cukup waktu. Aku bisa berangkat santai, meski sebenarnya ingin cepat-cepat bertemu dengannya.

Di depan rumah, aku sempat menyapa beberapa tetangga. Senyum terbaik kuberikan, sapaan sopan kulontarkan, sekadar menjaga adat dan kebiasaan kampung yang hangat. Sementara itu, langit biru pucat masih menggantung, dengan hawa dingin yang menyeruak masuk ke paru-paru, memberi kesegaran yang jarang kurasakan di hari minggu. Biasanya, minggu adalah hari untuk bermimpi panjang di atas kasur. Namun kali ini berbeda, semua ini karena Nana, gadis yang tanpa sengaja membuatku semakin gila.

Tujuanku jelas: Ondomohen. Aku telah berjanji untuk menemuinya di Balai Kota Surabaya. Di sepanjang perjalanan, pikiranku dipenuhi tanda tanya. Bagaimana jika ia lupa? Bagaimana jika ia tak datang? Haruskah aku menanggung kecewa seorang diri?

Aku menepis ragu itu. Kucoba menambah kecepatan. Lebih baik aku yang menunggu, daripada membiarkan dia sendirian menunggu kehadiranku.

Bangunan Balai Kota mulai terlihat di kejauhan, sekitar dua puluh meter di depan mata. Riuh ramai sudah menyambut, orang-orang berjubel, menambah tantanganku untuk bisa menemukannya. Sesaat, keyakinanku goyah. Ada bisikan kecil dalam hati: mungkinkah aku tak akan berjumpa dengannya hari ini?

Namun di balik kegelisahan itu, aku masih menggenggam harapan. Harapan sederhana, yang justru membuat hidupku pagi itu terasa penuh makna.

***

Nyari parkiran di Balai Kota itu bikin geregetan. Rasanya kayak drama malam Minggu, muter-muter nyari slot kosong yang nggak ketemu. Bedanya, kali ini bukan malam, tapi pagi yang pelan-pelan berubah jadi panas. Surabaya memang nggak pernah kasih keringanan, matahari baru nongol sebentar aja udah kayak api di atas kepala.

Aku nggak mau Nana kepanasan karena aku. Biar aku aja yang repot, yang keringetan, yang capek.

Aku muter dari ujung ke ujung, masuk sedikit ke dalam, nyisir tiap sudut. Rasanya kayak satpam keliling, bukan cowok yang lagi nyari cewek. Duduk santai? No way. Itu cuma buang waktu. Aku terus jalan, berharap setiap langkah bisa mempertemukanku sama Nana.

Lima belas menit pertama masih oke. Tapi setelah lewat setengah jam, kakiku mulai protes. Kayak ada paku besar yang nancep di telapak kaki. Mungkin karena aku nggak sempet peregangan, atau karena semangatku ketinggian dari pagi.

Haus makin jadi-jadi. Tenggorokan kering banget. Aku nyeret langkah ke warung kecil, beli air putih dingin. Rasanya kayak dikasih oksigen lagi. Mau pesan makanan, tapi langsung mikir: gimana kalau pas aku makan, Nana datang? Bisa-bisa dia nungguin aku dengan perut kosong. Akhirnya aku cuma duduk sebentar, pijat kaki, sambil celingak-celinguk nyari sosok yang kucari.

“Sekali lagi deh. Kalau masih nggak ketemu, aku nyerah,” batinku.

Eh, baru jalan tiga langkah, mataku langsung nemuin dia. Nana. Berdiri di bawah pohon sama temennya. Bajunya biru, warnanya seadem langit malam yang tenang.

Seketika semua capek hilang. Kesel karena nunggu lama juga ikut lenyap. Aku langsung ngebut jalan, nyelip-nyelip di kerumunan. Keringat udah kayak hujan di badanku, tapi nggak penting. Yang penting aku nemuin dia.

Jarak tinggal lima meter. Dia lagi nengok ke sekeliling, jelas-jelas lagi nyari aku juga. Begitu tatapannya ketemu mataku, aku kasih senyum paling tulus yang aku punya.

Aku ulurin tangan buat nyapa mereka. Jujur, aku sempet mikir pertemuan ini cuma bakal berdua. Ternyata ada temennya juga, jadi aku harus hati-hati ngomong, biar nggak salah tingkah.

“Baru dari mana? Kok baru nongol sekarang?” tanyaku, sok santai padahal dalamnya dag-dig-dug.

“Maaf…” jawab Nana sambil nyengir kecil. “Tadi sibuk di rumah, beres-beres, cuci baju, terus jemput temenku dulu…” Wajahnya kelihatan capek, tapi tetap aja manis.

Aku tarik napas panjang, coba nenangin diri. Nggak boleh ada kata-kata yang nyakitin dia, walaupun aku udah setengah mati nahan capek.

“Udah makan? Ayo aku traktir Sate Kelopo,” ajakku sambil nyembunyiin rasa laparku sendiri.

Nana langsung nunduk, pipinya agak merah. Temennya malah lebih dulu jawab, “Boleh!” kayak orang kelaparan. Aku cuma senyum ngerti.

“Yaudah, ayo, keburu habis,” kataku sambil balik badan, ngajak mereka jalan.

Kami sempet mampir ambil sepeda mereka. Nana sama temennya naik sepeda, aku jalan di depan, kayak penunjuk jalan. Panas, keringet, capek, semua jadi nggak terasa. Hari Minggu ini jauh lebih berarti daripada tidur sampai siang. Semua gara-gara Nana.

***

Aku masih mikirin gimana caranya kasih kalung ini. Rasanya kayak lagi bikin strategi perang: harus melawan malu, harus jaga muka, apalagi di depan temennya Nana. Aku bingung banget, kata-kata apa yang harus aku keluarin biar nggak terdengar kayak drama FTV murahan.

Kami akhirnya duduk di salah satu warung Sate Kelopo yang lumayan sepi. Aku pesen tiga porsi, nyuruh mereka duduk duluan. Dari jauh aku lihat mereka bisik-bisik sambil senyum-senyum kecil. Entah mereka ngomongin aku atau nggak, tapi kupingku auto panas.

Setelah pesenan kelar, aku duduk di samping Nana. Tanganku kaku, lidahku lebih kaku lagi. Bingung harus ngomong apa.

“Oh iya, aku lupa nggak bawa botolnya,” kata Nana tiba-tiba dengan wajah datar.

Aku langsung nyengir, sok cool, padahal dalem hati: Yes! Dia ngomong duluan!

“Tenang aja, di rumah aku masih punya. Itu juga kalau kamu mau bawa, nggak masalah kok,” jawabku lembut sambil nyuri-nyuri tatap matanya.

Lalu temennya tiba-tiba berdiri, “Aku ke kamar mandi dulu ya, Na!”

Dalam hati aku teriak: YESSS, ini saatnya!

Aku langsung maju sedikit, suaraku mengecil, “Na… sebenarnya aku ada yang mau aku bilang. Dari tadi nahan malu karena ada temenmu.”

Dia menatapku, alisnya nyatu kayak lagi mikir keras. “Iya?”

Aku deg-degan setengah mati. “Kamu kok mau ketemu sama aku?”

Dia menarik napas pelan, lalu jawab dengan serius, “Aku percaya sama kamu. Kamu udah nyelametin aku kemarin. Mungkin kalau nggak ada kamu, aku nggak tahu gimana…”

Aku diem. Rasanya kayak ada soundtrack heroik yang tiba-tiba main di kepalaku. Tapi jujur, aku agak ragu, apa ini perasaan beneran, atau dia sekadar balas budi?

Aku akhirnya nekat. “Na, aku punya sesuatu buat kamu.”

Pelan-pelan aku lepas kalung dari leherku. Aku pandangi sebentar, lalu kasih liat ke Nana. “Aku pengin kamu pake ini. Jangan dilepas ya. Sampai nanti, jauh ke depan.”

Nana senyum. “Makasih…”

“Izinin aku yang makain, ya,” kataku, setengah grogi setengah pede.

Aku maju, tanganku gemeteran waktu ngaitin kalung di lehernya. Dan di saat momen paling dramatis itu… ibu pemilik warung tiba-tiba nongol sambil bawa sate.

Aku langsung beku. Si ibu jelas-jelas nahan ketawa ngeliat aku pasang kalung kayak lagi lamaran murah meriah di pinggir jalan. Muka rasanya pengen kututup pake piring sate. Tapi aku pura-pura santai, tetap fokus makain sampai terpasang.

“Aku suka,” kata Nana pelan. Lalu tiba-tiba dia nanya, “Oh iya, aku belum tahu namamu.”

“Matlap,” jawabku sambil senyum. Baru aja selesai ngomong, temennya balik dari kamar mandi. Otomatis aku langsung salah tingkah, buru-buru nyomot sate, kunyah pelan-pelan biar nggak keliatan panik.

Obrolan ngalir seadanya. Aku sempet nanya dia kelas berapa, rumahnya di mana, tapi jawabannya singkat-singkat. Sampai akhirnya dia bilang harus pulang karena ibunya udah nunggu.

Aku agak kecewa, tapi nggak bisa maksa. Aku cuma sempet nanya dengan hati-hati, “Aku boleh minta fotomu nggak? Buat kenang-kenangan?”

Nana diem sebentar, lalu pura-pura nyari kunci sepeda di sakunya. “Eh, coba liat di sepeda, ya,” katanya ke temennya. Begitu temennya pergi, Nana buru-buru buka dompetnya, ngeluarin satu foto kecil. Foto dia pake baju putih dengan kerudung putih, wajahnya kelihatan bersinar.

Aku langsung ambil dan simpan cepat-cepat ke saku baju. Dalam hati aku sadar: pura-pura nyari kunci itu cuma akal-akalan. Dia memang sengaja pengin kasih fotonya ke aku.

“Na, di sepeda nggak ada,” laporan temennya begitu balik.

“Udah ketemu kok,” jawab Nana enteng. “Cepetan makan, aku ditunggu ibu.”

Aku cuma bisa senyum puas. Meskipun pertemuan ini singkat, aku pulang bawa sesuatu yang lebih dari sekadar sate. Aku bawa kalung yang sekarang ada di lehernya, dan foto yang diam-diam kusimpan di saku.

Dan yang paling penting, aku bawa harapan.

***

Nana dan temannya akhirnya selesai makan. Aku buru-buru bayar ke kasir warung, lalu kami keluar bareng.

“Maaf ya, Tlap. Aku harus pulang, nggak bisa lama-lama. Sampai jumpa besok di sekolah,” kata Nana sambil mengerutkan alis.

Aku senyum kecil, “Hati-hati ya. Makasih juga udah nemenin, meski sebentar.”

Dia senyum, “Terima kasih ya, Tlap.”

Aku cuma bisa mengangguk, lalu berdiri memandangi mereka yang sudah naik sepeda. Mataku terus mengikuti sampai mereka benar-benar hilang di kejauhan. Begitu sepedanya nggak kelihatan lagi, baru aku sadar: aku sendirian, berdiri canggung di depan warung, kayak orang habis ditinggal ojek online.

Akhirnya aku memutuskan pulang lebih awal. Hari ini luar biasa banget, bisa ketemu Nana dan kasih kalung itu. Tapi aku sadar, aku nggak boleh terlalu agresif. Aku bukan tipe yang jago soal cinta, malah jujur aja, baru kali ini aku ngerasain perasaan sekuat ini.

Kadang aku mikir: ini cinta apa jebakan? Rasanya aku terikat kuat, tapi dia mungkin biasa aja.

***

Hari Minggu siang. Aku rebahan di kasur, terus mengulang-ulang adegan kemarin. Kayak film yang diputar ulang di kepala, cuma bedanya nggak bisa di-pause.

Tapi tiba-tiba muncul keraguan: gimana kalau semua harapanku ini sia-sia? Gimana kalau dia nggak pernah mikir apa-apa soal aku? Duh, pusing.

Aku ambil kertas, coba nulis rangkaian kata buat besok. Saking niatnya, kayak lagi nyusun pidato presiden. Tapi begitu dibaca ulang, kok malah terdengar kayak puisi lomba 17-an.

Satu jam kemudian, kertas sudah penuh coretan. Tanganku pegal, kepalaku juga pegal. Aku cuma bisa bengong, nanya ke diri sendiri: “Apakah aku lagi jatuh cinta… atau lagi ketipu sama perasaan sendiri?”

***

Hari Senin datang. Aku berangkat lebih pagi dari biasanya. Biasanya aku ahli telat, langganan barisan khusus siswa bermasalah di lapangan upacara. Tapi hari ini aku berubah 180 derajat, siap datang awal. Semangatnya cuma satu: ketemu Nana.

“Bro, kalian nggak bosen telat mulu? Tiap hari dihukum, capek kan?” kataku sambil ngumpul bareng Munir dan Mamat.

Mereka langsung curiga. Munir nepak pundakku, “Tumben kamu rajin? Ada apa, cerita deh.”

Aku menghela napas. “Kalau aku cerita, kalian paling cuma kepo.”

Mamat nyolot, “Nggak lah! Kita kan sahabat. Kalo ada masalah bilang, jangan dipendem sendiri.”

Aku pura-pura cool, “Udah, nanti aja di kelas. Ayo berangkat!”

Aku starter motor, tancap gas. Rasanya kayak film aksi, tapi versinya anak sekolah mau ngejar cinta.

Sampai sekolah, aku langsung heran: ternyata dateng pagi itu rasanya aneh. Satpam masih seger, guru-guru juga belum bete. Malah beberapa guru ngeliatin aku kayak liat hewan langka. Mungkin mereka kaget: Matlap nggak telat? Apakah kiamat sudah dekat?

Upacara dimulai. Aku berdiri rapi di barisan, bukan di tempat khusus “kaum telat”. Rasanya agak canggung, tapi juga bangga.

Masalahnya, dari tadi aku nyari Nana. Nengok ke samping, ke belakang, bahkan sempet ngintip barisan kelas lain. Nihil. Nggak ada.

Jangan-jangan dia nggak masuk? pikirku.

Upacara makin panas, matahari Surabaya makin kejam. Aku berdiri sambil melamun. Bukannya dengerin pidato pembina upacara, aku malah sibuk mikir: Nana kelas berapa sih? Gimana caranya ketemu? Apa aku harus ngecek kelas satu-satu?

Dan di situ aku sadar: cinta ternyata lebih melelahkan daripada dihukum lari keliling lapangan.

***

Upacara akhirnya selesai. Anak-anak langsung bubar masuk kelas setelah sekian lama berdiri di lapangan.

Masih ada waktu sekitar tiga puluh menit sebelum pelajaran pertama dimulai. Aku duduk di kursi dengan wajah bingung. Mamat dan Munir langsung nyamperin.

“Coba cerita deh, sebenernya ada apa sih?” tanya Mamat sambil nepak pundakku.

Aku cuma diem sebentar, tarik napas, terus merem sejenak buat nyusun kata-kata.

“Jadi gini, Sabtu kemarin tuh aku kan keluar beli cilok. Nah, terus…” aku pun cerita panjang lebar soal aku dan Nana. Aku berharap banget mereka bisa kasih solusi.

Munir nyeletuk, “Kalau emang suka, ya bilang aja. Nanti nyesel loh kalau keburu diambil orang.”

Aku langsung nyeletuk, “Tapi caranya gimana?”

“Yaudah, pulang sekolah nanti langsung ajak dia jalan. Kalau nggak ketemu, tungguin aja di gerbang,” jawab Munir, nada suaranya bikin aku agak semangat lagi.

Bel masuk berbunyi. Pelajaran jalan kayak biasa, tapi di jam istirahat aku masih belum nemu Nana. Aku sama Mamat dan Munir sampai muter-muter sekolah ke mana-mana.

Karena nggak enak terus ngerepotin mereka, aku mutusin buat ke kantin. Lumayan lah isi perut buat tenaga nanti pulang sekolah.

Waktu berjalan, pelajaran selesai. Jam menunjukkan hampir jam satu siang. Aku pun berdiri di depan gerbang sekolah, nungguin Nana.

“Nana, kamu di mana sih Na?” batinku. Gerbang rame banget, motor sama anak-anak jalan kaki berdesakan keluar. Aku celingak-celinguk, nyari sosoknya.

Tiba-tiba, tujuh menit kemudian, aku lihat dia keluar sambil megang botol minumku.

“NANA!!” teriakku heboh sambil ngelambaiin tangan. Dia nengok. Aku langsung nyamperin pelan-pelan di tengah riuhnya anak-anak pulang.

“Kamu ada acara nggak?” tanyaku begitu sampai di depannya.

“Nggak. Kenapa?” jawabnya sambil sedikit mengernyit. “Oh iya, ini botolmu,” ucapnya sambil ngasih botol yang ternyata udah keisi penuh.

“Kamu yang isi ya?” tanyaku agak kaget.

“Iya, biar kamu nggak kehausan,” jawabnya sambil senyum lebar.

Rasanya… duh, nggak bisa dijelasin.

“Ayo ikut aku bentar. Aku ambil motor dulu, ada yang mau aku omongin,” ujarku sambil sempat menggenggam tangannya sebentar. Tapi karena masih banyak orang, aku langsung lepas lagi.

Pas di parkiran, aku sempat ketemu Mamat dan Munir. Mereka cuma bilang, “Sukses ya bos,” sambil nepak pundakku sebelum cabut dengan sepedanya.

Sekarang tinggal aku dan Nana. Aku pasang helm, nyalain motor, lalu ngajaknya naik. “Ayo.”

Kami pun meluncur ke Taman Bungkul. Cuaca panas bikin aku gas motor agak kenceng biar cepat sampai.

Sampai sana, aku parkir lalu jalan bareng dia. Aku cari tempat yang agak sepi, dan akhirnya nemu kursi kosong di bawah pohon.

“Eh, tuh ada kursi kosong. Yuk duduk situ,” ajakku.

Kami duduk. Nana naruh tasnya di pangkuan, lalu nanya, “Kamu mau ngomong apa sih?” sambil senyum tipis.

Aku tarik napas panjang. “Aku bingung mulai dari mana…”

Deg-degan banget. Tapi akhirnya aku beraniin.

“Na, semenjak aku kenal kamu, rasanya aku… gila. Serius, gila banget. Padahal baru dua hari, tapi rasanya kayak udah kenal dua tahun. Buat aku, nggak ada yang lebih spesial dari kamu.”

Aku ngomongnya pelan, sambil terus natap ke depan. Jujur, aku nggak berani langsung encar matanya.

Dia langsung melongo. “Maksudnya?”

Aku akhirnya berani nengok ke wajahnya. “Aku suka sama kamu, Na. Lebih dari yang kamu bayangin. Aku pengen kamu ada di sisiku, bahkan… seutuhnya.”

Jantungku rasanya mau copot.

Dia diem sebentar, lalu senyum tipis. “Kalau jodoh, pasti ketemu. Kamu nggak usah maksa cinta terlalu dalam, nanti gampang sakit.”

Aku bingung harus jawab apa. Akhirnya keluar pertanyaan polosku, “Kamu suka aku juga nggak?”

Dia malah nanya balik, “Emang sepenting itu jawaban aku?”

Aku tambah gelisah. “Aku cuma nggak tahan, Na. Aku harus bilang, karena selama ini aku nyiksa diri sendiri. Tiap jalan aku inget wajahmu. Baru kali ini aku ngerasain cinta yang segede ini.”

Nana narik napas, lalu bilang pelan, “Mending kita temenan aja. Kalau pacaran, ujung-ujungnya bisa sakit. Aku udah anggap kamu pahlawan, Tlap. Kamu beda dari yang lain, aku nyaman sama kamu. Coba pikir, sekarang kita ada masalah nggak?”

Aku geleng. “Nggak.”

“Nah tuh, berarti aku masih di sisimu kan?” katanya sambil senyum.

Aku makin lemes.

Percakapan berlanjut, sampai akhirnya aku kasih dia foto dan minta ditulisin sesuatu. Dia pun nulis namanya plus kalimat yang bikin aku terdiam:

“Bila kita ditakdirkan bersama, jarak, waktu, suasana, tak akan jadi halangan.”

Aku baca pelan-pelan, lalu nanya, “Kalau takdirnya kita nggak bersama?”

Dia menatapku tajam, tangannya mengepal. “Lawan takdir itu. Terobos takdir itu!”

Aku kaget sekaligus terharu. Dari situ aku ngerti, kalau aku beneran mau sama Nana, aku harus siap berjuang habis-habisan.

***

Aku mengeluarkan foto pemberian dari Nana dan sebatang pulpen. “Na. . .tolong tuliskan nama lengkapmu di balik foto itu, atau mungkin kamu boleh memberikan tanggal atau kata-kata terbaikmu” kuberikan foto dan pulpen itu padanya.

Nana menuliskan namanya dan juga sebuah kata-kata. “Nana Juminah, bila kita ditakdirkan bersama, jarak, waktu, suasana, tak akan menjadi halangan besar.” aku membacanya dengan perlahan memahaminya.

“Kata-katamu bagus, Hmm coba kamu tafsirkan,” pintaku.

“Ya kalau kita berpisah suatu saat nanti, kalau takdir mengatakan kita akan bersama, kita juga akan bersama,” jelasnya.

“Kalau takdirnya kita tidak bersama?” tanyaku dengan cemas dan menatap wajahnya.

“Lawan takdir itu, terobos takdir itu!” Ikrarnya dengan tegas dan matanya menatap tajam mataku, dengan tangannya yang mengepal membuatku semakin bersemangat. Aku paham betul apa yang dia katakan. Aku perlu berjuang dengan keras bila ingin mendapatkan Nana.

***

“Udah sore nih, ayo pulang, antar aku ke rumah temanku aja, ada PR yang harus aku kerjakan sama dia,” pintanya. Aku segera bangkit dari tempat duduk, dan kami mulai berjalan menuju tempat parkir untuk mengambil sepeda motor.

Hari ini terasa indah, walaupun jawaban Nana tak seperti apa yang kubayangkan. Aku mensyukuri masih bisa berada di samping Nana. Aku tak peduli apakah dia juga menyukaiku apa tidak, yang terpenting, aku masih bisa melihat senyumannya.

Aku mengantarkannya seperti apa yang dia minta. Aku pulang dengan perasaan lega. Pulang dengan senyuman, bahkan aku merasakan hal yang lebih baik dari sebelumnya.