Nyali untuk Bertaut/Suasana Baru
Terlalu singkat bagiku. Aku tak menyesal dapat kenal denganmu, seakan keadaan begitu kejam, aku tak benar-benar yakin kehilanganmu, aku tetap meyakini, bahwa dalam hatiku masih kutemui dirimu.
Hari-hari terus berjalan, dan aku sudah tak lagi terlambat seperti biasanya. Kini aku berangkat lebih pagi, menyapa hangatnya matahari yang perlahan melangkah menuju siang. Namun, hari-hariku seperti telah diwarnai oleh sesuatu yang berbeda, cinta. Bukan cinta yang bisa kugenggam sepenuhnya, melainkan cinta yang hanya mampu kupeluk dalam doa, berharap bisa bersamanya selamanya.
Seminggu belakangan terasa begitu indah. Aku tak lagi hanya ditemani Mamat dan Munir, sahabat laki-lakiku, kini ada Nana yang hadir sebagai sahabat perempuan yang begitu kusayangi. Kami sering berkumpul bersama, tertawa lepas seakan mereka semua adalah keluargaku sendiri. Mamat dan Munir pun menerima Nana dengan hangat. Semuanya terasa nyaman, apalagi saat Nana ada di sampingku.
Jumat malam, seperti biasa aku berbaring di atas kasur tipis setinggi satu jengkal sambil menonton televisi. Tapi malam itu suasana rumah berbeda. Ayah dan ibu duduk di ruang tamu dengan wajah cemas, seolah membicarakan sesuatu yang penting. Aku tak begitu peduli, sampai akhirnya ibu memanggilku.
“Matlap!” teriaknya lantang, mungkin dikira aku sudah tertidur.
Aku bangkit, melangkah ke ruang tamu, lalu duduk di kursi kecil yang hanya muat untuk satu orang. “Ada apa, Bu?” tanyaku, mencoba tenang meski rasa penasaran mulai mengusik.
“Semoga kamu bisa menerima ini, Tlap,” kata ibu, suaranya pelan tapi terasa berat.
Aku semakin penasaran, menyiapkan hati untuk mendengar.
“Ibu di Surabaya sudah tidak punya siapa-siapa lagi. Kakek, nenek, semua sudah tiada. Pamanmu, ommu, mereka semua tinggal di luar kota. Karena itu… ibu berencana menjual rumah ini dan pindah ke Banyuwangi. Uangnya akan ibu jadikan modal usaha, nanti usahanya bisa kamu teruskan. Jadi setelah lulus SMA, kamu tak perlu repot mencari pekerjaan.”
Kata-kata itu membuatku terdiam. Dadaku sesak. Pikiranku langsung berlari pada satu hal—Nana. Bagaimana dengannya? Bagaimana dengan kebersamaan yang baru saja tumbuh indah ini?
“Aku masih betah di Surabaya, Bu,” ucapku lirih, mencoba menahan kecewa.
Ibu menatapku dengan tatapan dalam. “Kamu mungkin belum bisa ikhlas sekarang, tapi ini yang terbaik untuk kita semua.”
Aku hanya bisa terdiam. Seakan tak ada ruang untuk membantah. Aku baru saja merasakan indahnya jatuh cinta, tapi kini harus menghadapi kenyataan pahit. Benar kata orang, tak ada cinta tanpa rintangan.
Malam itu aku masuk ke kamar, merebahkan diri sambil menatap foto pemberian Nana. Senyumnya begitu manis, seolah menenangkan sekaligus menyiksa. Dalam hati aku berandai, andaikan aku bisa benar-benar memiliki hatinya.
“Tak ada cinta tanpa pengorbanan,” bisikku dalam hati, mencoba menguatkan diri.
Namun pertanyaan itu terus menghantui: apa yang harus kukatakan pada mereka? Bagaimana aku bisa meninggalkan Nana, Mamat, dan Munir begitu saja? Mereka sudah menjadi bagian penting dalam hidupku. Yang bisa kulakukan hanyalah berdoa, semoga semua berjalan baik, meski hatiku terasa berat.
***
Besok mungkin jadi waktu terbaik untuk menjelaskan semua masalahku. Aku ingin, sebelum benar-benar pergi meninggalkan mereka, bisa menikmati setiap detik bersamanya. Aku tahu suatu saat nanti aku akan merindukannya, lebih dari sekadar rindu. Seakan ada separuh ragaku yang hilang. Aku sendiri belum tahu bagaimana harus menerima kenyataan itu.
Pagi itu aku berangkat sekolah dengan wajah yang lebih muram dari hari sebelumnya. Senyum tak lagi singgah di bibirku. Rasanya air mata sudah tak sabar ingin pecah, tapi aku tahan. Aku masih belum percaya kalau aku benar-benar akan meninggalkan mereka. Sungguh, ini seperti mimpi buruk yang nyata.
Seperti biasanya, aku mampir dulu ke kosnya Mamat, yang letaknya tak jauh dari sekolah. Sejak Nana mulai bersahabat dengan kami, ia pun sering ikut ke sana sebelum berangkat bareng.
“Nanti pulang sekolah aku mau bicara sesuatu. Tapi aku mau ajak kalian ke tempat yang pas,” ucapku setelah semua berkumpul.
“Tumben serius, biasanya nggak gini,” sahut Munir sambil menoleh penuh penasaran.
“Aku nanti nggak bisa langsung, harus jenguk saudaraku dulu di Jemursari,” keluh Nana, membuatku berpikir keras.
Aku terdiam sebentar, mencoba merancang ulang rencana.
“Memang mau ke mana, Lap?” tanya Munir lagi.
“Aku… mau ajak kalian ke stasiun Semut,” jawabku sambil menunduk.
“Gini aja, kalian berangkat dulu. Nanti aku nyusul, paling lambat jam dua aku udah bisa ke sana,” kata Nana dengan senyum tipisnya.
“Ya udah gitu aja,” timpal Mamat sambil mengenakan sepatu.
Aku masih belum tenang. “Tapi aku nggak tega kalau kamu jalan sendiri, Na. Aku jemput deh. Di mana? Kasih detailnya.”
“Lebay kamu, Lap. Nanti aku di rumah sakit, cari aja nama Nur Syafaat di kamar Mawar, nomor tujuh,” jelas Nana perlahan.
Aku sebenarnya ingin sekali membawa mereka ke stasiun. Di sana aku bisa melihat orang-orang yang datang dengan suka cita, sekaligus pergi dengan air mata. Tempat di mana pertemuan dan perpisahan bertemu. Entah kenapa, hatiku merasa aku harus membawanya ke sana, meski mungkin hanya buang-buang waktu.
Saat kulirik jam tanganku, sudah pukul 06.56. Aku kaget, ternyata kami terlalu lama ngobrol. Bisa dipastikan hari ini terlambat lagi. Aku membonceng Nana seperti biasa, sementara Munir membonceng Mamat. Motor kami melaju kencang, angin menampar wajah hingga baju pun berantakan.
Benar saja, gerbang sekolah sudah ditutup. Sebelum jam pelajaran, siswa wajib ikut literasi pagi. Tapi kebiasaanku yang satu ini, terlambat, seakan tak pernah bisa hilang. Dan kali ini, aku merasa bersalah karena menyeret Nana ikut dihukum.
“Kalian baru aja rajin, kok sekarang terlambat lagi? Sudah, bersihkan kamar mandi lantai tiga. Sekarang juga!” perintah guru pengawas dengan nada tegas.
Aku hanya bisa tersenyum getir. Hukuman itu mungkin jadi salah satu kenangan indah bersama Nana. Kadang, kesalahan bisa berubah jadi manis, kalau di dalamnya ada cinta.
Kami mengerjakan hukuman dengan patuh. Sambil menggosok dinding, aku sesekali melirik Nana. “Na, maaf ya. Gara-gara aku, kamu ikut terlambat.”
“Iya nggak apa-apa. Aku malah baru kali ini ngerasain dihukum gara-gara terlambat. Ternyata nggak seburuk itu,” jawabnya sambil mengepel lantai.
“Oh iya Na, rumahmu sebenarnya di mana sih? Kok nggak pernah cerita?” tanyaku hati-hati.
“Aku tinggal sama Bu De di Jemursari. Nggak pernah bilang, soalnya takut kamu main ke rumah. Aku malu sama Bu De,” jelasnya lirih.
Sekitar sejam kemudian, hukuman selesai. Kami kembali ke kelas. Pelajaran dimulai, tapi buatku, semuanya terasa membosankan.
Pelajaran berlangsung seperti biasa, ya gitu-gitu aja, nulis, dengerin, ngelamun. Aku sampai mikir, mungkin rasa bosan ini harus kunikmati. Siapa tahu, besok-besok aku bakal kangen masa-masa sekarang. Iya, masa sekarang bisa jadi sejarah, sejarah kebosenan nasional versi aku. Kadang aku kepikiran buat berubah, biar sejarah hidupku nggak cuma isinya tidur di kelas sama nunggu bel pulang.
Bel pulang sekolah akhirnya berbunyi, soundtrack paling indah buat anak sekolahan. Aneh, biasanya aku ngerasa jam sekolah kayak abad, tapi hari ini kok rasanya waktu ngebut. Melihat bapak-ibu guru menjelaskan di depan, yang biasanya bikin ngantuk, tiba-tiba aku sadar… duh, nanti aku bisa kangen juga.
Kami keluar menuju parkiran kayak biasa. Aku sibuk nyari Nana, padahal manusia di sekolah banyak banget. Udah kayak nyari jarum di tumpukan siswa. Beberapa menit kemudian, sekolah mendadak sepi, tinggal segelintir orang yang masih nunggu jemputan. Aku masih nggak nemu Nana, sampai akhirnya aku jalan ke parkiran.
Di sana aku lihat Mamat dan Munir lagi rebahan di bawah pohon, gayanya kayak penjaga parkir yang malas kerja.
“Ayo, Tlap, ke stasiun sekarang!” teriak Munir sambil selonjoran di kursi bambu, kayak raja kecil.
“Aku nyari Nana dari tadi, nggak kelihatan,” jawabku dengan wajah cemas, padahal dalam hati aku udah kayak satpam yang kehilangan barang sitaan.
“Udah, santai. Mending ke kos-kosan gue dulu. Tidur-tiduran, makan siang, terus berangkat. Kalau sekarang kita ke stasiun, malah kelamaan nongkrong di sana,” saran Mamat dengan muka kelaparan yang nggak bisa ditutup-tutupi.
“Ya sudah, ayo, sekalian aku juga laper,” kataku sambil naik motor, pura-pura kalem padahal perutku udah orkestra.
Sampai kosan, kami langsung masak. Apa pun bahan yang ada, masuk wajan. Hasilnya? Masakan fusion internasional ala Mamat, nggak ada nama yang cocok buat itu. Tapi dasar anak kos, makanan aneh pun terasa seperti hidangan restoran bintang lima.
Kami makan kayak orang yang baru lepas dari puasa seminggu. Habis itu, efek sampingnya datang: kekenyangan. Kipas angin jadi saksi bisu kami yang tepar berjamaah, sampai kipasnya kayak bingung: “Aku harus ngipasin siapa dulu?”
Aku sendiri bablas, tidur kayak mayat hidup. Mamat dan Munir sudah bangun duluan. Aku? Masih mimpi indah.
“Tlap!!! Bangun!!!” Mamat mengguncangku seolah-olah aku saksi utama kasus kriminal. Aku bangun dengan wajah ling-lung, antara sadar dan nggak.
“Bro, udah jam 13.40! Kita telat! Jemput Nana dulu atau langsung ke stasiun?” kata Munir panik, kayak manajer band yang ditinggal vokalis.
Aku langsung melek.
“Gini aja, kalian ke Stasiun Semut dulu, cari tempat gampang ketemu. Aku jemput Nana di Jemursari. Nggak usah nunggu jawaban, langsung gaspol!” kataku sok tegas, padahal deg-degan setengah mati.
Aku ngebut naik motor, angin sore rasanya kayak tamparan reality check. Di jalan, aku mikir: Astaga, Nana pasti lagi ngamuk sekarang. Duh, dosa apa aku hari ini?
Sampai di rumah sakit Jemursari, aku celingak-celinguk nyari alamat yang Nana kasih. Masuk sendirian, nanya ke perawat-perawat, kayak orang hilang. Sampai akhirnya ketemu kamar yang dituju.
Aku tarik napas, lalu ngetok pintu.
“Permisi, di sini ada Nana?” tanyaku dengan penuh harapan.
Orang-orang di dalam kamar menoleh, wajah mereka datar kayak lagi nonton sinetron jelek.
“Barusan ada… tapi udah pulang,” jawab salah satu ibu-ibu dengan nada santai, seakan-akan barusan ngebahas harga cabai.
Aku kira Nana udah berangkat duluan ke Stasiun Semut. Pas kulirik jam, ternyata udah pukul 14.08. Ya pantes aja dia nggak kelihatan, wong katanya mau jalan jam 14.00. Bisa jadi malah udah duduk manis dari tadi. Panik dong aku, langsung cabut keluar, gaspol ke arah stasiun.
Bayangan Nana nungguin sambil manyun bikin aku tambah salah tingkah. Aku ngebut, nyalip sepeda, motor, sampai truk kontainer. Hampir aja aku jadi bintang berita sore gara-gara keserempet bus. Jantungku copot, mental hampir pindah ke alam lain. Langsung deh kuturunin kecepatan, tarik napas panjang, buang pelan-pelan, biar nggak makin tegang. Tapi, demi Nana, kuputar lagi gasnya, kali ini lebih fokus, sambil doa khusyuk kayak lagi ujian nasional.
Beberapa kilo lagi sampai, mataku jelalatan ke segala arah. Sesampainya di stasiun, sepedaku kuparkir di tempat paling depan, biar gampang lari kalau ternyata Nana sudah nyebelin nunggu lama. Aku celingukan kayak maling yang salah target.
Lima menit kemudian, Mamat dan Munir nongol dengan muka ngos-ngosan.
“Gila kamu, Lap! Hampir aja nyawamu melayang!” kata Munir.
Aku masih sibuk nengok kanan-kiri, nyari tanda-tanda Nana.
Eh, tiba-tiba sebuah taksi berhenti. Dari situ keluar Nana. Aku langsung sprint kayak atlet olimpiade. Tapi senyumku langsung luntur. Nana jalan ke arahku dengan wajah horor, campuran marah, panik, dan, yah, nyaris berlinang air mata.
“Kamu mau mati ya?! Aku tadi di belakang bus, lihat kamu hampir keserempet!” Nana ngomel sambil nyeka air matanya.
Aku kaget, merasa jadi orang paling bersalah di dunia.
“Maaf, sumpah maaf. Kukira kamu udah lama nunggu,” jawabku kayak anak kecil ketahuan nyolong kue.
Nana cuma mendengus, lalu pura-pura buang muka. Aku tambah bingung harus ngapain.
“Udah, ayo masuk ke rel. Mumpung sore, matahari lagi cantik-cantiknya,” kataku mencoba mencairkan suasana.
Nana langsung manyun.
“Kamu nggak malu, Lap? Kita nggak naik kereta, kok malah nyelonong masuk?”
Mamat nyeletuk, “Biarin aja, Nan. Urat malu si Lap udah copot tadi pas nyalip bus.”
Akhirnya kita duduk di kursi ruang tunggu. Aku di tengah, Nana di sampingku, Mamat dan Munir di ujung. Semua heran.
“Kita ngapain sih di sini? Nggak ada yang ditungguin juga,” Nana protes.
Aku cuma bengong, leher nekuk ke bawah, hati dag-dig-dug. Baru bikin Nana marah, sekarang mau ngomong hal penting lagi.
“Cepetlah, keburu aku tidur,” gerutu Mamat sambil selonjoran.
Aku menelan ludah.
“Teman-temanku yang paling baik… aku ajak kalian ke sini supaya lihat orang-orang yang datang dan pergi. Anggap saja latihan.”
“Latihan apaan?” tanya Munir sambil melotot.
Aku menarik napas, wajah mulai serius.
“Ini bakal susah aku ucapin… semoga kalian kuat nerimanya.”
Mulutku seakan terkunci. Kata-kata nyangkut di tenggorokan.
***
Aku menunduk, menutup mulut dan hidungku. Air mata mulai menggenang, dan setiap kali aku berkedip, seolah-olah justru mendorongnya jatuh lebih deras. Jantungku berdetak kencang, seakan menyemangatiku untuk segera bicara.
Tapi aku benar-benar tak sanggup. Suaraku tercekat, hanya air mata yang akhirnya pecah tanpa bisa kutahan. Pipiku basah, dan dengan rasa malu aku menundukkan kepala.
“Kamu kenapa, Tlap?” tanya mereka dengan wajah bingung dan cemas. Aku tahu, mereka menunggu jawabanku, tapi lidahku kelu. Meski sulit, aku memaksa diriku bicara, meskipun setiap kata justru membuat tangisku semakin deras.
“Aku… akan meninggalkan kalian. Tidak lama lagi, aku pindah rumah ke Banyuwangi,” ucapku pelan. Suara stasiun yang riuh membuat mereka harus benar-benar menajamkan telinga.
“Kamu ngomong apa, Tlap? Kamu bohong kan?!” saut Munir dengan nada tak percaya.
Aku menoleh pada Nana. Ia menatapku tajam, wajahnya kaku, matanya melebar. Lalu air mata jatuh begitu saja, membasahi bajunya. Tangannya gemetar saat mengusap pipinya, lalu menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan.
Mamat dan Munir hanya bisa menunduk, berusaha menahan tangis. Tak ada suara lain selain air mata yang berbicara.
“Kamu… pergi kapan?” tanya Nana dengan suara parau, tersendat oleh tangisnya. Ia meraih punggungku, lalu menyandarkan kepalanya di bahuku. “Jangan lupakan kami ya?”
Aku tak tahu harus menjawab dengan kata apa. Setiap kata yang hendak terucap selalu ditelan air mata.
“Mungkin besok adalah hari terakhirku di sekolah,” bisikku sambil mengusap pipiku sendiri.
“Hati-hati ya? Jaga dirimu… jaga hatimu.” Suara Nana begitu dekat di telingaku. Bibirnya bahkan menempel di ujung daun telingaku. “Matlap…” panggilnya lirih, begitu lembut hingga membuatku bergetar. “Aku sangat mencintaimu. Kembalilah… aku butuh kamu.”
Kata-kata itu menancap dalam-dalam di hatiku. Suara yang selalu kudambakan akhirnya kudengar begitu dekat. Bayangan Nana memenuhi pikiranku, tak tergantikan oleh apa pun.
Aku menatapnya, begitu juga dia menatapku. Air mata kami mulai reda, tapi sisa tangis masih jelas terlihat di wajah masing-masing. Aku meraih kepalanya dengan kedua tanganku, menahannya dengan lembut. Segala rasa yang kupendam kutumpahkan dalam satu isyarat: kucium keningnya, tanpa peduli orang-orang di sekitar melihat. Saat itu, aku tak kenal malu.
Kami pulang ketika matahari mulai menurunkan sinarnya, menghadiahkan warna oranye senja. Perpisahan ini harus seindah senja itu, indah meski menyakitkan.
Maafkan aku… aku pernah terbungkus dalam kenanganmu, dan aku tak ingin kau menjadi asing dalam hidupku. Aku benci jarak yang merampas kita. Kuharap, meski terpisah, kau selalu hadir dan menetap dalam ruang mimpiku. Aku mencintaimu.
Seketika mereka berubah, bukan hanya seperti saudara, namun lebih dari arti keluarga, setiap detik mereka suguhkan untukku, aku merasa di sayangi oleh mereka, entah siapa yang bisa menggantikan ini semua.
[sunting]Malam itu, rumah kami penuh kesibukan. Aku, ayah, ibu, semuanya sibuk membereskan barang-barang yang akan dibawa ke Banyuwangi. Kami bahkan menyewa truk untuk mengangkutnya. Pekerjaan itu ternyata tidak mudah, jam sudah menunjukkan pukul satu dini hari, tapi kami masih saja sibuk merapikan rumah. Akhirnya, kami menyerah pada lelah dan memutuskan untuk melanjutkan esok pagi.
Ayah mulai mengurus penjualan rumah, sementara ibu segera menyiapkan surat pindah sekolah. Aku masih sempat masuk sekolah untuk terakhir kalinya. Rasanya berat sekali, meninggalkan mereka yang selama ini begitu banyak berbuat untukku.
Hari itu, Mamat dan Munir tidak jauh-jauh dariku. Apa pun yang kuucapkan mereka turuti. Mereka banyak mengajakku berbincang, penuh canda, penuh senyum. Seakan-akan mereka ingin menjadi senja yang indah, tapi menyimpan perpisahan.
Nana juga sempat menemuiku. Tak tanggung-tanggung, ia datang langsung ke kelasku. Ada yang berbeda darinya hari itu. Senyumnya ia persembahkan khusus untukku, membuat hatiku sedikit lebih tenang. Setiap kata yang keluar darinya terdengar lembut, penuh makna. Aku hanya bisa membalas dengan senyum lebar, meski di dalam hati aku enggan sekali berpisah.
Waktu terasa kejam. Detik demi detik berjalan, tapi seakan berlari. Satu jam terasa hanya satu kedipan mata. Pagi berganti siang, siang berganti sore, hingga aku sadar, aku benar-benar harus pulang. Semua barang sudah siap untuk dibawa ke Banyuwangi. Rumah yang dulu penuh kenangan masa kecil, kini kosong. Sepi. Asing. Bahkan seakan mengusirku.
Kami memesan tiket kereta api, berangkat dari Stasiun Gubeng pukul 04.15 pagi. Sejak saat itu, air mata seakan tak mau berhenti menetes.
Sabtu malam itu, Nana, Mamat, dan Munir datang ke rumahku. Aku tak menyangka mereka masih setia menemaniku sampai detik-detik terakhir. Kukira, hanya sore yang akan memisahkan kami. Ternyata mereka masih di sisiku.
“Na, aku berangkat jam tiga pagi. Memang kamu boleh tidur di sini sampai pagi?” tanyaku cemas, saat kami duduk di teras rumah.
Nana tersenyum tipis. “Aku tadi pamitnya bilang tidur di rumah teman. Aman kok. Yang penting, aku tetap ada di sisimu, hari ini, malam ini, sampai kita benar-benar berpisah.”
Aku tercekat, menggigit bibir, hampir saja menangis. Kami mengobrol, tertawa bersama, seolah-olah semua baik-baik saja. Padahal di balik tawa itu, ada kesedihan yang tak bisa kusembunyikan.
Truk yang membawa barang-barang kami sudah berangkat. Di depan rumah, papan bertuliskan Dijual berdiri mencolok. Hatiku serasa diremas.
Malam itu tubuhku terasa sangat letih. Aku mengambil tikar tipis, satu-satunya yang masih kusimpan untuk kubawa sendiri. Kami membentangkannya di ruang kosong itu, lalu berbaring bersama. Tanpa bantal, hanya beralaskan tikar.
Sekitar pukul sebelas, kami terlelap. Aku bermimpi, seolah pergi ke Banyuwangi bersama mereka. Dalam mimpi itu, mereka tetap menemaniku, menciptakan cerita baru di tanah baru. Sayangnya, itu hanya mimpi. Nyatanya, aku terbangun karena ayah membangunkanku.
Dengan wajah pucat dan mata berat, aku segera membersihkan diri. Udara dini hari begitu dingin, jaket tebal pun tak cukup menghangatkanku. Nana, Mamat, dan Munir juga sama, wajah mereka tampak lelah tapi tetap setia di sisiku.
Taksi sudah menunggu di depan rumah. Aku dan orang tuaku masuk ke dalamnya, sementara sahabat-sahabatku mengayuh sepeda mereka. Saat taksi mulai melaju, hatiku seperti ditarik mundur, menolak pergi. Tapi detik itu juga aku sadar: perpisahan sudah nyata. Aku benar-benar meninggalkan rumah itu, menuju Stasiun Gubeng, Surabaya.
Kulihat di sana, begitu banyak orang menunggu pemberangkatan, wajah-wajah yang sebentar lagi akan berpisah, meninggalkan Kota Surabaya dengan segala kisah dan kenangan yang tertinggal. Suara riuh stasiun, langkah kaki yang terburu-buru, pengumuman keberangkatan yang terdengar sayup-sayup, semuanya berpadu menjadi irama perpisahan yang getir.
Seperti kemarin, aku kembali duduk di kursi tunggu. Di sampingku, Nana menyandarkan kepalanya dengan lembut. Aku mengecup keningnya dengan penuh perasaan, menutup mata sejenak untuk benar-benar merasakan hangatnya.
“Nana… kita memang berpisah, entah kita akan bertemu kembali atau tidak, tapi hati kita tak pernah benar-benar berpisah,” ucapku, dengan suara yang nyaris pecah, menahan air mata yang ingin jatuh.
Kami mengobrol banyak hal. Satu per satu kenangan kembali kami putar, seperti film yang diputar ulang dalam ingatan. Ada gelak tawa, ada getir, ada tangis yang tak bisa dibendung. Air mata mengalir, bukan hanya milik Nana, tapi juga milikku. Seolah-olah waktu mempermainkan kami, memberi kesempatan sebentar untuk tertawa, lalu menitipkan luka dalam hening.
Azan subuh berkumandang, menggema lembut di langit stasiun. Kami bangkit, melaksanakan shalat berjamaah. Seusai itu, jam menunjukan bahwa pemberangkatan sebentar lagi tiba. Hatiku semakin berat, langkah terasa kian tertahan. Ayah dan ibuku sudah lebih dulu masuk, sementara aku masih berada di luar, bersama para sahabat yang tak pernah sekalipun meninggalkanku.
“Na, ingat segala ucapanku ya,” kataku sambil menggenggam pipinya. Wajahnya tampak rapuh, penuh kesedihan.
“Matlap… jangan tinggalin aku…” ucapnya lirih, suaranya serak, matanya menatapku dalam-dalam, penuh air mata. Jarak kami hanya setengah meter, tapi terasa bagai samudra yang sulit diseberangi. Mamat dan Munir hanya menunduk, menyembunyikan wajah yang basah oleh tangis, mencoba menahan suara isakan yang ingin pecah.
Aku menarik Nana ke dalam pelukan, untuk pertama kalinya. Tubuhnya begitu hangat, membuatku seperti kehilangan kendali. Aku ingin terus berada dalam dekapan itu, tak ingin melepaskannya. Nana menangis semakin deras, pelukannya erat, penuh luka perpisahan yang tak terucap. Dia begitu enggan melepas, seolah-olah waktu berhenti di sana.
“Nana… ingat aku. Tunggu aku sampai kembali. Tak peduli seberapa lama itu,” bisikku dalam pelukan yang terasa abadi.
Akhirnya, dengan berat hati, pelukan itu terlepas. Aku bergantian memeluk Mamat dan Munir.
“Badan kalian dingin sekali, kayak orang mati,” candaku, berusaha memecah duka.
“Masih sempat-sempatnya kamu bercanda, Tlap,” jawab mereka, mencoba tersenyum di balik tangis.
Tapi aku tahu, waktuku sudah habis. Aku dihimbau untuk segera masuk. Dengan langkah ragu, aku mulai berjalan. Wajah kami semua redup, seperti kehilangan cahaya. Lima langkah kuambil, lalu aku menoleh ke belakang. Nana berdiri di sana, menangis sejadi-jadinya. Hatiku runtuh. Aku kembali menghampirinya, memeluknya lagi, lebih erat.
“Jangan menangis, Na… kumohon jangan menangis…” ucapku berulang kali, meski tahu kata-kata itu sia-sia.
Aku akhirnya harus melangkah cepat, karena semakin lama aku bertahan, semakin perih rasanya. Air mataku jatuh deras, kututup dengan masker agar tak terlihat. Aku masuk, mencari kursi dekat jendela. Dari sana, aku masih bisa melihat mereka bertiga. Mereka melambaikan tangan, berdiri tegak, tak beranjak. Aku tersenyum, membentuk hati dengan jemariku. Mereka membalasnya dengan tawa, meski aku tahu tawa itu dipaksa lahir dari luka.
Kereta mulai bergerak perlahan. Mataku terus terpaku pada sosok mereka, hingga akhirnya pandangan itu lenyap, ditelan jarak. Aku bersandar, menenangkan diri, menutupi wajah basahku dengan tisu. Lelah dan kantuk akhirnya membawaku tertidur, meski hati masih terasa hampa.
Saat terbangun, jarum jam menunjuk pukul sebelas siang. Perjalanan masih panjang. Aku tahu, kereta akan sampai di Stasiun Ketapang, Banyuwangi, pukul 13.50. Kami sempat berhenti untuk melaksanakan shalat Zuhur. Aku melakukannya dengan hati yang kosong, tak ada tawa, tak ada semangat. Hanya sepi yang menyelimuti.
Akhirnya, kereta membawa kami tiba. Paman menjemput dengan truk, menurunkan semua barang dari Surabaya. Aku membantu menurunkan barang-barang, lalu merebahkan tubuh di depan televisi. Rasa lelah mendera, tapi pikiranku masih tertuju pada Surabaya, pada Nana, pada Mamat, pada Munir. Apa yang sedang mereka lakukan sekarang?
Di Banyuwangi, rumah ini terasa asing. Aku tak punya banyak teman di sini. Setiap kali pulang, aku hanya terkurung di rumah, tanpa gairah untuk keluar. Esok aku harus mencari sekolah baru, hal yang terasa membosankan, karena aku harus menyesuaikan diri lagi dengan lingkungan yang sama sekali berbeda.
Malam pun datang. Aku memilih tidur lebih awal, berharap esok tenaga akan terkumpul kembali. Dalam gelap, aku masih mendengar gema tangisan Nana, masih teringat genggaman eratnya, masih terasa hangat pelukan terakhirnya. Dan sebelum tertidur, aku berbisik pada diriku sendiri:
"Perpisahan hanyalah jeda. Jika cinta masih ada, maka pertemuan akan menemukan jalannya."
Banyuwangi menyapaku dengan udara pagi yang sedikit lembap. Bersama Ibu, aku melangkah ke sebuah SMP yang tak terlalu jauh dari rumah. Jam baru menunjukkan pukul delapan pagi, jalanan masih ramai oleh anak-anak berseragam putih biru. Kami datang untuk mendaftarkanku di sekolah itu. Semua terasa biasa saja, tidak ada yang istimewa. Aku hanya tahu satu hal: mulai besok, aku akan menjadi murid baru di sini.
Seragam baru dibeli, buku-buku masih berbau kertas segar, semuanya terasa asing. Bukan hanya barang-barang yang baru, tapi juga suasana yang benar-benar berbeda. Pulang ke rumah, aku langsung rebahan di atas kasur. Tatapanku jatuh pada foto Nana. Hati terasa menghangat sekaligus perih. Ingin sekali aku mengirim surat untuknya, tapi aku bahkan tak tahu alamatnya.
Aku mencoba menyiapkan diri, bukan hanya buku dan seragam, tapi juga mental. Bagaimana kalau aku tak punya teman? Bagaimana kalau aku hanya diam sepanjang hari, tenggelam dalam lamunan sampai bel pulang berbunyi? Malam itu aku tidur lebih awal, berharap esok bisa bangun lebih pagi, lebih bersemangat. Aku tak ingin mengulang kebiasaanku di Surabaya: datang terlambat.
***
Di Surabaya, biasanya aku singgah dulu ke rumah Mamat sebelum sekolah. Kini, aku berangkat sendirian. Terlalu pagi. Sekolah masih sepi, hanya beberapa murid yang sudah datang. Aku melangkah tanpa tujuan, menelusuri setiap sudut, mencoba menghafal ruang demi ruang. Tapi rasa bosan justru semakin kuat.
Hari pertama ini, aku disuruh menunggu di ruang kepala sekolah. Malu rasanya, seragamku berbeda, pandangan orang-orang menelanjangiku, bisikan-bisikan terdengar di balik punggungku. Aku hanya bisa menunduk, ingin rasanya pulang.
Sekolah makin ramai, suara langkah dan tawa memenuhi halaman. Dari jendela ruang tunggu, aku bisa melihat para siswa berlarian. Beberapa di antara mereka melirik ke arahku. Aku tahu, mereka menyadari bahwa aku akan menjadi bagian dari mereka.
Bel sekolah berdentang nyaring. Jantungku ikut berpacu. Seorang guru menghampiriku.
“Ayo ikut Bapak,” katanya ramah.
Aku berdiri, mengikuti langkahnya. Tubuhku kaku, napas terasa berat. Setiap melewati pintu kelas, puluhan pasang mata menatapku. Begitu masuk ke kelas baruku, aku merasa seperti makhluk aneh yang dipamerkan di panggung. Semua mata menatap tajam, sebagian berbisik-bisik, sebagian hanya diam.
“Anak-anak, ini Matlap, teman baru kalian,” ucap Bapak guru. Aku hanya tersenyum tipis, sambil memainkan jemariku yang gelisah.
“Silakan duduk di belakang, pojok sana,” perintah beliau.
Aku melangkah ke bangku itu. Duduk di samping seorang perempuan yang tampak tenang. Wajahnya cantik, meski tidak secantik Nana. Aku tak terlalu peduli.
“Kenalin, namaku Pitaloka,” katanya sambil mengulurkan tangan.
Aku terkejut, tak menyangka sambutan pertama justru datang darinya. Aku menyambut tangannya dengan senyum lebar.
“Namaku Matlap, dari Surabaya.”
Hari itu pelajaran berjalan lambat. Banyak materi yang tak kumengerti, tapi aku malu bertanya. Jadi aku hanya duduk, diam, sesekali menanggapi kalau ada yang menyapa.
***
Bel istirahat berbunyi. Aku sebenarnya bosan, ingin keluar kelas, tapi sadar kalau aku pasti akan menarik perhatian. Menjadi anak baru itu menyebalkan.
“Kamu gak ke kantin?” tanya Pitaloka, matanya menatapku penuh rasa ingin tahu.
“Malulah, aku anak baru,” jawabku sambil mengerutkan dahi.
“Kalau gitu titip aja. Mau beli apa?”
“Terserah, yang penting kenyang,” sahutku, sedikit tersenyum.
Pitaloka meninggalkanku. Aku menyandarkan kepala di meja, menatap kosong. Lalu tiga laki-laki menghampiriku.
“Matlap, ya?” salah satu dari mereka menyapaku.
“Iya…,” jawabku pelan.
Ternyata mereka ramah. Mereka memperkenalkan diri, menanyaiku macam-macam, dan bercerita banyak hal lucu. Aku hanya tertawa sekadarnya, tidak sebebas biasanya. Tapi setidaknya, aku merasa tidak benar-benar sendirian.
Tak lama, Pitaloka kembali. Tangannya membawa keresek besar penuh makanan.
“Ini titipanmu, Tlap,” katanya sambil tersenyum.
Aku terbelalak.
“Hah? Banyak banget? Aku gak bawa uang banyak,” protesku sambil membuka keresek itu.
“Katanya yang penting kenyang,” jawabnya santai, lalu menarik kursi dan duduk di samping kami.
Aku hanya bisa terkekeh kecil.
“Ya sudah, makan bareng aja,” ujarku sambil membagikan makanan ke yang lain.
Untuk pertama kalinya sejak pindah, aku merasa ada sedikit kehangatan. Meski jauh dari Nana, jauh dari Mamat dan Munir, mungkin di sini aku bisa menemukan cerita baru.
Aku makan bareng mereka, dan entah gimana, Pitaloka berhasil bikin aku berhutang budi. Mau marah juga nggak bisa, soalnya ya mereka teman baruku juga. Nggak butuh waktu lama, kami cepat akrab. Temanku mulai bertambah, satu-satu datang kenalan kayak peserta audisi idol grup. Hari pertama sih aku masih nggak hafal semua nama, tapi siapa tahu nanti mereka bisa jadi sahabat beneran.
Tiba-tiba aku malah bengong, kepikiran sahabat-sahabatku di Surabaya. Lagi ngapain ya mereka? Masih sering kumpul, atau udah bubar jalan? Mendadak hatiku kayak disiram hujan gerimis, nggak deras, tapi tetap bikin mellow.
Untungnya, rasa bosan langsung hilang begitu mereka mulai unjuk gigi dengan tingkah konyol masing-masing. Saking serunya ketawa, tahu-tahu bel masuk berbunyi, kelas pun lanjut sampai akhirnya selesai.
Aku jalan ke parkiran buat ambil motor. Baru pasang helm, tiba-tiba Pitaloka nongol.
“Matlap… antarin pulang, dong…” katanya sambil senyum, senyum yang kalau ditolak bisa bikin aku masuk daftar orang jahat sedunia.
Sebenarnya aku pengin bilang "enggak", tapi ya gimana, dia udah baik banget sama aku. Akhirnya, demi membalas kebaikannya, aku jadi ojek dadakan.
Rumah Pitaloka ternyata jauh lebih jauh daripada rumahku. Aku sih biasa aja, tapi di spion kelihatan dia senyum-senyum sendiri kayak orang yang baru dapet diskon 90% di online shop. Aku pengin tetap jaga hati buat Nana, tapi… yah, Nana juga nggak bakal ngerti kondisi absurdku sekarang.
Di jalan, kami ngobrol macam-macam. Dia cerita tentang tempat-tempat di Banyuwangi, aku menanggapi seperlunya. Bukan dia yang kelewat ramah, mungkin memang Pitaloka orangnya aja… agak nyeleneh.
Akhirnya sampai juga di rumahnya. Aku sempat salaman sama ibunya, terus cabut pulang. Entah kenapa, di perjalanan pulang senyumku nggak bisa ilang-ilang. Setidaknya, sekarang nggak sekelam tadi pagi.
Aku baru aja mau pulang ke rumah, tiba-tiba ada suara keras banget manggil, “Matlaaappp!!!”
Aku nengok, ternyata Hosea. Temen baruku di kelas. Dia duduknya persis di depanku tadi. Jujur, cowok ini cakep sih… tapi bukan itu yang penting. Yang penting, dia baik banget. Tadi pas aku bengong di kelas, dia rela-rela aja bantuin aku biar gak keliatan bego.
“Ayo ikut ke rumahku, sekalian main. Wajib!” katanya sambil senyum-senyum maksa.
Aku cuma bisa ketawa kecut, “Wajib?” kayak polisi aja. Tapi yaudah, daripada dikejar kayak maling, aku nurut.
Sampai di rumahnya, suasananya adem banget. Kita ngobrol macem-macem, dari Banyuwangi sampai Surabaya. Seru juga. Apalagi Hosea ngasih aku makanan enak. Nih orang kayaknya lebih paham isi perutku daripada isi hatiku.
“Aku juga punya rumah di Surabaya, lho,” katanya tiba-tiba.
“Oh ya? Sebelah mana?” tanyaku sambil ngunyah.
“Di Ampel. Aku di sini tinggal sama nenek. Kalau di Surabaya sama ayah.”
Aku angguk-angguk sok paham, “Lumayan jauh sih… ya kalo jalan kaki.”
Hosea ketawa, terus nyeletuk, “Kalo ke Surabaya, jangan lupa mampir ya!”
“Siap, asal rumahmu deket warung soto,” sahutku asal.
Eh, tiba-tiba dia nanya, “Kamu udah punya pacar belum?”
Langsung deh aku keinget sama Nana. Aku tarik napas panjang, pura-pura serius, “Aku nggak pernah tau status hubungan kami. Aku cinta dia, dia juga cinta aku. Tapi, kami… hanya sahabat.” Ciee, dalem banget kan padahal lagi minum teh.
Aku taruh cangkir, terus balikin pertanyaan, “Kalau kamu gimana?”
Hosea nyengir, “Masih bingung milih, Bro…”
Aku ngakak, “Pantesan… ganteng sih, jadi kebanyakan pilihan!”
Ngobrol ngalor-ngidul, gak kerasa udah sore. Aku baru sadar, dari tadi aku masih pake seragam sekolah. Serius, kayak anak ilang numpang ngobrol.
“Aku pulang dulu deh, ntar dikira ngekos di rumahmu,” kataku sambil pake tas.
“Yaudah, kapan-kapan main lagi!” jawabnya.
Aku pulang dengan hati seneng. Eh, ternyata hari ini gak seburuk yang aku kira. Malah jadi penasaran, besok bakal ada drama apalagi?