Olahan Makanan Tradisional Indonesia Berbasis Beras Ketan: Jawa dan Sumatera/Dodol Betawi (Jakarta)
Dodol Betawi (Jakarta)
[sunting]Tiap daerah tentu memiliki makanan ciri khas tersendiri, mulai dari bentuk, cita rasa, warna hingga tekstur bahan yang digunakan dalam pembuatannya. Berbicara tentang makanan yang ada di Indonesia adalah berbicara tentang sejarah, mitos, cerita leluhur, tradisi unik masyarakat, maka bukan hanya soal rasa saja yang diwariskan tetapi nilai-nilai kearifan lokal bagi generasi yang patut dimaknai dan dilestarikan.
Negara Indonesia terkenal dengan beragam suku budaya, agama, etnis, termasuk juga makanan khas masing-masing daerah, hal ini membuktikan bahwa adanya keberagaman yang tetap terjaga. Kondisi geografislah yang membuat terjadinya perbedaan hasil bumi sehingga menyebabkan jenis makanan khas yang berbeda pula, salah satunya adalah dodol khas Betawi.
Diidentikkan dengan simbol status sosial dalam berbagai perayaan ada sebutan yang identik dengan dodol seperti Nian Gao atau kue keranjang, Jenang, Lempok, Gelinak dan masih banyak lagi yang pastinya tiap daerah punya nama unik tersendiri.
Dodol Betawi adalah jenis dodol khas suku Betawi. Dodol Betawi berwarna hitam kecoklatan dengan variasi rasa yang lebih sedikit daripada dodol dari daerah lain. Rasa dodol Betawi hanya terdiri dari ketan putih, ketan hitam dan durian. Proses pembuatan dodol Betawi juga terbilang sangat rumit. Dodol ini memiliki tekstur yang lembut dan kenyal, dengan rasa yang manis dan gurih.

Bahan baku pembuatan dodol Betawi terdiri dari tepung beras ketan, gula merah, gula pasir dan santan harus dimasak di atas tungku dengan kayu bakar selama 8 jam. Dodol Betawi umumnya dibuat sebagai penganan khusus pesta, bulan Ramadhan, Idul Fitri atau Idul Adha. Terlebih menjelang hari raya, dodol Betawi selalu laris terjual. Karena proses pembuatannya yang rumit, hanya sedikit orang-orang yang ahli membuat dodol Betawi.
Asal-usul adanya dodol Betawi dari awal pembuatan dodol Betawi dilakukan secara bersama-sama ketika mendekati hari raya Idul Fitri atau Adha. Keluarga besar Betawi yang dulunya hidup berdekatan, saling melengkapi bahan dasar pembuatan dodol. Setelah bahan tersedia, para pria bertugas membuat dodol Betawi dan mengaduk adonan. Sedangkan para wanitanya menyiapkan semua bahan yang dibutuhkan. Sambil menunggu dodol matang, ibu-ibu menyiapkan makanan berbuka puasa. Setelah matang, langsung dibagi secara adil berdasarkan seberapa besar keluarga memberikan uang atau bahan dalam pembuatan dodol.
Karena kebersamaan inilah menjadikan dodol Betawi memiliki filosofi soal hidup bertetangga menjadi adanya semangat gotong royong. Selain itu dodol Betawi semakin jarang ditemui karena proses pembuatan yang memakan waktu cukup lama. Proses pembuatan dodol Betawi bukanlah hal yang mudah karena memerlukan tenaga ekstra dalam mengaduk adonan dodol. Apalagi, dalam satu panci kuali yang besar dengan diameter satu meter, adonan dodol harus diaduk selama delapan jam tanpa berhenti, kalau berhenti adonan akan keras dan rasanya tidak merata.
Selain adanya semangat gotong royong, proses pembuatan dodol Betawi juga sering dimanfaatkan sebagai momen mencari pasangan atau jodoh oleh masyarakat Betawi karena proses pembuatannya yang lama dan harus dikerjakan bersama-sama. Di momen memasak dodol itulah mereka yang belum punya pasangan akan memanfaatkan momen tersebut untuk berkenalan dengan lawan jenis.