Lompat ke isi

Olahan Makanan Tradisional Indonesia Berbasis Beras Ketan: Jawa dan Sumatera/Jadah (Pemalang)

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas

Jadah Ketan

Deskripsi

Jadah ketan merupakan salah satu makanan tradisional nusantara yang berasal dari jawa. Makanan ini kerap disajikan dalam berbagai acara pada tradisi jawa mulai dari upacara adat hingga perayaan keluarga. Jadah umumnya berwarna putih diolah dari beras ketan yang dikukus kemudian dimasak dengan parutan kelapa, gula, daun salam, daun pandan, serta sedikit garam. Jadah memiliki cita rasa yang gurih dikarenakan pada saat proses pembuatanya dicampur dengan parutan kelapa. Teksturnya yaitu kenyal, sedikit lembek, dan lengket.

Sejarah

Jadah sebagai makanan tradisional memiliki sejarah yang erat kaitannya dengan pendekatan budaya mulai dari sosial, ekonomi, dan politik. Pada sudut pandang sejarah, jadah mencerminkan kehidupan masyarakat agraris di jawa yang bergantung pada hasil pertanian seperti beras ketan dan kelapa. Makanan ini mencerminkan kebiasaan masyarakat desa yang membuat makanan dengan menggunakan bahan-bahan lokal. Secara sosial, jadah merupakan simbol kebersamaan dalam komunitas. Masyarakat Jawa sering membuat jadah dalam jumlah besar untuk dibagi dalam acara keagamaan atau adat, yang menyoroti pentingnya gotong royong dan kebersamaan dalam budaya mereka.

Makanan tradisional jadah dalam sudut pandangan politik berkaitan dengan identitas nasional dan hubungan diplomatik budaya. Selama pemerintahan Sultan Hamengkubuwono IX, Yogyakarta menjadi pusat kebudayaan Jawa yang sering kali mengakui makanan tradisional seperti jadah sebagai bagian dari identitas budaya jawa. Sejarah jadah ketan merupakan salah satu jenis makanan kecil (nyamikan) yang sejak abad X Masehi sudah disebutkan dalam kitab Kidung Harsa Wijaya, jadah disebut dengan jawadah/juadah. Penggunaan jadah sebagai nyamikan berasal dari istilah amik-amikan, yang dalam bahasa Jawa tersebut nyamikan. Dalam bahasa Jawa, jadah berarti pasta. Hal itu berdasarkan tekstur jadah yang kenyal karena terbuat dari ketan yang dikukus dan dibentuk.

Makna Filosofis

Jadah kerap ditemui dalam acara tradisional jawa khususnya dalam acara pernikahan. Hal ini dikarenakan jadah memiliki makna filosofis yang mendalam. Jadah terbuat dari beras ketan yang lengket melambangkan ikatan yang kuat. Menurut orang tua atau sesepuh, sifat beras ketan yang lengket tersebut dapat dijadikan pelajaran bagi pasangan pengantin agar keduanya senantiasa memiliki hubungan yang lengket atau erat dan susah dilepaskan.

Selain itu juga dalam proses pembuatannya, makanan ini membutuhkan waktu yang lama serta kesabaran yang ekstra. Hal ini bisa diartikan supaya kedua mempelai pengantin diberikan pelajaran untuk tidak mudah putus asa dalam membangun dan mengarungi rumah tangga. Sebab apabila sudah berumah tangga nantinya akan banyak sekali godaan – godaan yang bisa menguras energi, pikiran dan perasaan. Namun kedua mempelai dituntun untuk tetap berkepala dingin dan saling mengalah serta mengerti kemauan dari pasangannya. Apabila salah satu dari kedua mempelai nantinya tengah mengalami masalah, maka wajib hukumnya untuk saling mendukung satu sama lain.

Resep

Berikut resep jadah ketan yang dikutip dalam buku mustikarasa dari wikimedia Commons.

Bahan

  • 1 Liter beras ketan yang bagus kualitasnya
  • 1 Butir kelapa tua

Bumbu

  • 1 Sdt Garam

Langkah Pembuatan

  1. Beras ketan direndam dalam air kurang lebih 6 jam, kemudian dicuci bersih lalu dikukus diletakan di atas tampah, diberi parutan kelapa dan garam secukupnya
  2. Diaduk sampai campur lalu dikukus lagi sampai masak kemudian ditumbuk sampai liat, diletakan di atas tampah dengan didasari daun pisang, dinginkan dan dipotong-potong sesuai selera.