Lompat ke isi

Pagiku Bukan Lagi Pagimu

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas

oleh windra yu

Ilustrasi: Cerpen Pagiku Bukan Lagi Pagimu karya windra yu


Aku benci pagi karena di pagiku tidak lagi kutemukan dirimu. Tiga tahun tujuh bulan dua belas hari, selama itu aku masih merindukanmu. Belum juga kurelakan hilangnya senyumanmu di pagiku. Belum juga kuikhlaskan ketiadaanmu. Kamu pergi, tapi tidak pernah kembali lagi. Lupakah kamu akan janjimu agar selalu di sisiku saat lelapku, di sampingku saat terjagaku, dan bersamaku sampai kumenutup mata terlebih dahulu. Kau telah berjanji. Bukankah sudah seharusnya kamu menepati janjimu.

Aku ingin melihatmu lagi. Aku ingin mendengar suaramu. Aku ingin kamu tersenyum padaku dan berujar, “Kamu akan baik-baik saja karena aku akan selalu melindungimu.”

Namun, kamu tidak lagi di sini. Suaramu tidak pernah kudengar lagi. Suara yang semakin tidak bisa kukenali. Kamu bukan penyanyi yang meninggalkan lagu-lagu indah yang bisa dikenang. Kamu juga bukan penyiar radio yang memiliki rekaman suara yang bisa didengar. Lalu, bagaimana bisa aku mengingat suaramu bila waktu membuatku lupa.

Bukanlah waktu yang sebentar, tapi karena janji itu yang terus membuatku menanti. Tanpa bukti aku masih berharap kamu ada di sana. Aku yakin kamu akan kembali menjadi matahariku lagi. Namun, satu baris pesan di layar WhatsApp-ku menghapus keyakinanku dalam sekejap.

“Tidak ada yang selamat, Kirai. Termasuk suamimu.”

Pesan itu muncul beberapa tahun yang lalu. Beberapa minggu setelah kamu dinyatakan hilang di lautan lepas bersama kapal yang membawamu pulang. Harusnya hari itu kamu pulang ke rumah kita. Bukan pulang meninggalkan semesta kita.

Kabar itu rasanya aku baru membacanya kemarin. Bagiku kabar itu selalu menjadi berita hangat yang tidak pernah tertimpa berita lainnya.

Kadang aku berharap memoriku sangat buruk. Sehingga dengan mudah bisa melupakanmu. Padahal kamu bukan siapa-siapa awalnya. Hanya orang asing yang berkesempatan untuk menjadi suamiku.

Aku dan kamu tidak akan saling kenal bila bukan karena antrian panjang di Mixue. Kenapa juga aku dulu harus menyambut sapaanmu? Harusnya aku berlagak sombong sehingga tidak memberimu kesempatan hadir dalam kehidupanku yang monoton.

Ternyata cerita-ceritamu bukan sekadar cerita basa basi yang dimuntahkan begitu saja. Bukan hanya say- say hallo coba-coba. Bukan juga sekadar ngajak kenalan dan tukar nomor untuk menambah daftar kontak telepon yang sudah banyak tertulis ratusan nama.

Andai kamu bukan saudara sepupu sahabat karibku. Mungkin akan lain ceritanya. Aku tidak akan mau memulai cerita yang tidak berujung bahagia ini. Namun, sepupumu terlanjur sudah berkata yang baik-baik tentangmu. Memang simpel sekali pikiran manusia. Mudah sekali terpengaruh dengan bisikan-bisikan yang datang ke telinga.

Antrian panjang di Mixue memang nyata tidak direkayasa. Namun, kamu datang ke sana sudah direncanakan dari awal untuk bertemu denganku. Haruskah aku berterima kasih kepada sepupumu yang telah mempertemukan kita? Namun, rasanya aku menyesali pertemuan hari itu sekaligus mensyukurinya.

Pada akhirnya aku bertemu dengan jodohku. Bukankah aku pantas untuk berkata alhamdulillah. Namun, kenapa kebersamaan itu hanya sementara? Tuhan berhasil dan dengan sempurna mempertemukan aku denganmu. Kemudian, juga dengan skenarionya yang masih belum kuterima memisahkan sepasang kekasih yang baru saja memupuk cintanya belum lama.

Aku dan kamu harus berpisah. Kenapa harus kamu? Kenapa bukan aku? Apakah Tuhan pilih kasih lebih mencintaimu daripada aku. Ataukah Tuhan cemburu aku terlalu mencintaimu? Apakah ini hukumanku? Hukuman untuk terus bertemu pagi tanpa ada kamu lagi karena pagiku bukan lagi pagimu.

Jika saja dulu kamu berhasil pulang ke rumah kita, maka kamu akan berjumpa dengan Arunika. Bukankah kamu lekas pulang demi menemuinya. Buah hati kita yang berhasil kulahirkan dengan suka cita. Sayangnya tidak kamu tepati janjimu.

Setelah kepergianmu aku tidak berhasil menjadi ibu untuk Arunika. Sudah berapa lama aku tidak berjumpa dengan bayiku? Aku tidak begitu ingat soal ini. Mungkin selama penantianku terhadapmu.

Aku hanya ingat ibumu membawanya pergi. Ibumu mengatakan sesuatu yang tidak bisa aku ingat dengan jelas. Sepertinya ibumu bilang akan menjaga Arunika untuk kita. Tanpamu ternyata aku hanya perempuan yang tidak berguna. Apa kamu menyesal menikahiku? Mungkinkah kamu sudah bertemu bidadari yang lebih cantik di langit sana? Tidakkah kamu merindukanku? Padahal aku sangat merindukanmu? Haruskah aku menyusulmu?

“Apa sudah berjemurnya? Apa yang kamu lamunkan pagi ini?” Suara malaikat sepertinya memanggilku.

Malaikat ini selalu menemaniku. Dia bercerita banyak hal yang seringkali tidak aku mengerti. Saat aku membuka mata, dia juga selalu bertanya bagaimana kabarku pagi ini? Jawabanku selalu sama aku masih saja merindukan suamiku. Namun, pagi ini aku kembali teringat dengan bayiku Arunika.

“Bayiku…,”ucapku.

“Bayimu? Apa kamu sudah ingat telah memiliki seorang bayi?” tanyanya.

“Arunika…,” ucapku pelan.

“Ya, Namanya Arunika. Kamu mengingatnya?”

Aku tersenyum mendengar pertanyaan malaikat bergaun putih ini.

“Arunika adalah nama yang diberi suamiku untuk anak kami nanti. Cahaya matahari terbit yang hangat di pagi hari. Bukankah namanya cantik?” tanyaku.

“Ya, cantik sekali. Mama kamu mengingat Arunika.”

“Apa kamu juga sedang merindukan ibumu lagi? Kamu selalu memanggilku mama, malaikatku. Ahhh… aku akan membiarkanmu karena pagi ini sangat cerah. Saat aku perhatikan kamu sudah semakin besar. Padahal kemarin aku merasa kamu masih anak-anak. Apakah waktu di bumi semakin cepat berganti? Hampir empat tahu suamiku pergi…,” ucapku.

“Hampir dua puluh empat tahun, Ma… Apa Mama masih belum bisa mengikhlaskan kepergian Papa? Ingat ini Arunika, Ma. Arunika sudah besar sekarang.”

Lagi-lagi malaikatku berkata yang aneh-aneh. Bila sudah seperti itu matanya akan berkaca-kaca dan dengan mudahnya meneteskan air mata seperti mata air yang tidak bisa dibendung lagi.

Aku hanya bisa mengusap kepalanya lembut, dengan begitu dia akan menyandarkan kepalanya di pangkuanku, lalu dia akan berhenti menangis. Rasanya selalu hangat bila bersama dengannya lebih hangat dari matahari pagi.

Selesai