Pelancongan
Ada kerinduan kecil yang sangat sulit untuk diulang.
Tentang gedung-gedung tinggi di Surabaya, tentang pasar kecil di Sidoarjo, tentang jalanan basah di Malioboro, ah mungkin yang terakhir ini cukup mengenaskan—tentang taman kota Banyuwangi. Jikalau mampu ke kembali ke ruang-ruang itu, mungkin hatiku akan kembali hangat dan mataku akan kembali basah. Sayangnya aku tidak punya alasan yang diterima akal untuk kembali ke tempat itu, bahkan sebatas sebagai pelancong. Baiklah, biarkan Tuhan yang bekerja mematahkan rasa pesimisku ini.
Sebab pelancongan bukan hanya perkara pergi, tetapi juga perkara pulang. Ada jarak yang ditempuh kaki, ada rindu yang dipanggul hati. Setiap kota menyisakan jejaknya sendiri aroma nasi goreng di pinggir jalan, senyum penjual koran, atau sekadar hujan sore yang menetes di bawah lampu jalan. Aku ingin sekali percaya bahwa semua itu bukan sekadar potongan cerita masa lalu, melainkan tanda agar aku berani melangkah lagi.
Mungkin suatu hari nanti, tanpa sengaja, aku akan berdiri kembali di antara ramainya Malioboro, atau duduk diam di bangku taman Banyuwangi, sambil mengingat betapa pernah ada aku yang rindu untuk kembali. Hingga saat itu tiba, biarlah kerinduan ini menjadi peta rahasia, yang hanya bisa kubaca bersama waktu dan restu semesta.