Lompat ke isi

Pembicaraan Pengguna:Suria.Indonesia

Konten halaman tidak didukung dalam bahasa lain.
Bagian baru
Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas

Bunga Timbul Pada Hujan Sore

[sunting]

           


Timbul

[sunting]
Bunga tak pernah tau hujan mencintainya. Hujan tak pernah tau bunga menantikannya.Bunga dan hujan saling merindu.Walau mereka tak tau dirinya dirindukan.


Kurang lebih beberapa taun aku mengigatnya. Cerita seorang anak kecil yang menangis dibalik hujan dan bangunan tua sekolah, tangannya memegang botol minum merah muda, tangan satunya lagi merapihkan rambut yang jatuh oleh basahnya air hujan.

Sekrang anak kecil itu tumbuh cepat. Menjelema menjadi seseorang yang sedang menunggu dibalik sejarah dan batu batu tua. Ditangannya ada buku buku, tangan satunya lagi memandangi telepon genggam sedikit cemas.

Lalu semua itu hanya menjadi mimpi buatku. Siang akan selalu menjadi terik dan panas yang memusingkan di jalan jalan raya. Atau malam tetaplah menjadi kebingungan akan rasa takut hari esok yang membosankan itu. Seakan akan menjadi mimpi. Anak perempuan yang sedang memunggu itu melihatku yang sedang berjalan tak jauh dari teras ia sedang menunggu.

"Hei.." Sapanya

Aku tersenyum memandanginya. Umur kita yang tak jauh berbeda.. Ia cantik di baluti kerudung dan baju yang menandakan ia seorang akademisi yang sedang singgah barang sebentar mencari buku buku untuk dipinjami di perpustakaan tua itu.

"Maaf.." katanya

Aku ingin sekali berkata banyak. Bercerita banyak hal padanya, aku sudah memendam kata kataku bertahun tahun!.. Tapi.. Satu kata yang diucapkannya juga adalah kesimpulan dari apa apa yang ingin aku sampaikan.

"Maafkan aku juga" balasku cepat. Lalu aku berjalan di antara kendaraan kendaraan cepat yang sedang kesurupan. Panas menyebabkan bulir keringatku pada timbul. Sebenarnya aku menangkap suara suara dari brlakangku, sengaja tak ku dengarkan, dalam mimpi itu aku terlalu takut dan penakut. Aku ingin segera pulang ke dunia asalku.. Dimana hanya ada realitas kehidupan disana, walau membosankan itu lebih baik dari pada terjebak dalam dunia mimpi yang menjadikanku putus harapan. Lebih baik hidup terkekang dalam sistem lingkaran setan, sedikit sedikit kita bisa mencari solusi, mempersiapkan diri dan berdoa banyak banyak pada Sang Pangeran Ilahi. Dari pada berharap kembali ke masa lalu, yang hanya menjadi mimpi mimpi di siang bolong.


Aku bangun dan tersadar.. Timbul keinginan ku untuk melupakan masa laluku. Ketika menjadi diri sendiri.. Diantara hujan dan gerimis. Aku mencoha menjadi hujan yang egois. Turun ke bumi bilang bilang. Mencoba memberi hadiah dan berkata lantang. Turunnya aku ke bunga yang belum timbul. Bunga tak siap. Hujan tak siap. Hanya menimbulkan kerinduan yang rusak.. Ditandai rusaknya dahan,daun dan tanah basah. Menjadi kubangan cerita buruk. Kadang mimpi buruk. Tapi Tuhan Maha Baik. Ia meluruskan kesalahan dengan hukum alamnya, maka kesalahan itu menjadi pelajaran buat si hujan. Kealahan yang menjadi pelangi yang menghiasi kehidupan. Bahwa dalam hidup tidak selalu baik, selalu salah, dan selalu lurus.. Semua sudah ada yang mengatur, agar indah pada akhirnya.

Hujan

[sunting]

Bunga sudah timbul. Terlihat indah mekarnya. Kini hujan telah lalu, dicintainya bunga lain. Seseorang sedang menunggu, dirangkainya kerinduan. Seperti bunga yang menunggu hujan. Tak lama hujan itu datang, berupa gerimis di sore hari.. Sebelumnya ada hujan yang lain. Dikiranya hujan itu kekasihnya. Hujan yang dulu sudah berlalu.. Digantikan yang lebih indah. Hujan yang dulu kini mencari tanah yang lebih kering, bunga yang lain.

Dituntun angin sore dibulan akhir. Hujan ini tersadar, ia akan sabar menunggu, membendung air terbaik. Hingga Tuhan bersabda pada angin dimana dan kapan hujan menumpahkan segala kerinduan pada bunga yang lain. Yang ia cintai. Yang ia yakini sedang menunggunya di ladang ladang kerinduan.

Adakah kesabaran menunggu sesuatu ?. Katamu tadi malam, menunggu itu ada dua macam. Menunggu adalah sesuatu yang menyebalkan, namun jika yang ditunggu itu benar-benar dinantikan maka akan menjadi hal yang menyenangkan.

Kata kata itu membuat aku tersadar. Bahwa hujan tetaplah ditakdirkan Tuhan turun di tempat yang sudah ditentukan. Tempat dimana ada bunga yang benar benar menunggu dirinya. Bila dipaksakan terlalu cepat akan merusak bunga bunga lain, bila tak sabaran maka akan merusak alam.

Tapi apa daya aku yang sudah terlanjur jatuh cinta pada bunga itu?. Di tempat gersang penuh kehampaan harapan, dirimbuni cucuk cucuk kesombongan. Dan aku mencintaimu, karena kesederhanaan mu. Senyuman dan sapaanmu. Hingga hujan itu membantah awan awan yang sudah tertata. Turun membasahi lapang berdebu itu. Mencintai bunga tanpa perlu diketahui. Membasahi sore penuh harap. Hujan itu menjelema menjadi tiupan angin sore dibulan akhir tahun itu. Menciptakan kesejukan untuk makhluk di tempat itu.

"Aku mencintamu.." kata hujan. Tanpa diketahui bunga pujaan hatinya. Turun kebumi membasahi genting, pohon, tanah dan lapang gersang. Turun dan membasahi tempat itu. Tanpa perlu kau tau. Hujan mencintaimu.