Lompat ke isi

Pempek: Makanan Tradisional Khas Sumatera selatan

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas

PEMPEK: MAKANAN TRADISIONAL KHAS SUMATERA SELATAN

Sejarah Pemepek

Pempek, oleh Gunawan Wikimedia Commons, CC BY-SA 3.0 Pempek, oleh Cun Cun Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0

Pempek identik dengan Palembang. Pempek sudah dikenal oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Pempek merupakan spesifikasi dan variasi pada upacara berkenaan dengan peristiwa malam ketiga setelah seseorang meninggal dunia. Pada upacara ini pempek tergolong sebagai makanan ringan. Makanan ringan lainnya selain pempek, yang dihidangkan pada saat upacara adalah kemplang goreng, kue lapis, gadus, beluder, ketan kukus, dan lainlain. Selain sebagai makanan yang dihidangkan pada upacara diatas, pempek juga dihidangkan berkenaan dengan malam ke tujuh setelah seseorang meninggal dunia. Pada kesempatan itu pempek yang disajikan adalah pempek goring, ditemani dengan kue gandus, pisang goring kue lapis, bluder dan kue kukus, sering juga ditambah dengan buahbuahan seperti pisang ambon. Walaupun merupakan makanan khusus pada upacara, pem-pek juga menjadi makanan "favorit" bagi masyarakat Palembang, bahkan masyarakat di luar Pelembang. Pempek, sudah manjadi ciri khas makanan Palembang, walaupun di luar kota Palembang juga banyak yang memproduksi, misalnya saja Lampung, Bengkulu dan lain-lainnya. Menurut penuturan nara sumber, asal usul nama makanan Pempek, berawal dari nama seorang Cina yang berjualan makanan bernama Sipek. Pada waktu itu, nama makanan yang dijual dan kebetulan laku belum punya nama, sehingga setiap orang yang membeli makanan tadi apabila ditanyai jawabannya mau ke Sipek. Waktu terus berjalan, sehingga masyarakat Palembang yang suka dan sering membeli makanan tersebut sepakat memberikan nama "Pempek". Jadi nama Pempek diambil dari nama yang menjual makanan itu, yaitu Sipek. Telah diketahui bahwa Palembang tidak hanya didiami oleh wong Palembang saja atau suku Palembang saja, tetapi kota ini telah banyak didiami pula oleh berbagai etnis, seperti Cina, Arab, dsb, sehingga banyak pengaruh budaya Cina dan Arab yang teradopsi oleh orang Palembang, terutama makanan. Oleh karena itu tidak mengherankan jika ban yak makanan dari Cina yang menjadi makanan masyarakat Palembang, karena sejak tahun 1400 kota ini sudah menjadi "sarang penyamun" Cina. Daerah Palembang daerah tropis, sehingga pada sektor ekonomi tidak dapat mengandalkan pertanian. Oleh karena itu, usaha pertanian lebih merupakan usaha sampingan. Perekonomianpun bertumpu pada sektor industri perikanan dan perdagangan, bahkan kota ini sudah sejak berabad-abad merupakan kota dagang yang mengalami kontak dengan masyarakat lain. Pekeraan berdagang pada masyarakat Palembang sudah berakar sejak masa lampau. Suku bangsa Palembang biasa juga disebut orang Melayu Palembang dan menyebut dirinya Wong Palembang. Asal suku bangsa ini adalah kota Pelembang dan sekitarrnya, yang dialiri oleh sungai Musi di Propinsi Sumatera Selatan. Jumlah penduduk asli Palembang tidak dapat diketahui secara pasti, sebab sudah merupakan keturunan dari asimilasi orang asli Palembang dengan para pendatang yang berlatar belakang etnik yang berbeda. Oleh karena itu yang disebut orang Palembang ini pun sebagian bukan penduduk asli. Pembauran yang sudah berjalan dalam waktu yang lama menyebabkan kelompok ini saling pengaruh mempengaruhi. Pengaruh budaya Cina, antara lain dalam gaya busana, seperti pakaian yang disebut Lok Cuan, Pangsi dan Pak Song Kong. Disamping itu juga dalam makanan, misalnya selain pempek ada laksa, mi ce/or, dan sebagainya. Pada bangunan rumah saja juga demikian, beberapa motif ukiran pada rumah panggung orang Palembang juga mengandung unsur-unsur seni dan budaya Cina. Religiusitas masyarakat Palembang sangat kuat, karena pada zaman dahulu sejak zaman Belanda orang tua telah menanamkan agama dan nilai-nilai kepada anak-anaknya. Sebagian, orang Cina juga yang memeluk agama Islam, sehingga mereka sering disebut Cina mualaf. Pempek selain sebagai makanan pada upacara-upacara kematian juga sebagai makanan pada upacara social, yaitu sebagai hidangan ketika menerima tamu. Pek-mpek dibuat dengan menggunakan bahan baku berupa sagu dan ikan. Berikut ini beraneka ragam jenis, nama, bentuk dan pengolahan pek-mpek sebagai ciri khas makanan Palembang.

Macam-Macam Pempek

1. Pempek Kelasan

Pempek Oleh Taman Renyah Wikimedia Commons, CC BY 3.0

Pempek Kelasan dibuat dari ikan, tepung kanji dan air. Cara pengadaan bahan ini sangat mudah, karena ikan dan tepung dapat dibeli di pasar. Bumbu yang digunakan untuk membuat pempek kelasan ini hanya garam, sedangkan alat untuk memasaknya berupa gilingan daging/ ikan, waskom kecil, baki besar panciatau wajan. Gilingan dipakai untuk menggiling ikan. Waskom untuk mengadoni/mencampur tepung kanji dengan ikan, air dan garam. Baki besar dipergunakan untuk menaruh bila adonan tersebut telah masak. Panci untuk me rebus dan wajan untuk menggoreng pempek. Proses atau cara pengo Ia han pempek, pertamatama ikan dikuliti dan dibuang tulangnya lalu digiling sampai halus. Daging ikan diremasremas dengan air hingga rata, setelah itu ditaburi garam, kemudian tepung kanji dimasukkan ke dalamnya. Setelah rata adonan dibentuk bulat dengan garis tengah kurang lebih 4 em, panjang 2 em. Setelah itu direbus sampai masak (mengapung), lalu ditiriskan dan dipotong setebal1 em, lalu digoreng. Cara menghidangkan pempek kelasan, pempek yang telah dipotong setebal 1 cm dan • telah digoreng, diletakkan ke dalam piring bulat kemudian disiram dengan saos cuka. Saos (cuka) dapat juga dihidangkan terpisah dari tempat pempek. Pempek yang telah disiram dengan saos cuka dimakan satu persatu bersamasama dengan saosnya, atau pempek dipotong kecil-kecil dan dimakan sambil mencoeolkannya ke dalam mangkok kecil saos cuka. Sampai sekarang segala jenis pempek merupakan barang dagangan yang banyak dijual di pasar atau rumahrumah makan, tidak saja di Palembang, tetapi di luar kota Palembang pun banyak warung/rumah makan yang khusus membuka restoran pekmpek. Jadi yang nama nya pek-mpek, mempunyai nilai ekonomi yang sangat tinggi. Di restoran harga satu buah pek-mpek Rp. 1.000,-, ada juga yang harganya Rp. 5.000,-,Rp. 2.500,- satu lonjor. Sebagai makanan yang salah satu fungsinya untuk menjamu tamu, jelas memiliki nilai sosial. Hal ini dapat dilihat juga pengkonsumsi pekmpek ini terdapat pada semua lapisan sosial. Apabila dipandang dari segi nilai budaya, justru memperkaya dan semakin dikenalnya Palembang oleh masyarakat umum melalui makanan pekmpek.

2. Pek-mpek Sate

Pempek, oleh Modori Wikimedia Commons, CC BY-SA 3.0

Bahan dan bumbu pek-mpek sate untuk satu adonan terdiri atas : garam 2 sendok makan, bawang merah 5 buah, bawang putih 3 siung, ikan 1 kg, tepung kanji 7 ons. Alat yang digunakan untuk membuat adalah penggilingan daging dan wajan. Cara pengolahannya ikan dikuliti dan dibuang tulangnya lalu digiling sampai hal us. Selanjutnya diremas dengan air dan ditaburi garam hingga rata. Setelah bumbu ditumbuk halus dimasukan ke dalam adonan lalu masukkan tepung kanji dan aduk hingga rata, kemudian dibentuk seperti bola pingpong, digoreng sampai masak bentuknya bulat dan kriting. Cara menghidangkan I menyajikan pek-mpek sate ini diletakkan dalam piring ceper bulat. Saos cuka terpisah dari pek-mpek. Kemudian cara makan/mengkonsumsinya, pek-mpek dimasukkan ke dalam mangkok kecil atau piring kecil, lalu disiram dengan saos cuka dan dimakan dengan menggunakan garpu. Fungsi pek-mpek sate sebagai makanan ringan pada sore dan menjamu tamu. Pengkonsumsi makanan ini berasal dari semua apisan masyarakat kota Palembang.

3. Pek-mpek Lenggang Goreng

Pempek, oleh Cun Cun Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0

Bahan dan bumbu Pekmpek Lenggang Goreng antara lain ikan 1 kg, tepung kanji 1 kg, telor 10 butir, garam 2 sendok makan, air 1 gelas, dan minyak goreng secukup nya. Alatnya terdiri atas penggilingan, Waskom, dan wajan. Pengolahannya, ikan dikuliti dan dibuang tulangnya lalu digiling sampai halus. Daging ikan diremas dengan air sampai rata, lalu diberi garam. Kemudian tepung kanji dimasukkan dan diaduk hingga rata lalu dibentuk. Pem-mpek yang sudah dibentuk dipotong persegi kira-kira 1 em, lalu dimasukkan ke dalam satu butir telor yang telah dikocok ringan. Setelah itu, digoreng dalam wajan yang panasnya sedang, jika telah masak angkat. Penyajian pek-mpek Lenggang Goreng dihidangkan dalam piring cekung siram cuka dari sisi-sisinya. Cara makan pekmpek ini sama seperti pekmpek yang lainnya, dan pengkonsumsinya adalah lapisan masyarakat menengah dan atas kota Palembang.


DAFTAR PUSTAKA Sri Saadah Soepono, Sri Hartini, Ernayanti Lindyastuti, Sri Guritno, F. Sri Lestariyati, Kencana Sembiring, Elizabeth T. Gurning, Djoko Mudji Rahardjo Sukiyah Wigati, Maryeti, Dahlia Silvana, Budi Triwinanta, Sigit Widodo, Yuke Sri Rahayu, Sri Muryani, Nis Mawati Tarigan. (2004). Ensiklopedia Makanan Tradisional Indonesia (Sumatera). Kementrian Kebudayaan Dan Pariwisata Proyek Pelestarian Dan Pengembagnan Tradisi Dan Kepercayaan Tahun 2024. Cun Cun. (2018). Pempek. Wikimedia Commons, CC BY-SA 4.0 (https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/c/c2/Pempek_telor_in_a_display_Jakarta_7_August_2018.jpg) Gunawan Kartapranata. (2010). Pempek. Wikimedia Commons, CC BY-SA 3.0 (https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/c/ca/Pempek_Kuah_Cuko.jpg) Midori. (2008). Pempek. Wikimedia Commons, CC BY-SA 3.0 (https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/c/c2/Pempek_campur.JPG) Taman Renyah. (2009). Pempek. Wikimedia Commons, CC BY 3.0 (https://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/1/19/Empek-empek_Bangka.jpg)