Lompat ke isi

Pengguna:Fransiscalaberta

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas

IDENTITAS BUKU Judul Buku : Keruntuhan Jurnalisme Penulis : Dudi Sabil Iskandar Penerbit : Lentera Ilmu Cendekia Tebal Buku : xvi + 152 Halaman Jumlah Bab : 3 Bab Tahun Terbit : 1, 2015

TENTANG PENULIS Dudi Sabil Iskandar, Lahir di Bandung pada 5 Maret 1972. Menyelesaikan kuliahnya di jurusan Dakwah Fakultas Ushuluddin Institut Agama Islam Negeri (IAIN) pada tahun 1996. Melanjutkan pendidikan ke tingkat magister di Pascasarjana Universitas Mercu Buana pada tahun 2012, dengan spesialis Political Communication. Sejak Maret 2012, menjadi pengajar di Fakultas Ilmu Komunikasi di Universitas Budi Luhur, serta di beberapa universitas lainnya. Selama 12 tahun menjadi wartawan di berbagai media cetak dan online. Puluhan tulisan dimuat di Kompas, Koran Tempo, Media Indonesia, Jurnal Nasional, Republika, Seputar Indonesia, Sinar Harapan Pikiran Rakyat, dan Majalah Panji Masyarakat, serta di beberapa jurnal ilmiah komunikasi. Delapan buah buku yang telah ditulis dan dieditnya. Antara lain; Rekonstruksi Nilai Dasar Perjuangan (NDP) HMI bersama Andito (1998), Keajaiban di Tanah Suci Saat Haji dan Umrah (2004), Haji ; Antara Aroma Bisnis dan Tarikan Spiritual (Editor) (2005), Menggapai Demokrasi; Jejak Politik HR Syaukani bersama Hery Susanto dan Ali Amran Hasibuan (2006), Perjalanan Sebuah Bangsa; Catatan 80 Tokoh Nasional (2008) bersama Dwi Agus Susilo dan Masad Masrur (2013), dan Jejak Prestasi Olahraga Indonesia; SEA Games, Asean Games, dan Olimpiade 1951-2011 (2012), KNPI; Sebuah Analisis tentang Sebuah Konflik, Media, dan Paradigma (bersama Dwi Agus Susilo dan Masad Masruru, 2013), serta Dari Bangku Sekolah ke Medan Perang (bersama Israr Iskandar, 2013). Dan buku ini adalah buku pertamanya yang merupakan karya intelektual yang ditulisnya sendiri.

ISI BUKU Pada bab pertama diterangkan mengenai indikator penyebab runtuhnya jurnalisme. Penulis menyebutkan beberapa hal yang menyebabkan terjadinya keruntuhan dalam jurnalisme, yaitu adanya konglomerasi media atau kepentingan si pemilik media yang memiliki pengaruh besar dalam struktur industri dan sistem pemproduksian informasi berita dari media yang dimilikinya. Kemudian tugas dan tanggung jawab seorang wartawan, dimana dalam menjalankan tugasnya, seorang wartawan dituntut untuk mencari dan menyuguhkan berita yang memiliki validalitas tanpa melakukan tindakan penyimpangan seperti halnya budaya copy paste atau tindakan menyalin berita yang didapati dari rekan seprofesi tanpa dilakukannya proses verifikasi. Lalu sifat berita, yaitu keobjektifitasan berita. Penentuan atau pemilihan berita yang disajikan dapat menunjukkan warna, ideologi, dan kepentingan dari media massa tertentu. Selanjutnya konfirmasi dan verifikasi berita, yaitu tidak adanya kejelasan dan kebenaran isu yang terungkap yang menyebabkan munculnya justifikasi khalayak mengenai isu tersebut. Serta mengenai etika jurnalisme, yaitu jurnalisme harus tetap berpijak pada prinsip kebenaran, independensi, check and balance, cover all sides, verifikasi fakta, dan keberpihakan pada yang lemah. Pada bab kedua dijelaskan mengenai penyebab keruntuhan jurnalisme. Penulis menerangkan mengenai postmodernisme dengan memberikan beberapa pemahaman dari berbagai tokoh yang membantu pembaca dapat lebih mudah memahami definisi dan karakteristik dari posmodernisme. Kemudian mengenai cultural studies, yaitu kritik atas definisi budaya yang mengarah pada “the complex everyday world we all encounter through which all move”. Serta beberapa pendapat dari berbagai tokoh tentang teori ini juga dipaparkan didalamnya. Dan pada bab ketiga dijelaskan jugamengenaikemunculan jurnalisme baru. Penulismemaparkanbahwajurnalismebarumencakup Citizen Journalism, Konvergensi media, Media baru, danPencarian Core Mining. Dengan munculnya jurnalisme baru masyarakat memiliki alternasi dan perbandingan dalam berbagai aspeknya isi, isu, kontruksi, dan makna berita. Jurnalisme baru juga dapat diakses 24 jam dimanapun dan kapanpun hal ini berbeda dengan media tradisional yang sangat terbatas penayangan dan penyampaian informasinya. Seiring kemunculan jurnalisme baru maka munculah Kompasiana (milikKompas), citizen journalism Republika (Republika), blogtempo (Tempo), forum detik (Detik.com) dan sebagainya, Namun penulis mengingatkan kembali kepada pembaca bahwa wahana yang disediakan institusi media tetap memliki ideologi, kepentingan, dan bisnis. Ini yang tidak disadari oleh masyarakat pengguna media baru yang dimiliki media tradisional. Penulis lagi-lagi menyadarkan pembaca agar sebagai masyarakat yang di hidup di post modern harus mempunyai pemikiran yang kritis akan sebuah hal yang baru. Jurnalisme akan Krisis Berita juga dapa menyebabkan banyak yang tidakakan bertahan dengan bentuk saat ini. Yang bertahan harus menyesuaikan target, metode, dan struktur organisasi untuk memenuhi tuntutan yang berubah dari masyarakat dunia baru. Penulis mengemukakan kehadiran internet sebagai pemicu munculnya situs berita (jurnalistik online) telah menggeser model pemberitaan di media cetak. Khususnya surat kabar, kini menjadi konsumsi media online hal ini yang disebabkan jurnalis tidak lagi dipandang.

KELEBIHAN Buku tersebut sangat kritis sekali dalam pengarangan karya buku yang dikarangi oleh Pak Dudi disisi lain buku tersebut mengkritisi media media yang ada di Indonesia bahwa masih adanya media media yang tidak independen maupun ada yang independen.

KEKURANGAN Di buku tersebut masih ada yang kurang dalam pengarangannya seperti citizen jurnalisme atau yang disebut jurnalisme warga dan penggunaan media online yang digunakan oleh para jurnalisme di zaman modern.