Lompat ke isi

Pengguna:Indriadini

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas

Mimpi Si Anak Singkong di 1975

Oleh: Ineza Indriadini


Sinopsis

Seorang anak singkong yang lahir di sebuah dusun  kecil. Hidup apa adanya dan terus bermimpi tiada batas. Tahun 1975 menjadi saksi bisu betapa mahal dan sulitnya memperoleh pendidikan di zaman tersebut. Keinginan yang sangat besar pada dirinya untuk melanjutkan kuliah sangat bertentangan dengan hati kedua orang tua. Apa yang harus ia lakukan, berhenti dengan penyesalan atau membiarkan ego merasuki detik demi detik hidupnya?


Bab 1 Langkah Menuju ke Sekolah

Aku seorang lelaki yang lahir di Dusun Gumuk Mojo merupakan dusun yang terletak di Kecamatan Bantur bagian dari Kabupaten Malang, Provinsi Jawa Timur. Seperti dusun pada umumnya banyak terbentang ladang-ladang milik penduduk.  Sebuah tradisi di dusun ku yang diadakan setiap suro yaitu pertunjukan jaranan di Goa untuk memanjatkan doa bagi leluhur dan menghormati alam ghaib. Para penduduk membawa nasi serta lauk pauk yang diwadahi kotak yang terbuat dari gedebog pisang. Kami mewarisi setiap adat zaman kuno. Sang pemain jaranan mulai melenggak lengokkan tubuhnya dan sesekali mbah dukun melecutkan pecutnya dengan suara yang memekik telinga para pendengar. Aku dan penduduk dusun ini merasa gembira. Pergelaran jaranan ini salah satu hiburan kami dimana begitu langkanya televisi di tahun 1975.

Waktu itu tahun 1975, sekolah sangat jarang berdiri. Ruang kelas untuk SMP dan SMA digunakan secara bergantian di lahan yang sama. Mengakibatkan kami anak SMA harus berangkat siang hari. Terik matahari tepat mengenai ubun-ubun. Keringat mengalir membasahi tubuh. Tenggorokan dihujam dahaga. Di depan balai desa terdapat jalanan yang baru diperbaiki. Lihatlah aspal-aspal yang meleleh akibat tak kuat dengan ganasnya matahari siang. Tanpa alas kaki kami melangkah dipinggiran trotoar jalan.

"Ya, Rabb. Hamba haus," rengek Slamet temanku.

"Sabar, Slamet. Di depan rumah sana, terdapat pohon jambu air. Buahnya lebat sekali," ucapku.

"Kalau begitu. Ayo, segera kesana!" Wajah Jono berseri kegirangan.

Aku dan Jono berlari meninggalkan Slamet, nafsu memakan jambu segar merasuki jiwa. Kami mengais jambu air yang berguguran. Manis merah merona, penuh air. Menyantapnya sambil melangkah ke sekolah. Kami hanya membawa sebuah buku dan pensil. Tekstur buku yang usang dan lencu terkena keringat yang tanpa sengaja menetes ke buku kami. Pensil 2B sebagai pelengkap, dengan karet gelang mengikat di ujung pensil sebagi penghapus.


Bab 2 Ulangan yang mengintimidasi

Gerbang SMA Bhakti menyambut, ratusan murid berbondong-bondong menjemput mimpi. Kesenjangan sosial terasa. Beruntungnya anak pejabat datang dengan sepatu, juga tas kain yang mereka tenteng. Kelas kami sederhana hanya beralaskan tanah. Papan tulis hitam dilengkapi kapur sebagai ikon terselenggaranya pendidikan. Pada bangku panjang ini aku duduk dengan Slamet, Jono, dan Munari si anak pejabat.

"Oh iya, sekarang ada ulangan biologi!" Aku terbelalak kaget.

"Rasain. Aku sudah belajar bisa santai." Jono membanggakan diri.

"Bagaimana mau belajar? Buku tulisku dipinjam murid kelas sebelah." Aku mengerutkan kening, tanda kekesalan.

"Nanti selama ulangan berlangsung bukunya harus dikumpulkan. Jika tidak siap-siap saja terkena hukuman." Slamet iseng menakut-nakuti.

"Cepat ambil, mumpung masih ada waktu untuk belajar," bujuk Munari.

Secepat kilat aku berlari mencari buku yang tanpa sadar telah berpindah tangan.

         "Hei, Darto! Kembalikan buku biologiku!" Teriakkan menggema dalam penjuru kelas sebelah.

         "Bukunya dipinjam Dewi." Darto menimpali.

Jangan heran bila buku kalian akan dioper ke orang lain, karena kelompok anak malas akan memburu buku catatan untuk belajar. Sebab buku materi hanya gurulah yang memiliki.

          "Dewi kembalikan." Perkataan terpotong, tatkala ku tengok bangku dewi yang kosong "loh, kemana Dewi?"

         "Tadi Dewi ke toilet, sebentar lagi kembali," kata Darto menenangkan.

Diri ini tak dapat menahan kesabaran, menuju ke depan pintu agar bisa mencegat Dewi dari kejauhan. Tapi sebelum itu terjadi, Dewi muncul.

"Kenapa memanggilku?"

"Kata Darto, buku biologiku ada di kamu. Aku ingin mengambilnya." Ucapku memelas.

Perjuangan terbalaskan oleh ungkapan terima kasih Dewi. Buku biologi mendarat pada pemilik sesungguhnya.

  "Aku lelah, tadi bukunya sempat hilang. Ternyata dibawa orang ketiga." Aku semakin memperlihatkan wajah kesal. Tersisa sedikit waktu untuk memahami materi ulangan.

Suara lonceng berbunyi, hal yang paling ditakutkan datang. Pak Sumarno guru paling tegas, ia akan memukul dengan rotan jika murid membuat kegaduhan. Caranya mendidik berhasil membuat ketertiban di sekolah ini. Terlambat dalam jam pelajarannya adalah penyesalan terburuk. Sekali tepisan rotan akan membuat siapa saja insaf. Pak Sumarno membagikan lembar ulangan. Sekaligus menarik buku catatan setiap murid, dengan sorot netra yang mengintimidasi.

"Eh, nomor tiga jawabannya apa?" Slamet berbisik.

Tapi Pak Sumarno tetap tahu dan menatap kami tajam.

  "Slamet! Kerjakan sendiri. Jangan ganggu temanmu."

Slamet tidak bisa berkutik, diam seribu bahasa selama ulangan berlangsung. Di tengah ulangan pensilku satu-satunya patah. Celingukan bingung, karena mahalnya pensil saat itu tidak ada yang membawa lebih. Sekuat tenaga menggigiti ujung pensil yang patah, berharap bisa digunakan kembali.

"Pakai saja punyaku," tawar Munari.

Dia menyodorkan pensil yang baru dikeluarkan dari tasnya.

Tanpa berpikir panjang, langsung kugunakan pensil tersebut untuk memenuhi lembar jawaban. Munari memang baik hati meski anak kepala desa, dia tidak sombong dan selalu bergaul tanpa memandang latar belakang seseorang. Perasaan lega memenuhi relung hatiku karena bisa mengerjakan ulangan dengan lancar.


Bab 3 Menggapai Bintang di atas Cikar

Adzan Ashar berkumandang. Bersamaan dengan habisnya jam sekolah. Kami berempat berjalan menuju rumah masing-masing. Rasa lelah datang silih berganti. Tapi berkat dinginnya hembusan angin sore, meringankan langkah kami.

  "Ayo, bareng Paklik wae!" tawar Paklik mengendarai cikar sepulang merumput.

"Wah, akhirnya datang juga. Sedari tadi kami mengharapkan berpapasan dengan Paklik," ucap Jono sebagai guyonan.

Meskipun gerobak dipenuhi berikat-ikat rumput. Kulit kami tidak pernah merasakan gatal. Sangat menyenangkan menumpang cikar tersebut. Bagaimana tidak, bila roda gerobak mengenai batu besar. Terasa lonjakan kuat yang membuat kami sedikit terpental. Satu persatu dari kami turun di pinggir jalan. Hanya menyisahkan aku dengan Paklik.

"Kamu sekolah, mau jadi apa, toh? Rajin banget tiap hari berangkat sekolah." Dalam perjalanan Paklik membuka pembicaraan.

"Aku mau jadi guru, Paklik. Tapi kata Emak dan Bapak itu terlalu ketinggian."

"Loh, ya ndak. Bermimpilah selagi itu gratis," ujar Paklik.

"Kuliah itu mahal. Sedangkan aku dari keluarga miskin. Model pelajar seperti apa yang berangkat sekolah hanya berbekal buku tulis dan pensil terikat karet gelang sebagai penghapus. Seperti si cebol nggayuh lintang. Mustahil." Ucapku pasrah.

"Ndak ada yang mustahil. Cebol pun bisa menggapai bintang."

"Caranya?" Tanyaku penasaran.

"Yo, menek wit klapa." Gelak tawa muncul mencairkan suasana.

Cikar Paklik berhenti tepat di depan ladang tebu. Karena perbedaan arah antara rumahku dengan paklik. Aku memilih untuk diturunkan di tepi jalan, sungkan untuk meminta diantarkan sampai pulang.

"Loh, telah sampai. Besok jika kamu sudah menjadi guru jangan lupakan Paklik ya, Le?"

"Nggeh, matur suwun Paklik. Jadi merepotkan."

Paklik tersenyum dan berbalik arah meninggalkanku.

Aku masih kehausan, melihat tebu-tebu menjulur tinggi membuatku sangat ingin memakannya. Bayangkan saja sari-sari tebu mengalir menuju kerongkongan yang kering keronta ini. Pemilik kebun ini sangat kaya bila aku mengambil satu batang pasti dia tidak mungkin rugi. Tanganku merusaha memelintir batang tebu agar bisa terpotong dan kubawa pulang untuk dimakan. Tapi sebelum itu terjadi.

"Hei, apa yang kamu lakukan!" Sial mandor tebu mengetahui tindakanku. Langsung aku berlari meninggalakan tebu yang sedikit lagi bisa kudapatkan.

"Maaf, Pak." Kataku sambil berlari terbirit-birit. Menghempaskan segala anganku menikmati tebu tersebut. Maklum tanaman tebu sangat mahal hanya bisa ditanam oleh orang kaya.


Bab 4 Antara Ego dan Hati Orang Tua

Sesampainya di rumah selepas sholat ashar, kebiasaanku adalah membantu orang tua mengupas kulit singkong yang akan dijadikan gaplek. Kami orang miskin hanya bisa memanen singkong di kebun orang lain, sebagai pekerja dan hanya diberi upah sebagian dari gaplek sisa yang tidak dijual. Sebelum menjadi gaplek, singkong direndam lalu diukep selama beberapa hari agar menghasilkan jamur. Jamur-jamur itu lalu dikerok untuk selanjutnya dijemur. Lalu bisa dijual ke pengepul.

"Mak, setelah lulus nanti aku ingin lanjut kuliah."

"Mau berapa kali emak berpesan. Kita orang miskin, lihat rumah ini. Diding gedhek banyak yang berlubang, hanya bisa ditambal daun kelapa." Emak tidak mendukung sama sekali. Sibuk mengupas singkong.

"Mending kamu, buruh ke sawah sambil merawat sapi punya tetangga. Itu lebih cepat mendapatkan uang." Ucap Bapak.

Sering kali mendapat balasan kata yang sama. Tapi mengapa kali ini membuat dadaku sesak. Harapan seketika runtuh. Aku termenung, membayangkan perkataan Paklik tadi. Maafkan aku, kali ini aku tidak mau menyerah. Ego mengambil alih pikiran. Terus belajar dan tawakal kepada Tuhan memohon dibukakan jalan restu. Sinar damar cempluk setia menemani malamku.  Dengan minyak tanah  sebagai bahan bakarnya, agar sumbu damar cempluk dapat menyala terang. Bau khas dari asap damar cempluk tercium kuat membuhi rongga hidungku. Rasa syukur tiada tara, tatakala aku mencoretkan mata penaku pada buku yang usang demi  menjawab soal demi soal. Hal yang paling menyenangkan sekaligus melelahkan. Mengais tumpukan-tumpukan buku lama dan mempelajarinya  mengigatkanku akan nostalgia pada setiap kelas SMA. Netraku tak mampu lagi menahan rasa kantuk. Aku mengalah dan menuruti hawa nafsuku untuk terlelap dalam mimpi yang indah.

Setelah melewati serangkaian ujian akhir kelulusan. Hari ini merupakan waktu menerima hasil dari belajarku selana ini. Kesempatan terakhir untukku bisa berkumpul dengan teman sebaya. Setiap bangku dipenuhi siswa-siswi yang sedang bercanda gurau. Aku sudah tidak berharap lagi untuk kuliah. Melihat mereka membicarakan tentang keinginan masa depan yang  cerah. Seakan cerita dongeng melintas diantara indra pendengaranku.

"Setelah SMA kau mau melanjutkan ke mana?" tanya Joni yang duduk di sampingku.

"Entah, Jon. Paling meneruskan pekerjaan orang tuaku sebagai buruh gaplek," jawabku tertunduk lesu.

"Loh, ya jangan begitu. Kamu tidak mau merubah nasibmu?"

"Ya, pengen sih. Tapi orang tuaku sudah tidak sanggup membiayai ku. Bayar uang bulanan sekolah saja aku masih hutang padamu, Jon."

"Ya, sudah kalau keinginanmu begitu. Aku bisa apa? Aku hanya tidak ingin kamu menyesal."

Maaf, Jon. Utangku belum bisa ku bayar. Tapi akan ku usahan dalam waktu dekat segera aku lunasi." Aku mencoba meyakinkan Jono.

Di akhir acara semua mata tertuju pada pusat suara. Mereka memanggil urutan sepuluh besar nilai tertinggi. Aku cemas sebab dari tadi namaku belum juga dipanggil. Aku bangga salah satu temanku Jono masuk dalam urutan ke tiga. Tersisa dua harapan lagi. Terkejut, heran dan tak percaya. Dikala pemandu acara mempersilahkan diriku naik ke atas panggung, sebagai peraih tempat pertama. Akhirnya aku bisa bersanding dengan para siswa terajin angkatan tahun ini. Sorakan serta tepukan seperti mendukung langkahku.

"Bagaimana apa kau berubah pikiran?"

"Mungkin akan ku coba bernegoisasi dengan Bapak dan Emak dulu."

"Ayo,kau harus optimis! Jika kamu punya kesulitan cerita padaku akan kubantu." Katanya sambil menepuk pundakku sebagai semangat.

Aku harus memberitahukan kedua orang tua akan berita gembira ini. Di depan gerbang sekolah tak sengaja aku bertemu dengan Paklik. Seperti biasanya aku menumpang cikar untuk diantarkan sampai ke rumah.

"Anakmu ini loh jadi lulusan terbaik mengalahkan ratusan murid." Di atas cikar Paklik memberitahu Emak dan Bapak yang sedang menjemur gaplek.

"Iya, tah Le? Coba Emak ingin lihat rapotnya." Emak  melihat rapot ku yang bertaburan angka sembilan.

"Eman, jika anakmu tidak kamu kuliahkan. Kamu masih punya sawah, sewakan saja untuk modal kuliah," terang Paklik.

"Apa cukup? Kan cuma sepetak sawah." Bapak khawatir.

"Cukup, Pak. Nanti di kota sana, aku akan mencari kerja sampingan, dan mendaftar beasiswa."

"Ya, sudah Le. Kalau itu kemauan mu, bapak hanya bisa mendoakan." Bapak menepuk pundakku. Langkah yang sebelumnya berat terasa ringan seketika.


Bab 5 Suasanan Hangat di Pagelaran Wayang

Beberapa hari sebelum aku ke kota untuk melanjutkan pendidikan. Hari Minggu aku menyempatkan diri melihat pertunjukkan wayang di bawah sinar rembulan. Kami para penduduk sekaligus anak-anak nampak gembira. Pada waktu inilah kami dapat berkumpul dan berbincang-bincang dengan tetangga. Tikar-tikar digelar mengisi tanah lapang di dusun kami sembari menunggu sang dalang memainkan wayang kulit sebagai peraganya. Suasana ramai terasa, bocah-bocah meluapkan kegembiraannya dengan bermain gobak sodor dan delikan. Berlari kesana-kemari tidak membuat mereka lelah. Baju dan kaki mereka kotor, menghiraukan datangnya amukan atau jeweran telinga oleh para emak mereka nantinya demi kesenangan di masa muda. Aku duduk bersama orang tua. Juga Paklik yang di sampingku membawakan camilan kacang dan ubi rebus kegemaran keluarga kami. Suasana desa di tahun 1900-an yang penuh dengan kehangatan.

"Bagaimana kelanjutan kuliah mu?" tanya Paklik ditengah pembicaraan.

"Alhamdullah, saya lulus tes masuk perguruan tinggi di Surabaya. InsyaAllah minggu depan berangkat."

"Paklik saja yang antar kamu sampai stasiun kereta."

"Terima kasih Pak. Apa tidak merepotkan?" tanya emak.

"Ya, tidak Lah. Sudah kuanggap anak sendiri."

Cikar Paklik menuntun ragaku ke kota untuk melanjutkan kuliah, setelah dinyatakan lulus tes masuk perguruan tinggi. Di kota Surabaya aku merasa asing, semua orang di sini terlihat sibuk. Aku tak mengenal siapapun. Kecuali sebuah keluarga yang mau menampungku di hiru pikuk kota ini. Gang-gang sempit khas perkotaan di sanalah aku tinggal. Tidak ada lagi segelintir pagelaran seni yang menghiburku. Sebulan sekali aku tidak pernah absen dalam mengirim surat. Bertukar kabar dengan kedua orang tua agar bisa mengetahui keadaan masing-masing.


Bab 6 Jangan Lupa Kembali

Kurang lebih dua puluh lima tahun aku bekerja ke kota. Setiapkali aku pulang ke kampung halaman. Satu persatu kampung ini menampakan kemajuan. Mulai diaspalnya jalan, serta ramainya motor yang lalu lalang. Juga dengan pendidikan yang kuperoleh semasa kuliah, aku dapat membangun sekolah kecil yang gratis untuk anak-anak di dusun ini. Mengingat lebih jauhnya jarak sekolah dasar negri dan minimnya kemampuan biaya dari orang tua untuk menyekolahkan anaknya di tempat yang bergengsi.

Dibalik kaca mobil tak kutemukan lagi rumah berdinding gedhek di kampungku. Semua berdidinding beton dan beralaskan keramik. Media digital merajalela saat ini dengan mudahnya mencari informasi atau hiburan di internet. Tapi penduduk dusun ini masih tetap melestarikan tradisi turun-temurun. Pagelaran wayang atau jaranan yang ditampilkan setiap tanggal tertentu. Aku bersyukur bisa kembali lagi ke dusun ku. Sebuah tempat dimana ari-ariku terpendam. Juga titik ketika kaki ku pertama kali  menapak pada bumi pertiwi. Sekarang si cebol yang kalian kenal telah mendapatkan kemilau lintangnya membawa penerangan untuk orang disekitarnya.