Pengguna:Jevior Likosta
Kenangan di bundaran besar dan tempat lainnya di tanah kelahiran
Andy seorang anak laki-laki yang tinggal di pulau Kalimantan tepatnya di kota Palangka Raya daerah provinsi Kalimantan Tengah. Kota ini dulunya pernah di rencanakan oleh presiden pertama Indonesia yaitu Ir. Soekarno untuk dijadikan ibu kota Indonesia nantinya. Namun sekarang rencana itu telah dibatalkan dan rencana pembangunan ibu kota dipindahkan ke Kalimantan Timur, Penajam Paser Utara yang akan diberi nama kota Nusantara nantinya. Tugu Ir. Soekarno yang bersejarah yang berada di kota Palangka Raya, tugu itu sebagai sejarah saksi bukti beliau pernah berada dan berkontribusi di sini. Bahkan kota ini pernah ada jalan aspal peninggalan buatan Rusia. Di juluki sebagai kota cantik, tempatnya indah berseri dan masih ada alam-alam yang sejuk dan segar, warganya ramah dan bertoleransi tinggi. Di bundaran besar yang terkenal itu berada di tengah-tengah, Andy dan teman-temannya sering melakukan kegiatan olah raga pagi bersama para warga karena memang sering di adakan lari sehat di sana dan di jalan sekitar setiap hari minggu, serta berkumpul di sana selain lari pagi. Para penduduknya bangga dan kuat menjaga adat istiadat tradisional leluhur suku Dayak, yang menjadi kebudayaan, simbol jati diri mereka. Mereka menghargai para pendatang dari mana pun di sini asalkan saling menghargai, sopan santun, menjaga tata krama dengan penduduk sekitar. Oleh-oleh khas yang berada di sini adalah makanan tahu bakso ijo, tahu sumedang dan pisang goreng kepok sisir yang menjadi favorit. Di bundaran besar di tengah-tengah jalan raya sering di adakan jalan sehat, festival, konser musik dan acara lainnya. Di mana juga di jalan raya di sekitaran bundaran besar, sering juga di lalu-lalang kendaraan melaju lebih cepat karena memang itu adalah jalan raya. Selain berbahasa Dayak ngaju di sini, orang-orang di sini juga banyak berbahasa Banjar, bahasa Banjar sudah menjamur dan menyebar ke seluruh Kalimantan, mungkin kepopuleran pemakaian bahasa Banjar di sini ibaratnya mirip seperti bahasa nasionalnya Kalimantan layaknya bahasa Indonesia. Pada pagi hari Andy mulai mencoba berusaha bangun pagi tuk berangkat ke sekolah setelah begadang bermain video game online multiplayer di ponsel pintarnya bersama kedua sahabat laki-lakinya. Bunyi jam alarm di ponsel pintarnya berbunyi keras, Andy yang meskipun sudah mulai terbangun susah beranjak dari kasurnya, rasa ngantuk berat masih ada. Ibunya yang melihat waktu di jam dinding dan mendengar bunyi alarm dari ponselnya, menegurnya, “Andy! Andy! Andy! Cepat bangun, kau mau dihukum lagi oleh guru karena terlambat pergi ke sekolah lagi?!” Mendengar itu sontak dia ketakutan karena mengingatnya, “Ya bu! Aku bangun bersiap berangkat.” “Ayo cepat, sarapan sudah siap!” Dia sampai ke sekolah dan untunglah tak terlambat lagi, lebih cepat sepuluh menit. Seorang guru menyuruh murid-muridnya mengeluarkan tugas sekolah. Andy mengeluarkan catatan tugasnya itu, “Untunglah aku sudah dua hari sebelumnya mengerjakannya,” ucapnya dalam hatinya bersyukur. Andy memiliki dua sahabat laki-laki yang seumuran dengan dirinya bernama Ricky dan Thony. Mereka adalah sahabat karib sejak kecil satu sekolah seangkatan hingga sekarang. Pertama kali Andy mulai akrab dengan Thony sejak sd, sewaktu bermain drone canggih di bundaran besar yang kebetulan waktu itu bertemu dengan teman sdnya, sejak itulah mereka semakin akrab saat Thony memintanya untuk mengajarinya bermain drone. Sedangkan pertemanan persahabatan Andy dan Ricky, adalah ketika mereka bermain badminton di halaman sekolah pada saat jam pelajaran olahraga. Pertemanan mereka semakin akrab ketika berkumpul di bundaran besar, menghabiskan waktu untuk lari pagi bersama, berbincang-bincang di sana. Andy bertanya pada Ricky, “Hei Ricky, kau tau Thony itu, dia selalu merasa berlagak paling tau dan juga membantah kesalahannya, dia hampir anti kritik, selalu merasa paling benar?” “Ah aku taulah, tetapi kita ikuti saja alur pembicaraannya, daripada dia akan mengamuk aku malas berdebat dengannya,” jawab Ricky. “Dia mulai bicara tidak nyambung, dia aneh, omongannya tak berbobot,” lanjut Thony. Kadang Thony berbicara begitu cepat, tampak mulutnya sulit di rem, dia kerap kali ikut campur dalam perkataan orang lain. Ketika ada pembicaraan yang sekiranya bisa dia ikuti, meskipun hanya tahu sebagian kecilnya saja. Suka memotong pembicaraan orang lain, hingga orang lain enggan berbicara dengannya ibarat suara musik yang terus keluar menghantam suara musik lainnya. Atau ibarat seperti adanya suasana orang sedang bersuara berbicara tapi ada suara lain yang mengganggu fokus suasana tersebut. Sikap Thony mulai berubah seperti itu ketika dia mulai beranjak ke kelas 2 sma. Sampailah suatu ketika mereka Andy dan Thony mulai berdebat, konflik sewaktu kerja kelompok akibat perbedaan pendapat, sehingga bahkan setelah selesai pelajarannya kelompok, mereka melanjutkan debatnya. Saat itulah dia mulai marah pertama kalinya bertengkar dengan sahabatnya Thony, akibat pengucapannya yang mengkritik sahabatnya itu akibat tak tahan dengan pengucapannya yang tak mau ditegur dan tak pernah ingin mengalah. Sedangkan si Ricky hanya terdiam melihatnya dan tak berani menegurnya. Akhirnya mereka mulai jarang mengobrol, kelulusan sma tiba, Andy dan Ricky masih di satu kota, kota Palangka Raya sedangkan Thony pergi berkuliah ke luar kota, ke luar pulau Kalimantan, ke pulau Jawa, kota Surabaya. Dia kembali suatu tempat di mana terlihatnya jembatan Kahayan yang begitu lebar dan panjang, merenung atas apa yang telah terjadi. “Di sinilah kami sebenarnya, sering berbagi cerita, keluh kesah, entah beban hidup, kehidupan di rumah,” ucap Andy pada Ricky. Ricky diam saja mendengarnya. “Mungkin waktu itu aku pasti terlalu keras padanya.” Ricky masih akrab dan bersahabat dengan mereka berdua, namun Thony dan Andy sudah tak lagi berteman, persahabatan telah hilang. Ricky masih menghubungi kontaknya Thony, Ricky meminta Andy untuk mengontak kembali Thony agar memulai kembali perdamaian dan persahabatan. Namun baru saja Andy mengontak kontaknya Thony, Thony malah sudah mulai memblokir kontaknya Andy. Andy membuat grup sosial media bersama teman-teman lainnya. Thony melihat akun yang bernama Arlan Tody, yang mana mereka mulai semakin akrab, dia menceritakan keluh kesahnya, dan akhirnya mulai menceritakan kisah tentang sahabatnya itu bernama Andy.
Thony
Kau tahu, aku dulunya memiliki sahabat bernama Andy, dia adalah sahabat baikku. Aku mengenalnya sejak sd. Orangnya sebenarnya seru juga dibawa bicara. Kami sudah tak berteman lagi.
Arlan Tody
Mengapa, ada masalah apa?
Thony
Sebenarnya, aku sungguh bodoh waktu itu. Aku tak sadar ternyata aku yang salah. Tapi persahabatan kami sudah terlanjur berhenti. Tampak sulit rasanya tuk kembali.
Arlan Tody
Coba kau kembali hubungi dia lagi, bertemu dengan dia kembali.
Thony
Tak semudah itu, aku sudah membuat kesalahan yang fatal.
Beberapa hari akhir Thony sering menceritakan persahabatannya dengan si Andy itu.
Sampai suatu ketika si Thony beberapa teman dari grup sosial medianya itu dan di luar itu bermain game online, suatu ketika dia bertemu dengan akun teman onlinenya itu yang cukup toxic. Mengingatkannya pada temannya bernama Andy itu, “Oh Andy, aku merasa sulit melupakan persahabatan kita rupanya. Ayolah dia bukan Andy.”
Mereka mengumpulkan barang-barang dari game online kadang berkumpul bersama sesama pemain di game, kadang berbagi cerita jarang ada yang mengeluh. Pesan demi pesan dikirim. Jarang di antara mereka yang berbagai cerita keluh kesah dari kehidupan nyata mereka.
Sesekali Ricky bertanya pada Thony apakah dia merindukan kota tempat tinggalnya. Thony selalu menjawab ya. Dia sering teringat ketika berada di tempat restoran ikan bakar, jembatan kahayan dan bundaran besar. Berada kota Surabaya yang jauh dari tempatnya dan pertemanannya berteman dengan teman-teman baru di sana. Tetap tidak dapat menyingkirkan perasaan pertemanannya persahabatannya sejak kecil. Lingkungannya jauh berbeda jika dibandingkan dengan kota asalnya Palangka Raya. Meminum secangkir kopi dan melihat hujan deras turun dari balik jendela, sambil mendengarkan musik yang merdu di telinga. Yang dihidupkan oleh pihak restoran. Suasana ini, musik dan rintik air hujan yang deras mengingatkannya pada suasana masa lalunya itu.
Dia tak sabar untuk menunggu libur semester, terkadang menggunakan sosial media, bermain game online untuk berkomunikasi dengan teman-temannya itu yang sudah beda pulau dengannya. Dia akan mencoba menyempatkan waktu untuk berkomunikasi secara online dengan teman-temannya itu.
Suatu ketika dia ada bertemu seseorang dari jauh, “Heuh.. Ricky? Itu benar Ricky? Mengapa dia kesini mau menemuiku?” pikirnya berkata dalam hati. Dia mendatanginya, lalu ternyata pas dia melihatnya semakin dekat. Ternyata beda orang, hanya dari sampingnya saja yang kelihatan mirip. “Untung saja tak ku sapa tadi,”ucapnya dalam hati tersipu malu. Libur semester untuk akhir tahun pun tiba, dan terbilang lama, Thony pun pulang di saat beberapa hari lagi akan tutup tahun, lebih lambat pulang dari awal libur semester yang diberikan.
Pada malam harinya dia Thony datang ke bundaran besar untuk ikut melihat perayaaan tahun baru. Kembang api mulai diluncurkan dan menghasilkan cahaya-cahaya menarik dari ledakannya. Suara-suara meriah orang menambahkan keindahan perayaan.
Tak disangka mereka bertemu lagi, Thony dengan Andy dan Ricky serta bertemu kembali dengan temannya sejak masa remaja dan kecilnya dulu berkumpul, tak pernah terpikirkan sebelumnya. Ricky dan teman-teman membujuk Andy untuk kembai berdamai dengan Thony, berharap bisa kembali berteman, meskipun Andy sudah berdamai lebih dulu dengan Thony.
Thony mulai berbicara lagi padanya, “Andy aku meminta maaf waktu itu. Aku merasa bersalah ternyata kau benar.” Lalu menjabat tangannya sebagai tanda permintaan maaf.
Lalu Andy mulai menjabat Thony, “Tak apa-apa, sebenarnya kita berdualah yang salah. Aku meminta maaf juga waktu itu mulai jauh lebih keras padamu.”
“Bisakah kita kembali berteman lagi?” tanya Thony. “Tentu, dari dulu aku menginginkannya. Selamat berteman kembali Thony. Selamat tahun baru, awal yang baru, memulai semuanya lagi ke yang baru.”
“Iya, selamat tahun baru juga. Terima kasih Ricky dan teman-teman yang lain, kita bertga kembali bersahabat lagi.”
Mereka tersenyum gembira, pada akhirnya mereka kembali berdamai dan berteman. Perlu waktu yang lama untuk memulihkannya kembali.
Mereka mengabadikan momen tahun baru itu, merekamnya seperti memfoto, memvideo dan merekam suara mereka, sebagai kenangan terindah tak terlupakan, meskipun waktu terus berjalan, karena ini adalah terjadi pada tahun baru. Jadi tahun berganti, awal baru tetap terus dimulai menjadi lebih baik.