Lompat ke isi

Pengguna:Karisma Fahmi Yuhsina

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas

Gara-gara Menonton Film Hantu

Gara-gara ikut Kak Edo menonton film hantu, Dira jadi penakut. Ia tidak berani ke kamar mandi sendiri, dan tidur pun minta ditemani Mama. “Kan? Mama bilang juga apa? Kalian nonton film horor yang tidak ada manfaatnya!” Mama mulai mengomel. “Kalau sudah begini repot, kan?” “Pliiss…malam ini saja, Ma” Dira mencoba merayu Mama.

Mama tetap menggeleng, menyilangkan dua tangan, menolak rayuan Dira. Kalau sudah begitu, Dira tahu Mama tidak akan mengubah keputusan. “Kalau kamu berani menonton film horor tanpa didampingi Mama, itu tandanya kamu sudah dewasa. Di film horor itu kan ada batasan umurnya? Pasti ada tulisan BO, Bimbingan Orang tua. Harusnya kamu menonton dengan pendampingan orang tua” kata Mama lagi.

“Kan Dira nontonnya ditemani Kak Edo?” “Nah, kenapa sekarang harus Mama yang repot? Sana, kamu tidur sama Kak Edo!”

“Iiiihh… Mama? Kan Kak Edo sudah besar? Lagipula kamar Kak Edo bauuu…” kata Dira mengibaskan tangan ke depan hidung. Lidahnya dijulur-julurkan tanda jijik.

“Malam ini saja, Ma?” Dira mencoba merajuk lagi. “No no no!” Mama tetap menggeleng, berjalan menuju pintu kamar. “Selamat malam, Sayang” kata Mama sambil mematikan lampu dan menutup pintu kamarnya.

“Kamu mau lampunya tetap menyala?” tanya Mama sebelum benar-benar menutup pintu. “Ehmm… “ Dira berpikir sejenak. “Tidak usah, Ma. Dimatikan saja. Tolong pintunya dibuka sedikit, Ma.”

Mama membiarkan pintu sedikit terbuka. Dira kesal sekali. Dira tidak takut kamar yang gelap. Saat lampu menyala justru ia kesulitan untuk tidur.

Saat ini ia lebih takut pada ruangan kamarnya yang sunyi. Saat lampu menyala di malam hari, ia membayangkan pensil, rautan, buku-buku, dan benda di atas meja itu saling mengobrol. Begitu juga dengan sandal, boneka, atau benda-benda yang lain akan hidup seperti di film horor yang ditontonnya.

“Mimpi indah, Sayang” kata Mama sebelum menutup pintu. Mama juga mematikan lampu ruang tengah.	 

Dira mengingat-ingat benda-benda di sekelilingnya. Di film itu boneka di rak, buku-buku di dalam lemari, dan gambar di dinding berubah menjadi hantu. Sengaja ia minta Mama tidak menutup pintu, supaya kalau ada apa-apa nanti dia bisa segera keluar. Ditariknya selimut, dan mulai menutup mata.

Tiba-tiba bayangan hantu di dalam film itu muncul lagi. Ia segera membuka mata, mencoba menenangkan diri. Ia menghitung sampai seratus, dan berdoa agar pagi segera tiba. Karena lelah, akhirnya Dira tertidur.

“Braaak” Suara itu membangunkan Dira padahal baru saja ia menutup mata. Jantungnya berdegub kencang. Suara benda terjatuh di ruang sebelah. Ruangan di sebelah kamarnya sudah lama tidak digunakan. Ayah sering meletakkan benda-benda yang sudah tidak dipakai di sana. Tumpukan buku-buku tebal dan beberapa peralatan masak milik Mama yang sudah tidak digunakan lagi disimpan di ruangan sebelah.

“Bruuukk”

Kali ini seperti barang berat yang jatuh. Dira semakin takut. “Jangan-jangan ada hantu seperti di film yang …” pikir Dira. “Braaaakk”

Dira segera berlari keluar kamar. Di luar sudah sepi. Lampu ruang tengah sudah dimatikan. Ia ingin berteriak, tapi ditahannya. Ia tak mau membuat seisi rumah terbangun. Dengan langkah pelan ia menuju ruang sebelah.

Pintunya setengah terbuka. Dari dalam ruangan yang gelap itu ia melihat lingkaran kecil yang bersinar.

“Braaakk….gedubrakkk…” kali ini suaranya lebih keras. Suaranya gaduh sekali. Kamar itu gelap tak belampu. Dira tidak berani masuk. Dira hanya mengintip dari balik sofa. Tiba-tiba lampu menyala. Mama dan papanya keluar dari kamar.

“Mamaaaa….” Dira memeluk mama. “Ada apa?” tanya Mama. “Sepertinya ada sesuatu, Ma… “ Dira menunjuk ke arah pintu di sebelah kamarnya.

Papa segera membuka pintu ruang yang kosong itu. Dira berdiri di dekat sofa, tidak mau ikut masuk ke ruangan itu.

“Gedubraaakk …. Gedubraaakkk…. Braaakk…. Meeoooww….”

“Hmm… “ Papa mengangkat bahu sambil keluar kamar. “Itu Cimi. Cimi menangkap cicak” kata papa. Cimi keluar dari kamar itu dengan seekor cicak di mulutnya.

“Oh, jadi bukan hantu, ya?” tanya Dira lega.

Papa dan mama tertawa.

“Tak ada hantu, Dira” kata mama. “Itu cuma ada di film. Ayo tidur lagi” Dira masih berdiri di dekat sofa. Ia masih enggan masuk ke kamar. Ia harus mulai tidur sendiri lagi. Ia masih takut dan terbayang-bayang hantu di film.

“Tadi Cimi menendang tumpukan kotak sepatu” kata Papa. “Pa, apa di dunia ini benar-benar tidak ada hantu?” tanya Dira pada Papa.

Papa menoleh pada Dira, mengusap kepala Dira dengan kasih sayang. “Kalau di dunia ini tak ada hantu, mengapa orang-orang itu membuat film tentang hantu?” tanya Dira.

“Dira, di dunia ini kita tidak bisa melihat hantu” “Berarti hantu itu ada?” tanya Dira serius. “Ada. Tapi hanya orang-orang tertentu saja yang bisa melihatnya” “Tapi di film itu … ” “A…aa…aaa….” suara Mama memotong pertanyaan Dira. “Gara-gara film, ya?”

“Hmm….” Dira tersenyum kecut. “Dira, film itu adalah karya seni. Orang menganggap film hantu itu sebagai karya seni. Tapi jarang sekali orang bisa melihat hantu. Bahkan pembuat film hantu pun belum tentu bisa melihat hantu” Papa menjelaskan. “Adegan dalam film hantu itu dibuat manusia. Tokoh hantu di film itu berdasar naskah” Dira mengangguk mengerti.

“Dira, Mama bukannya melarang kamu menonton film horor. Mama hanya ingin kamu paham, semua itu ada batasannya. Di film-film atau tontonan tertentu selalu ditampilkan keterangannya. Ada film yang hanya boleh ditonton oleh orang dewasa, ada tontonan yang bisa dilihat oleh anak-anak, ada juga film anak tapi dengan bimbingan orang tua.

Mengapa begitu? Karena di film itu ada gambaran yang hanya bisa dimengerti oleh orang-orang yang sudah cukup umur. Semua keterangan itu bukan hanya aturan sembarangan. Semua itu sudah ada ketentuannya” kata Mama panjang lebar.

“Mengapa anak-anak belum boleh menonton film hantu? Karena anak-anak belum bisa memahami, apakah hantu itu benar-benar ada atau tidak. Yang ada mereka jadi takut tidur sendiri, takut ke kamar mandi sendiri, takut sendirian di kamar, kan?” tanya mama lagi.

Dira tersenyum kecil. Dia malu sekali pada Mama dan Papa. Dia mengira ia sudah cukup bisa menonton film hantu, ternyata menonton film itu membuatnya menjadi penakut.

“Sudah, sekarang kita tidur lagi. Besok harus bangun pagi” kata Papa. “Mau papa temani sebentar?”

Dira menggeleng pelan, tersenyum. Ia menyesal menonton film hantu. Kini ia sudah yakin film tentang hantu itu tidak bermanfaat untuknya. “Cimi akan menemanimu” kata mama lagi.

“Cimi….Cimi…” panggilnya pelan. Cimi mengikutinya masuk ke dalam kamarnya. Cimi menguap lebar, lalu tidur di bawah kasur Dira.

Surakarta, Februari 2023