Pengguna:Reni Sukma Ningrum
Bapakku Galak
[sunting]Oleh Reni Sukma Ningrum
Sinopsis
[sunting]Seorang bapak yang diberi julukan galak oleh anak-anaknya dan masyarakat sekitar tidak membuat tokoh bapak tersebut merubah akan sifatnya yang terkenal itu. Ia tak segan melakukan hal apapun hanya demi mendidik anaknya. Namun, apakah anak-anaknya tak merasa tertekan oleh hal tersebut? Apakah bapak tersebut ada maksud dan tujuan tertentu?
Lakon
[sunting]- Aku/Kami
- Bapak
- Ibu
Lokasi
[sunting]Desa Lerep, Kecamatan Ungaran Barat, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah
Cerita Pendek
[sunting]Orang-orang mengatakan desa kami adalah desa yang asri. Yaa, sangat asri. Banyak pohon bambu yang berjejer di sekitar sungai. Bahkan di tengah desa banyak pohon-pohon besar seperti jati, randu, dan kalbi yang menghiasi jalanan desa kami. Di sisi lain banyak pula pohon buah-buahan seperti mangga, rambutan, dan duku.
Desa yang kini memiliki banyak objek wisata asri ini berada di Kecamatan Ungaran Barat, tepatnya di desa Lerep. Lerep memang terkenal dengan keistimewaannya sebagai desa wisata. Sementara itu, di sekeliling desa kami juga terdapat perkebunan Melati. Maka tak heran jika udara di desaku masih sangat segar. Akan tetapi semua itu hanya berlaku di desaku, tidak untuk rumahku.
Rumahku yang dekil, hanya seukuran 8 x 13 m^2 dengan 1 ruang tamu besar, 3 kamar tidur dan sebuah dapur itu dihuni oleh 9 orang. Terlalu sempit bukan? Ditambah lagi tak ada halaman. Samping rumah hanya lahan kosong dengan tanaman pisang, tidak lebih.
Julukan asri yang menurutku lebih merujuk kesifat ramah tamah untuk para penghuninya juga tidak berlaku untuk keluargaku, terutama Bapakku. Semua orang desa bilang Bapakku galak. Sekali bilang A tetap A. Tidak bisa berkata B. Terutama terkait bidang pendidikan dan tata krama.
Suatu ketika bapak berkata,
“dek tahu tidak bedanya manusia dan hewan?”
“makan” jawabku tanpa berpikir lama
“minum”
“hamil”
“beranak”
“buang hajat”
Bapak masih saja menggeleng.
“Tata krama” lanjut bapak.
Lalu kami menyimak pelajaran tentang tata krama. Dimana kita diajari untuk bersikap menghormati orang lain. Misalnya ketika orang lain sedang berbicara kita harus diam, mendengarkan. Dan pada episode selanjutnya, bapak akan mengambilkan teladan dari cerita-cerita para nabi. Sementara itu kita akan menyimak dan terkagum-kagum. Lalu sibuk dengan pikiran kita masing-masing. Kadang kita berebut tanya, kadang pula berargumen. Kenapa begini, kenapa begitu. Bapak tak marah sama sekali, sebaliknya bapak malah senang jika kita punya banyak pertanyaan.
Pernah suatu ketika, pada saat aku dan kakak-kakakku akan bepergian, karena saking senangnya kami sampai tertawa berlebihan. Bapak yang saat itu mendengarnya sudah berkata sampai 3 kali untuk mengingatkan kami, akan tetapi kami masih saja tertawa. Dan untuk keempat kalinya, bukan ucapan yang keluar. Tangannya sudah menarik telinga kami. Kami dimarahi habis-habisan. Dikurung di kamar. Lalu ditinggal pergi. Aku yang masih kecil saat itu hanya menangis dalam diam.
Pernah juga, saat kami bermain lari-larian. Lama-lama saling melempar batu. Seperti biasa, kami selalu menghiraukan peringatan bapak. Untuk keempat kalinya, kami digendong lalu dilempar ke kolam air yang warnanya hitam pekat penuh lumpur dan ada lumutnya di permukaan. Kami menangis bersama. Bapak pun kena marah ibu. Akan tetapi karena dasar bapak orangnya keras. Dia tetap tak berubah. Setelah kami sedikit besar, setiap kali bapak berbicara kami hanya mendengarkan. Istilahnya masuk telinga kanan, keluar telinga kiri. Kadang pula kami mengikuti apa yang dibicarakan di belakang. Yahh, paling kalau ketahuan hanya disampar kayu bakar.
Ini tentang hati bocah. Sesungguhnya kami tak suka banyak dikomentar. Kami ingin melakukan hal yang sama seperti yang lain, bermain, makan, mandi. Itu cukup.
Hanya saja aku paham setelah dewasa. Bahwa buyut-buyut kami memiliki tingkat kemalasan yang tinggi. Itulah kenapa bapak selalu memerintahkan kita agar terbiasa bekerja keras. Selain itu, aku juga baru tahu bahwa buyut-buyut kami memiliki tingkat ke”njarag”an yang tinggi. Atau lebih dikenal melawan perintah.
Aku baru tahu bahwa sifat itu adalah sifat para iblis. Iblis adalah makhluk Allah yang paling pintar tetapi tidak patuh (njarag) sehingga iblis dilaknat oleh Allah. Oleh karena itu, bapak sering menasehati kami agar senantiasa patuh terhadap orang tua.
Oh bapak, maafkanlah kami yang tak mengerti tentang hidup.
Dan kini aku memahami jalan pikiran bapak. Untuk membentuk karakter anaknya, bapak mendisiplinkan kami dengan caranya. Hal itu semata dilakukan karena beliau tahu, bahwa masa depan ada di tangan kami, dan tidak selamanya seorang bapak bisa menjaga anak perempuannya. Bapak tak mau kami tertindas terus oleh yang namanya perasaan. Seperti yang dirasakannya sewaktu muda.
Selesai~