Lompat ke isi

Pengguna:TututHastuti

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas

Pot Bunga Mawar Kuning

Oleh: CH Tutut Hastuti

Fani masih bersandar pada pembatas tembok setinggi dadanya di balkon atau teras rumahnya yang di lantai dua. Memang tempat itu sangat nyaman untuk memandangi lingkungan sekitar perumahan yang berlatar belakang bukit-bukit yang asri. Matanya yang bening terlihat bersinar penuh kegembiraan, sedang mengamati tetangga baru yang menempati rumah di seberang jalan.

“Kira-kira punya anak sebaya aku, nggak, ya?” tanyanya lirih pada dirinya sendiri. Rambut hitamnya yang dikucir kuda melambai-lambai pelan tertiup angin sejuk sore yang cerah.

“Apa aku main saja ke rumahnya sambil menyapa?” tanyanya lagi sendiri sambil menopangkan dagu di meja kecil sambil duduk santai di kursi yang masih di teras atas rumahnya.

“Ah, tapi tidak sopan, kan, kalau aku tiba-tiba datang ke rumah mereka?” Kali ini seperti ada kata hati lain yang mencegah niatnya itu.

“Fani, kenapa bengong di sini?” Suara Bunda tiba-tiba sudah terdengar dekat sekali di telinga Fani.

“Eh, Bunda. Oya, Bun. Aku mau tanya, Itu tetangga yang baru pindah punya anak sebaya aku, nggak?” tanyanya polos sembari menatap penuh harap pada Ibunya.

“Oh, kalau itu Bunda belum tahu. Kan, mereka baru saja datang. Mungkin, sekarang masih sibuk berbenah rumahnya. Kita tunggu saja sampai mereka menyapa kita. Berarti, kondisinya sudah santai dan kita bisa berkenalan dengan mereka,” Saran Bunda dengan lembut.

“Tapi, aku tidak sabar lagi, Bun. Selama tinggal di rumah ini, aku tidak punya teman yang bisa kuajak bermain,” Fani menggerutu sambil menekuk mukanya. Matanya yang bersinar riang tadi sudah tidak terlihat lagi.

“Sabar, dong. Fani sudah besar, lho. Masak sudah kelas lima tidak bisa menahan diri. Kalau kita langsung mendatangi rumahnya, itu seperti sikap tidak sopan karena mereka baru saja pindah. Ingat, tidak? Saat kita pindah ke rumah ini, sangat melelahkan dan banyak barang yang harus diatur. Belum masalah lain yang harus diurus. Sangat capek, kan?” Bunda mencoba memberi pengertian pada Fani yang masih tampak kesal.

“Oya! Bunda ada ide, nih.”

“Apa, Bun?!” secepat kilat fani bertanya. Wajahnya yang manis kembali bersinar ceria seperti sedia kala. Kali ini, matanya menatap serius wajah Bundanya yang tersenyum penuh arti.

“Bagaimana kalau sekarang, Fani bantu Bunda membuat kue. Jika nanti tetangga kita datang berkunjung, mereka bisa menyicipi kue buatan kita. Bagaimana, setuju?” Nada suara Bunda yang penuh semangat langsung mengubah suasana hati Fani yang sempat muram dan sedih kembali gembira.

“Waah, aku setuju, Bun. Ayo, kita lakukan sekarang, Bun,” Suara Fani kembali bersuka cita. Sifatnya yang periang, cepat sekali menghilangkan rasa sedih yang sempat hinggap. Tangan mungilnya segera menggandeng Bunda untuk melangkah dan mereka tertawa bersama sambil menuju dapur di lantai bawah.

***

“Namaku Anjani.”

Ternyata benar dugaan Fani bahwa tetangga barunya mempunyai anak sebaya dia. Pada suatu sore, setelah satu hari sejak kepindahan mereka di dekat rumah Fani, keluarga Anjani berkunjung ke rumah Fani. Pastinya, Fani sangat gembira karena harapannya terkabul. Apalagi Anjani adalah anak perempuan sebaya dengannya yang gampang bergaul meskipun anaknya terlihat pendiam dan sangat tenang sikapnya. Sangat berbanding terbalik dengan karakter Fani yang banyak bicara, ceplas-ceplos, periang, dan cepat tanggap dalam menghadapi situasi di sekitarnya.

“Panggil saja aku Fani. Mau lihat pemandangan dari balkon di atas?” ajaknya pada Anjani dengan tujuan agar teman barunya merasa senang melihat-lihat isi rumahnya. Wajahnya penuh kegembiraan karena mendapatkan teman sebaya di lingkungan rumah yang selama ini diimpikan. Lalu, Anjani menanggapi dengan anggukan kepala disertai senyuman lebar pada Fani, teman barunya.

“An, masuk di sekolahku saja. Nanti, kita bisa berangkat bersama diantar Bundaku,” ujar Fani antusias penuh semangat. Mereka telah sampai di balkon atas rumah Fani. Anjani tak henti berdecak kagum melihat pemandangan bukit indah yang melatar belakangi komplek perumahan mereka.

“Ah, ya. Mamaku bilang juga begitu. Mulai besok aku sudah bisa ke sekolah bareng kamu,” Anjani membalas ucapan Fani dengan tenang dan tersenyum sambil menatapnya.

“Mulai sekarang kita berteman, ya. Maukah kau bersahabat denganku, An?” tanya Fani penuh harap.

“Ya, tentu. Aku senang sekali kamu mau berteman denganku. Kupikir, aku akan kesulitan ketika orang tuaku berencana pindah ke sini. Aku sempat tidak makan dan sakit karena takut. Ternyata Mamaku benar, ketakutan karena belum mengalami kejadian sebenarnya akan jadi sia-sia saja. Makasih, Fani. Kita akan berteman selamanya, ya,” Tak disangka Anjani yang pendiam bisa mengungkapkan isi hatinya karena saking bahagianya bisa bertemu dengan Fani, teman barunya.

Sejak itu, Fani dan Anjani selalu terlihat bersama di sekolah maupun di rumah, kecuali jika Fani sedang mengikuti les melukis. Tak diragukan lagi, bakat melukis Fani sudah sangat terlihat bahkan sering memenangkan lomba sehingga dia menjadi terkenal di mata siswa dan guru karena bakatnya itu. Bahkan lukisan hasil kemenangannya telah menghiasi dinding-dinding sekolahnya.

***

Musim ulangan semester akhir menuju kenaikan kelas sudah berakhir. Tak terasa hampir satu tahun Anjani menjalani hari di sekolahnya Fani. Dia merasa keadaan begitu menyenangkan. Meskipun tidak setenar Fani karena bakat melukisnya yang luar biasa, Anjani telah dikenal sebagai anak cerdas di kelasnya. Walaupun menempati peringkat pertama pada semester lalu dan semester akhir, tapi hatinya merasakan sedih dan mulai kesepian karena Fani mulai berubah dan jarang berbicara dengannya. Apalagi libur kenaikan kelas sudah di depan mata, Anjani tidak ada kesempatan lagi naik mobil Bunda Fani yang selalu mengantar-jemput mereka berdua.

“Ma, Anjani bingung harus bagaimana?” tanya Anjani serius pada Mamanya ketika sedang menyirami tanaman bunga mereka yang beraneka warna di samping rumah asrinya pada suatu sore. Kebetulan Mama Anjani sedang libur kerja. Anjani juga belum ada rencana mengisi liburan sekolah yang cukup panjang ini.

“Ada masalah di sekolahmu?” Mamanya malah balik bertanya pada Anjani yang mengekor mengikuti langkahnya sambil menyirami tanaman.

“Kayaknya Fani marah sama aku, Ma. Kemarin-kemarin jarang ngobrol di mobil,” ujar Anjani perlahan. Mamanya langsung menghentikan pekerjaannya, lalu membimbing Anjani untuk duduk bersama di bangku.

“Coba, ceritakan pada Mama apa yang terjadi, sayang,”  bujuknya dengan lembut.

“Aku pernah dengar ada temen yang berbicara, Ma. Dulu sebelum  ada aku, Fani selalu mendapatkan juara satu di kelas. Tidak ada yang bisa ngalahin, dia juga jago melukis. Kalau sekarang aku yang mendapat juara, bukan salahku, kan?” Anjani mengungkapkan uneg-uneg di hatinya.

“Tidak salah, sayang. Mama percaya Anjani telah berusaha sebaik mungkin dan juga rajin belajar. Kamu tidak perlu takut dan minder dengan segala omongan dari temanmu. Apa sebaiknya, Anjani menemui Fani di rumahnya? Siapa tahu, Fani lagi ada masalah lain,” Mamanya berusaha menenangkan Anjani dan memberinya saran yang positif padanya.

“Tapi Fani selalu sibuk sekarang, Ma. Mungkin sudah punya rencana bepergian karena sudah libur.”

“Coba, kamu mulai ngobrol lewat *chat *WA. Ada nomor Hapenya, kan?” saran Mamanya lagi dengan lembut.

*(Chat : perbincangan di media sosial. WA : WhatsApp, aplikasi atau tempat untuk mengirim pesan di ponsel pintar atau smartphone.)

“Ada, Ma. Tapi, selama ini kami tidak pernah ngobrol lewat WA karena setiap hari ketemu. Bahkan Bundanya Fani sering mengajak makan siang di rumahnya sepulang dari sekolah,” kata Anjani bercerita, mengingat kebaikan Bundanya Fani.

“Bagaimana kalau kamu kirim pesan sekarang ke Fani dan kita tunggu reaksinya?” Mamanya Anjani memberikan ide untuk berkomunikasi.

“Baiklah,” Anjani menuruti saran Mamanya. Dia mulai menulis kata-kata di pesan WA lewat telepon genggamnya.

( Fani, kamu marah sama aku?). Tring. Ah, langsung ada balasan.

(Nggak). Anjani terdiam memandangi jawaban Fani yang sangat singkat.

(Kamu di mana? Aku mau ke rumahmu). Anjani terdiam lagi menunggu balasan pesannya yang sudah terbaca dari tadi.

(Aku tidak di rumah). Hanya begitu saja jawaban Fani. Anjani masih bingung, lalu membalasnya.

(Kapan aku bisa main ke rumahmu?). Kali ini, pesan Anjani tidak dibalas. Dan, pembicaraan lewat WA berhenti sampai di situ. Lalu Anjani menghampiri Mamanya yang masih sibuk mengurusi tanaman bunganya.

“Fani tidak ada di rumah, Ma. Dan, katanya dia nggak marah sama aku. ”

“Oh, begitu. Betul, kan? Mama bilang mungkin Fani lagi kesal dengan suatu hal yang tidak bisa diceritakan padamu. Mama yakin, Fani anak yang baik juga cerdas. Dia juga terlihat  gembira saat bersama dengan Anjani. Bersabarlah saja, kita tunggu sampai Fani berbagi cerita denganmu, *OK?” Mama Anjani memberikan semangat padanya agar tidak berpikiran negatif pada temannya.

*(OK. Adalah kata dari bahasa Inggris : Okay, artinya menunjukkan persetujuan, pembenaran.)

***

Sementara beberapa hari telah berlalu sejak percakapan itu. Kini sosok Fani berdiri di depan pintu rumah Anjani. Seperti tidak percaya, Anjani membuka pintu dan hanya diam terpaku di hadapan Fani yang tersenyum manis. Wajahnya juga terlihat berseri bagaikan bunga yang sedang mekar. Ditangan kirinya tampak menjinjing bingkisan dalam keranjang.

“Anjani, aku baru nyampai rumah hari ini. Jadi, aku langsung ke sini. Oya, ini ada oleh-oleh untukmu. Maaf,ya. Aku tidak mengabarimu karena beberapa hari ini aku keluar kota dengan Bunda. Ada lomba melukis yang harus kudatangi,” Ungkap Fani sedikit panjang dan membuat Anjani langsung gembira dan lega. Ah, ternyata begitu. Lalu, Anjani mengajak Fani duduk di taman bunga samping rumahnya yang terasa lebih sejuk.

“Makasih Fani. Tapi, beneran kamu tidak marah sama aku? Kamu tidak mendengar pembiacaraan teman-teman di kelas kemarin dulu?” Anjani memberondong pertanyaan-pertanyaan yang masih mengganjal di hati dengan lugunya.

“Ah, ya. Aku mendengar itu. Sebenarnya, sebelum ulangan semester akhir kemarin , aku sangat kesal harus ikut les sana-sini. Tapi, aku juga ingin tetap mendapatkan juara kelas. Lalu Bunda memberiku sebuah saran,” sejenak Fani terdiam.

“Apa itu?” Tanya Anjani penasaran.

“Berusahalah semampumu, dan tidak perlu kecewa apapun hasilnya nanti,” Fani menjawab dengan mantap dan yakin.

“Bundaku juga bilang, fokuslah pada kelebihan yang kamu miliki, maka kamu akan merasa lebih bahagia. Aku akan fokus pada bakatku melukis, yang penting pelajaranku tidak tertinggal. Jadi, sekarang aku tidak terlalu sedih, apalagi marah denganmu,” ujar Fani dengan nada riang, terdengar ringan sekali seakan tidak ada beban yang menghimpitnya.

Anjani mengerti sekarang, bahwa yang dikatakan Mamanya memang benar. Fani adalah sosok teman yang baik dan cerdas juga. Mungkin hatinya saja yang terlalu sensitif atau jadi perasa ketika mendengar perkataan orang lain yang belum jelas kebenarannya. Tiba-tiba Anjani mengingat sesuatu, dan berkata,

“Fani,, kamu masih suka bunga mawar?” tanyanya cepat.

“Iya, masih. Kenapa?” tanyanya agak bingung.

“Aku ingin menjadi sahabatmu selamanya. Kata Mama, aku boleh memberimu bunga mawar kuning ini bila bertemu denganmu lagi. Aku juga masih ada satu pot bunga mawar kuning untukku. Maukah kamu merawat yang kuberikan ini?” Tanya Anjani sambil menyodorkan sebuah pot cantik yang berisi tanaman bunga mawar kuning. Anjani sengaja menaruhnya di rak-rak yang tersusun rapi untuk menempatkan tanaman bunga kesayangan.

“Ah, cantik sekali.  Aku sangat menyukai mawar kuning ini, An. Makasih, ya. Aku janji akan merawatnya setiap hari,” Jawab Fani bersemangat. Hatinya seperti dipenuhi bunga-bunga indah yang beterbangan penuh aroma wangi dan menyenangkan. Berdua, memandangi bunga mawar kuning dalam pot yang berada di pangkuan Fani dan keduanya tersenyum  lebar saling menebar kebahagiaan.

“Halo, Fani,” Suara Mama Anjani menegur dengan ramah yang sudah berdiri berada di belakang mereka. Lantas, seketika Fani menoleh dan menjawab dengan gembira.

“Pa kabar, Tante?” sahutnya sambil beranjak berdiri dan membalikkan tubuhnya. Tangannya masih memangku pot bunga mawar kuning. Anjani pun ikut bangkit dari duduknya dan memandangi Mamanya penuh kegembiraan..

“Fani, suka dengan bunganya?” tanyanya ramah.

“Iya, Tante. Terima kasih,” jawabnya sopan dan terdengar ceria.

“Bagaimana kalau sekarang kita bertiga ngobrol di dalam. Tante ingin sekali mendengar ceritamu yang pastinya sangat seru, kan?” Dan mereka tertawa bersama sembari berjalan beriringan masuk ke rumah. Hari ini, sepertinya terasa begitu indah bagi Anjani, juga Fani. Masing-masing telah menemukan hal yang baru dalam kehidupan mereka dan tentunya itu sangat berharga bagi keduanya.