Lompat ke isi

Pengguna:YinUde123

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas

ANAK-ANAK SARUNE Karya Yin Ude

Lahan kosong seluas tiga are itu telah dipagari oleh pemiliknya. Di atasnya akan dibangun gudang. Maka tak ada lagi tempat bermain anak-anak komplek. Una, Eka, Roni, Jaya, Heru dan teman-temannya merasa sangat kehilangan. Biasanya tiap pagi dan sore mereka bermain bola, bulu tangkis, bersepeda dan sebagainya di lahan itu. Menyenangkan sekali, apalagi dalam libur sekolah seperti saat ini, yang akan berlangsung hingga tiga minggu ke depan. Siang, Una di teras. Ia menatap lahan kosong itu, yang berada di seberang gang, tepat di depan rumahnya. Gundah hatinya, membayangkan nanti sore tak bisa bermain lagi di sana, dan besok pagi, besok sore juga, dan seterusnya, sementara baru minggu depan bapak ibunya akan mengajaknya berlibur ke rumah bibinya di desa. Sementara ia tidak begitu suka menghabiskan waktu dengan bermain game. Game apa saja, baik di ponsel maupun komputer. Menurutnya itu bisa mengakibatkan kecanduan yang tidak baik terhadap kesehatannya. Kakek Yusuf muncul dari samping rumah. Kakeknya itu memanggul karung besar berisi sampah untuk dimasukkan ke dalam bak sampah di trotoar luar halaman. Una memerhatikan badannya yang terlihat masih kokoh dan langkahnya yang juga masih tegap, walaupun berusia hampir delapan puluh tahun. Itu karena Kakek Yusuf gemar makan sayur dan buah, di samping karena berjiwa seni pula. Banyak yang meyakini bahwa orang yang berjiwa seni akan selalu tenang, santai dalam berpikir dan bertindak, sehingga tidak mudah stress serta tidak gampang terserang penyakit. Kakek seorang seniman sarune pada masa mudanya. “Ya, Tuhan!” seru Una pelan. “Kenapa tak kuisi waktuku dengan belajar membuat dan memainkan sarune saja dengan Kakek? Aku bisa pula mengajak Eka, Roni dan semua temanku, agar mereka tak menghabiskan waktu dengan hanya bermain game!” Anak berusia sebelas tahun itu mendekati kakeknya, mengutarakan niatnya. Kakek Yusuf mengangguk-angguk senang. “Boleh,” katanya. “Sarune adalah alat musik tiup kita masyarakat Sumbawa. Dengan mempelajari cara membuat dan memainkannya berarti kalian akan melestarikannya, sehingga tidak punah.” Dengan riang Una berlari ke rumah Heru, temannya yang paling dekat tempat tinggal dengannya. Anak itu sedang berbaring di ranjang di dalam kamarnya sambil bermain game. “Apaaa?” serunya dengan muka terkejut saat Una mengajaknya belajar membuat dan memainkan sarune. “Apa aku tidak salah dengar? Zaman modern begini kita masih mengurusi alat musik daerah yang kuno itu? Tidak, aku tidak mau ikut! Aku sudah sangat asyik dengan bermain game saja!” Lalu anak itu tertawa, keras sekali. Maksudnya mengejek ide Una. “Idemu itu pasti akan ditertawai pula oleh Eka, Roni dan Jaya! Jadi tak usah kaucoba-coba mengajak mereka juga,” sambung Heru dan kembali tertawa. Una kecewa dan sedih sekali diperlakukan seperti itu oleh temannya. Ia pulang dengan lesu. Semangatnya hilang. Tiba di rumah ia langsung menemui ibunya. “Bu, kita berangkat besok saja ke rumah Bibi Zaenab, ya? Tidak usah menunggu minggu depan,” rengeknya. “Saya bosan tidak ada kegiatan di sini.” “Apakah kamu dan teman-temanmu tidak jadi belajar membuat dan memainkan sarune?” tanya Kakek Yusuf. “Mereka tidak mau,” jawab Una sambil terus menarik-narik lengan baju ibunya, meminta wanita itu menyetujui permintaannya untuk secepatnya berlibur ke rumah bibinya.

Berlibur di desa Bibi Zaenab sangat menyenangkan. Tiap hari Una diajak oleh Manambai dan Daha, anak bibinya pergi ke sawah. Mereka, seperti anak-anak lain ikut membantu pekerjaan orang tua, seperti menyiangi tanaman, memupuk dan menggemburkan tanah. Jika sudah selesai, semuanya akan memancing belut atau ikan di kali yang jernih sekali. Waktu siang sampai sore dihabiskan pula di bukit dekat desa, memetik buah-buahan liar seperti nyamung resa atau jambu batu dan jiwat, jamblang yang banyak tumbuh di sana. Manambai dan teman-temannya tangkas sekali memanjat, memetik, membawanya turun dalam kantong plastik. Una tak diijinkan naik pohon karena belum terbiasa. Ia hanya disuruh memakannya. Kadang mereka pun pergi ke karato, arena pacuan kuda. Di sana mereka menonton kegiatan maroba atau latihan lari bagi kuda-kuda pacuan sebelum mengikuti main jaran atau pacuan kuda yang sesungguhnya. Una akan ikut bersorak-sorai, melompat-lompat memberi semangat kepada para joki kecil Sumbawa yang dengan penuh keberanian dan ketangguhan menunggang kuda, memacunya lari secepat mungkin untuk lebih dulu mencapai garis finis. Una sama sekali tidak merasa bosan berlibur di desa dan bermain dengan anak-anak yang ada di sana. Terlebih ia senang sebab tak ada di antara mereka yang bermain game. Semuanya lebih suka bermain-main di alam, yang terbuka, yang indah dan bisa dijadikan tempat belajar bekerja, saling membantu serta berlatih menghadapi berbagai tantangan. Permainan anak desa juga tak kalah asyik. Una paling doyan bermain rabanga. Permainan ini merupakan permainan adu ketangkasan melontar biji nyamung sowan atau jambu monyet. Sebelum mulai bermain, Una dan Manambai bersama anak-anak lain memetik biji jambu monyet di bukit atau kebun. Mereka mengumpulkannya sebanyak-banyaknya. Setelah terkumpul, Una dan teman-temannya akan berkerumun di tanah kosong di sela rumah warga. Mereka membuat lingkaran bergaris tengah sekitar satu meter. Lalu biji jambu monyet akan ditumpuk di tengah lingkaran tersebut. Masing-masing mereka berdiri atau jongkok sejauh satu setengah meter dari lingkaran dengan tangan memegang batu pipih atau pecahan genteng bergaris tengah empat sampai lima sentimeter. Batu pipih atau pecahan genteng itu merupakan taba atau semacam gancuk. Taba dibidikkan, lalu dilontarkan dengan keras ke tumpukan biji jambu monyet oleh masing masing anak secara berurutan berdasarkan undian yang disepakati. Tujuannya agar biji jambu monyet tersebut keluar dari lingkaran, yang akan menjadi milik si pelempar. Putaran permainan rabanga berakhir ketika biji jambu monyet telah habis dikeluarkan dari lingkaran. Pemenangnya adalah yang terbanyak mengeluarkan biji jambu monyet. Una tak pernah menang, sebab Manambai dan anak-anak desa sangat berpengalaman melempar. Tapi ia tetap menikmati permainan itu. Asyiknya lagi, usai bermain rabanga, biji-biji jambu monyet itu dibakar di bara tumpukan sekam padi. Jika kulitnya sudah kuning kecoklatan bahkan hitam hangus berarti daging di dalamnya sudah matang. Kulit itu dikupas, dagingnya dimakan bersama-sama. Rasanya manis gurih. Yang menang maupun yang kalah sama banyak mendapat bagian. Una pun hampir lupa dengan teman-temannya di kota. Ia juga sengaja tidak mau menghubungi Eka, Roni, Jaya, apalagi Heru. Keempat anak itu pernah meneleponnya, tapi Una tidak mengangkat ponselnya. Ia yakin Heru sudah memberitahu semuanya, dan Eka, Roni serta Jaya pasti berpendapat sama, bahwa sarune itu kuno, lalu akan ikut mengejek juga. Terdorong oleh ketakutan akan diejek itu pula, Una memblokir nomor teman-temannya. “Kalau ditelepon oleh orang lain, apalagi oleh teman-teman, harus diangkat. Tidak boleh diabaikan seperti itu. Tidak sopan!” Peringatan ibu dan bapaknya itu membuat Una sadar bahwa dirinya telah membuat kesalahan. Pasti orang tuanya itu akan lebih marah jika tahu dirinya memblokir nomor Eka, Roni, Jaya dan Heru. Sebab itu kesalahan yang lebih besar lagi. Tapi lagi-lagi ia cemas akan diejek. Sampai akhirnya ia tak memedulikan ponselnya lagi karena keasyikan bermain di sawah, kali, bukit, karato dan rabanga.

Dua minggu di rumah Bibi Zaenab, Una harus pulang kembali ke kota. Tapi ia tidak menyesalinya, sebab sudah sangat puas. Tiba di rumahnya Una sangat capek. Dibaringkan badannya ke sofa ruang tamu sambil mulai membuka ponselnya yang jarang dipegangnya saat di desa. Yang pertama terpikir olehnya adalah Youtube, sebab ia ingin menonton tutorial-tutorial pengerjaan soal matematika kelas lima SD. Sesuatu yang ia senangi. Halaman beranda aplikasi itu terbuka. Dan… di deretan postingan teratas ia lihat sesuatu yang mengejutkan: postingan akun bernama Anak-anak Sarune, dan di thumbnail videonya ada wajah Eka, Roni, Jaya, Heru, dan… kakek Yusuf! Lekas dikliknya link nama akun itu. Terpampanglah chanel Anak-anak Sarune dengan banyak sekali video. Terngangalah mulut Una melihat aktivitas belajar membuat dan meniup sarune yang dilakukan oleh keempat temannya bersama kakeknya itu! Anak-anak lain juga ada di sana. Pada sebuah video, Una menyaksikan Eka seperti berpidato menghadap kamera, didampingi Roni, Jaya, Heru dan Kakek Yusuf. Ia berucap, “Kami Anak-anak Sarune tidak ingin mengisi hari-hari kami, termasuk hari libur dengan kegiatan yang kurang bermanfaat, termasuk banyak bermain game. Untuk itu kami belajar membuat dan memainkan sarune. Sarune adalah salah satu alat musik tradisional Suku Samawa yang ada di Kabupaten Sumbawa Provinsi Nusa Tenggara Barat, Indonesia. Alat musik ini dimainkan dengan cara ditiup. Sarune dibuat dari bambu buluh kecil yang dilubangi. Terdapat corong yang terbuat dari daun lontar di kedua ujungnya. Corong kecil digunakan untuk meniup, sedang corong yang lebih besar sebagai pengeras suara. Sarune dimainkan dalam acara adat atau untuk mengiringi tarian daerah Sumbawa. Nada tiupannya bermacam-macam, disesuaikan dengan acaranya. Saat ini orang yang bisa membuat dan memainkan sarune sudah sangat langka. Kakek Yusuf adalah salah seorang seniman pembuat dan peniup sarune yang masih hidup. Dan beliau telah bersedia membagi ilmunya dengan mengajari kami dua kali seminggu. Tempat kami belajar adalah di salah satu ruang rumah saya, yang telah kami sepakati bersama menjadi sanggar, sekaligus tempat pembuatan konten Chanel Youtube Anak-anak Sarune. Ide belajar, pembentukan sanggar hingga pembuatan chanel Youtube ini sebenarnya berawal dari gagasan luar biasa teman kami Una, cucu Kakek Yusuf. Ia yang pertama kali menyadarkan kami tentang cara hebat mengisi waktu dengan kegiatan bermanfaat sekaligus melestarikan budaya daerah kami. Pada awalnya kami tidak tertarik dan menganggap ini kuno. Tapi Kakek Yusuf bisa meyakinkan kami untuk mau mencobanya terlebih dahulu. Ternyata Una benar, ternyata Kakek Yusuf benar. Belajar membuat dan memainkan sarune sangat mengasyikkan. Saat ini sudah dua minggu sanggar kami berjalan, dan chanel Youtube kami sudah disubscribe oleh ribuan pemirsa. Itu semua karena Una dan Kakek Yusuf….” Una tak bisa berkata-kata. Hatinya diliputi rasa kaget, kagum dan haru. Lebih-lebih melihat jumlah subscribe chanel Anak-anak Sarune yang sudah mencapai ribuan. Begitu pula jumlah kali ditonton, tanda suka dan komentarnya. Dalam komentar, orang-orang memuji teman-temannya dan Kakeknya itu yang begitu kreatif dan telah berbuat nyata untuk melestarikan sarune sebagai salah satu kekayaan budaya daerah Sumbawa dan Indonesia. Una menyesal telah terlalu cepat putus asa dan berburuk sangka kepada teman-temannya. Ia bergegas ke rumah Eka. Terkejut bercampur senanglah teman-temannya menyambut kedatangannya. “Berkali-kali kami meneleponmu, tapi tak diangkat atau panggilan tak bisa tersambung. Kami hendak memberitahumu bahwa kami sudah menjalankan idemu dan berharap kamu pulang cepat, agar kita melakukannya bersama-sama,” kata Eka. “Terima kasih, idemu luar biasa.” Ia menjabat tangan Una. “Maafkan aku atas sikapku kemarin,” ucap Heru pula sambil memeluk Una. Semua bertepuk tangan dan ikut memeluk disaksikan Kakek Yusuf yang tersenyum bangga pada cucunya.[]

Sumbawa Timur, 12 Februari 2023 Yin Ude, nama lengkap Muhammad Thamrin, penulis Sumbawa, karyanya berupa puisi, cerpen dan artikel dipublikasikan di berbagai media cetak dan online di dalam dan luar Sumbawa, seperti Lombok Pos, Gaung NTB, Suara Muhammadiyah, Sastra Media, Elipsis, Bali Politika, Uma Kalada News, Negeri Kertas dan Suara Krajan. Memenangkan beberapa lomba penulisan seperti Juara 2 Lomba Cipta Puisi Bulan Bahasa Himapbi Universitas Asy’ariah Mandar, Sulbar (2021), Anugerah Puisi Terbaik Peringatan Konferensi Asia Afrika Tahun 2022 Negeri Kertas, Anugerah Cerpen Terbaik Hari Nelayan Nasional Tahun 2022 Negeri Kertas dan Pemenang 10 Karya Terbaik Sayembara Mengarang Puisi Teroka Tempo dan Indonesiana.id dalam Rangka Memperingati 100 Tahun Chairil Anwar. Telah menerbitkan buku tunggal Kumpulan Puisi dan Cerita “Sajak Merah Putih” (2021) dan Novel “Benteng” (2021). Puisinya termuat pula dalam antologi-antologi bersama penyair Indonesia. Terbaru adalah Antologi Puisi Dari Negeri Poci Seri ke-12 “Raja Kelana” (2022).