Pengguna:Zaid Malbar
Semua Salah Udin
Hari ini aku senang sekali. Puasa pertamaku alhamdulillah berjalan lancar. Apalagi Mama juga libur. Jadinya Mama bisa menemaniku buka puasa sampai Tarawih. Setelah pulang Tarawih, aku ingin bercerita kepada Mama.
“Ma, si Udin itu, kok, konyol banget, sih?” tanyaku keheranan.
“Loh, temen sekolah kamu, kan, Git? Tadi Mama liat kamu sempet ngobrol sama dia. Emang kenapa?” balas Mama.
“Iya, Ma. Masa dia datang tadi sambil nenteng sendalnya. Ya, Gita nanya, dong. Kok, nggak dipake sendalnya malah dibawa di tangan gitu?”
“Terus, apa jawabnya?” Mama sudah senyum-senyum mendengar ucapanku. Namun, kuputuskan untuk tetap melanjutkan ceritaku.
“Masak katanya Udin, mau dituker dengan sendal yang pas. Soalnya kemarin pas sholat Jumat dia salah ngambil sendal, Maa. Kan, konyol banget!” seruku sambil menggerutu.
Anehnya Mama langsung menimpali dengan tawanya yang keras. Aku balik bertanya ke Mama. “Loh, Ma? Itu salah, kan? Kok, Mama malah ketawa, sih?”
“Dia Cuma mau ngerjain kamu itu, Git. Ya ampun, kamu percaya aja gitu apa kata si Udin?” Mama berujar sembari menahan tawanya. Sesekali Mama juga terbatuk. Entahlah. Apa Mama merasa aku begitu mudah dibohongi oleh si Udin? Atau Mama merasa Udin begitu lucu? Ah, aku takmau memusingkan hal itu.
“Ah! Mama ini. Sama aja kayak si Udin. Pantes aja namanya Salahudin. Emang salah si Udin!” seruku sambil menuju kamar tidur.
Mama justru mengabaikanku sambil melanjutkan tawanya di ruang tamu. Setelah aku tiba di kamar. Aku langsung ke atas tempat tidur sambil berkata lirih. “Awas kau, Udin. Besok pesantren kilat di sekolah akan kubalas nanti. Liat aja!”
Kemudian, aku pun membaca doa tidur dan niat puasa Ramadan. Hingga terdengar azan Subuh. Aku langsung melompat dari kasur. “Astaghfirullah! Aku kesiangan. Maaaaaa!” jeritku dengan muka panik. Langsung kubuka pintu kamar.
“Mamaaaaa? Kok, nggak bangunin Gita sahur, sih?” tanyaku dengan nada kesal.
“Iya, maaf, ya. Mama juga kesiangan. Eh, ternyata Mama hari ini datang bulan, jadi nggak puasa, deh,” ujar Mama sambil menyengir. Aku langsung membuka mata lebar-lebar.
“Ish! Mama curang!” seruku dengan manyun.
“Mama nanti beliin martabak sama terang bulan, deh, untuk buka puasa nanti. Oke? Tapi, hari ini Gita puasa, ya? Jangan nggak puasa, dong,” bujuk Mama. Memang Mama paling tahu menu buka puasa kesukaanku.
“Iya, Ma. Tapi, hari ini ada pesantren kilat. Nanti Gita lemes, dong?”
“Anak Mama, kan, kuat dan hebat! Pasti bisa puasa sampai sore. Bismillah!” Mama menyemangatiku sambil mengepalkan tangan kanannya ke atas. Ya sudahlah. Aku takbisa berbuat apa-apa. Untungnya semalam sebelum tidur aku sudah berniat. Jadinya puasaku tetap sah walau tak sempat sahur.
Setelah salat Subuh, aku lantas bersiap untuk berangkat ke sekolah. “Gita! Mandinya hati-hati, ya, jangan masuk air ke telinga. Nanti puasanya batal, loh!” teriak Mama dari luar kamar mandi.
Aku mengembuskan napas kuat-kuat ketika mendengar suara Mama. Aku hanya bisa menyimpan kekesalan dalam dada. Ya Allah, udahlah nggak sahur, sekarang harus hati-hati lagi mandinya. Apes banget, sih? Ini pasti gegara si Udin! Salah Udin emang!
Begitu selesai mandi dan menyiapkan beberapa buku beserta Al-Qur’an. Aku pun langsung berpamitan pada Mama. “Maa, Gita berangkat dulu, yaa. Soalnya ada jam sholat Duha sama zikir pagi,” jelasku agar Mama tidak bertanya lagi. Kenapa aku terburu-buru untuk pergi pagi itu. Aku pun langsung mencium tangan Mama untuk berpamitan.
“Oh, iya, Git. Mama kira mau buru-buru ketemu sama Udin,” sahut Mama sambil terbahak. Aku yang sudah sampai di depan pintu langsung balik badan.
“Mamaaaaa!” Tatapanku tajam ke arah Mama sambil mengerutkan dahi.
“Iya, iya. Ya udah sana, hati-hati, ya! Assalamualaikum,” ucap Mama. Harusnya aku yang mengucapkan salam. Ah, Mama pagi ini sepertinya sengaja menggodaku.
“Waalaikumsalam,” jawabku dengan ketus. Aku lalu berjalan meninggalkan rumah menuju sekolah.
Sepertinya kesialanku belum usai. Apa ini karena doa Mama tadi, ya? Jadinya aku ketemu Udin lagi di gerbang sekolah? Hatiku bertanya-tanya. Mukaku langsung berubah masam ketika melihat Udin.
Anehnya Udin begitu bersemangat pagi itu. Bahkan dia berteriak memanggil namaku sebelum mendekatiku. “Gita! Yuk, bareng ke kelas!”
“Cowok sama cewek dipisah. Cowok kelas atas sana! Tuh, baca instruksi di dinding sana,” jawabku dengan jutek. Namun, aku menyadari sesuatu. Begitu Udin tambah mendekat padaku, ada bau yang menusuk hidungku.
“Udin! Kamu mandi nggak, sih?” Aku langsung menjauh sambil menutup hidungku.
“Mandi, kok, Git. Cuma nggak sikat gigi aja. Kan, kata Allah bau mulut orang berpuasa itu wangi surga. Nih, cium bau surga, Git,” ujar Udin sambil membuka mulutnya dan mengeluarkan napasnya ke arahku.
Aku langsung mual dan ingin muntah saat itu juga. Tentu saja aku langsung berteriak dan marah. “Udin! Kalau aku batal, kamu yang tanggung jawab, ya!”
“Tenang, Git. Yang penting kamu udah nyium bau surga. Jadi, udah dapat pahala,” timpal Udin seraya membela diri.
“Memang bener namamu Salahudin, selalu salah kau, Udin!” Aku berteriak kesal, tetapi Udin sudah berlari kencang menuju kelas atas.
Pahlawan Gorengan
Seperti pagi sebelumnya, aku dengan gembira menuju sekolah. Berjalan dari rumah amatlah kusenangi. Rasanya aku bahagia kalau menghirup udara pagi. Namun, sebelum aku melewati gerbang sekolah. Ada seorang anak laki-laki yang duduk di tepi jalan. Di hadapannya ada sebuah tampah besar berisi banyak gorengan.
Aku langsung menyapanya. “Pagi, Dek. Gorengannya satu berapa?”
Mukanya tampak berseri. Sepertinya anak laki-laki itu senang sekali. Mungkin aku adalah pembeli pertama. “Oh, satu seribu, Kak. Mau berapa?”
“Lima ribu aja, Dek. Oh, iya, Adek tiap hari jual gorengan di sini?” tanyaku penasaran. Sebenarnya aku mau bertanya apakah dia tidak sekolah? Tetapi, aku teringat kata-kata Mama. “Kamu harusnya bersyukur, Git, di luar sana banyak anak yang nggak bisa sekolah. Karena harus bantu orang tuanya untuk cari nafkah.”
Dulu, aku kira Mama cuma mengungkapkan kekesalannya. Apalagi aku dulu susah bangun pagi. Jadinya, aku enggan untuk ke sekolah. Namun, begitu aku melihat adek penjual gorengan. Aku rasanya malu sekali. Kenapa aku bisa tidak bersyukur dan malas untuk ke sekolah.
Setelah mendengar pertanyaanku, si adek pun tersenyum. “Iya, Kak, setiap hari. Besok bawa temennya juga, ya, Kak. Ajakin supaya jajan di sini!” serunya dengan penuh semangat.
“Oh, iya, Dek. Makasih, ya,” sahutku sambil berjalan masuk ke sekolah. Saat menuju kelas, aku masih terpikir tentang si adek. Pasti dia susah banget hidupnya, ya? Ya Allah, maafin aku yang selama ini kurang bersyukur, ya. Apa aku harus bantuin dia, Ya Allah? Ucapku dalam hati sambil berjalan dan melihat ke lantai.
“Hayo! Pagi-pagi udah ngelamun!” sambar Rina sambil menepuk bahuku dari belakang.
“Eh, Rin! Ini, loh, aku kepikiran sama adek penjual gorengan di depan sekolah,” ujarku pada sahabatku itu. Aku memang terbiasa berbagi banyak hal dengannya.
“Oh, itu. Iya, aku juga lihat tadi. Kasihan, ya, Git. Tapi, kita, kan, nggak boleh jajan sembarangan, Git?” Mendengar pertanyaan Rina, aku langsung mengulum bibir. Keningku berkerut. Aku benar-benar berpikir. Bagaimana caranya untuk membantu si adek itu.
Memang betul kata Rina. Aku dan teman-teman di sekolah dilarang untuk membeli makanan di luar. Pak Guru mengingatkan hal itu, supaya kami tidak terkena bakteri atau virus yang berbahaya.
Melihat aku yang kebingungan, Rina langsung berbisik. “Udah, aku ada ide. Nanti kita bantu, ya? Gorengannya buat kita aja nanti pas jam istirahat.”
Mendengar ucapan Rina, mataku langsung berbinar. Mulutku juga langsung menerbitkan senyuman. “Sahabatku ini emang keren!”
Setelah beberapa jam pelajaran, bel istirahat pun berbunyi. Aku pun langsung berbisik pada Rina. “Ayo, Rin, bahas yang tadi!”
“Oh, iya. Nanti sepulang sekolah kita bantu aja adek itu jualan di luar, Git. Kalau jualan di sekolah, kita pasti dimarahin, Git.” Rina menawarkan ide yang menarik. Tetapi, aku berpikir lagi. Apa aku sanggup jualan tiap hari di luar? Mana panas banget gitu.
“Git? Jawab, dong! Ditanyain malah diam aja, ih,” gerutu Rina. Bukannya aku enggan menjawab. Namun, aku masih memikirkan apakah aku kuat membantu si adek. Sepulang sekolah saja rasanya sudah sangat melelahkan.
“Kamu nggak kuat, kan, jualan pas siang hari panas-panas gitu?” Rina masih terus mencecarku dengan pertanyaan. Kali itu, tebakan Rina memang jitu. Aku memang tidak kuat membantu si adek berjualan di siang hari. Aku pun hanya menganggukkan kepala sembari mengangkat alis.
“Gita ... Gita, mau jadi pahlawan, tapi takut sama matahari siang yang terik. Gimana, sih?” ledek Rina sambil tertawa kecil.
“Ayolah, Rin, bantu dulu. Kamu juga nggak tega, kan, ngeliat adek itu?” bujukku pada Rina. Aku sudah takpeduli pada ledekan Rina sebelumnya. Aku hanya ingin membantu adek penjual gorengan itu saja.
“Aku, sih, bisa aja nanti. Beli sisa gorengannya pakai uang jajanku. Tapi, besok kamu mau bantu si adek, gimana? Masa aku harus beli semua gorengannya lagi?” Mendengar pertanyaan Rina, aku merasa ditantang. Aku kembali berpikir cepat, dan, ah!
“Aku punya ide, Rin! Gimana kalau besok kita minta tolong sama ibu kantin untuk menjualkan gorengan si adek?” Aku menawarkan ide pada Rina. Sahabatku itu langsung tersenyum padaku.
“Nah, gitu, dong! Itu baru sahabatku!” seru Rina penuh semangat.
“Eh, tapi, sekarang kayaknya kita harus tanya dulu ke ibu kantin, deh, Rin. Boleh, nggak, titip gorengan untuk dijual besok?” Aku mencoba untuk mengajak Rina. Aku juga takmau kalau besok gagal berjualan lagi.
Akhirnya aku dan Rina bergegas ke kantin. Setibanya di sana, aku langsung masuk ke ruang khusus penjual. “Bu, aku boleh nanya, nggak? Aku mau titip gorengan untuk dijual besok, bisa, Bu?”
“Aduh, Neng. Di sini, teh, udah banyak yang jual gorengan. Lagian si Eneng udah izin sama Pak Guru untuk jualan?” tanya si ibu kantin balik padaku. Aku terkejut. Apa? Jualan harus izin? Ya Allah, mau bantuin orang ternyata susah banget, ya? Pantas jadi pahlawan itu susah, ya? Hatiku menggerutu.
“Oh, gitu, ya, Bu? Ya sudah, saya pamit dulu, ya, Bu. Makasih banyak, ya, Bu.” Aku langsung menarik tangan Rina dan berjalan secepat mungkin. Aku bisa melihat muka Rina kebingungan. Namun, telunjukku langsung ke depan bibirku. Untungnya sahabatku itu paham.
Sesampainya aku dan Rina di kelas. Aku ingin sekali berteriak. Rasanya aku kesal sekali. “Rina! Ya Allah, masa kita harus minta izin sama Pak Guru kalau mau berjualan? Terus, kata si ibu kantin, gorengan udah banyak, jadi kita nggak bisa jualan gorengan di kantin.”
“Ya udah, Git. Kita bantu semampunya aja. Lagian, kita udah maksimal, loh, bantuin si adek, kan? Kamu sampe berani nanya ke ibu kantin itu udah perjuangan, loh, Git!” Rina berusaha menyemangatiku. Betul juga perkataannya.
“Ya sudah, nanti aku coba bantu si adek, deh, sepulang sekolah. Eh, tapi, kamu beli juga, loh, Rin!” seruku sambil tertawa.
“Siap, Pahlawan Gorengan!” balas Rina. Kami pun kembali tertawa riang.
Akhirnya, setelah bel pulang sekolah berbunyi. Aku dan Rina bergegas menuju gerbang sekolah. “Buruan, Rin!” Aku melambai ke Rina di belakangku. Sedangkan aku sudah jauh di depan dan hampir sampai di gerbang.
“Ah, itu dia si adek!” ucapku dengan penuh semangat.
“Dek, aku boleh bantuin jualan, nggak? Tenang aja, aku ikhlas, kok, hasil jualannya semua nanti untuk adek, kok,” jelasku sambil terengah-engah. Aku masih sulit mengatur napas. Mungkin karena aku berjalan setengah berlari, sekaligus aku mengungkapkan keinginan pada orang baru.
Untungnya si adek mengizinkanku untuk membantunya. Setelah itu aku pun mengatakan sesuatu padanya. “Kayaknya besok aku nggak bisa bantuin kamu lagi, deh, Dek. Maaf, ya.”
“Nggak apa, Kak. Terima kasih, ya. Tadi saya juga sambil perhatiin cara Kakak jualan. Alhamdulillah. Insyaallah besok saya lebih semangat untuk keliling. Terima kasih, ya, Kakak Pahlawan,” ucapnya sambil hendak mencium tanganku. Aku langsung menarik tanganku.
“Eh, berterima kasihnya ke Allah aja, ya. Mungkin ini memang cara Allah untuk bantuin kamu, Dek. Tetap semangat, ya!” Aku pun menepuk bahunya sambil berjalan pulang. Tanpa terasa bajuku sudah basah kuyup dengan keringat. Terima kasih, Ya Allah, pelajaran hari ini benar-benar membuatku bersyukur kepada-Mu kalau aku masih bisa sekolah dan punya Mama.
Pogi Diculik?
Rombongan anak penguin kebingungan untuk mencari makan setelah ditinggal orang tua mereka.
“Kita harus milih pemimpin kita, nih! Tapi, gimana caranya, ya?” tanya penguin paling muda di antara yang lainnya.
“Gimana kalau kita lomba nyelam untuk nangkap ikan di bawah es?” saran dari penguin lainnya.
“Boleh juga, tapi, kita bagi jadi tiga kelompok aja, supaya ikan-ikan yang ditangkap bisa langsung dimakan. Terus, kelompok yang menang, pemimpinnya bisa jadi pemimpin kita semua. Gimana, Teman-teman, setuju?” tanya penguin yang paling ganteng di antara lainnya. Dialah si Pogi.
“Setuju!” jawab serentak dari rombongan anak penguin.
Setelah itu, mereka langsung memulai lomba. Anak-anak penguin itu begitu lincah berseluncur di atas es dan menyelam ke bawah air. Itu semua karena sirip, kaki, dan bentuk tubuh mereka yang unik.
“Ayo! Sedikit lagi kita menang!” teriak Pogi yang sudah melihat banyak tumpukan ikan yang dikumpulkan oleh teman-teman sekelompoknya. Pogi juga melompat kegirangan sambil mengeluarkan nyanyian khas penguin.
Teman-teman Pogi tambah semangat saat mendengar suara Pogi yang merdu dan tariannya yang lincah. Akhirnya, kelompok Pogi berhasil menang, dan Pogi menjadi pemimpin kawanan anak penguin itu.
“Terima kasih, ya, Teman-Teman. Kalian memang perenang yang hebat,” ucap Pogi pada teman-teman sekelompoknya yang sudah berhasil memenangkan perlombaan.
“Sama-sama, Pogi,” jawab penguin lainnya.
Ditengah kegirangan anak-anak penguin itu, Pogi merasa ada yang aneh. Lapisan es seperti bergetar, pertanda ada yang mau datang ke rombongan anak penguin itu.
“Ayo, sembunyi, Teman-Teman!” teriak Pogi sambil berlari dan meluncur dengan cepat.
Ternyata ada sekelompok pemburu dan seekor serigala kutub yang mengincar anak penguin untuk dijadikan hewan sirkus. Pogi sudah mengetahui keberadaan para pemburu itu.
“Kalian pergi duluan! Biar aku yang ngelawan para pemburu ini,” ucap Pogi. Akan tetapi, teman-temannya menolak dan ingin bersama-sama melawan para pemburu itu.
“Nggak, Pogi. Kami mau bilang apa ke orang tua kamu, kalau mereka nanti pulang terus nyariin kamu?” kata penguin paling muda dengan suaranya yang sudah serak dan hampir menangis.
“Kalian harus bilang, Pogi pasti menang dan pulang,” kata Pogi dengan gagah sambil berselancar di atas es. Pogi dan rombongan anak penguin itu berpisah. Bukan untuk melarikan diri, melainkan Pogi harus melawan musuh serta menyelamatkan teman-temannya dari incaran para pemburu.
Setelah semalaman mereka berpisah, Pogi belum juga kembali. Semua anak penguin begitu cemas dan gelisah menunggu kehadiran Pogi. Tiba-tiba terasa getaran di atas lapisan es tempat persembunyian kawanan anak penguin tersebut.
“Siapa yang datang?” bisik penguin paling muda pada teman-temannya.
“Shuuutt! Diam!” sahut penguin lainnya.
Kawanan anak penguin itu baru menyadari ketika ada yang bersuara seperti penguin juga. Ternyata itu adalah orang tua mereka yang sudah pulang dan menemukan tempat persembunyian anak-anak penguin tersebut.
“Hore! Ayah! Ibu!” teriak anak-anak penguin itu saling bersahutan. Mereka bersuara dengan nada yang beragam dan hanya dikenali oleh orang tua mereka, begitu juga sebaliknya.
Sayangnya, di tengah kebahagian itu, orang tua Pogi tak menemukan anaknya. Sampai suara ibunya Pogi serak, karena berteriak terus-menerus mencari Pogi. Akhirnya, penguin paling muda mendatangi ibunya Pogi.
“Kami sudah ngelarang Pogi untuk berhenti melawan para pemburu dan pergi bersama kami, Tante, tapi ....” Penguin paling muda itu tidak bisa melanjutkan ucapannya. Kemudian, tangis mereka pun terdengar bersahutan.
“Maafkan kami, Tante.”
“Tidak! Tidak bisa. Kamu harus bertanggung jawab. Kamu harus menjadi anakku sekarang,” ucap ibunya Pogi yang masih marah dan kesal setelah kehilangan Pogi.
Namun, orang tua penguin lainnya tidak bisa mencegah ataupun menolak keinginan ibunya Pogi. Mereka semua juga ikut sedih dan iba melihat Pogi yang sudah pergi diculik para pemburu.
“Tante, Pogi nitip pesan, kalau dia akan ngelawan para pemburu dan kembali ke rombongan kita,” bisik penguin muda yang sedang tidur di sebelah ibunya Pogi.
Malam itu, semuanya bersedih atas penculikan Pogi. Keesokan harinya, tak ada yang menyangka kalau Pogi bisa bebas dan kembali ke rombongan penguin.
“Ada yang datang, Teman-Teman!” jerit penguin muda yang mengenal langkah kaki di atas lapisan es itu.
“Pogi? Pogi?” Ibunya Pogi langsung memanggil dengan nada suara yang hanya dikenali Pogi. Ternyata dari kejauhan terdengar sahutan suara Pogi.
“Pogi, syukurlah kamu kembali.” Kedua orang tua Pogi langsung memeluk Pogi.
“Pogi untung kamu kembali, kalau nggak, aku yang diculik orang tua kamu, dan gantiin kamu,” ucap penguin muda sambil tertawa dan diikuti semua kawanan bersorak gembira.
“Tentu saja aku kembali, karena kita adalah hewan yang setia dan bertanggung jawab,” jawab Pogi sambil bernyanyi dan menari. Lalu, semua rombongan mengikuti gerakan Pogi.