Pengguna:Zaid Malbar
Semua Salah Udin
Hari ini aku senang sekali. Puasa pertamaku alhamdulillah berjalan lancar. Apalagi Mama juga libur. Jadinya Mama bisa menemaniku buka puasa sampai Tarawih. Setelah pulang Tarawih, aku ingin bercerita kepada Mama.
“Ma, si Udin itu, kok, konyol banget, sih?” tanyaku keheranan.
“Loh, temen sekolah kamu, kan, Git? Tadi Mama liat kamu sempet ngobrol sama dia. Emang kenapa?” balas Mama.
“Iya, Ma. Masa dia datang tadi sambil nenteng sendalnya. Ya, Gita nanya, dong. Kok, nggak dipake sendalnya malah dibawa di tangan gitu?”
“Terus, apa jawabnya?” Mama sudah senyum-senyum mendengar ucapanku. Namun, kuputuskan untuk tetap melanjutkan ceritaku.
“Masak katanya Udin, mau dituker dengan sendal yang pas. Soalnya kemarin pas sholat Jumat dia salah ngambil sendal, Maa. Kan, konyol banget!” seruku sambil menggerutu.
Anehnya Mama langsung menimpali dengan tawanya yang keras. Aku balik bertanya ke Mama. “Loh, Ma? Itu salah, kan? Kok, Mama malah ketawa, sih?”
“Dia Cuma mau ngerjain kamu itu, Git. Ya ampun, kamu percaya aja gitu apa kata si Udin?” Mama berujar sembari menahan tawanya. Sesekali Mama juga terbatuk. Entahlah. Apa Mama merasa aku begitu mudah dibohongi oleh si Udin? Atau Mama merasa Udin begitu lucu? Ah, aku takmau memusingkan hal itu.
“Ah! Mama ini. Sama aja kayak si Udin. Pantes aja namanya Salahudin. Emang salah si Udin!” seruku sambil menuju kamar tidur.
Mama justru mengabaikanku sambil melanjutkan tawanya di ruang tamu. Setelah aku tiba di kamar. Aku langsung ke atas tempat tidur sambil berkata lirih. “Awas kau, Udin. Besok pesantren kilat di sekolah akan kubalas nanti. Liat aja!”
Kemudian, aku pun membaca doa tidur dan niat puasa Ramadan. Hingga terdengar azan Subuh. Aku langsung melompat dari kasur. “Astaghfirullah! Aku kesiangan. Maaaaaa!” jeritku dengan muka panik. Langsung kubuka pintu kamar.
“Mamaaaaa? Kok, nggak bangunin Gita sahur, sih?” tanyaku dengan nada kesal.
“Iya, maaf, ya. Mama juga kesiangan. Eh, ternyata Mama hari ini datang bulan, jadi nggak puasa, deh,” ujar Mama sambil menyengir. Aku langsung membuka mata lebar-lebar.
“Ish! Mama curang!” seruku dengan manyun.
“Mama nanti beliin martabak sama terang bulan, deh, untuk buka puasa nanti. Oke? Tapi, hari ini Gita puasa, ya? Jangan nggak puasa, dong,” bujuk Mama. Memang Mama paling tahu menu buka puasa kesukaanku.
“Iya, Ma. Tapi, hari ini ada pesantren kilat. Nanti Gita lemes, dong?”
“Anak Mama, kan, kuat dan hebat! Pasti bisa puasa sampai sore. Bismillah!” Mama menyemangatiku sambil mengepalkan tangan kanannya ke atas. Ya sudahlah. Aku takbisa berbuat apa-apa. Untungnya semalam sebelum tidur aku sudah berniat. Jadinya puasaku tetap sah walau tak sempat sahur.
Setelah salat Subuh, aku lantas bersiap untuk berangkat ke sekolah. “Gita! Mandinya hati-hati, ya, jangan masuk air ke telinga. Nanti puasanya batal, loh!” teriak Mama dari luar kamar mandi.
Aku mengembuskan napas kuat-kuat ketika mendengar suara Mama. Aku hanya bisa menyimpan kekesalan dalam dada. Ya Allah, udahlah nggak sahur, sekarang harus hati-hati lagi mandinya. Apes banget, sih? Ini pasti gegara si Udin! Salah Udin emang!
Begitu selesai mandi dan menyiapkan beberapa buku beserta Al-Qur’an. Aku pun langsung berpamitan pada Mama. “Maa, Gita berangkat dulu, yaa. Soalnya ada jam sholat Duha sama zikir pagi,” jelasku agar Mama tidak bertanya lagi. Kenapa aku terburu-buru untuk pergi pagi itu. Aku pun langsung mencium tangan Mama untuk berpamitan.
“Oh, iya, Git. Mama kira mau buru-buru ketemu sama Udin,” sahut Mama sambil terbahak. Aku yang sudah sampai di depan pintu langsung balik badan.
“Mamaaaaa!” Tatapanku tajam ke arah Mama sambil mengerutkan dahi.
“Iya, iya. Ya udah sana, hati-hati, ya! Assalamualaikum,” ucap Mama. Harusnya aku yang mengucapkan salam. Ah, Mama pagi ini sepertinya sengaja menggodaku.
“Waalaikumsalam,” jawabku dengan ketus. Aku lalu berjalan meninggalkan rumah menuju sekolah.
Sepertinya kesialanku belum usai. Apa ini karena doa Mama tadi, ya? Jadinya aku ketemu Udin lagi di gerbang sekolah? Hatiku bertanya-tanya. Mukaku langsung berubah masam ketika melihat Udin.
Anehnya Udin begitu bersemangat pagi itu. Bahkan dia berteriak memanggil namaku sebelum mendekatiku. “Gita! Yuk, bareng ke kelas!”
“Cowok sama cewek dipisah. Cowok kelas atas sana! Tuh, baca instruksi di dinding sana,” jawabku dengan jutek. Namun, aku menyadari sesuatu. Begitu Udin tambah mendekat padaku, ada bau yang menusuk hidungku.
“Udin! Kamu mandi nggak, sih?” Aku langsung menjauh sambil menutup hidungku.
“Mandi, kok, Git. Cuma nggak sikat gigi aja. Kan, kata Allah bau mulut orang berpuasa itu wangi surga. Nih, cium bau surga, Git,” ujar Udin sambil membuka mulutnya dan mengeluarkan napasnya ke arahku.
Aku langsung mual dan ingin muntah saat itu juga. Tentu saja aku langsung berteriak dan marah. “Udin! Kalau aku batal, kamu yang tanggung jawab, ya!”
“Tenang, Git. Yang penting kamu udah nyium bau surga. Jadi, udah dapat pahala,” timpal Udin seraya membela diri.
“Memang bener namamu Salahudin, selalu salah kau, Udin!” Aku berteriak kesal, tetapi Udin sudah berlari kencang menuju kelas atas.
Pahlawan Gorengan
Seperti pagi sebelumnya, aku dengan gembira menuju sekolah. Berjalan dari rumah amatlah kusenangi. Rasanya aku bahagia kalau menghirup udara pagi. Namun, sebelum aku melewati gerbang sekolah. Ada seorang anak laki-laki yang duduk di tepi jalan. Di hadapannya ada sebuah tampah besar berisi banyak gorengan.
Aku langsung menyapanya. “Pagi, Dek. Gorengannya satu berapa?”
Mukanya tampak berseri. Sepertinya anak laki-laki itu senang sekali. Mungkin aku adalah pembeli pertama. “Oh, satu seribu, Kak. Mau berapa?”
“Lima ribu aja, Dek. Oh, iya, Adek tiap hari jual gorengan di sini?” tanyaku penasaran. Sebenarnya aku mau bertanya apakah dia tidak sekolah? Tetapi, aku teringat kata-kata Mama. “Kamu harusnya bersyukur, Git, di luar sana banyak anak yang nggak bisa sekolah. Karena harus bantu orang tuanya untuk cari nafkah.”
Dulu, aku kira Mama cuma mengungkapkan kekesalannya. Apalagi aku dulu susah bangun pagi. Jadinya, aku enggan untuk ke sekolah. Namun, begitu aku melihat adek penjual gorengan. Aku rasanya malu sekali. Kenapa aku bisa tidak bersyukur dan malas untuk ke sekolah.
Setelah mendengar pertanyaanku, si adek pun tersenyum. “Iya, Kak, setiap hari. Besok bawa temennya juga, ya, Kak. Ajakin supaya jajan di sini!” serunya dengan penuh semangat.
“Oh, iya, Dek. Makasih, ya,” sahutku sambil berjalan masuk ke sekolah. Saat menuju kelas, aku masih terpikir tentang si adek. Pasti dia susah banget hidupnya, ya? Ya Allah, maafin aku yang selama ini kurang bersyukur, ya. Apa aku harus bantuin dia, Ya Allah? Ucapku dalam hati sambil berjalan dan melihat ke lantai.
“Hayo! Pagi-pagi udah ngelamun!” sambar Rina sambil menepuk bahuku dari belakang.
“Eh, Rin! Ini, loh, aku kepikiran sama adek penjual gorengan di depan sekolah,” ujarku pada sahabatku itu. Aku memang terbiasa berbagi banyak hal dengannya.
“Oh, itu. Iya, aku juga lihat tadi. Kasihan, ya, Git. Tapi, kita, kan, nggak boleh jajan sembarangan, Git?” Mendengar pertanyaan Rina, aku langsung mengulum bibir. Keningku berkerut. Aku benar-benar berpikir. Bagaimana caranya untuk membantu si adek itu.
Memang betul kata Rina. Aku dan teman-teman di sekolah dilarang untuk membeli makanan di luar. Pak Guru mengingatkan hal itu, supaya kami tidak terkena bakteri atau virus yang berbahaya.
Melihat aku yang kebingungan, Rina langsung berbisik. “Udah, aku ada ide. Nanti kita bantu, ya? Gorengannya buat kita aja nanti pas jam istirahat.”
Mendengar ucapan Rina, mataku langsung berbinar. Mulutku juga langsung menerbitkan senyuman. “Sahabatku ini emang keren!”
Setelah beberapa jam pelajaran, bel istirahat pun berbunyi. Aku pun langsung berbisik pada Rina. “Ayo, Rin, bahas yang tadi!”
“Oh, iya. Nanti sepulang sekolah kita bantu aja adek itu jualan di luar, Git. Kalau jualan di sekolah, kita pasti dimarahin, Git.” Rina menawarkan ide yang menarik. Tetapi, aku berpikir lagi. Apa aku sanggup jualan tiap hari di luar? Mana panas banget gitu.
“Git? Jawab, dong! Ditanyain malah diam aja, ih,” gerutu Rina. Bukannya aku enggan menjawab. Namun, aku masih memikirkan apakah aku kuat membantu si adek. Sepulang sekolah saja rasanya sudah sangat melelahkan.
“Kamu nggak kuat, kan, jualan pas siang hari panas-panas gitu?” Rina masih terus mencecarku dengan pertanyaan. Kali itu, tebakan Rina memang jitu. Aku memang tidak kuat membantu si adek berjualan di siang hari. Aku pun hanya menganggukkan kepala sembari mengangkat alis.
“Gita ... Gita, mau jadi pahlawan, tapi takut sama matahari siang yang terik. Gimana, sih?” ledek Rina sambil tertawa kecil.
“Ayolah, Rin, bantu dulu. Kamu juga nggak tega, kan, ngeliat adek itu?” bujukku pada Rina. Aku sudah takpeduli pada ledekan Rina sebelumnya. Aku hanya ingin membantu adek penjual gorengan itu saja.
“Aku, sih, bisa aja nanti. Beli sisa gorengannya pakai uang jajanku. Tapi, besok kamu mau bantu si adek, gimana? Masa aku harus beli semua gorengannya lagi?” Mendengar pertanyaan Rina, aku merasa ditantang. Aku kembali berpikir cepat, dan, ah!
“Aku punya ide, Rin! Gimana kalau besok kita minta tolong sama ibu kantin untuk menjualkan gorengan si adek?” Aku menawarkan ide pada Rina. Sahabatku itu langsung tersenyum padaku.
“Nah, gitu, dong! Itu baru sahabatku!” seru Rina penuh semangat.
“Eh, tapi, sekarang kayaknya kita harus tanya dulu ke ibu kantin, deh, Rin. Boleh, nggak, titip gorengan untuk dijual besok?” Aku mencoba untuk mengajak Rina. Aku juga takmau kalau besok gagal berjualan lagi.
Akhirnya aku dan Rina bergegas ke kantin. Setibanya di sana, aku langsung masuk ke ruang khusus penjual. “Bu, aku boleh nanya, nggak? Aku mau titip gorengan untuk dijual besok, bisa, Bu?”
“Aduh, Neng. Di sini, teh, udah banyak yang jual gorengan. Lagian si Eneng udah izin sama Pak Guru untuk jualan?” tanya si ibu kantin balik padaku. Aku terkejut. Apa? Jualan harus izin? Ya Allah, mau bantuin orang ternyata susah banget, ya? Pantas jadi pahlawan itu susah, ya? Hatiku menggerutu.
“Oh, gitu, ya, Bu? Ya sudah, saya pamit dulu, ya, Bu. Makasih banyak, ya, Bu.” Aku langsung menarik tangan Rina dan berjalan secepat mungkin. Aku bisa melihat muka Rina kebingungan. Namun, telunjukku langsung ke depan bibirku. Untungnya sahabatku itu paham.
Sesampainya aku dan Rina di kelas. Aku ingin sekali berteriak. Rasanya aku kesal sekali. “Rina! Ya Allah, masa kita harus minta izin sama Pak Guru kalau mau berjualan? Terus, kata si ibu kantin, gorengan udah banyak, jadi kita nggak bisa jualan gorengan di kantin.”
“Ya udah, Git. Kita bantu semampunya aja. Lagian, kita udah maksimal, loh, bantuin si adek, kan? Kamu sampe berani nanya ke ibu kantin itu udah perjuangan, loh, Git!” Rina berusaha menyemangatiku. Betul juga perkataannya.
“Ya sudah, nanti aku coba bantu si adek, deh, sepulang sekolah. Eh, tapi, kamu beli juga, loh, Rin!” seruku sambil tertawa.
“Siap, Pahlawan Gorengan!” balas Rina. Kami pun kembali tertawa riang.
Akhirnya, setelah bel pulang sekolah berbunyi. Aku dan Rina bergegas menuju gerbang sekolah. “Buruan, Rin!” Aku melambai ke Rina di belakangku. Sedangkan aku sudah jauh di depan dan hampir sampai di gerbang.
“Ah, itu dia si adek!” ucapku dengan penuh semangat.
“Dek, aku boleh bantuin jualan, nggak? Tenang aja, aku ikhlas, kok, hasil jualannya semua nanti untuk adek, kok,” jelasku sambil terengah-engah. Aku masih sulit mengatur napas. Mungkin karena aku berjalan setengah berlari, sekaligus aku mengungkapkan keinginan pada orang baru.
Untungnya si adek mengizinkanku untuk membantunya. Setelah itu aku pun mengatakan sesuatu padanya. “Kayaknya besok aku nggak bisa bantuin kamu lagi, deh, Dek. Maaf, ya.”
“Nggak apa, Kak. Terima kasih, ya. Tadi saya juga sambil perhatiin cara Kakak jualan. Alhamdulillah. Insyaallah besok saya lebih semangat untuk keliling. Terima kasih, ya, Kakak Pahlawan,” ucapnya sambil hendak mencium tanganku. Aku langsung menarik tanganku.
“Eh, berterima kasihnya ke Allah aja, ya. Mungkin ini memang cara Allah untuk bantuin kamu, Dek. Tetap semangat, ya!” Aku pun menepuk bahunya sambil berjalan pulang. Tanpa terasa bajuku sudah basah kuyup dengan keringat. Terima kasih, Ya Allah, pelajaran hari ini benar-benar membuatku bersyukur kepada-Mu kalau aku masih bisa sekolah dan punya Mama.
Pelajaran Berharga dari Liliput
Satu hal yang paling enggan kulakukan. Menjemur bantal, guling, dan kasurku. Kata Mama itu harus dilakukan. Supaya aku tidak digigit tungau dan kutu kasur. Iya, mereka adalah hewan supermini. Bahkan aku sendiri jarang melihat mereka. Akhirnya suatu hari aku merasa sangat gatal. Aku berteriak histeris sambil memanggil Mama. “Mama! Ini apa? Ada merah-merah di kasur Gita!”
“Tuh, kan, udah Mama bilang. Itu tungau, makanya kasurnya rajin dijemur. Udah, Buruan mandi, terus kita sama-sama jemur kasur sama bantal di teras,” suruh Mama padaku. Untung hari itu Minggu. Jadi, aku tidak perlu terburu-buru. Kalau hari biasa, pasti aku akan menangis ke Mama. Lalu, aku meminta izin untuk tidak ke sekolah. Pastinya tidak sempat untuk melakukan itu semua. Memindahkan kasur dan menatanya di atas empat buah kursi. Itu sungguh melelahkan, pikirku.
Ha! Selain menjemur kasur, aku juga enggan untuk menyetrika bajuku. Sebagai anak perempuan aku harus mandiri, kata Mama. Namun, hal itu terasa sangat sulit bagiku. Menyetrika baju bukan hanya untuk rapi. Supaya kuman atau bakteri yang masih ada di pakaian bisa hilang. Hawa panas dari setrika kata Mama bisa menghilangkan mereka. Para makhluk yang cuma bisa dilihat di bawah lensa mikroskop.
Namun, pagi itu, ketika aku hendak mandi. Kepalaku terasa sangat sakit. “Apa ini karena digigit tungau, ya?” gumamku pelan. Setelah itu, aku merasa sekelilingku menjadi sangat besar. Aku melihat lemariku tinggi sekali. Begitu juga dengan meja belajar dan ranjangku. Semuanya tampak menjadi raksasa. “Tidak mungkin! Mama!”
Sayangnya, Mama tidak bisa mendengar suaraku. Aku bahkan sampai mencubit dan memukul pipiku. Semuanya terasa sakit. Aku tidak bermimpi. Aku menjadi manusia liliput. Untungnya baju yang kupakai ikut mengecil. Tetapi, aku baru menyadari ada makhluk-makhluk kecil lainnya di bajuku. Entahlah, bentuknya tidak jelas. Hanya saja aku geli melihat kaki-kaki mereka yang banyak dan halus. Mirip sekali dengan ulat bulu. Cuma mereka lebih mungil. Aku segera berloncat-loncat agar mereka jatuh dari bajuku.
Seusai itu, aku berlari menuju kamar mandi. “Aku harus mandi!” teriakku. Namun, begitu sampai di depan bak mandi. Aku malah tidak bisa menggapai handuk. Bahkan aku harus bersusah payah. Memanjat ke tempat buang air di sebelahnya, lalu aku berjinjit. Bak mandi yang kulihat seperti kolam yang sangat dalam.
“Tidak mungkin, bagaimana caranya aku mandi? “ Aku hendak menangis. Bak mandiku sudah berubah menjadi danau. Bukan hanya dalam, tetapi juga banyak makhluk lain. Mereka berwarna keunguan dan bergerak-gerak. Meliuk-liuk di dalam air. Ada yang berbentuk seperti batang lidi. Ada juga yang bulat seperti busa sabun. Namun, mereka selalu bergerak bersama-sama. Setidaknya empat atau lima yang bentuknya sama tampak membentuk kelompok.
“Oh, ini mungkin kenapa Mama selalu menyuruhku menguras bak mandi seminggu sekali. Ada bakteri yang hidup di air, bisa dibawa lalat atau nyamuk atau hewan lainnya.” Aku baru memahami perintah Mama selama ini. Ternyata, apa yang disuruh Mama untuk kebaikanku. Supaya aku tetap sehat dan kuat. Tetapi, sekarang bagaimana bisa? Aku sudah menjadi liliput.
Aku dengan lesu menuruni tempat buang air besar. Kemudian, aku berjalan dengan lemah menuju lemari. Aku bersandar di kaki lemari. Sayangnya aku belum menyadari sesuatu di kolong lemari. “Hiiii. Apa itu? Semut raksasa? Mereka ngapain itu? Gigitin hewan apa itu, Ya Allah!” pekikku sambil menggeser badan untuk berlari. Aku takmau jadi makanan semut raksasa. Bisa-bisa aku tak bertemu Mama lagi nanti.
Akan tetapi, aku masih penasaran. Semut-semut itu sedang menggigit apa, ya? Ternyata itu adalah kecoak yang terbalik badannya. Kecoak itu tampak kesusahan untuk kembali berdiri. Kakinya terlihat terus menendang-nendang ke arah langit. Sebenarnya aku kasihan pada kecoak itu. Sayangnya, rasa takut dan geliku lebih besar. Lagian ukuran tubuhku juga lebib kecil dari kecoak itu. Bisa-bisa aku yang dimakan olehnya setelah ia bisa berdiri.
Selain itu, aku juga baru melihat. Rupanya gigi semut itu besar dan menakutkan. Pantas saja kalau menggigit kulitku terasa gatal dan perih. Oh, itu makanya Mama juga sering menyuruhku untuk menyapu kamar. Supaya tidak ada kotoran yang bisa dibawa semut. Apalagi kalau aku makan di kamar. Mama pasti sangat marah. Itulah kenapa aku dilarang. Supaya kamarku bersih dan tidak ada semut yang mencari makanan.
Memang selama ini aku banyak tidak mendengarkan perintah Mama. Padahal itu semuanya untuk kebaikanku. Aku jadi menyesal dan merasa bersalah. Tanpa terasa aku menangis sampai sesenggukan. Badanku ikut berguncang. Aku mengusap air mataku dengan bajuku.
Aku berharap ketika aku menangis. Aku akan berubah kembali menjadi semula. Gita yang cantik dan tinggi. Bukan yang bisa melihat hewan dan makhluk-makhluk Allah supermini. “Ya Allah, maafin Gita. Gita memang salah, sering nggak dengerin perintah Mama,” ucapku sambil terisak.
Seusai pintaku pada Allah. Justru ada hewan yang paling kutakuti mendekat. “Mama! Tolong!” Aku sudah takbisa berlari lagi. Aku hanya bisa berdiri sambil menutup mata di depan lemari. Tentunya sambil berteriak memanggil Mama.
Tak lama, Mama pun menepuk pundakku. “Kamu kenapa, Gita? Mama udah nungguin kamu, loh, untuk jemur kasur. Kamu masih belum mandi juga?”
“Alhamdulillah. Ma, tolongin Gita, Ma. Tadi ada kecoa raksasa ngejar Gita,” paparku pada Mama. Namun, Mama mengernyitkan dahinya. Mama lantas menaruh punggung tangannya ke keningku.
“Kamu nggak lagi sakit, kan, Git? Kecoa raksasa? Kamu masih ngantuk, nih. Mana ada raksasa kecoa.” Mama terkekeh mendengar penjelasanku. Aku sedikit kesal dan cemberut.
“Ha! Itu dia kecoanya, Ma. Barusan keluar kamar,” ucapku sambil menunjuk ke arah pintu kamar. Mama hanya menggelengkan kepalanya. “Ya udah, buruan mandi, Git. Biar cepat selesai kita beres-beresnya. Mama juga mau beresin dapur sama kamar Mama juga.”
Alhamdulillah, akhirnya aku bisa kembali ke dunia manusia. Ternyata menjadi liliput itu tidak menyenangkan. Makanya, aku harus rajin bersih-bersih. Supaya makhluk-makhluk Allah yang supermungil itu tidak mengangguku.
Ujian Kejujuran
Hari itu sebenarnya aku cukup senang. Hasil nilai kuis dan ulangan matematika sudah dibagikan. Rasanya puas sekali. Apalagi aku dan Rina sahabatku juga mendapatkan nilai yang memuaskan. Tetapi, aku masih heran dengan nilai si Ali. Teman sekelasku yang biasanya selalu jelek nilainya.
“Rin, kok, bisa?” bisikku pada Rina. Sedangkan Pak Guru masih sibuk membagikan hasil teman-teman sekelas.
“Bisa apa, sih, Git? Aku nggak ngerti, loh,” balas Rina sambil menyikut tanganku.
“Itu, loh, si Ali. Dia biasanya jelek, kan, nilanya?” Aku masih memelankan suaraku. Supaya Pak Guru dan teman-teman sekelas tidak mendengar.
“Dia udah belajar kali, Git. Nggak boleh suuzon, loh! Udah, ah, kamu ini.” Rina mengakhiri ucapannya. Sambil meletakkan telunjuknya di depan bibirnya.
Aku masih belum bisa terima saja. Apalagi aku dibilang suuzon oleh Rina. Padahal aku tidak punya pikiran jelek tentang Ali. Aku hanya heran saja. Apa aku harus bertanya ke Ali nanti pas jam istirahat, ya? Bisik hatiku.
Ketika waktu istirahat, aku mengendap-endap ke kantin. Aku berusaha mengikuti Ali diam-diam. Tentunya demi rahasia Ali untuk meraih nilai 100. Nilai yang selalu aku dambakan. Tetapi sangat sulit aku dapatkan.
“Ali, aku boleh nanya sesuatu, nggak?” Aku sudah berdiri di depan Ali. Dia terkejut ketika berbalik badan, dan sudah ada aku di depannya.
“Eh, Gita, ngagetin aja. Mau nanya apa, sih?” Ali sambil memegang risoles dan air mineral yang hampir terjatuh.
“Kamu bisa dapat nilai seratus gitu, gimana caranya?” bisikku sambil mendekat ke bahu Ali. Awalnya dia cuma tersenyum saja. Namun, aku terus memaksa Ali.
“Ayolah, Li. Kasih tahu, dong, caranya. Aku juga pengen dapat nilai seratus. Aku mau buat mamaku bangga, Li.” Aku kembali membujuk Ali. Mungkin dia kasihan denganku. Ali pun mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Oke, aku kasih tahu kamu. Tapi, nggak di sekolah. Di tempat yang sepi, ya? Bisa, nggak?” Akhirnya Ali menawarkan sesuatu yang kuharapkan juga. Tetapi, mengapa harus di tempat yang sepi? Aku merasa heran dengan ajakan Ali. Ehm, kata Mama kalau ada orang asing yang mengajakku ke tempat yang sepi, jangan mau. Lari dan kabur aja, kata hatiku.
Sepertinya, Ali tahu kalau aku takut dengan ajakannya. “Tenang aja, Git. Aku nggak bakal berbuat jahat, kok.”
“Kenapa harus di tempat yang sepi, sih?” Aku memanjangkan bibir ke depan. Sebenarnya aku ingin sekali mengikuti ajakan Ali. Tetapi, aku juga takut. Mama pernah berpesan supaya aku tidak dijahati orang. Tidak salah, bukan, kalau diriku menjaga diri?
“Karena ini rahasia, Git. Bisa bahaya kalau bocor!” seru Ali sambil menarik tanganku. Dia berbicara setelah melirik ke kiri dan kanan. Dahi Ali terlihat berkerut. Sepertinya Ali memang serius dengan ucapannya.
“Oke, deh. Kita ke rumahku aja nanti pas udah pulang sekolah, ya. Tapi, kita di teras aja, ya?”
Ali hanya mengangguk, lalu pergi meninggalkanku. Aku hanya bisa berdecak heran. “Ali, Ali. Aneh banget, sih?”
“Kenapa, Git?” Rina tiba-tiba menepuk pundakku dari belakang. Ternyata Rina juga pergi ke kantin. Semoga Rina nggak ngeliat aku sama Ali tadi, Ya Allah. Aku, kan, udah janjian sepulang sekolah dengan Ali, ucapku dalam hati.
“Eh, e-ng-gak kenapa-kenapa, Rin.” Aku memamerkan gigiku. Seperti menyengir dan salah tingkah.
“Aneh. Oh, iya, Git. Entar pulang sekolah belajar bareng, yuk, Git?” Mataku langsung terbuka lebar. Aku menelan ludah mendengar ajakan Rina. Bagaimana mungkin aku menolak ajakan sahabatku itu. Dia pasti curiga padaku. Lalu, memaksaku untuk mengizinkannya datang ke rumahku.
“E-e ... Rin. Hari ini a-aku nggak bisa, deh, kayaknya. Mama ngajak aku ke kantornya nanti,” ujarku sambil terbata-bata.
“Oh, gitu. Family gathering, ya, Git? Wah, asyik itu. Aku juga pernah diajakin papa aku, Git. Ya udah, kamu ikut mama kamu aja nanti. Pokoknya main dan makan sepuasnya di sana, ya, Git!” Syukurlah Rina tidak curiga. Bahkan dia mengira aku pergi ke acara kumpul keluarga di kantornya Mama.
***
Sepulang sekolah, aku bukan lagi jalan seperti biasanya. Aku berlari. Aku takut kalau ada yang melihatku. Setiba di depan pintu pagar. Aku berdiri sambil terengah-engah. Kuatur napas terlebih dahulu. Ternyata menutupi sebuah rahasia jauh lebih mendebarkan. Ketimbang harus menjalani ujian yang sulit di sekolah.
“Gita!” teriak seseorang dari kejauhan. Aku meletakkan tangan di atas alis dan mataku. Berusaha mencari di mana sumber suara itu.
“Shut! Jangan teriak-teriak, Li,” ucapku setelah Ali mendekat padaku. Aku masih saja takut. Jangan sampai ada yang melihatku bersama Ali. Apalagi teman sekelasku yang melihatku dan Ali.
“Mau di sini aja, Git?” Ali menyapaku dengan pelan. Sambil dia menurunkan tas ransel dari pundaknya.
“Kita masuk aja ke ruang tamu, Li.” Aku pun mengajak teman laki-lakiku itu masuk ke rumah. Aku sudah tidak sabar. Pasti Ali akan menunjukkan kunci jawaban untuk soal-soal ulangan. Aku sudah membayangkan duluan. Kalau dalam tas ransel Ali pasti isinya kunci jawaban semua mata pelajaran.
Pantas saja, selama ini Ali selalu melarang teman sekelas untuk membuka tasnya. Ternyata, ada banyak rahasia dalam tasnya. Kemudian, Ali membuka tasnya dan mengambil banyak kertas. “Ini, Git. Kita kerjakan bareng-bareng, ya?”
Aku terkejut melihatnya. Kukira Ali akan mengeluarkan kunci jawaban, rupanya contoh-contoh soal ulangan dan ujian semester. “Ini, Git. Dulu pas nilaiku jelek, Pak Guru nyuruh aku latihan soal-soal kayak gini. Alhamdulillah ternyata aku jadi mahir ngerjain soal dan bisa dapat nilai yang bagus.”
“Astaghfirullah, Li. Kalau ini, mah, aku bisa sendiri. Aku kira kamu punya kunci jawaban semua ulangan tiap mata pelajaran.” Aku menepuk jidatku sambil tertawa.
“Awalnya aku juga berharap kayak kamu, Git. Tapi, Pak Guru langsung marah. Katanya hidup kita ini berawal dari hal yang kecil. Seperti ujian di sekolah. Kalau kita jujur menjalaninya, walaupun hasilnya jelek, pasti hati kita tetap senang mendapatkannya. Kalau kita sudah berbohong lewat ujian, nanti kita akan terus berbohong sampai dewasa,” jelas Ali. Pesan Pak Guru disampaikannya dengan sangat rinci. Sejenak aku terdiam. Aku kembali berpikir tentang pesan Pak Guru yang disampaikan Ali.
Benar juga, ya? Ujian itu bukan cuma hasil akhir dan nilai sebenarnya, tetapi seberapa besar usaha kita mengerjakannya. Kalau hasilnya bagus, tetapi kita tidak jujur, sama saja kita seperti pencuri, kan? Mendapatkan hasil yang banyak, tetapi sebenarnya bukan punya kita. Hatiku ikut membenarkan apa yang diucapkan Ali. Aku pun bersyukur bisa melewati ujian kejujuran ini. Setidaknya untuk mendapatkan nilai yang bagus, aku memang harus rajin belajar.
Sungai Larangan
Malam itu aku sengaja menunggu Mama yang pulang agak malam. Aku ingin memberitahukan sekaligus minta izin ke Mama soal kegiatan menarik di sekolahku. Sudah lama juga rasanya aku tidak bersenang-senang dengan kegiatan menarik dari sekolah. Biasanya Mama selalu melarangku dengan alasan aku nantinya kecapek-an dan sakit. Ah, Mama.
“Nah, itu, Mama sudah pulang kayaknya!” seruku ketika mendengar pintu ruang tamu dibuka. Aku pun berlari menuju ke Mama.
“Loh, Git, kamu belum tidur?” tanya Mama yang kaget saat melihatku yang belum tidur.
“Iya, Ma, Gita mau ngasih tau Mama sesuatu. Tapi, Mama jangan marah, ya?” Aku memohon lebih dulu ke Mama supaya Mama bisa mengizinkanku.
“Iya, Git. Kenapa, sih?” Mata Mama melihat ke arahku cukup serius. Sepertinya Mama memang sangat penasaran akan permohonanku.
“Itu, Ma ... Gita mau ikut ekskul arung jeram di sekolah. Katanya aman, kok, Maa, untuk anak-anak. Banyak anak perempuan juga yang ikut di sekolah,” ucapku pada Mama dengan sangat detail. Ini salah satu usahaku supaya Mama mengizinkanku. Semoga Mama percaya dan mau ngizinin, Ya Allah, doaku dalam hati.
“Apa? Arung jeram? Terus mau ekskul di mana, Git? Sungai?” Mama bertanya terus-menerus dan tak membiarkanku menjawab. Lebih tepatnya, saat aku mau menjawab Mama sudah bertanya lagi dengan pertanyaan barunya. Mungkin Mama memang terlalu khawatir padaku sebagai anak semata wayangnya.
“Iya, Ma. Di-di-di Sungai Larangan.” Aku sempat terbata-bata saat menjelaskannya pada Mama. Namun, tetap kupaksakan untuk berbicara. Apa salahnya mencoba, pikirku.
“Gita! Itu sungai angker tau. Kamu ini ada-ada aja. Lagian banyak anak kecil yang hanyut dan meninggal di situ. Jangan aneh-aneh kamu.” Tiba-tiba setelah Mama menjelaskan hal itu padaku, bulu kudukku seperti ditiup angin dan merasakan kegeliaan yang luar biasa. Namun, aku mencoba untuk tetap tenang.
“Masa, sih? Tapi, kata Pak Guru aman, kok. Pak Guru juga nggak pernah bilang apa-apa tentang cerita serem di Sungai Larangan, Ma.” Aku masih saja tetap ingin pergi ekskul dan membujuk Mama saat itu. Rasanya waktu tidak akan terulang lagi kalau aku membiarkan ekskul ini begitu saja. Lagian, pasti Mama cuma nakut-nakutin aku aja, nih! Mama, kan, paling tahu kalau aku paling takut dengan cerita-cerita serem kayak gitu, ucapku dalam hati.
“Ya jelas, Pak Guru nggak bilang ke anak-anak muridnya, nanti pasti kalian takut dan nggak ada yang ikut ekskulnya.” Dari ucapan Mama rasanya aku masih sulit untuk mendapatkan izin. Kalau memang Mama tidak mau mengizinkan, aku tetap akan ikut ekskul aja!
“Jadi, Mama ngizinin atau nggak, nih?” tanyaku yang masih penasaran pada keputusan Mama. Aku masih berharap Mama mengizinkanku ketika itu.
“Memangnya ekskulnya kapan, Git? Kamu juga belum beli perlengkapan arung jeram dan bekal untuk dibawa ke sana, kan?”
Mendengar pertanyaan Mama, aku jadi bersemangat lagi. “Sudah, dong. Pak Guru nyediain sewa alat-alatnya, Ma. Bekal, kan, tinggal beli aja besok, Ma.” Aku pun tersenyum seketika.
“Ha? Besok? Arung jeramnya besok?” Mama menggelengkan kepalanya, tetapi setelah itu Mama juga ikut tersenyum. Aku pun lega. Itu pertanda Mama mengizinkanku untuk ekskul esok hari.
***
Setibanya di sekolah dan setelah diantar Mama membeli bekal, aku langsung menuju lapangan sekolah untuk berkumpul. Di sana tempat berkumpulnya ekskul arung jeram sebelum aku dan teman-temanku berangkat ke Sungai Larangan.
Hari itu tampak cerah sekali. Aku pun bersemangat mengikuti arahan Pak Guru bersama teman-temanku. Namun, aku tak menyangka hari itu akan terjadi. Sebuah hal yang sangat menakutkan bagiku.
Ketika aku dan teman-teman sudah tiba di Sungai Larangan dan berbaris sesuai kelompok. Kami pun diarahkan untuk memakai pelampung dan helm sebelum naik ke perahu karet di sana. Tetapi, baru kami menaiki perahu itu, aku tiba-tiba terjatuh ke Sungai Larangan. Aku cuma ingat aku hanyut terbawa arus yang deras.
Tiba-tiba aku sudah sadar dalam keadaan basah kuyup di tepi Sungai Larangan. Ada seorang nenek yang kelihatannya sudah tua sekali, rambutnya putih semua, dan badannya pun agak bungkuk. “Eh, kamu sudah bangun, Sayang? Pelan-pelan. Minum ini dulu. Nenek sudah panggil Pak Guru tadi ke sini. Lain kali jangan lupa baca doa sebelum ke sini, ya, Sayang. Di sini banyak penghuninya. Mereka suka sama anak kecil, apalagi anak kecil kayak kamu, Sayang.”
“Eh, iya, Nek. Makasih banyak, ya, Nek. Gita tadi soalnya semangat banget ikut arung jeramnya, sampe lupa baca doa. Makasih juga udah ngebantuin Gita, ya, Nek,” ucapku dengan perasaan yang malu, karena ketahuan sebelum mulai kegiatan tidak membaca doa terlebih dahulu. Padahal Mama juga udah berpesan sebelumnya.
“Ya udah, kamu tunggu sini bentar, ya. Nenek masih ada urusan lain. Bentar lagi Pak Guru bakal datang, kok,” pesan sang Nenek yang jalannya terlihat sangat cepat dan menghilang ke arah hutan.
“Loh! Nenek itu manusia, kan? Kok, cepet banget jalannya? Masa aku ditolong setan, sih?” Seketika jantungku berdetak kencang. Aku merasa sangat ketakutan saat itu. Untungnya tak lama kemudian Pak Guru datang.
“Gita! Kamu nggak apa-apa? Alhamdulillah kalau gitu.” Pak Guru mengelus dada sambil mengecek kondisiku.
“Iya, Pak. Maaf, ya, tadi Gita lupa baca doa sebelum main arung jeram,” ucapku sambil tertunduk malu.
“Iya, lain kali kalau mau ke sini, kamu harus berdoa dulu, ya, Git. Mulai dari rumah, di jalan, bahkan sebelum mulai kegiatan. Di sini memang angker soalnya.”
“Oh, iya, Pak Guru. Tadi ada Nenek yang bantuin Gita. Kayaknya dia yang nyelamatin Gita, deh, Pak,” ujarku dengan semangat pada Pak Guru. Tetapi, anehnya, Pak Guru tampak bingung. Tak mengerti Nenek siapa yang kumaksud.
“Ha? Pak Guru nggak nemuin Nenek di sini, Git. Tadi itu si Bapak yang ngejagain Sungai Larangan ini yang ngasih tau kamu di sini. Katanya kamu pingsan di sini. Makanya Pak Guru buru-buru ke sini.”
“Ha? Jadi? Nenek itu siapa, Pak? Siapa yang udah bantuin Gita?”
Keajaiban Negeri Cokelat
Suatu hari aku dan teman-teman sekelas berwisata ke Garut. Kami didampingi Bu Guru untuk mengenal istana cokelat. Ternyata Garut sudah punya istana cokelat yang terkenal, namanya Chocochop. Kami sangat takjub begitu tiba di sana.
“Wah, Bu Guru ini semuanya dari cokelat, ya?” tanyaku sambil membuka mata dan mulut dengan lebar. Bagaimana tidak, kami melihat bentuk bunga dan patung hewan yang terbuat dari cokelat. Ada juga cokelat yang berbentuk bola kristal besar, tetapi memancarkan cahaya.
“Iya, dong. Nanti Bu Guru bagi jadi beberapa kelompok. Gita, Rina, Tia, Eko, dan Andi satu kelompok, ya?” Bu Guru memberikan arahan, lalu teman-teman yang lain juga akhirnya mendapatkan pembagian kelompok.
“Ayo, sini, Git!” teriak Rina salah satu sahabatku. Kami cukup senang disatukan dalam satu kelompok. Setelah itu, Tia, Eko, dan Andi ikut mendekat ke tempat aku dan Rina berdiri. Kami semua cukup senang. Kami merasa petualangan seru akan dimulai di istana cokelat.
Lalu, Bu Guru juga terus mengajak kami berkeliling. Menjelaskan satu per satu keunikan dari benda-benda di istana cokelat. Ada patung beruang cokelat yang di bawahnya banyak cokelat berbentuk permen. Tetapi ada tulisan yang dipasang di perut beruang cokelat itu. “Hanya untuk orang dewasa”.
“Loh, Bu Guru? Kenapa ini untuk orang dewasa saja?” tanya Eko sambil memajukan bibirnya. Sepertinya Eko kesal, karena ingin mencoba permen cokelat itu.
“Eh, iya. Untung aku nggak jadi ambil permen cokelatnya,” sahut Tia dengan menunjukkan senyumnya yang lebar.
“Oh, itu ada kopinya. Jadi, nggak boleh untuk anak-anak, ya,” jelas Bu Guru. Namun, aku dan Rina saling berpandangan. Kami merasa ada yang aneh dengan beruang cokelat itu.
Aku pun berbisik pada Rina. “Pasti ada sesuatu dari si beruang ini. Eh, gimana kalau kita nyobain diam-diam?” Jari telunjuk aku letakkan di depan bibir. Meminta pada Rina untuk mengikutiku dan tidak bersuara. Ternyata Eko, Andi, dan Tia juga melihat gerak-gerikku.
“Kalian mau nyobain, ya?” Eko menimpali sambil berbisik. Dengan serentak kami semua langsung meletakkan telunjuk di depan bibir.
Begitu kami sepakat untuk mencoba cokelat dari perut patung beruang itu. Tiba-tiba kami menghilang dan berada di danau cokelat. Untungnya danau cokelat itu dangkal, jadi kami tidak tenggelam. Namun, baju kami basah semua. Sedangkan, muka dan rambut kami basah terkena cokelat dari danau.
Awalnya aku dan teman-teman senang, karena bisa bermain di danau cokelat. Bahkan, kami tidak menyadari kalau danau cokelat itu bukan bagian dari tempat Chocochop. Sampai ada beruang cokelat yang datang dan mendekati kami.
“Hai, anak-anak! Selamat datang di Negeri Cokelat. Selamat, kalian semua pemberani dan berhasil masuk ke Negeri Cokelat,” ucap beruang cokelat itu sambil tersenyum dengan ramah. Aku dan teman-temanku awalnya ketakutan melihat beruang cokelat itu bisa berbicara.
“Ka-kamu? Bukannya patung di Chocochop, ya?” tanya Tia dengan terbata-bata.
“Benar. Ini karena keajaiban Negeri Cokelat. Selamat menikmati keindahan dan kegembiraan di sini, ya,” ujar beruang cokelat itu sambil berjalan dan meninggalkan kami di danau cokelat.
“Tunggu! Bagaimana caranya kami bisa keluar dari sini?” teriakku sambil mengangkat tangan ke beruang cokelat itu. Memang benar aku dan teman-temanku sangat senang berada di Negeri Cokelat. Tetapi, bagaimana kalau orang tua kami khawatir dan mencari kami?
“Anak Pintar! Kamu dan teman-temanmu cukup berbuat baik pada hewan yang datang nantinya. Jangan diusir dan dipukul, ya, kedua hewan itu,” jelas si beruang cokelat sambil menghadapkan badannya ke arah danau cokelat. Setelah itu, si beruang cokelat pun pergi.
“Berbuat baik? Kita harus ngasih makan hewan yang datang untuk bisa pulang. Begitu, kan, maksud si beruang cokelat itu?” tanya Andi sambil matanya melihat ke kiri dan kanan. Andi seperti ingin melihat apakah ada yang hewan sudah datang.
“I-iya ... aku nggak mau terjebak di sini!” jerit Tia. Setelah itu, dia pun menangis kencang.
“Sudah, Tia. Sabar dulu, jangan menangis. Kita lihat dulu sekitar sini. Ayo, kita naik dulu dari danau cokelat ini,” ajakku sambil berjalan naik ke atas danau cokelat. Anehnya, begitu kami naik. Baju dan wajah kami langsung bersih. Rambut kami juga berkilau. Namun, semuanya wangi cokelat.
“Ajaib!” Eko terkagum melihat baju dan badan kami yang langsung kering tanpa handuk.
“Kamu mau tetap di sini, Eko?” tanya Andi sambil menyikut lengan Eko. Andi sepertinya tahu kalau Eko memang suka keajaiban di Negeri Cokelat.
“E-enggak, kok,” sahut Eko sambil menggaruk kepala dan memamerkan giginya.
“Ya sudah. Ayo, kita ke sana. Sepertinya di sana ada pohon. Mana tahu kita bisa jumpa hewan yang dimaksud si beruang di sana,” ucapku sambil mengajak teman-teman ke sebuah pohon yang cukup indah. Daunnya lebat, tetapi berwarna cokelat semua. Sedangkan buahnya berbentuk seperti apel, tetapi berwarna cokelat juga.
Tak begitu lama, muncul monyet yang berwarna cokelat di depan kami. Monyet itu kelihatan sudah sangat tua. “Apakah aku boleh minta buah dari pohon itu?” tanya sang monyet.
“Boleh, silakan kalau kamu mau mengambilnya,” jawabku dengan sopan. Aku juga membiarkan monyet itu untuk naik dan mengambil sendiri buahnya.
“Kenapa tidak semua buah kamu ambil?” tanya Eko yang penasaran. Ia melihat sang monyet mengambil cuma lima buah saja.
“Aku dihukum di sini karena terlalu rakus dan tidak suka berbagi. Jadi, kalian harus mengikuti semua perintah dari guru dan orang tua kalian, ya,” pesan sang monyet sebelum pergi. Namun, dari kejauhan monyet itu tiba-tiba berubah menjadi beruang cokelat. Si beruang cokelat melambaikan tangannya pada kami yang masih berdiri di depan pohon.
Kami semua pun berteriak. Tak lama, tiba-tiba kami sudah kembali ke Chocochop. Ternyata kami kembali ke tempat patung beruang cokelat itu. Mendengar aku dan teman sekelompokku yang menjerit, Bu Guru langsung mendatangi kami. “Kalian kenapa? Dari tadi Bu Guru mencari kalian ke mana-mana. Ayo, kita masih mau melihat bagian istana cokelat di dalam. Katanya ada banyak pohon cokelat dan danau cokelat juga.” Bu Guru dengan tegas menjelaskan pada kami.
Mendengar penjelasan Bu Guru, Rina salah satu teman sekelompokku malah berbisik pada kami semua. “Kita sudah kembali, kan? Tidak terjebak di Istana Cokelat lagi, kan?”
“Sepertinya kita sudah kembali. Lihat saja si beruang cokelat juga tidak bisa bersuara lagi,” jawabku sambil tersenyum.
Syukurlah, akhirnya kami bisa kembali. Terima kasih beruang cokelat sudah mengizinkan aku dan teman-teman belajar banyak hal di Negeri Cokelat. Kami pun berjalan mengikuti Bu Guru dengan riang gembira.
Kati Robot yang Baik Hati
Pagi itu rasanya aku senang sekali. Sebelum berangkat ke sekolah Mama sudah menghadiahiku dengan robot kaktus. Kata Mama itu merupakan percobaan dan penelitian dari kantor Mama.
“Git, robot kaktus ini punya sensor untuk menyimpan suara, muka, dan retina kita. Jadi, robot ini bisa hafal sama kita, kalau kita ajak ngobrol,” ujar Mama sambil mengelus-elus robot kaktus itu. Sepertinya robot itu sudah dibuat supaya aman untuk disentuh. Padahal setahuku kaktus punya duri yang tajam. Namun, berbeda dengan robot yang dibawa Mama itu. Durinya halus seperti bulu boneka. Aku sangat takjub ketika melihat robot itu.
“Oh, gitu. Caranya supaya dia hafal sama Gita, gimana, Ma?” tanyaku dengan rasa penasaran pada Mama. Karena, aku cuma mau membuktikan apakah robot kaktus itu sehebat yang dijelaskan Mama.
“Coba aja kamu ajak ngobrol, Git, tapi ke arah kamera di atas dekat kepalanya itu.” Mama menunjukkan tempat kamera yang ada di robot kaktus itu.
Taksabar, aku pun langsung mencoba sesuai perintah Mama. “Halo, namaku Gita. Salam kenal, ya. Nama kamu siapa?”
Seketika terdengar suara dari bawah pot robot kaktus itu. “Halo, namaku Kati. Salam kenal, Gita. Mulai sekarang kita berteman, ya.”
Aku benar-benar kagum saat melihat Kati. Robot kaktus itu benar-benar bisa menyapaku dengan baik sekali. Bahkan, mengajakku juga untuk bisa berteman dengannya.
Setelah itu, Mama juga mengingatkanku kalau Kati rupanya juga bisa menjadi pengingat jadwal, seperti mengerjakan PR, mandi, salat, bahkan untuk mengingat hari ulang tahun juga bisa. Namun, Kati yang punya banyak kehebatan itu rupanya tetap butuh makan.
“Git, jangan lupa isi tabung airnya Kati di dalam pot bagian belakang. Jadi, energinya Kati dari reaksi elektrolisis air itu. Kalau habis, nanti mesin-mesinnya bisa rusak, karena nggak ada sumber energi,” jelas Mama padaku sambil menunjukkan di mana letak tempat pengisian air si Kati. Aku pun mengangguk paham.
“Oiya, Ma, berapa hari sekali harus Gita isi airnya?” tanyaku. Jangan sampai aku salah dan kelupaan nantinya. Jadi, aku harus mengingat dengan baik perintah Mama.
“Seminggu sekali aja, kan, badannya Kati kecil,” ucap Mama sambil tersenyum.
Akhirnya, setelah itu aku pun pamit pada Mama untuk berangkat ke sekolah. Mama juga setelah itu akan berangkat. Sesampainya aku di sekolah, aku berpikir, kasihan juga si Kati di rumah sendirian, ya? Tapi, nggak apa, deh. Kan, nanti aku juga pulang bisa menemani dia lagi.
Tak lama kemudian, temanku Rina datang dan menyapaku. “Eh, Rin, aku baru punya robot kaktus. Bagus, loh, dia bisa diajak ngobrol sama bisa jadi pengingat jadwal kita!” seruku dengan semangat.
“Wah, bagus banget, Git! Pasti mahal, ya? Siapa yang beliin, Git? Mama kamu?” tanya Rina penasaran.
“Iya, Rin, semoga dengan adanya si Kati aku jadi nggak lupa ngerjain PR sama tugas-tugas yang disuruh bawa sama guru-guru di sekolah,” harapku. Aku memang sering lupa untuk mengerjakan PR. Biasanya temanku Rina yang mengingatkanku kalau ada PR. Bukan itu saja, kalau ada tugas prakarya dan disuruh membawa peralatan untuk membuat sebuah karya dari kerajinan tangan, aku pasti selalu lupa. Ujung-ujungnya aku hanya menangis dan diperbolehkan melihat teman-temanku saja di sekolah, setelah pulang barulah aku membuatnya sendiri di rumah. Jadi, aku merasa senang kalau ada si Kati yang bisa mengingatkan jadwal pelajaranku di sekolah.
“Nah, bener, itu. Jangan aku terus yang ingetin kamu, Git,” ucap Rina sambil tertawa.
Kemudian, setelah mengikuti semua pelajaran sampai selesai. Aku cepat-cepat pulang ke rumah, karena tidak sabar untuk bertemu Kati. Setibanya aku di rumah, aku langsung berteriak, “Assalamualaikum! Kati!”
“Kati di kamar, Gita. Kati sedang melihat jadwal pelajaran sekolah Gita yang ditempel di dinding depan meja belajar,” sambut Kati dengan suara yang semangat. Kati memang tidak bisa berjalan dengan lincah seperti robot-robot lainnya. Akan tetapi, Kati sangat rajin dan paham tentang tugasnya. Untungnya tadi sebelum aku ke sekolah, Kati kuletakkan di atas meja belajarku.
Benar saja, setelah seminggu berjalan, aku tidak pernah lagi mengerjakan PR di sekolah. Bahkan, tugas-tugas prakaryaku selalu kukerjakan di sekolah. Pokoknya semua urusan sekolahku lancar jaya. Bahkan, jadwal salatku pun Kati yang selalu mengingatkanku selama satu minggu itu. Rasanya aku bahagia sekali.
Namun, kebahagiaanku itu rasanya hilang seketika. Tepat ketika hari Senin pagi, setelah salat Subuh. Aku terbiasa menyapa Kati di pagi hari setelah aku salat. Namun, tidak ada jawaban dari Kati. Aku mulai panik. “Kati! Kati! Kamu kenapa?” teriakku.
Ternyata, Mama mendengarku dari arah dapur ketika hendak membuat sarapan pagi. “Kenapa, Git?” tanya Mama dengan suara yang agak keras. Sepertinya, Mama juga khawatir, kenapa aku pagi-pagi sudah berteriak seperti itu.
Aku langsung menuju dapur dan membawa Kati ke hadapan Mama. Sambil menangis aku berkata, “Gita lupa ngisi airnya Kati, Ma. Maaf, ya.”
“Ya udah, sini coba kita isi dulu. Udah jangan nangis, ah, Git. Pagi-pagi abis sholat Subuh harus semangat, dong!” ujar Mama sambil menyemangatiku. Aku pun menghapus air mata yang masih tersisa di pipiku. Tetapi, sayangnya setelah Mama mengisi air untuk sumber energi Kati, tetap saja Kati tidak bisa menyahuti panggilanku dengan Mama lagi.
Aku kembali menangis. “Maafin, Gita, Ma. Maafin Gita, ya, Kati,” ucapku sambil sesenggukan menahan tangis.
“Sudah, Git. Nggak apa-apa, kok,” balas Mama sambil mengelus-elus punggung, lalu memelukku.
“Yah, berarti sekarang Gita udah nggak ada yang ngingetin jadwal pelajaran dan sholat lagi, dong, Ma?” tanyaku sambil masih menahan tangis.
“Eh, kok, gitu? Justru Kati ngajarin Gita kalau mulai sekarang Gita harus mandiri. Jadi, nggak boleh mengandalkan Kati. Masa Gita kalah sama Kati yang robot? Dia aja bisa hafal jadwal pelajaran, PR, sama jam sholat. Ya, kan?” jelas Mama panjang lebar. Namun, setelah itu aku jadinya berpikir. Benar juga kata Mama. Aku harus belajar mandiri. Masa aku manusia ciptaan Allah yang sempurna bisa kalah dengan robot ciptaan manusia?
“Iya juga, ya, Ma. Mulai dari sekarang Gita harus belajar untuk mandiri dan tidak lupa lagi dengan tugas-tugas Gita, Ma!” seruku dengan semangat. Setelah itu, aku mulai berpikir bagaimana caranya supaya aku bisa mengingat semua tugasku. Akhirnya aku menemukan caranya dengan mencatat semua tugasku dalam selembar kertas dan menempelkannya di atas meja belajar. Aku juga harus lebih rajin mengecek catatan sekolahku untuk mengetahui apakah ada PR atau tidak.
Terima kasih, Kati. Berkat kamu aku jadi belajar untuk lebih mandiri dan tidak mengandalkan orang lain untuk mengingatkan tugas-tugasku lagi.
Korban Kindir Jayo
Tak seperti biasanya, pagi itu aku sangat gugup untuk pergi ke sekolah. Ya, karena Mama dan aku baru saja pindah ke kota yang baru. Sebenarnya ini karena Mama yang dipindahkan oleh kantornya, dan ini bukan kepindahan pertamaku. Namun, entah mengapa rasanya pagi itu berbeda. Aku harus pindah ke kota yang agak terpencil.
“Ma, hari ini, Mama nganterin Gita, kan?” tanyaku pada Mama. Jantungku juga rasanya ikut berdetak kencang.
“Iya, dong. Kan, nanti Mama harus ketemu sama Kepala Sekolah dan Wali Kelas dulu di sana. Supaya kamu juga enak nanti sekolahnya di sana,” balas Mama.
Tak begitu lama, aku dan Mama pun tiba di sekolahku yang baru. Alhamdulillah, Kepala Sekolah dan para guru di sana menyambutku dengan senang hati. Aku jadi semangat untuk belajar ke sekolah. Namun, semua keceriaanku itu tiba-tiba harus berubah ketika aku mau jajan di kantin sekolah.
“Eh, kamu anak baru, ya?” tanya seorang anak perempuan yang lebih tinggi dariku. Anak itu berdiri tepat di sampingku.
“Iya. Kenalin aku, Gita. Aku kelas 4B,” ucapku sambil mengulurkan tangan.
“Oh, aku Dina, kelas 4A,” jawabnya sambil menjabat tanganku.
“Eh, kamu jajan itu, Din? Bukannyaaaa?” Aku tahu persis yang di tangan Dina. Itu jajanan yang sangat tidak disukai oleh Mama. Aku pernah membelinya dan setelah itu aku dimarahi oleh Mama. Katanya itu makanan pembawa penyakit.
“Oh, ini? Ini makanan khas geng kita di sekolah tau, Git. Anak-anak di kelasku pada makan ini tau. Kakak kelas 5 dan 6 juga pada makan ini, kok. Kamu juga mau, kan?” Dina menyerahkan jajanan Kindir Jayo itu padaku. Lebih tepatnya memaksa tanganku untuk menerima pemberiannya.
“Ta-tapi, Din, a-aku.” Aku kebingungan menolaknya.
“Cobain, deh, Git. Pasti nanti kamu suka.”
Lalu, mau tak mau aku memakan Kindir Jayo pemberian Dina. Sembari itu, aku juga diajak duduk bersama anak kelas 4 lainnya di meja kantin. Semuanya tersenyum ketika menatapku. Tetapi, aku sama sekali tidak melihat mereka sedang memakan Kindir Jayo juga.
“Gimana, Git? Enak, kan? Udah abis, belum? Kalau udah aku masih ada lagi ini.” Dina langsung mengeluarkan dua jajanan yang terbuat dari cokelat dan roti yang dibulat-bulatkan seperti mutiara kecil itu dari saku roknya.
“Yeeee. Karena Gita sudah berhasil menjalani tantangan makan Kindir Jayo, jadinya Gita sudah resmi masuk geng kita, ya, Teman-Teman!” teriak Dina sambil bertepuk tangan dan memukul meja berkali-kali. Aku terkejut melihat aksi Dina itu. Tetapi, aku tidak menyangka perilaku Dina malah diikuti oleh anak-anak di kantin juga.
Alhamdulillah, akhirnya aku punya teman baru di sekolah. Ucapku dalam hati.
***
Setelah pulang sekolah, aku merasa senang sekali, karena sudah punya teman baru dan diterima di sekolah yang bagus.
“Ah, aku kira sekolah yang dipilihin Mama nggak bakal bagus,” ucapku sambil mengganti pakaian di kamar.
“Tapi, kayaknya aku capek banget hari ini. Kepalaku juga agak pusing. Mendingan aku istirahat dulu, ah.”
Setelah aku tidur di kamar, aku sudah tidak ingat apa-apa lagi. Setelah aku bangun, malah Mama sudah tidur di sebelahku, dan aku sudah di ruangan putih dengan tangan yang sudah terinfus.
“Loh, Gita kenapa, Ma? Perasaan tadi Gita cuma tidur doang pas pulang sekolah?” Aku masih bingung melihat semua kejadian yang tak aku tahu.
“Mama pulang tadi, kamu nggak bukain pintu. Mama kira kamu cuma kecapekan, ternyata pas mama cek, badan kamu panas tinggi. Mama langsung bawa ke rumah sakit. Ternyata kata dokter kamu alergi dan gejala tipes,” jelas Mama dengan sangat detail. Aku sendiri bahkan tidak sadar kalau sedang sakit dan demam.
“Alergi? Kok, bisa, Ma?” Aku balik bertanya ke Mama. Soalnya aku sama sekali tidak merasa sakit apa-apa di badanku.
“Loh! Harusnya mama yang tanya kamu. Kok, bisa, kamu alergi? Kamu habis makan apa di sekolah? Aneh, deh, kamu ini.” Mama sepertinya sedikit marah, karena suaranya yang tiba-tiba terdengar meninggi.
“Makan? Gitaaaa, eeennggg.” Aku mulai mengingat kejadian di sekolah, dan aku baru tersadar.
“Jangan-jangan kamu makan Kindir Jayo, ya?” tebak Mama sambil berteriak.
Aku tak berani menjawab Mama, hanya mengangguk saja.
“Tuh, kan, kamu bandel banget, sih, Git? Itu, kan, mama udah pernah larang kamu makan. Kok, masih aja?” Mama memarahiku sambil menatapku dengan tajam.
“Iya, maafin Gita, ya, Maa. Soalnya Gita dipaksa makan sama temen-temen di kantin. Kalau nggak, nanti Gita nggak bakal bisa masuk geng mereka di sekolah, Ma,” ujarku sambil berkaca-kaca.
“Ha? Yang bener kamu? Nanti mama laporin ke Kepala Sekolah mereka yang udah kayak gitu di sekolah. Itu sama aja pembulian, Nak.” Mama kelihatan semakin marah. Namun, diriku semakin takut. Takut kalau urusan ini bakal panjang dan aku tidak bisa ke sekolah lagi.
“Nggak usah, Ma. Gita udah maafin mereka, kok. Lagian mereka juga, kan, nggak tahu alerginya Gita. Nanti pasti mereka bakal datang jengukin Gita, kok. Percaya, deh,” ucapku sambil menenangkan Mama.
Dan, benar saja, keesokan harinya. Setelah Dina dan teman-teman yang lain tahu kalau aku tidak hadir ke sekolah karena sakit. Mereka datang menjengukku ke rumah sakit. Mereka semua meminta maaf ke aku dan Mama. Alhamdulillah, setelah kejadian itu aku bisa terus berteman dengan Dina dan yang lainnya di sekolahku yang baru.
Gita sang Juara
Suatu hari di sekolah, ketika matahari sudah bersinar terang. Aku dan temanku Rina sedang menikmati bekal di jam istirahat. Aku langsung menyikut Rina begitu melihat Pak Guru masuk ke kelas.
“Selamat makan. Pak Guru tempel pengumuman ini, ya. Kalau ada yang mau ikutan, nanti bisa menghadap ke Pak Guru setelah pulang sekolah di ruang guru.” Pak Guru pun langsung berjalan pergi. Begitu aku dan Rina sudah tidak melihat Pak Guru di depan kelas. Kami langsung berlari ke samping papan tulis putih.
Aku langsung berteriak. “Rin! Lomba matematika sama IPA tingkat Provinsi ternyata. Ikut, yuk?” Aku memicingkan mata sambil menganggukkan kepala pada Rina.
“Iya, Git! Aku juga mau. Aku, ‘kan, suka banget sama matematika. Tapi, aku nggak terlalu suka IPA, Git.” Rina awalnya bersemangat. Tetapi ketika membaca IPA, Rina langsung menghela napas panjang.
“Kita coba aja dulu, Rin. Hasil akhirnya nggak usah kita pikirin. Gimana?” Aku langsung merangkul sahabatku itu. Setelah itu, Rina tersenyum dan mengangguk pelan. Aku pun berseru riang, “Yes!”
Akhirnya setelah pulang sekolah, aku dan Rina pun menghadap ke Pak Guru. Melihat kedatangan kami, Pak Guru hanya tersenyum. “Sudah Bapak duga, pasti kalian ke sini. Nilai kalian juga bagus-bagus untuk mata pelajaran yang dilombakan.”
Mendengar pujian dari Pak Guru, aku dan Rina hanya bisa bertatapan dan tersipu malu. Kemudian, aku memberanikan diri untuk bertanya pada Pak Guru. “Lalu, Pak Guru, bagaimana cara mendaftarnya?”
“Kalian isi dengan lengkap pertanyaan ini, ya. Ada sepuluh soal esai. Boleh kalian cari di mana pun. Tapi, tidak boleh sama,” perintah Pak Guru sambil menyodorkan selembar kertas yang sudah berisikan pertanyaan. Aku dan Rina langsung membuka mata sangat lebar ketika melihat soal yang diberikan.
“Pak Guru ini susah banget!” teriakku dan Rina bersama-sama.
Pak Guru hanya tertawa dan menggelengkan kepala. “Besok sebelum bel masuk sekolah, harus sudah dikumpulkan ke Pak Guru, ya. Kalau tidak, kalian dianggap gugur.”
Mendengar ucapan Pak Guru, aku dan Rina langsung membuang napas panjang. Setelah itu, kami bergegas pulang untuk menyelesaikan soal-soal rumit pemberian Pak Guru tersebut.
Untung ada handphone di rumah yang bisa dipakai untuk mencari jawaban dengan internet, pikirku. Setelah mengganti baju sekolah dan makan siang, aku langsung mengerjakan soal seleksi untuk lomba tersebut. Namun, semua jawaban yang kudapatkan lewat Google hanya hasil akhirnya semua. Tidak ada cara penyelesaian dan penjelasannya. Aku mulai kesal sebenarnya dan hampir menyerah.
Saat aku sudah lelah, tiba-tiba Rina mengirimkan pesan padaku. Katanya dia sudah berhasil menyelesaikan semua soal dari Pak Guru. Membaca pesan dari Rina aku mulai panik. “Ah! Aku nggak boleh kalah dari Rina. Aku pasti bisa. Aku lebih hebat.”
Aku kembali mencari lagi semua jawaban dan penjelasan dari soal-soal itu. Setelah berusaha keras, akhirnya aku bisa menyelesaikannya. Tanpa terasa, azan Magrib pun terdengar. Bersamaan dengan itu, suara salamnya Mama juga terdengar. “Alhamdulillah akhirnya selesai juga. Makasih, Ya Allah.”
Kemudian, aku langsung keluar kamar untuk menyambut Mama. “Mama, Gita izin mau ikut lomba olimpiade matematika dan IPA, ya? Gita baru aja selesai ngerjain soal-soalnya ini.”
“Loh, itu ekskul atau gimana, Git? Pelajarannya, ‘kan, susah. Nanti kamu malah kesusahan, Git?” tanya Mama sambil mengusap kepalaku pelan. Aku merasakan kalau Mama takut aku kelelahan.
“Enggak, kok, Ma. Ini udah seleksi, nanti setelah ini baru lanjut ke tingkat provinsi. Boleh, ya, Ma?” Aku menangkupkan kedua tangan di depan Mama. Mataku juga ikut berair. Aku terus berusaha supaya Mama mengizinkanku.
“Ya udah, tapi pelajaran lain juga nggak boleh ketinggalan, loh, ya?” Mama memelukku setelah itu. Mama sepertinya bangga sekali dengan usahaku. Ini juga untuk membahagiakan Mama, kok, pikirku.
Keesokan harinya aku bergegas ke sekolah. Bahkan aku hampir lupa untuk sarapan. Untung saja Mama meneriakiku sebelum aku pergi. Aku memang selalu begitu. Sangat bersemangat kalau ada sesuatu yang ingin kutuju. Tentu saja aku mau mengumpulkan jawabanku ke Pak Guru.
Setelah aku sampai di sekolah. Aku langsung ke ruang guru. Namun, sebelum aku mengetuk pintu. Ternyata Rina sudah ada di sana dengan Pak Guru. Aku terkejut melihatnya. Sebelum aku mengucapkan salam untuk masuk ke ruang guru. Pak Guru rupanya sudah melihatku. “Eh, Gita juga udah sampai. Ayo, sini, kamu mau kumpulin jawabannya juga, ‘kan?”
“Iya, Pak Guru.” Aku menyerahkan kertas jawabanku. Tetapi, mukaku terlihat sedikit merah.
“Kenapa, Gita? Kamu takut nggak lolos, ya? Nggak apa-apa, yang penting kamu udah nyoba. Ya, ‘kan?” Pak Guru menyemangatiku sambil mengusap bahuku.
Mendengar ucapannya Pak Guru, Rina juga langsung menepuk pelan bahuku. “Iya, Git, santai aja. Tapi, aku yakin pasti kamu lolos.”
Melihat keakraban aku dan Rina, Pak Guru hanya tersenyum. Kemudian, Pak Guru menyuruh kami untuk masuk ke kelas. Karena jam pelajaran akan dimulai. “Tapi, Pak Guru, pengumumannya kapan?” tanyaku ketika sudah di depan pintu ruang guru.
“Besok, ya. Sepertinya sedikit yang mengikuti seleksi ini,” jawab Pak Guru. Lalu, aku dan Rina kembali ke kelas. Di jalan menuju kelas aku begitu senang.
“Semoga kita berdua bisa lolos, ya, Rin,” ucapku sambil berjalan dan menggenggam tangan Rina.
***
Keesokan harinya aku sambil berlari datang menuju sekolah. Napasku juga ikut terengah-engah. Begitu masuk gerbang sekolah, aku langsung ke ruang guru. Aku sudah taksabar ingin menanyakan. Tentang pengumuman yang sudah dijanjikan oleh Pak Guru.
“Pak Guru, pengumumannya sudah ada?” Aku bertanya sambil dadaku ikut turun naik. Harapanku untuk menang begitu besar.
“Oh, sudah ada di kelas masing-masing, ya. Pak Guru barusan menempelkan pengumumannya. Tetap semangat, ya, Gita!” Aku tidak memperhatikan seruan Pak Guru di akhir kalimatnya. Saat itu, aku hanya ingin melihat hasil akhir seleksi lomba. Apakah aku terpilih atau tidak?
Begitu aku sampai di kelas dan melihat pengumuman. Aku berdiri di samping papan tulis sambil melihat kertas putih. Awalnya aku riang gembira. Namaku ditulis urutan kedua yang lolos. Persis di bawah nama Rina. Akan tetapi, Pak Guru menuliskan catatan di bawah pengumuman itu. Bahwa yang akan mewakili sekolah hanyalah juara satu.
Rasanya aku ingin menangis ketika membaca catatan dari Pak Guru. Betapa bahagianya Rina, pikirku. Pasti hari ini dia akan senang sekali. Namun, hari itu rupanya Rina tidak masuk sekolah. Nenek Rina meninggal dunia. Aku terkejut begitu mendengar kabar itu.
Ternyata pagi itu ada seorang guru yang menerima surat dari orang tua Rina. Lalu, sang guru mengumumkannya di depan kelasku sebelum pelajaran dimulai. Aku sampai tidak bisa berkata apa-apa. Kemudian, aku dikejutkan lagi setelah jam pelajaran usai. Aku dipanggil Pak Guru ke ruangan guru. “Tadi pagi Bapak sudah membicarakan ini dengan orang tuanya Rina, Git. Sepertinya Rina belum bisa masuk sampai seminggu. Jadi, kamu yang akan mewakilkan Rina untuk lomba ini, ya.”
“Tapi ... Pak Guru?” Suaraku terdengar sedikit serak. Aku bahkan ingin menangis saat itu juga. Aku tidak ingin bahagia di atas penderitaan sahabatku.
“Minggu depan sekolah sudah harus kirim perwakilan. Jadi, selama seminggu kita harus persiapan, Git. Rina juga masih berduka. Dia belum bisa fokus untuk lomba tentunya,” ujar Pak Guru sambil menatapku.
Aku pun tertunduk. Tanpa terasa air mataku menetes. Aku tak bermaksud mengkhianati sahabatku. Namun, aku harus berjuang untuk lomba ini. Jika aku menang, ini adalah kemenanganku dan Rina. Aku harus semangat untuk menjadi juara. Lalu, memberikan hadiah juara ini untuk Rina.
Misteri Kucing dan Mama
Sepulang dari sekolah, setelah melepas sepatu dan kaus kaki, aku langsung menuju kulkas di ruang dapur. Rasanya badanku sudah terbakar dengan matahari, ditambah lagi keringatku yang terus saja bercucuran, membuat seragam sekolahku sudah basah kuyup.
“Alhamdulillah! Leganya!” seruku sambil mengelap bibirku dengan air. Aku sudah tidak bisa menahan rasa hausku lagi. Air yang ada di dalam botol kaca langsung kuminum tanpa kutuang terlebih dahulu ke gelas.
“Untung Mama nggak ada, kalau ada pasti aku udah dimarahin, he-he. Ma, maafin Gita, ya. Gita haus banget soalnya,” ucapku sambil menutup pintu kulkas. Namun, tak lama kemudian aku membuka kembali pintu kulkas.
“Eh, bentar. Tadi, kok, kayak ada yang aneh, ya? Apaan, ya, itu?” Makanan yang tak pernah kulihat selama ini, anehnya ada gambar kucing yang bulunya lebat sekali dan berwarna abu-abu di bungkusan makanan itu. Kalau taksalah warna bungkusan itu ungu.
“Iya, bener! Ini makanan kucing. Loh, Mama sejak kapan pelihara kucing? Kok, nggak kasih tau Gita, sih?” Aku merasa kesal sambil memajukan bibirku. Namun, tak begitu lama aku mendengar meongan yang kencang dari kamar gudang dekat dapur.
“Ah! Kayaknya dari sini, deh.” Aku pun membuka pintu gudang dan terkejut melihat seekor anak kucing yang lucu sekali. Warna bulunya antara putih dan abu-abu. Tetapi yang paling aku suka adalah warna matanya yang biru dan ada titik hitam di tengahnya.
Awalnya aku hanya mengelus-elus bulunya saja sambil berjongkok dan mendekati kucing itu.
“Eh, kamu, kok, lucu banget sih? Siapa namanya, Sayang?” tanyaku yang seolah-olah kucing itu bisa mengerti dan akan menjawabku. Padahal aku berkata demikian hanya karena aku gemas pada kucing itu saja.
Saat aku hendak menggendong kucing itu, aku melihat ada tulisan di kalung yang dipakainya. “Oh, namamu Teo, Sayang? Kamu jantan, ya?” Aku sambil cekikikan saat memeluk si Teo dan membawanya ke kamarku.
“Lumayan juga ada si Teo, ada yang nemenin aku pas Mama belum pulang,” ucapku sambil menurunkan Teo yang mungil dan imut itu.
“Meong! Meong! Meong!” Teo berseru-seru sambil menggesek-gesekkan badannya ke kakiku.
“Eh, Teo mau apa, Sayang? Mau makan? Bentar, ya, Gita ambilin makanan kamu dari kulkas.” Aku pun buru-buru ke dapur dan mengambil makanan Teo yang sudah disiapkan Mama.
“Eh, kok, bisa sama, ya? Apa Teo jadi bintang iklan makanan kucing gitu, ya?” Aku tertawa sambil melihat pembungkus makanan Teo yang wajah kucing di pembungkus itu mirip sekali dengan Teo.
“Meong! Meong!” Suara Teo makin kencang terdengar.
“Iya, bentar, Teo!” jawabku dengan sedikit berteriak. Seakan aku paham bahasanya si Teo. Setelah itu, aku pun langsung memberi makan Teo sampai dia kenyang. Usai itu, barulah aku mencuci tangan dan berganti baju karena besok seragam sekolahku masih mau dipakai lagi.
Aku dan Teo asyik bermain berdua di kamar sambil menunggu Mama. Kami bermain tali sepatuku yang kuambil dari laci lemari, lalu aku juga mengajak Teo bermain bola bekel. Teo terlihat sangat lincah saat mengejar tali sepatu dan bola bekel yang kusodorkan ke mukanya.
Setelah itu, aku mengambil cokelat kecil yang berbentuk seperti koin dari tas sekolahku yang kubeli di kantin sekolah. Aku menggigitnya sedikit, lalu kuletakkan sisanya di atas meja belajar. Aku pun melanjutkan bermain bersama Teo sampai kami berdua tertidur di atas kasur bersama-sama.
***
“Assalamualaikum! Git! Mama pulang, nih, ada makanan. Tadi mama beli capcay sama ayam goreng kesukaan kamu.”
Setelah tak ada suaraku yang menjawab, Mama langsung menuju kamarku. Jelas saja, aku tidak menjawab, aku masih tertidur pulas bersama Teo di atas kasur.
“Ya Allah, Gita! Udah sore, ayo, bangun. Kamu udah sholat belum? Loh, kok, ada Teo di sini? Tia mana?” tanya Mama padaku. Aku takbisa menjawab pertanyaan Mama karena kepalaku rasanya masih berat.
“Eh! Ini kamar kamu, kok, agak bau gini, sih, Git?” Mama kembali bertanya, dan aku masih bingung mau menjawab apa.
“Mama kali yang belum mandi pulang dari kantor. Kok, nuduh kamar Gita yang bau, sih?” Aku menjawab dengan kesal.
“Beneran, Git. Mama nggak bohong. Ini kamar kamu bau banget, loh. Jangan-jangan Tia mati di kamar kamu lagi,” ucap Mama sambil mengelilingi kamarku bahkan membuka lemari pakaianku.
“Bentar, Ma! Tia ini siapa? Aku bingung, loh, ini. Mama udah nggak bilang mau adopsi si Teo ini. Sekarang malah ada Tia lagi,” sahutku dengan sangat kesal.
“Iya, iya. Mama minta maaf. Teo dan Tia itu sepasang kucing dikasih temen mama. Katanya udah nggak sanggup pelihara Teo dan Tia, soalnya kucing temen mama udah banyak banget,” jelas Mama dengan sangat detail. Barulah aku paham, ternyata yang dicari Mama adalah saudaranya Teo.
Namun, tak sengaja Mama melihat cokelat yang sebelumnya di atas meja belajarku sudah berjatuhan di lantai. “Loh, Git. Ini kamu makan cokelat sampai jatuh-jatuh gini, kok, bisa?”
“Ha? Aku tadi naruh cokelatnya di atas meja, kok, Ma! Apa dimakan Teo, ya?” tebakku dengan asal saja.
“Nggak-lah itu Teo masih tiduran di kasur kamu. Ini pasti Tia yang makan. Tapi, Tia di mana, ya?” Mama masih kebingungan mencari Tia. Sementara itu bau busuk seperti bau sampah dan muntah masih tercium di kamarku.
“Memangnya kalau kucing makan cokelat bisa mati, ya, Ma?” tanyaku dengan polosnya ke Mama, karena aku memang tak mengetahuinya.
“Iya, Git. Ada kandungan teobromina yang nggak bisa dicerna sama kucing. Kayaknya Tia itu kemakan cokelat kamu, deh. Tapi, dia di mana, ya? Kalau pun mati pasti sekitaran sini. Ini baunya aja kecium banget di kamarmu,” urai Mama dengan sangat jelas.
“Oh, gitu. Ya udah, Ma, kita cari si Tia dulu. Kalau pun dia keracunan dan bisa kita tolong, kita bawa ke dokter aja, ya?” Aku bersemangat mengucapkannya ke Mama dan Mama pun mengangguk-anggukkan kepalanya pertanda setuju dengan ucapanku itu.
“Ya ampun, ini, Ma. Ada Tia di bawah meja belajar Gita! Ayo, Ma, bawa ke dokter. Kayaknya masih bisa selamat. Itu dia masih napas, Ma!” Aku sedikit berteriak karena panik. Aku dan Mama berhasil membawa Tia ke dokter hewan dan menyelamatkan Tia.
Syukurlah Tia bisa selamat dan ternyata dia bukan keracunan cokelat, melainkan kapur barus. Kata dokter kemungkinan Tia menjilat atau menghirup kapur barus terlalu banyak.
Akan tetapi, setibanya di rumah, saat aku dan Mama membuka pintu. Bau busuk kembali tercium di hidung kami berdua. Misteri baru datang lagi.
Keberuntungan di Pasar Malam
Pagi itu seperti biasa, selesai sarapan aku langsung siap-siap pergi ke sekolah. Tak lupa kusalami tangan Mama yang sudah menyiapkan sarapan dan baju sekolahku.
“Mama, Gita pergi sekolah dulu, ya. Assalamualaikum!” Aku pun berjalan dengan riang sambil membawa tas sekolah di pundakku. Rasanya aku senang sekali pagi itu, karena semalam aku berhasil mengerjakan PR Matematika dan Bahasa Indonesia sendiri. Padahal biasanya Mama yang selalu membantu dan menemaniku.
Namun, tiba-tiba kulihat ada selembar kertas yang sengaja dMamaang ke halaman rumahku. “Eh, Mama! Ini kertas apa?” jeritku dari halaman.
“Mana, sih, Git? Perasaan tadi Mama udah sapu, kok. Udah bersih, tau!” Mama masih tidak percaya dengan ucapanku. Akan tetapi, beliau tetap berjalan menuju halaman. Sedangkan diriku masih berdiri dan menunggu Mama di halaman.
Setelah kulihat Mama muncul di depan pintu, langsung saja telunjukku mengarahkan letak kertas tersebut. “Itu, loh, Bu.”
“Ya Allah, Git! Mbok, ya, diambil terus dibaca, to. Kamu, kan, udah bisa baca, Git,” ucap Mama sambil menggeleng-gelengkan kepala. Mungkin Mama sedikit kesal, karena aku tak mau mengambil kertas tersebut.
“Iya, habisnya Gita takut. Jangan-jangan surat dari ha-han.”
“Hah! Ngawur kamu, Git. Ini, loh, selebaran pasar malam. Nanti malam mau diadain pasar malam dekat Pasar Malibari. Ah, kamu ini. Bikin Mama deg-degan aja pagi-pagi gini.” Mama mengelus-elus dada, lalu berjalan, dan meletakkan selebaran itu di meja teras rumah.
“Selebaran itu apa, Ma?” tanyaku penasaran. Rasanya belum pernah kudengar kata itu.
“Oh, itu kertas kayak berisi pengumuman atau pemberitahuan gitu. Udah, ah. Kamu berangkat sekolah sana. Nanti telat, loh!” suruh Mama sambil masuk ke dalam rumah dan mengunci pintu.
“Ah, Mama. Gita, kan, mana tau kalau itu selebaran pasar malam. Eh, tapi, boleh juga, ya? Pasar malam. Ehm. Kayaknya seru, deh. Aku mau datang, ah, entar malam!” seruku sambil berjalan dan menuju ke sekolah.
***
Setiba di sekolah, aku sempat bertemu sahabatku yang duduk di kursi sebelahku. “Eh, Rin. Tau, nggak? Tadi pagi ada selebaran pasar malam, loh, di halaman rumahku.” Aku langsung bercerita kepada temanku. Rasanya taksabar ingin berbagi cerita pagi itu kepada sahabatku.
“Oh, kamu juga dapat, Git? Aku juga tadi dapat pas sebelum ke sekolah. Mereka meletakkan di halaman rumah, kan?” Rina balik bertanya padaku. Kubalas dengan anggukan dan senyuman.
“Mau pergi bareng? Nanti kita diantar sama sopirku aja. Aku jemput kamu pakai mobilku. Kebetulan papa sama mamaku juga katanya ada acara di luar.” Rina memang terlahir sebagai anak pengusaha. Meski demikian, Rina tidak pernah sombong dan selalu mau membantuku dalam kesulitan. Contohnya, saat itu, di mana aku mau pergi ke pasar malam.
“Ah! Kamu tau aja, Rin. Oke, deh, kalau kamu yang maksa,” ucapku. Setelah itu kami pun tertawa dan bel kelas berbunyi. Hari itu kami semangat untuk mengikuti semua pelajaran. Apalagi nanti malam akan ada pasar malam. Pasti seru, ya, berpetualang di pasar malam!
Tanpa terasa semua pelajaran begitu cepat selesai. Mungkin aku sangat bersemangat menjalani sekolah, karena taksabar ingin pergi ke pasar malam.
Sebelum pulang, Rina kembali mengingatkanku. “Git, jangan lupa, loh, ya. Nanti malam jam tujuh aku jemput kamu. Kamu harus udah siap, ya. Kita jangan sampai telat.”
“Siap, Bos!” Aku langsung mengetos tangan Rina sambil tersenyum riang.
***
Akhirnya setelah menunggu begitu lama. Malam pun tiba. Aku juga sudah selesai mandi dan berganti baju. Melihat aku sudah rapi dan wangi, Mama lantas bertanya padaku.
“Mau ke mana, Git? Rapi banget?”
“Eh, Mama. Ini. Gita mau ....” Aku mau memberitahu Mama yang sebenarnya, tapi pasti Mama tidak akan memberi izin.
“Jangan-jangan? Kamu mau ke pasar malam, ya? Nggak boleh, ah. Anak gadis, kok, mau keluyuran malam-malam? Nanti pulangnya tengah malam lagi. Terus, kamu mau pergi sama siapa, Git? Mama nggak bisa nganter, loh.”
“Tuh, kan, Mama. Belum apa-apa udah ngomel. Lagian, Gita juga belum pernah ke pasar malam, Ma? Boleh, ya? Sekali ini aja. Ini juga perginya sama Rina.” Aku mencoba merayu Mama untuk memberikan izin.
“Nggak boleh. Dua-duanya anak perempuan lagi. Ah, kalian ini, ngawur.” Mama melototiku sambil melipat tangan di depan pintu. Mama sepertinya marah karena tak mau aku kenapa-kenapa. Tapi, aku langsung ada ide.
“Eh, ada Pak Sopir, kok, Ma. Nanti Pak Sopir bisa jagain kami, Ma. Beneran, deh.” Aku kembali merayu Mama sambil memelas di depan Mama.
“Oke, tapi janji nggak pulang di atas jam sembilan. Kalau udah jam segitu, harus langsung pulang!” tegas Mama.
“Yeay! Makasih, ya, Ma.” Aku langsung memeluk Mama. Lalu, tak berapa lama, Rina datang bersama dengan Pak Sopir.
“Ma, Gita pergi dulu, ya? Assalamualaikum!” Aku langsung berlari menghampiri mobil Rina di depan pagar rumahku.
Akhirnya petualangan pun dimulai. Aku dan Rina langsung berangkat menuju pasar malam. Setiba di sana, kami pun langsung mau mencoba banyak sekali permainan di sana. Mataku langsung tertuju pada ayunan yang banyak dan di tengahnya ada roda besar sekali.
“Eh, Rin. Itu apa namanya?” tanyaku penasaran.
“Oh, itu bianglala. Kamu belum pernah nyobain itu, ya? Kita coba, yuk!” ajak Rina sambil menuju tempat pembayaran untuk masuk ke permainan di sana.
Aku merasa beruntung punya Rina sebagai terbaikku. Malam itu kami mencoba banyak wahana mulai dari bianglala, komidi putar, kereta api mini, sampai melihat Tong Setan yang bisingnya luar biasa. Terakhir kami juga mencoba wahana permainan berhadiah. Sepertinya malam itu adalah malam keberuntunganku. Kami membawa pulang banyak hadiah berupa boneka, jepit rambut, dan bando.
“Ini hadiahnya buat kamu aja, Rin. Kan, kamu udah bayarin aku masuk tadi. Makasih, ya, Rin udah jadi sahabat aku.” Aku pun langsung memeluk Rina sambil menyerahkan sekantong plastik hadiah.
“Iya, Git, sama-sama. Ya udah, ayo, kita pulang. Nanti kemaleman.”
Teka-teki untuk Gita
“Masak hari ini nggak ada yang inget ultah aku, sih?” ucap Gita dengan penuh kesal. Namun, perasaan Gita seketika berubah saat melirik sebuah kertas putih yang dilipat menjadi pesawat terbang. Mirip sekali dengan mainan yang sering dimainkan Gita di sekolah.
“Eh, kok, bisa ada itu di meja belajar, ya?” gumam Gita begitu pelan. Namun, karena penasaran Gita pun langsung mendekati meja belajarnya.
“Loh, ada tulisannya!” seru Gita yang sigap mengambil pesawatnya dan melanjutkan untuk membacanya, “Co-cok-kan-lah, ang-ka di da-lam de-ngan ab-jad yang ber-u-rut.” Gita terbata-bata membaca tulisan yang ada di badan pesawat kertas itu. Ternyata masih ada pesawat kertas lainnya yang belum dibaca Gita.
“Oiya, yang ini belum. Li-hat-lah pe-tun-juk di da-lam pe-sa-wat.” Gita masih belum bisa menebak apa jawaban dari semua itu. Namun, Gita tidak pantang menyerah, ia terus mencoba dan menjajarkan kedua pesawat yang sudah dibukanya menjadi kertas HVS.
Di dalam sebuah kertas HVS yang di sebelah kanan tertulis:
A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z
1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26
Sedangkan yang di sebelah kiri tertulis:
20-5-13-21-11-1-14 8-1-12 25-1-14-7 19-16-5-19-9-1-12 4-9 7-1-18-1-19-9
“Oh, maksudnya aku harus ubah angka-angka ini jadi huruf, ya? Terus, hurufnya disesuain sama angkanya, ‘kan? Kayak satu itu A, terus dua itu B. Oke, deh, aku bisa!” teriak Gita penuh semangat saat sudah mengerti teka-teki yang ada di meja belajarnya itu.
Beberapa saat kemudian, Gita sibuk mengambil pulpen dan kertas lainnya untuk dicoret-coretnya. “Oke, ketemu. T-E-M-U-K-A-N H-A-L Y-A-N-G S-P-E-S-I-A-L D-I G-A-R-A-S-I.” Gita menyusun huruf-huruf tersebut sambil membacanya dengan keras.
Setelah ia berhasil memecahkan teka-teki itu, Gita langsung berlari kegirangan menuju garasi rumahnya. Namun, dalam hati Gita masih bertanya-tanya, ada apa di garasi, ya?
Setibanya di garasi, Gita melihat ada potongan kertas yang seukuran ubin lantai ditempel di sana. Namun, gambar tersebut diacak dan belum utuh menjadi sebuh gambar. Dengan sigap, Gita langsung menyusun gambar tersebut satu per satu.
“Kok, kayak gambar sepeda kuno zaman dulu, ya?” Gita sempat terheran sambil menyusun gambar yang sudah mau terlihat utuh. Akhirnya setelah berhasil, ada gambar panah dan tulisan di pojok kanan bawah. BACA.
Gita pun bergegas membalik kertas itu dan membacanya. “Hadiah Gita di ruang tamu. Cepat, ke sini!” Ia langsung berlari dan ternyata sudah ada mama dan papanya Gita di sana lengkap dengan kue ulang tahun dan sepeda untuk Gita.
“Sureprise! Selamat ulang tahun, Gita! Kamu memang anak papa yang hebat,” ucap Papa dengan bangga. Tak lama, Mama juga memeluk Gita.
“Maaf, ya, Sayang. Kami kasih teka-tekinya susah, ya?” tanya Mama sambil melepaskan pelukannya.
“Nggak, kok, Ma. Ini, mah, gampang banget. Pasti ide Mama, ‘kan?” Gita membalas mamanya sambil tertawa.
“Idenya dari mama, kadonya dari Papa. Ya, ‘kan, Pa?” Mama menutup kejutan itu dengan bercanda bersama.
Setelah itu, Gita pun bermain sepeda dengan girangnya, bahkan sampai berteriak. “Makasih, Ma, Pa!”
Mama dan Papa hanya tertawa melihat tingkah Gita. “Jangan sore-sore banget mainnya, ya, Sya. Udah mau Magrib soalnya,” ucap Mama sebelum meninggalkan ruang tamu bersama Papa.
Pogi Diculik?
Rombongan anak penguin kebingungan untuk mencari makan setelah ditinggal orang tua mereka.
“Kita harus milih pemimpin kita, nih! Tapi, gimana caranya, ya?” tanya penguin paling muda di antara yang lainnya.
“Gimana kalau kita lomba nyelam untuk nangkap ikan di bawah es?” saran dari penguin lainnya.
“Boleh juga, tapi, kita bagi jadi tiga kelompok aja, supaya ikan-ikan yang ditangkap bisa langsung dimakan. Terus, kelompok yang menang, pemimpinnya bisa jadi pemimpin kita semua. Gimana, Teman-teman, setuju?” tanya penguin yang paling ganteng di antara lainnya. Dialah si Pogi.
“Setuju!” jawab serentak dari rombongan anak penguin.
Setelah itu, mereka langsung memulai lomba. Anak-anak penguin itu begitu lincah berseluncur di atas es dan menyelam ke bawah air. Itu semua karena sirip, kaki, dan bentuk tubuh mereka yang unik.
“Ayo! Sedikit lagi kita menang!” teriak Pogi yang sudah melihat banyak tumpukan ikan yang dikumpulkan oleh teman-teman sekelompoknya. Pogi juga melompat kegirangan sambil mengeluarkan nyanyian khas penguin.
Teman-teman Pogi tambah semangat saat mendengar suara Pogi yang merdu dan tariannya yang lincah. Akhirnya, kelompok Pogi berhasil menang, dan Pogi menjadi pemimpin kawanan anak penguin itu.
“Terima kasih, ya, Teman-Teman. Kalian memang perenang yang hebat,” ucap Pogi pada teman-teman sekelompoknya yang sudah berhasil memenangkan perlombaan.
“Sama-sama, Pogi,” jawab penguin lainnya.
Ditengah kegirangan anak-anak penguin itu, Pogi merasa ada yang aneh. Lapisan es seperti bergetar, pertanda ada yang mau datang ke rombongan anak penguin itu.
“Ayo, sembunyi, Teman-Teman!” teriak Pogi sambil berlari dan meluncur dengan cepat.
Ternyata ada sekelompok pemburu dan seekor serigala kutub yang mengincar anak penguin untuk dijadikan hewan sirkus. Pogi sudah mengetahui keberadaan para pemburu itu.
“Kalian pergi duluan! Biar aku yang ngelawan para pemburu ini,” ucap Pogi. Akan tetapi, teman-temannya menolak dan ingin bersama-sama melawan para pemburu itu.
“Nggak, Pogi. Kami mau bilang apa ke orang tua kamu, kalau mereka nanti pulang terus nyariin kamu?” kata penguin paling muda dengan suaranya yang sudah serak dan hampir menangis.
“Kalian harus bilang, Pogi pasti menang dan pulang,” kata Pogi dengan gagah sambil berselancar di atas es. Pogi dan rombongan anak penguin itu berpisah. Bukan untuk melarikan diri, melainkan Pogi harus melawan musuh serta menyelamatkan teman-temannya dari incaran para pemburu.
Setelah semalaman mereka berpisah, Pogi belum juga kembali. Semua anak penguin begitu cemas dan gelisah menunggu kehadiran Pogi. Tiba-tiba terasa getaran di atas lapisan es tempat persembunyian kawanan anak penguin tersebut.
“Siapa yang datang?” bisik penguin paling muda pada teman-temannya.
“Shuuutt! Diam!” sahut penguin lainnya.
Kawanan anak penguin itu baru menyadari ketika ada yang bersuara seperti penguin juga. Ternyata itu adalah orang tua mereka yang sudah pulang dan menemukan tempat persembunyian anak-anak penguin tersebut.
“Hore! Ayah! Ibu!” teriak anak-anak penguin itu saling bersahutan. Mereka bersuara dengan nada yang beragam dan hanya dikenali oleh orang tua mereka, begitu juga sebaliknya.
Sayangnya, di tengah kebahagian itu, orang tua Pogi tak menemukan anaknya. Sampai suara ibunya Pogi serak, karena berteriak terus-menerus mencari Pogi. Akhirnya, penguin paling muda mendatangi ibunya Pogi.
“Kami sudah ngelarang Pogi untuk berhenti melawan para pemburu dan pergi bersama kami, Tante, tapi ....” Penguin paling muda itu tidak bisa melanjutkan ucapannya. Kemudian, tangis mereka pun terdengar bersahutan.
“Maafkan kami, Tante.”
“Tidak! Tidak bisa. Kamu harus bertanggung jawab. Kamu harus menjadi anakku sekarang,” ucap ibunya Pogi yang masih marah dan kesal setelah kehilangan Pogi.
Namun, orang tua penguin lainnya tidak bisa mencegah ataupun menolak keinginan ibunya Pogi. Mereka semua juga ikut sedih dan iba melihat Pogi yang sudah pergi diculik para pemburu.
“Tante, Pogi nitip pesan, kalau dia akan ngelawan para pemburu dan kembali ke rombongan kita,” bisik penguin muda yang sedang tidur di sebelah ibunya Pogi.
Malam itu, semuanya bersedih atas penculikan Pogi. Keesokan harinya, tak ada yang menyangka kalau Pogi bisa bebas dan kembali ke rombongan penguin.
“Ada yang datang, Teman-Teman!” jerit penguin muda yang mengenal langkah kaki di atas lapisan es itu.
“Pogi? Pogi?” Ibunya Pogi langsung memanggil dengan nada suara yang hanya dikenali Pogi. Ternyata dari kejauhan terdengar sahutan suara Pogi.
“Pogi, syukurlah kamu kembali.” Kedua orang tua Pogi langsung memeluk Pogi.
“Pogi untung kamu kembali, kalau nggak, aku yang diculik orang tua kamu, dan gantiin kamu,” ucap penguin muda sambil tertawa dan diikuti semua kawanan bersorak gembira.
“Tentu saja aku kembali, karena kita adalah hewan yang setia dan bertanggung jawab,” jawab Pogi sambil bernyanyi dan menari. Lalu, semua rombongan mengikuti gerakan Pogi.