Peninggalan Kerajaan Singosari di Jawa Timur/Candi Kidal

Candi Kidal berlokasi di Desa Rejokidal, Tumpang, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Candi ini merupakan peninggalan dari Kerajaan Singhasari, yang dibuat untuk menghormati Raja Kedua Singhasari, yang dikenal dengan Prabu Anusapati atau Panji Anengah. Anusapati merupakan putra Ken Dedes dengan Tunggul Ametung, sehingga dapat dikatakan bahwa Anusapati merupakan anak tiri Ken Arok[1].
Karakteristik Candi Kidal adalah kental dengan aliran Jawa timur, yang memuat karakteristik khas candi Hindu. Candi ini diperkirakan dibangun pada masa pemerintahan Anusapati, kurang lebih dibangun selama 20 tahun (1227 - 1248) sejak mulai masa pemerintahan hingga saat Anusapati telah meninggal[2]. Pada tahun 1990, Candi Kidal telah mengalami pemugaran.
Arsitektur
[sunting]Candi Kidal terbuat dari batu andesit, dengan tiga tingkatan candi yang terdiri dari kaki candi, tubuh candi, dan atap candi. Ketiga bagian ini memiliki istilah dalam agama Hindu dan artinya masing-masing. Kaki candi disebut juga Bhurloka, dan melambangkan tentang alam semesta. Kaki candi ini agak tinggi, dengan anak tangga naik yang cenderung kecil seolah bukan merupakan jalan masuk. Bagian tubuh candi disebut Bhuwarloka yang melambangkan dunia antara, secara bentuknya lebih sempit dari kaki dan atap candi, sehingga terlihat lebih ramping dari kedua bagian tersebut. Lalu terakhir ada atap candi yang disebut Swarloka, yang melambangkan dunia atas yang menjadi tempat para dewa. Atap candi terdiri dari 3 tingkat yang semakin ke atas semakin kecil tanpa hiasan atap[1].
Hal menonjol lainnya adalah kepala kala yang dipahatkan di atas pintu masuk dan bilik-bilik candi. Kala, salah satu aspek Dewa Siwa dan umumnya dikenal sebagai penjaga bangunan suci. Hiasan kepala kala Candi Kidal tampak menyeramkan dengan matanya melotot, mulutnya terbuka dan tampak dua taringnya yang besar dan bengkok memberi kesan dominan. Adanya taring tersebut juga merupakan ciri khas candi corak Jawa Timuran. Di sudut kiri dan kanannya terdapat jari tangan dengan mudra (sikap) mengancam. Maka sempurnalah tugasnya sebagai penjaga bangunan suci candi.
Sebelumnya, Candi Kidal memiliki arca perwujudan Raja Anusapati yang diasosiasikan sebagai Dewa Siwa. Namun, patung arca ini sekarang ada di Royal Tropical Institute amsterdam.
Filosofi
[sunting]Candi Kidal menggambarkan kisah Garudeya, yang merupakan cerita mitologi dalam agama Hindu yang berisi pesan moral pembebasan dari perbudakan. Raja Anusapati dikenal juga sebagai Garuda yang berbakti, dimana ia sangat menghormati ibunya Ken Dedes. Filosofi kisah ini tertuang dalam relief candi yang menggambarkan kisah Garuda membebaskan ibunya dari perbudakan[3].
Di Candi Kidal penggambaran cerita Garudeya dipahatkan dalam tiga bentuk Visualisasi bentuk ornamen Garudeya dibaca dengan prasawiya (hubungan vertikal dengan Tuhan) dengan susunan sebagai berikut:
1. Garuda dan para naga, ibu Garuda masih dalam perbudakan gang Kadru.
2. Garuda membawa amerta sebagai penebus kebebasan ibunya.
3. Garuda bersama ibunya yang telah terbebas dari perbudakan Sang Kadru dan para naga.