Lompat ke isi

Peninggalan Kerajaan Singosari di Jawa Timur/Ken Dedes

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas
Sumber: Commons.wikimedia.org/Anandajoti Bhikkhu

Asal mula Arca Ken Dedes dimulai ketika istri dari Ken Arok yaitu pendiri Kerajaan Singasari dimana Dyah Ayu Sri Maharatu Mahadewi merupakan ratu pertama dari Singasari. Dalam buku Pararaton telah disebutkan bahwa Ken Dedes merupakan putri dari Mpu Purwanatha. Mpu Purwanatha sempat terusir dari Daha, kemudian menetap di Desa Panawijen di Lereng Gunung Kawi. Kecantikan dari Ken Dedes putri dari Mpu Purwanatha tersebar dan terdengar oleh Tunggul Ametung yang kemudian pergi ke Panawijen karena penasaran dengan Ken Dedes. Tunggul Ametung jatuh hati saat pertama kali melihat Ken Dedes. Saat itu juga Tunggul Ametung tidak bisa menahan hasrat nya sehingga ia justru membawa paksa Ken Dedes ke Tumapel. Padahal seharusnya Tunggul Ametung seharusnya menemui ayah dari Ken Dedes yaitu Mpu Purwanatha.[1]

Saat Mpu Purwanatha tiba dan ketika dicari putrinya tersebut tidak ketemu, Mpu Purwanatha mengucapkan sumpah kutukan, dalam Kitab Pararaton disebutkan jika kutukan yang dilontarkan berbunyi “Semoga yang membawa lari anakku tidak akan selamat hidupnya. Semoga ia mati tertikam keris,” dan “Semoga anakku yang telah mempelajari karma amadangi tetap selamat dan mendapatkan kebahagiaan yang besar." Pada akhirnya sumpah kutukan yang dilontarkan itu kejadian kenyataan dimana Tunggul Ametung mati ditusuk keris oleh Ken Arok sedangkan Ken Dedes kemudian dinikahi Ken Arok yang lantas menjadi penguasa Kerajaan Singasari.[1]

Sejak awal Ken Dedes tidak mencintai dengan Tunggul Ametung yang menculiknya dan menikahi secara paksa. Pasca matinya Tunggu Ametung, Ken Arok menikahi Ken Dedes yang telah mengandung anak dari Tunggul Ametung, Mereka berdua saling mencintai satu sama lain bahkan tidak ada siapapun yang menentang atas terjadinya pernikahan Ken Arok dengan Ken Dedes.

Saat ini Arca Ken Dedes telah disimpan di Museum Nasional, Jakarta. Sayangnya Arca ini sudah tidak memiliki kepala lagi. Ken Dedes sendiri secara legendaris tertanam di hati rakyat dengan lambang keluwesan, kecantikan, dan tabiat lemah lembut dari seorang wanita Jawa terutama di Jawa Timur.[2]

Referensi

[sunting]
  1. 1,0 1,1 Sejarah arca Ken Dedes. (2024). https://smpn11.bimakota.sch.id/web/detail-berita/756/-
  2. https://berkalaarkeologi.kemdikbud.go.id/index.php/berkalaarkeologi/article/download/945/882/3686