Lompat ke isi

Peninggalan Kerajaan Singosari di Jawa Timur/Kitab Pararaton

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas

Kitab Pararaton adalah sebuah naskah yang menceritakan sejarah Kerajaan Singosari dan Majapahit pada sekitar abad ke-13 hingga abad ke-15 Masehi. Istilah Pararaton berasal dari bahasa Jawa yang berarti "Para Raja" atau "Para Penguasa". Naskah ini berisi 32 halaman dan sekitar 1126 baris yang ditulis dalam bahasa Jawa Kuno dengan aksara Bali. Naskah ini adalah salah satu contoh historiografi tradisional Jawa yang memadukan unsur mitos dengan fakta. Pararaton merupakan contoh kesustraaan tradisional Nusantara yang berbentuk gancaran atau prosa.[1]

Meski tidak diketahui dengan pasti siapa penulis asli Pararaton, namun sejarawan berpendapat bahwa kitab ini digubah oleh kalangan agamawan dan menjadi bacaan wajib bagi kaum bangsawan dan pendeta pada era kerajaan Hindu-Buddha. Hal ini dapat dilihat dari isi naskah yang menunjukkan perkawinan antara Ken Arok sebagai penganut Hindu Siwa dan Ken Dedes sebagai penganut Buddha Mahayana. Penulisan kitab ini dianggap memberikan legitimasi kepada Ken Arok sebagai pendiri Dinasti Rajasa (Singasari) sekaligus leluhur raja-raja Majapahit.[1][2]

oleh Kitab Pararaton awalnya diteliti oleh sejarawan asing bernama R Friedrich pada 1849. Naskah ini kemudian diteliti dan diterjemahkan oleh sejarawan Belanda, J.L.A Brandes pada sekitar 1888 hingga 1896. Brandes-lah yang kemudian dikenal sebagai penyusun Pararaton dari naskah-naskah lontar Bali. Sekitar dua dekade kemudian, N.J. Krom menyempurnakan terjemahan Brandes, dibantu oleh dua asistennya bersama Poerbatjaraka, seorang ahli Jawa Kuno.[3][4]

Menurut Wayan Jarrah Sastrawan, salinan naskah Pararaton di Bali berasal dari tahun 1613 M dan 1638 M. Hingga saat ini, salinan Pararaton dalam bentuk lontar masih disimpan di rumah bangsawan dan pendeta di Bali. Hal ini memperkuat teori sejarawan bahwa naskah Pararaton diselamatkan oleh sisa-sisa penduduk Majapahit yang mengungsi ke Bali ketika kerajaan tersebut runtuh. Adanya salinan naskah lontar di Bali juga menolak argumen bahwa Pararaton adalah karangan Belanda, bukan naskah asli Nusantara. Perpustakaan Nasional RI menyimpan tiga salinan dari hasil penerjemahan Brandes, sementara Perpusatakaan Universitas Leiden menyimpan salinan dalam bahasa Belanda.[3][4]

Salinan Serat Pararaton terbitan Departemen Pendidikan dan Kebudayaan tahun 1979

Isi Kitab Pararaton

[sunting]

Kitab Pararaton menceritakan asal usul Ken Arok (atau Ken Angrok) sebagai pendiri Kerajaan Singosari, kemudian awal mula berdirinya kerajaan ini sebagai salah satu kerajaan penting di Jawa Timur hingga kehancurannya, dan berdirinya Kerajaan Majapahit hingga masa kejayaannya.

Bagian awal kitab Pararaton didominasi oleh cerita Ken Arok. Diceritakan Ken Arok merupakan anak orang biasa yang pernah menjadi pencuri (maling) dan begal. Nasib Ken Arok berubah ketika ia membunuh Akuwu Tumapel, Tunggul Ametung, dan menikahi Ken Dedes. Ken Arok akhirnya menjadi penguasa pertama Kerajaan Singosari, bergelar Sri Ranggah Rajasa atau Kertarajasa. Namun, ia kemudian meninggal dibunuh anak Tunggul Ametung yang bernama Anusapati dengan keris Mpu Gandring. Kerajaan Singosari silih berganti diperintah oleh keturunan Ken Arok dan Tunggul Ametung yang saling membalas dendam dan berambisi untuk merebut kekuasaan. Kerajaan ini akhirnya runtuh setelah serangan Jayakatwang dari Kediri.

Di bagian selanjutnya diceritakan awal mula Kerajaan Majapahit yang didirikan oleh Raden Wijaya, menantu Kertanegara yang melarikan diri dari Singosari. Bagian-bagian selanjutnya berupa narasi pendek tentang masa pemerintahan penguasa Majapahit, yakni Raden Wijaya, Jayanegara, Tribhuwana Tunggadewi, Hayam Wuruk, hingga Girindrawardhana.[2]

Cerita dalam Kitab Pararaton berakhir pada tahun 1403 Saka atau 1481 M. Namun, penulisan kitab ini ditulis pada tahun 1535 Saka atau 1613 M, pada masa kekuasaan Sultan Agung dari Kerajaan Mataram Islam di sebuah desa bernama Sela Penek, yang dapat diartikan sebagai "tempat yang dihimpit batu", sehingga kemungkinan ditulis di daerah pegunungan cadas.[2]

Referensi

[sunting]
  1. 1,0 1,1 Saputra, A. W. (2020). REFLEKSI KONDISI EKO-SOSIO-KULTURA KOTA MALANG MELALUI KITAB PARARATON. Waskita: Jurnal Pendidikan Nilai dan Pembangunan Karakter, 4(1), 13-26.
  2. 2,0 2,1 2,2 Alfian, S. Y. (2019). Pararaton Sebagai Sumber Sejarah Pemanfaatannya Dalam Pembelajaran Di era Digital. Jurnal Pendidikan Sejarah Indonesia, 2(1), 38-48.
  3. 3,0 3,1 Kelik, Y. 2022. Pararaton: Kitab Rekayasa Belanda? https://www.ullensentalu.com/kajian/pararaton-kitab-rekayasa-belanda
  4. 4,0 4,1 Mei, Y. 2023. Kitab Pararaton Karya Seni Sastra Tinggi. Epoch Times Indonesia. https://etindonesia.com/2023/01/26/kitab-pararaton-karya-seni-sastra-tinggi/