Penulis:Kwee Tek Hoay

Kwee Tek Hoay (1886–1952) lahir di Bogor dari keluarga pedagang peranakan Tionghoa asal Fujian. Sejak kecil ia membantu ayahnya berdagang, sementara pendidikannya terbatas karena kesulitan bahasa di sekolah Tionghoa. Ia kemudian belajar bahasa Belanda dan Inggris secara otodidak, yang kelak menunjang minat bacanya.
Di usia remaja ia mengelola usaha dagang bersama keluarga, sambil mulai menulis pada 1905. Tulisannya banyak dimuat di surat kabar Li Po, Bintang Betawi, dan Ho Po. Ia pernah menjadi redaktur, lalu mendirikan majalah Panorama (1926), Moestika Romans, dan Moestika Dharma. Sejak 1930-an perhatiannya bergeser ke filsafat, agama, dan kebatinan. Ia turut menyebarkan ajaran Sam Kauw (tiga agama) serta aktif memajukan dialog lintas agama.
Sebagai sastrawan, Kwee terkenal dengan novel Boenga Roos dari Tjikembang (1927). Karyanya umumnya menyoroti kehidupan masyarakat Tionghoa di Hindia Belanda, persoalan asimilasi, kritik sosial, serta mistik.
Karya
[sunting]-
Allah jang Palsoe (1919)
Selain novel dan drama, ia juga menulis karya sejarah dan keagamaan, serta menerjemahkan teks klasik seperti Rubayat Umar Khayam dan Bhagawad Gita. Hingga akhir hayatnya di Cicurug, Bogor (1952), Kwee Tek Hoay dikenang sebagai sastrawan peranakan Tionghoa yang memperkaya sastra Indonesia awal dengan pandangan moderat dan pemikiran lintas budaya.
Ulasan Buku
[sunting]- Hasil pembacaan karya ulas di halaman baru dan tautkan ke sini