Penulis:Lie Kim Hok

Lie Kim Hok, lahir di Kampung Tengah, Bogor, 1 November 1853, dibesarkan dalam perpaduan tradisi Tionghoa dari ayahnya dan kebiasaan lokal dari ibu tirinya.[1] [2]Ia mengenyam pendidikan di sekolah zending, sekolah privat Tionghoa, dan sekolah misi, mempelajari berbagai bahasa seperti Sunda, Melayu, Belanda, Prancis, Inggris, dan Jerman. Minat bacanya luas, mencakup karya Plato hingga Zola, dan ia mulai menulis sejak usia muda, termasuk Kitab Edja dan Sobat Anak-Anak. Setelah bekerja di percetakan van der Linden dan menjadi editor dua majalah dwibahasa, ia membeli percetakan tersebut pada 1885 dan mendirikannya sebagai Drukkerij Lie Kim Hok & Co. Melalui percetakan itu, ia menerbitkan karya-karya awalnya seperti Sair Orang Perampoewan dan Syair Cerita Siti Akbari yang diadaptasi dari dongeng Abdul Muluk.
Dikenal sebagai "Bapak Melayu Tionghoa", Lie Kim Hok memopulerkan bahasa Melayu Tionghoa Peranakan melalui bukunya Melayu Betawi (1884) yang mendokumentasikan tata bahasanya. Ia aktif menulis di berbagai surat kabar dan memanfaatkan gaya bahasa jurnalis Indo-Eropa dalam karyanya. Selain menulis karya asli, ia juga menerjemahkan dan menyadur karya sastra Barat dengan gaya khas—mengubah latar, tokoh, dan konteks sehingga lahir novel baru. Karya-karya seperti Tjhit Liap Seng, Ong Djin Gi, dan adaptasi Nyai Dasima menunjukkan kemampuannya menggabungkan pengaruh Tionghoa, Barat, dan lokal. Ia juga menerjemahkan sebagian Cerita Seribu Satu Malam, sejarah Konghucu, serta karya Alexandre Dumas, dan menerbitkan berbagai buku, termasuk primbon dan cerita keagamaan.
Selain itu, Lie Kim Hok menerjemahkan berbagai karya populer, seperti Dji Toue Bwee, Nio Thian Lay, Lek Bouw Tan, Ho Kioe Tan, serta seri Rocambole karya Ponson du Terrail. Melalui penerjemahan ini, ia memperkenalkan pembaca peranakan pada literatur populer dunia. Aktif di organisasi Tiong Hoa Hwee Kwan, ia meninggal pada 6 Mei 1912 setelah sakit tiga hari, meninggalkan istri kedua dan empat anak. Warisannya terpatri sebagai pelopor sastra Melayu Tionghoa Peranakan, yang berhasil menggabungkan tradisi lokal, pengaruh Barat, dan budaya Tionghoa dalam karya-karya kreatifnya.[3]
Karya
[sunting]-
Melayu Betawi (1884)
-
Syair Cerita Siti Akbari (1884)
-
Sobat Anak-Anak (1814)
Referensi
[sunting]- ↑ (2022). Lie Kim Hok, Penulis Sastra Melayu Tionghoa di Masa Rintisan. Koropak.co.id.
- ↑ (2022). Lie Kim Hok, Penulis Sastra Melayu Tionghoa di Masa Rintisan. Koropak.co.id.
- ↑ Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. (2024). Lie Kim Hok (1853-1912).