Lompat ke isi

Penulis:Lu Xun

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas

Lu Xun (dibaca “lew shewn”; juga dikenal sebagai Lu Hsün), yang nama aslinya adalah Zhou Shuren, lahir pada 25 September 1881 dari sebuah keluarga kelas bangsawan di Shaoxing, Tiongkok, sebuah kota kecil di selatan Sungai Yangtze. Semasa kecil, ia mendapatkan pendidikan klasik yang baik dan menyukai cerita hantu, fantasi, serta seni rakyat. Saat berusia tiga belas tahun, kakeknya, Zhou Jiefu, seorang editor di Akademi Kekaisaran di Beijing, dituduh menerima suap dalam ujian dinas provinsi dan dipenjara selama tujuh tahun. Ayah Lu Xun, Zhou Boyi, jatuh sakit setelah kakeknya dipenjara dan menjadi orang sakit permanen hingga meninggal pada tahun 1896. Kemunduran keluarga membuat Lu Xun berpindah ke dunia perbatasan antara kemewahan dan kemiskinan, yang menajamkan daya pengamatannya. Ibunya, Lu Rui, putri seorang cendekiawan, dibesarkan di pedesaan namun mengajarkan dirinya sendiri untuk membaca. Ia memiliki pengaruh besar pada putranya; Lu Xun mengambil kata “Lu” dalam nama penanya dari nama ibunya.[1]

Lu Xun dikenal sebagai tokoh penting dalam sastra dan pemikiran Tiongkok modern berkat ketajamannya mengupas karakter, masyarakat, dan budaya bangsanya. Ia menonjol karena orisinalitas pemikiran serta kemampuannya mengubah wawasan intelektual dan psikologis menjadi karya sastra yang berpengaruh. Meskipun jumlah karyanya tidak banyak—terutama cerpen dan prosa puitis—nama besarnya mengakar kuat. Dalam ranah politik, reputasinya dibangun melalui perannya sebagai pengkritik sosial, khususnya pada masa-masa terakhir hidupnya di Shanghai.

Sebagai figur publik, Lu Xun menampilkan citra percaya diri dan berani mengkritik sifat serta tradisi masyarakat Tiongkok. Bahkan setelah 1927, ketika rezim Kuomintang menunjukkan permusuhan terbuka, ia tetap tegar melancarkan kritik. Penampilannya—dengan tatapan tajam dan kumis tebal—mencerminkan keberanian revolusioner. Komunis Tiongkok kemudian membentuk citra ini menjadi simbol heroik sederhana, menutupi kompleksitas kepribadian dan pemikirannya. Bagi Lu Xun, membangkitkan rasa hormat dan percaya diri pada bangsa merupakan langkah awal menuju kebangkitan nasional, menjadikannya lambang perjuangan Tiongkok untuk menjadi masyarakat modern yang dewasa.

Namun, sisi pribadinya jauh lebih rumit. Ia memandang kehidupan dengan nada tragis, merasa terhimpit oleh kekuatan reaksioner dan represi, serta meragukan kemenangan revolusi. Hidupnya dibayangi penderitaan batin, keraguan, dan obsesi terhadap kematian. Komitmennya pada komunisme berakar pada keinginan untuk membangun kembali bangsa, bukan sekadar kesetiaan ideologis. Integritasnya muncul dari tekad untuk menghindari penipuan diri, disertai kebiasaan mengkritik dirinya dengan keras. Ia menghadapi kenyataan tanpa ilusi, dan moralitasnya bertumpu pada situasi kemanusiaan nyata.

Meski kontribusinya terhadap revolusi politik diakui, warisan terbesar Lu Xun justru terletak pada kontradiksi dan pergulatan batin yang tergambar dalam karyanya. Ia dikenang karena kemampuannya menangkap sifat mendasar bangsa Tiongkok sekaligus mengekspresikan kegelisahan psikologisnya lewat sastra dan puisi. Inilah yang menempatkannya sebagai salah satu figur paling berpengaruh dalam sejarah modern Tiongkok, bukan hanya sebagai penulis, tetapi juga sebagai cerminan kompleksitas jiwa dan zaman yang ia hidupi.[2]

Karya

[sunting]

Ulasan buku

[sunting]
  • Gushi xinbian, 1935 (Old Tales Retold, 1961). Telah diterjemahkan dari bahasa Cina dengan anotasi oleh Tonny Mustika dengan judul Kisah Lama Tutur Baru (Penerbit Marjin Kiri).

Referensi

[sunting]
  1. Qingyun Wu. 2017. “Lu Xun.” Critical Survey of World Literature, December, 1762–68. https://search.ebscohost.com/login.aspx?direct=true&db=lkh&AN=132190755&site=eds-live&scope=site.
  2. Crabtree, Loren W. “Lu Xun.” Dictionary of World Biography: The 20th Century, January 2000, 1–3. https://search.ebscohost.com/login.aspx?direct=true&db=lkh&AN=164499126&site=eds-live&scope=site.