Penyesalan
Di tepi jembatan. Bima duduk termenung. Kakinya menari-nari di tepi kehampaan. Menatap sungai di bawah sorot cahaya bulan. Berkilau, laksana air mata malam.
Lampu jalan yang tak begitu terang. Berkedip lemah. Seakan malu menerangi luka Bima.
Bayangan pagar jembatan. Bak penjara, mengurung langkah, melarang pulang.
Suara tawa sepasang kekasih, Seperti pedang berbalut beludru. Lembut namun melukai. Kenangan tentang suara hangat Ibunya, ketegasan namun penuh cinta dari Ayahnya, perhatian kekasihnya dan cemooh sahabatnya. Hadir bagai gema yang enggan pergi.
Suara angin menerjang jembatan… Bernyanyi, berseru, merayu Bima melupa segalanya.
Sahutan derit jembatan, seakan menyuruhnya menyerah.
Gemercik air menghantam pilar jembatan Berdesir, berbisik… Memanggilnya.
Bima berdiri. Mengusap mata yang tak basah. Menoleh pada motornya di tepi jalan. Sunyi, nampak lelah. Sekilas, ia melihat penjual somay yang membereskan barangnya. Dunia masih berjalan.
Ia berbalik. Menatap kosong kedepan. Menghela nafas berat, bukan untuk hidup, tapi untuk melepaskan. Ia melompat…
Tawa sepasang kekasih mendadak patah. Teriakan histeris berganti menggema. Penjual somay terpaku. Matanya melebar mencari tahu. Tak mengerti apa yang baru terjadi.