Lompat ke isi

Perusahaan Kereta Api di Nusantara Pada Masa Hindia Belanda

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas
Kantor Perusahaan Kereta Api Pertama , berlokasi di Semarang.

Kereta api merupakan moda transportasi yang memiliki peran penting pada Masa Kolonial. Transportasi ini pertama kali diperkenalkan oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda melalui pembangunan jalur kereta api yang menghubungkan Semarang dengan Vorstenlanden pada 17 Agustus 1864. Selanjutnya, jalur kereta api dikembangkan di berbagai wilayah, seperti Aceh pada 1876, Sumatera Utara pada 1889, Sumatera Barat pada 1891, Sumatera Selatan pada 1914, dan Sulawesi pada 1911. Hingga akhir tahun 1918, total panjang rel kereta api dan trem di Indonesia mencapai sekitar 7.464 km, dengan 4.089 km dikelola oleh pemerintah dan 3.375 km dimiliki oleh pihak swasta.

Pembangunan rel kereta api di Grobogan, Jawa Tengah.

Pembangunan jaringan rel kereta api dari Semarang ke Vorstenlanden dilakukan karena wilayah tersebut kaya akan komoditas ekspor yang menguntungkan pemerintah Hindia Belanda. Melimpahnya sumber daya alam di daerah Surakarta dan Yogyakarta tidak hanya menarik minat pengusaha swasta, tetapi juga mendorong penguasa Jawa, seperti Mangkunegara IV untuk mengusulkan pembangunan jalur kereta api. Setelah perundingan mengenai proyek ini mencapai kesepakatan, NISM segera melakukan persiapan untuk memulai pembangunannya.

Pembangunan jalur kereta api pertama dilakukan oleh perusahaan swasta Nederlansch Indische Spoorweg Maatschappij (NISM) dengan menggunakan lebar kereta 1.435 mm.

Houben [1] menyatakan bahwa keputusan NISM membangun jalur kereta api ke Vorstelanden membawa keuntungan yang besar bagi perusahaan swasta tersebut. Besarnya keuntungan yang diperoleh mendorong banyak pihak untuk mengusulkan pembangunan jalur kereta api baru yang dikelola langsung oleh pemerintah. Menyadari potensi tersebut, pemerintah akhirnya memutuskan untuk mendirikan jawatan kereta api sendiri yang diberi nama Staatsspoorwegen Maatschappij.

Peta umum jalur kereta api dan trem di Jawa Tengah.

Rute pertama yang dibangun oleh Staatsspoorwegen Maatschappij menghubungkan Surabaya, Pasuruan, dan Malang. Keberhasilan operasional jalur kereta api yang dibangun oleh NISM dan SS menarik minat banyak investor swasta untuk berinvestasi dalam pengembangan jaringan kereta api di wilayah lain.

Beberapa jalur yang dibangun oleh perusahaan swasta antara lain Semarang Joana Stoomtram Maatschappij (SJS), Semarang Cheribon Stoomtram Maatschappij (SCS), Serajoedal Stoomtram Maatschappij (SDS), Oost Java Stoomtram Maatschappij (OJS), Pasoeroean Stoomtram Maatschappij (Ps.SM), Kediri Stoomtram Maatschappij (KSM), Probolinggo Stoomtram Maatschappij (Pb.SM), Modjokerto Stoomtram Maatschappij (MSM), Malang Stoomtram Maatschappij (MS), Madoera Stoomtram Maatschappij (Mad.SM), dan Deli Spoorweg Maatschappij (DSM)[2].

Lokomotif yang digunakan untuk pengangkutan tebu di Pulau Jawa.

Adanya perusahaan swasta yang membuka jalur kereta api di Nusantara mampu mengerakkan roda perekonomian lebih cepat, yang sebelumnya memanfaatkan transportasi air berupa sampan atau perahu untuk mengangkut hasil perkebunan ke pabrik dan hasil perindustrian dari pedalaman ke dermaga yang nantinya akan di ekspor ke luar negeri.

Sejak beroperasinya jaringan kereta api pada abad ke-19, moda transportasi ini menjadi pilihan utama masyarakat. Hal ini didukung oleh meningkatnya pendapatan penduduk pribumi serta biaya perjalanan yang lebih murah dan waktu tempuh yang lebih cepat dibandingkan dengan alat transportasi lainnya yang sudah tersedia.

Daftar Pustaka

[sunting]
  1. Houben, Vincen.J.H. (2002). Keraton dan Kompeni: Surakarta dan Yogyakarta, 1830-1870. Yogyakarta: Bentang Budaya.
  2. https://www.detik.com/edu/detikpedia/d-6317129/sejarah-kereta-api-indonesia-dimulai-sejak-masa-kolonial-belanda