Pesona Kearifan Lokal Nusantara: Menjelajahi Kekayaan Budaya Indonesia/Baayun Maulid, Tradisi Unik Suku Banjar Merayakan Kelahiran Nabi

Baayun Maulid oleh Ilham Mufti Laksono , CC BY 4.0, Via Wikimedia Commons
Sejarah Baayun Maulid
[sunting]Kelahiran Nabi Muhammad SAW merupakan salah satu nikmat terbesar bagi umat Islam. Berkaitan dengan hal tersebut, pada bulan ini, tepatnya setiap tanggal 12 Rabiul Awwal, umat Islam nusantara mempunyai tradisi yang unik dan khusus untuk menyambut hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Jika di Yogyakarta kita mengenal tradisi Sekaten, di masyarakat Banjar, Kalimantan Selatan dikenal juga upacara Baayun Mulud.
Baayun Mulud terdiri dari dua kata, yaitu baayun dan mulud. Kata Baayun berarti melakukan aktivitas ayunan/buaian. Aktivitas mengayun bayi biasanya dilakukan oleh seseorang untuk menidurkan anaknya. Dengan diayun-ayun, seorang bayi akan merasa nyaman sehingga ia akan dapat tidur dengan lelap. Sedangkan kata mulud (dari bahasa Arab maulud) merupakan ungkapan masyarakat Arab untuk peristiwa kelahiran Nabi Muhammad SAW. Dengan demikian, kata Baayun Mulud mempunyai arti sebuah kegiatan mengayun anak (bayi) sebagai ungkapan syukur atas kelahiran Nabi Muhammad SAW sang pembawa rahmat bagi sekalian alam.
Menurut catatan sejarah, Baayun Anak semula adalah prosesi atau upacara adat peninggalan nenek moyang yang masih beragama Kaharingan. Sejarawan H.A.Gazali Usman menyatakan tradisi ini semula hanya ada di Kabupaten Tapin (khususnya di Desa Banua Halat Kecamatan Tapin Utara). Kemudian, berkembang dan dilaksanakan di berbagai daerah di Kalimantan Selatan.
Setelah Islam masuk dan berkembang serta berkat perjuangan dakwah para ulama, akhirnya upacara tersebut bisa “diislamisasikan”. Jika sebelumnya upacara ini diisi dengan bacaan balian, mantra, doa dan persembahan kepada para dewa dan leluhur, atau nenek moyang di Balai, akhirnya digantikan dengan pembacaan syair maulud, yang berisi sejarah, perjuangan, dan pujian terhadap Nabi Muhammad SAW.

Serba Serbi Baayun Maulid
[sunting]Asal Usul Baayun Maulid
[sunting]- Tradisi mengayun anak sudah ada sejak zaman nenek moyang masyarakat Suku Banjar.
- Tradisi ini awalnya disebut "maayun anak" atau "baayun anak".
- Tradisi ini dilakukan pada saat aruh ganal sebagai ungkapan syukur atas kelahiran anak dan melimpahnya hasil panen.
- Sebagai rasa syukur atas kelahiran Nabi Muhammad SAW.
- Memperkenalkan adat budaya Banjar kepada anak.
- Mencegah gejala kapingitan (kesurupan).
- Menanamkan nilai positif kepada generasi muda.
- Membentuk akhlak mulia seperti Nabi Muhammad SAW.
Pelaksanaan Baayun Maulid
[sunting]- Tradisi ini biasanya dilaksanakan di masjid dan disandingkan dengan peringatan maulid Nabi.
- Anak diayun dan dibacakan al Quran, membaca syair Maulid Al Habsyi, Maulid Ad Diba'i, dan Maulid Al Barzanji beserta do’a.
- Membawa bayi ke tempat ayunannya
- Mengayunkan bayi secara perlahan saat pembacaan Asyrakal
- Membaca Manakib Wali Allah
- Ceramah agama
- Do’a
- Memberkati peserta Baayun Maulid

Perlengkapan Baayun Maulid
[sunting]- Ayunan yang dibuat tiga lapis.
- Kain sarigading atau sasirangan.
- Kain kuning.
- Kain bahalai tanpa sambungan.
- Tali ayunan yang dihias janur, buah pisang, kue cucur, kue cincin, ketupat, dan hiasan lainnya.
- Sajian wadai atau kue 41 macam khas banjar.
- Baayun Maulid memiliki syarat upacara yang disebut piduduk. Piduduk terdiri dari 3,5 liter beras, gula merah, dan garam untuk anak laki-laki, serta sedikit garam ditambah minyak goreng untuk anak perempuan.
Rujukan:
[sunting]Budaya Baayun Maulid Masyarakat Banjar: Interaksi Sosial untuk Nilai Kerohanian. Raudatul Jannah. Februari 2025. Diakses 9 Februari 2025. https://jurnal.unsil.ac.id/index.php/bihari/article/view/4384/2023
Baayun Maulid, Tradisi Unik Masyarakat Banjar. Muhairi Langitan. April 2014. Diakses 9 Februari 2025. https://web.archive.org/web/20140527212127/http://www.itoday.co.id/kultur/baayun-maulid-tradisi-unik-masyarakat-banjar