Pesona Kearifan Lokal Nusantara: Menjelajahi Kekayaan Budaya Indonesia/Bisik Reruntuhan, Gaung Kejayaan Banten
Bisik Reruntuhan, Gaung Kejayaan Banten
[sunting]Pada abad ke-16, di tengah gemuruh ombak Selat Sunda, Keraton Surosowan berdiri megah sebagai pusat pemerintahan Kesultanan Banten. Dibangun oleh Sultan Maulana Hasanuddin, istana ini menjadi saksi kejayaan perdagangan Banten, yang berkembang pesat sebagai pelabuhan strategis di Asia Tenggara. Kapal-kapal dari Aceh, Johor, Makassar, Gujarat, hingga Turki berlabuh di dermaga Banten, membawa lada, kain, keramik, dan senjata, membentuk jaringan perdagangan yang menghubungkan Nusantara dengan dunia. Nama Surosowan sendiri berasal dari kata "suro" berarti keberanian, "sowan" berarti menghadap, mencerminkan Banten sebagai pusat pertemuan perundingan diplomatik.

Namun, kejayaan itu menarik perhatian VOC. Sultan Ageng Tirtayasa, yang memerintah pada abad ke-17, menyadari bahaya pengaruh Belanda dan berusaha memperkuat hubungan dengan sekutu di Aceh dan Johor untuk menahan ekspansi VOC. Di balik dinding Keraton Surosowan, perjanjian rahasia dibuat, mengatur aliansi diplomatik, perdagangan senjata dari Kesultanan Aceh. Johor, yang memiliki kepentingan dalam mengendalikan Selat Malaka, juga mengirim utusan ke Banten, menawarkan ikatan pernikahan dengan keluarga kerajaan untuk mempererat hubungan. Sementara itu, Makassar, yang juga berjuang melawan VOC, mengirim kapal-kapalnya ke Banten, menyelundupkan persenjataan ke dalam karung-karung lada.
Namun, kepercayaan itu runtuh ketika Sultan Haji, putra Sultan Ageng Tirtayasa, memilih berpihak kepada VOC demi mengamankan kekuasaannya. Pada tahun 1682, dengan dukungan Belanda, Sultan Haji menggulingkan ayahnya. Persekutuan Banten dengan Aceh dan Johor melemah, dan satu per satu, jaringan perdagangan yang dibangun selama puluhan tahun mulai terputus. Benteng ''Speelwijk'', yang dibangun oleh VOC di pesisir Banten, semakin mengukuhkan dominasi Belanda, menjadi mata-mata bagi pergerakan istana. Benteng ini dinamai Speelwijk, berasal dari bahasa Belanda yang berarti "kawasan bermain, tempat bersantai", tetapi sebenarnya digunakan sebagai pertahanan dan kontrol terhadap aktivitas di Banten.

Tahun 1808 menjadi titik balik. Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels melihat Banten sebagai ancaman bagi kendali Belanda di Jawa, menghancurkan Keraton Surosowan, meruntuhkan simbol kebesaran Kesultanan Banten, hingga tinggal puing-puing, namun sisa-sisa gerbang dan sebagian dindingnya masih dapat ditemukan hingga saat ini, menjadi bukti kejayaan masa lalu.
Setelah kehancuran Surosowan, Sultan Syafiudin membangun Istana Kaibon sebagai kediaman bagi ibunya, Ratu Aisyah. Nama Kaibon berasal dari kata "Kaib" yang berarti "kasih sayang", karena istana ini dibangun khusus sebagai tempat tinggal ibunda sultan. Kaibon memiliki arsitektur khas Banten dengan pengaruh budaya Jawa dan Eropa, mencerminkan identitas Banten. Namun, Kaibon bukan lagi pusat pemerintahan. Pada tahun 1813, Kesultanan Banten resmi dibubarkan oleh Belanda, dan akhirnya, pada 1832, Istana Kaibon dihancurkan, menandai berakhirnya sejarah panjang kekuasaan Banten.

Selain Kaibon dan Surosowan, masih ada Benteng Speelwijk, yang hingga kini masih menyisakan reruntuhan, dulunya digunakan sebagai pusat pertahanan VOC, lengkap dengan meriam yang menghadap ke laut. Ada juga Masjid Agung Banten, dibangun pada masa Sultan Maulana Hasanuddin, menjadi saksi bisu kejayaan Islam dan budaya Banten, memiliki menara unik terinspirasi dari mercusuar, menandakan peran Banten sebagai pelabuhan penting di masa lalu. Nama Banten sendiri berasal dari kata "bantahan" atau "perlawanan", mencerminkan semangat perjuangan rakyatnya melawan penjajah. Meski istana-istana Banten telah hancur, jejak hubungan mereka dengan kerajaan-kerajaan di Asia Tenggara tetap terekam dalam sejarah, kisah diplomasi, pengkhianatan, dan perlawanan terus bergaung dalam lembaran masa lalu.
Rujukan
[sunting]- Balai Pelestarian Cagar Budaya Banten. (2025). Keraton Surosowan. Diakses 9 Februari 2025. https://kebudayaan.kemdikbud.go.id/bpcbbanten/keraton-surosowan/.
- Banten Heritage. (2024). Sejarah Kesultanan Banten dan Hubungannya dengan Perdagangan Asia Tenggara. Diakses 10 Februari 2025. https://bantenheritage.org/sejarah-kesultanan-banten.
- Indonesia Kaya. (2025). Keraton Kaibon, Persembahan Sultan untuk Sang Bunda. Diakses 9 Februari 2025. https://indonesiakaya.com/pustaka-indonesia/keraton-kaibon-persembahan-sultan-untuk-sang-bunda/.
- VOC Archives. (2024). Records on the Sultanate of Banten and Trade Relations. The National Archives of the Netherlands. Diakses 10 Februari 2025. https://www.nationaalarchief.nl.
- Wibowo, Vania Dea. (2025). Bisik Reruntuhan, Gaung Kejayaan Banten. Wikibooks.