Pesona Kearifan Lokal Nusantara: Menjelajahi Kekayaan Budaya Indonesia/Jejak Putri Mandalika dalam Tradisi Bau Nyale
Jejak Putri Mandalika dalam Tradisi Bau Nyale
[sunting]Indonesia memang kaya akan budaya dan tradisi yang unik. Salah satu yang menarik dan dapat diamati dari budaya Sasak, suku khas Pulau Lombok, Provinsi Nusa Tenggara Barat adalah tradisi Bau Nyale. Hingga kini, tradisi ini masih eksis dan diselenggarakan setiap tahunnya, yaitu pada tanggal 20 bulan 10 dalam penanggalan tradisional sasak. Umumnya dilaksanakan antara bulan Februari dan Maret setiap tahunnya.
-
Berburu Cacing Laut by Focusfeel, dilisensikan dengan lisensi CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons
Secara harfiah, Bau Nyale berasal dari bahasa Sasak. Bau dalam bahasa Sasak berarti mengambil atau menangkap, sedangkan Nyale merupakan nama dari cacing laut. Secara sederhana bisa diartikan dengan melakukan penangkapan cacing nyale di pesisir pantai. Namun, tradisi ini tidak hanya sekedar berburu cacing laut, tetapi juga menyimpan legenda yang menarik tentang Putri Mandalika. Kepercayaan masyarakat terhadap cacing nyale dalam legenda Putri Mandalika inilah yang mempengaruhi masyarakat untuk selalu menjaga tradisi Bau Nyale. Masyarakat setempat mempercayai bahwa nyale merupakan jelmaan Putri Mandalika
Legenda Putri Mandalika
[sunting]Konon, diceritakan bahwa jaman dahulu di Kerajaan Eberu, Raja Eberu dan Datu Eberu memiliki seorang anak yang berparas cantik jelita yang dinamakan Putri Mandalika. Tak hanya berparas cantik, Putri Mandalika juga memiliki budi pekerti yang luhur dan bijaksana. Kecantikan sang Putri Mandalika mengundang banyak pangeran dari berbagai kerajaan di Lombok untuk datang mempersuntingnya. Raja dan Putri kebingungan. Di tengah kebingungannya, sang Putri mendapatkan petunjuk gaib. Sayangnya, petunjuk tersebut harus dirahasiakan. Lebih lagi, sang Putri harus rela mengorbankan dirinya. Tiba saatnya, sang Putri mengundang seluruh pangeran berkumpul pada tanggal 20 bulan 10 penanggalan Sasak di Pantai Seger untuk menyampaikan keputusannya. Saat itu, sang Putri berdiri di atas batu, di hadapan para pangeran dan rakyat kerajaan, Putri Mandalika berpesan, “Wahai Pangeran dan rakyatku, aku tidak akan memilih satu dari para pangeran yang melamarku. Demi kebaikan bersama, demi kedamaian negeri ini, aku tidak memilih seseorang pun. Aku akan menjadi milik semua orang. Jika kalian mencintaiku, temui aku di tempat ini tanggal dua puluh bulan sepuluh setiap bulan purnama”. [1] Kemudian, sang Putri menjatuhkan dirinya ke laut. Seluruh pangeran berusaha menyelamatkan sang Putri. Namun, ia tidak bisa ditemukan. Sang Putri Mandalika menghilang tanpa jejak. Uniknya, secara tiba-tiba muncul banyak cacing laut berwarna-warni yang dipercayai sebagai jelmaan Putri Mandalika. Cacing-cacing ini yang kemudian dikenal dengan sebutan “Nyale”.
Tradisi Bau Nyale
[sunting]-
Event Rakyat Lombok, Bau Nyale by San jmx, dilisensikan dengan lisensi CC BY-SA 4.0, via Wikimedia Commons
Setiap tahun, masyarakat Lombok menggelar tradisi Bau Nyale untuk mengenang pengorbanan Putri Mandalika. Tradisi ini bukan hanya sekedar tradisi berburu cacing laut. Lebih dari itu, tradisi ini menjadi simbol rasa syukur atas hasil laut yang melimpah. Selain itu, setiap keluarnya nyale selalu diiringi oleh hujan rintik-rintik. Sedangkan, sebelumnya didahului hujan lebat yang turun hampir setiap hari. Bahkan, setelah penangkapan nyale pun hujan turun berhari-hari pula lamanya.
Dalam kepercayaan suku Sasak, turunnya hujan dinilai sebagai rahmat yang mendatangkan air bagi sawah mereka serta mempercepat dan mempersubur tumbuhnya tanaman padi mereka. Selain itu, tradisi ini juga menjadi ajang untuk mempererat tali silaturahmi antar masyarakat.
Oleh karena itu, tradisi Bau Nyale merupakan contoh kearifan lokal yang harus dilestarikan. Selain memiliki nilai budaya yang tinggi, tradisi ini mengajarkan tentang pengorbanan, rasa syukur, dan kebersamaan.
- ↑ Santoso, Dwi Bambang, dkk, Inventaris Karya Budaya Tradisi Bau Nyale di Provinsi NTB, (Bali: Balai Pelestarian Nilai Budaya Bali), hal. 60-61