Pesona Kearifan Lokal Nusantara: Menjelajahi Kekayaan Budaya Indonesia/Lawang Sewu dan Kearifan Lokal yang Terjaga
Sejarah Singkat
[sunting]
Lawang Sewu merupakan bangunan perkantoran yang terletak di seberang Tugu Muda, Kota Semarang, Jawa Tengah, Indonesia. Dibangun sebagai kantor pusat Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij. Tempat ini beralamatkan di Jl. Pemuda, Sekayu, Kec. Semarang Tengah, Kota Semarang, Jawa Tengah 50132. Bangunan ini disebut Lawang Sewu (Seribu Pintu) dikarenakan bangunan tersebut memiliki pintu yang sangat banyak. Kenyataannya, pintu yang ada tidak sampai seribu. Bangunan ini memiliki banyak jendela tinggi dan lebar, sehingga masyarakat sering menganggapnya sebagai pintu. Bangunan utama Lawang Sewu berupa tiga lantai bangunan yang memiliki dua sayap membentang ke bagian kanan dan kiri bagian. Jika pengunjung memasukkan bangunan utama, mereka akan menemukan tangga besar ke lantai dua. Di antara tangga ada kaca besar menunjukkan gambar dua wanita muda Belanda yang terbuat dari gelas. [1]

Gedung bersejarah milik PT Kereta Api Indonesia (Persero) ini awalnya digunakan sebagai Kantor Pusat perusahaan kereta api swasta Nederlandsch-Indische Spoorweg Maatschappij (NISM). Gedung Lawang Sewu dibangun secara bertahap di atas lahan seluas 18.232 m2. Bangunan utama dimulai pada 27 Februari 1904 dan selesai pada Juli 1907. Sedangkan bangunan tambahan dibangun sekitar tahun 1916 dan selesai tahun 1918.

Bangunannya dirancang oleh Prof. Jakob F. Klinkhamer dan B.J. Ouendag, arsitek dari Amsterdam dengan ciri dominan berupa elemen lengkung dan sederhana. Bangunan di desain menyerupai huruf L serta memiliki jumlah jendela dan pintu yang banyak sebagai sistem sirkulasi udara. Selain desain bangunanya yang unik, Lawang Sewu memiliki ornamen kaca patri pabrikan Johannes Lourens Schouten. Kaca patri tersebut bercerita tentang kemakmuran dan keindahan Jawa, kekuasaan Belanda atas Semarang dan Batavia, kota maritim serta kejayaan kereta api. [2]
Keunikan atau ciri khas
[sunting]Keunikan atau ciri khas dari Lawang Sewu diantaranya Lawang Sewu identik dengan kereta api, sejarah perkereta apian Indonesia juga tidak lepas dari Lawang Sewu.

Lawang Sewu pernah dijadikan sebagai penjara, pada masa penjajahan Jepang Lawang Sewu pernah dialih fungsikan menjadi penjara, tempat penyiksaan, dan eksekusi. Lawang Sewu juga menjadi lokasi pertempuran, pertempuran 5 hari di Semarang yang terjadi pada tanggal 14 Oktober 1945 sampai tanggal 19 Oktober 1945 adalah pertempuran yang akan menjadi sejarah bagi bangsa Indonesia. Lawang Sewu pernah menjadi lokasi pertempuran tersebut, berada di Gedung A Lawang Sewu, lokasi tepat di lantai 3, dulu masih dijadikan ruang arsip terdapat rangka baja yang terkoyak akibat hantaman mortir. [3] Peninggalan sejarah dan benda-benda cagar budaya sebagai warisan budaya nenek moyang Bangsa Indonesia mempunyai nilai-nilai yang cukup tinggi, baik ditinjau dari latar belakang sejarah maupun dari sudut arsitektur dan ragam seninya. Oleh karena itu peninggalan sejarah dan benda-benda cagar budaya tersebut perlu dilestarikan, dirawat dan dikembangkan lebih lanjut agar tetap lestari, sehingga masih dapat dinikmati dan dilihat oleh generasi selanjutnya. [4],
Referensi
[sunting]- ↑ Safitri, A., & Wijayati, P. A. (2024). [The Dynamics of Lawang Sewu: As a Railway Museum 2011-2023]. Journal of Indonesian History, 12(2), 65-79
- ↑ Firmansyah, M. L., Wahyu, A. C., Alfianto, N., Wicaksono, M. P., Khoirunnisa, S. R., Anugraheni, S. K., ... & Pujiatmoko, A. (2024). [Kajian Gaya Arsitektur Transisi pada Gedung Lawang Sewu]. Jurnal Kultur, 3(1), 117-126
- ↑ Aliyafi, A., Al Mujahid, M. R., & Khairi, M. (2024). [ANALISIS PERBANDINGAN BENTUK DAN FUNGSI PADA BANGUNAN IKONIK DAN BANGUNAN FUNGSIONAL DI KOTA SEMARANG]. Jurnal Ilmiah Multidisiplin Terpadu, 8(11).
- ↑ Gbran, H., & Sari, S. R. (2024). [Studying the visual impact of modern construction on historic cityscapes: a case study of Lawang Sewu building, Indonesia]. CONTEXTO, 18(28)