Pesona Kearifan Lokal Nusantara: Menjelajahi Kekayaan Budaya Indonesia/Raja Ali Haji: Warisan Intelektual dan Kebudayaan Melayu yang Tak Terlupakan
Raja Ali Haji: Warisan Intelektual dan Kebudayaan Melayu yang Tak Terlupakan
[sunting]Raja Ali Haji
[sunting]
Raja Ali Haji bin Raja Amhad lahir sekitar tahun 1809 di Penyengat, Riau, Hindia Timur (sekarang Indonesia)—meninggal sekitar tahun 1870 di Riau. Beliau adalah cucu dari pemimpin Bugis terkenal Raja Haji. Raja Ali lahir di daerah Bugis-Melayu di kepulauan Riau-Lingga, warisan terakhir di luar Semenanjung Melayu dari kerajaan Johor, tepat sebelum wilayah tersebut jatuh di bawah kekuasaan Belanda.
Raja Ali Haji adalah tokoh yang sangat penting baik dalam politik maupun intelektualitas di kerajaan Melayu Riau. Dalam politik praktis, ia merupakan salah satu putra bangsawan yang dipercaya untuk memegang tugas pemerintahan. Pada usia 32 tahun, ia menjabat sebagai bupati dan pada saat yang sama diangkat berturut-turut sebagai penasihat bagi Yang Dipertuan Muda Riau ke-8 hingga ke-10. Dalam bidang intelektualitas, ia menghasilkan banyak karya dalam berbagai disiplin ilmu, mulai dari budaya, sejarah, politik, dan fiqh hingga bahasa. Namun, ia lebih dikenal sebagai seorang penyair, karena ia adalah penulis puisi Melayu yang paling terkenal, “Gurindam Dua Belas,” yang mengandung irama yang indah, nilai-nilai bermakna, dan petunjuk hidup bagi umat manusia yang bersumber dari ajaran Islam. Puisi ini telah mengangkat namanya, tetapi juga mengesampingkan pencapaian lainnya karena orang lebih mengenalnya sebagai penyair. Padahal, ada banyak bagian dalam karya-karya lainnya yang mengandung pemikiran Islam dan sosial-politik yang sangat berguna bagi elit penguasa dan masyarakat Muslim di era modern.[1]
Karya-karya tulisannya meliputi beberapa teks didaktik, seperti Muqaddimah fi intizām (1857; "Pengantar tentang Ketertiban") tentang tugas-tugas raja, kamus penggunaan bahasa Melayu ala Johnson, Kitab Pengetahuan Bahasa (sekitar 1869; "Buku Pengetahuan Linguistik"), dan karya sejarah Silsilah Melayu dan Bugis (1865; "Silsilah Melayu dan Bugis"). Namun, kontribusi terbaiknya untuk ilmu pengetahuan adalah karya sejarah yang dimulai oleh ayahnya, yang ia tulis ulang dan kembangkan menjadi Tuhfat al-Nafis (sekitar 1866; "Hadiah Berharga"), yang kini telah menjadi sumber yang sangat berharga untuk sejarah Semenanjung Melayu, Borneo, dan Sumatra.[2]
Karya-karya
[sunting]- Puisi
- Gurindam Dua Belas (1847)
- Syair
- Buku
- Bustan al-Katibin (1857)
- Tuhfat al-Nafis atau Bingkisan Berharga (1860-an)
- Silsilah Melayu dan Bugis (1865)
- Kitab Pengetahuan Bahasa (1850-an)
- Kamus Melayu
- Karya lain
- Surat-Surat Raja Ali Haji Kepada Von de Wall
- Intizam Waza'if al-Malik (1857)
- Thamarat al-Mahammah (1857)
Rujukan
[sunting]- ↑ Helmiati. (2021). Nurturing Islamic and Socio-political Thoughts in Riau and Beyond: Exploring Raja Ali Haji’s Works. Journal of Al-Tamaddun, 16(2), 99–109. https://doi.org/10.22452/JAT.vol16no2.8
- ↑ Raja Ali Haji bin Raja Amhad. Britannica Biographies. February 2024:1. Diakses 12 Febuari 2025 https://search.ebscohost.com/login.aspx?direct=true&db=f6h&AN=32401997&site=eds-live&scope=site