Lompat ke isi

Pesona Nusantara: Menelusuri Keunikan 10 Daerah di Indonesia/Geopark Maros Pangkep: Wisata Alam dan Warisan Budaya Sulawesi Selatan

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas

GeoPark Maros Pangkep: Wisata Alam dan Warisan Budaya Sulawesi Selatan

[sunting]

Profil dan Sejarah GeoPark Maros Pangkep

[sunting]
Gugusan Karst Maros-Pangkep

Geopark Nasional Maros Pangkep (GNMP) merupakan delineasi baru Kawasan Geopark Nasional Maros Pangkep (GNMP) atau Maros Pangkep Aspiring Unesco Global Geopark (MPAUGGp). Geopark Maros Pangkep terletak dibagian Selatan Pulau Sulawesi meliputi 2 kabupaten yaitu Kabupaten Maros dan Kabupaten Pangkajene Kepulauan di Provinsi Sulawesi Selatan. Secara administratif termasuk wilayah daratan dengan luas 223.629 ha dan Kepulauan Spermonde dengan luas 88.965 ha[1]. Geopark meliputi daratan seluas 44,6% dan perairan seluas 55,4% dari total wilayah, terutama terdiri dari Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung di daratan, Bersama dengan Taman Wisata Air Kapoposang dan Konservasi Laut Lokal Liukang Tupabbiring di lautan.

Kawasan Karst Maros Pangkep ditetapkan sebagai Geopark Nasional pada tahun 2017. Setelah penetapan tersebut Badan Pengelola Geopark Maros Pangkep Bersama Pemerintah Sulawesi Selatan, pemerintah pusat, akademisi, Masyarakat dan seluruh pemangku kepentingan terkait mewujudkan Geopark Maros Pangkep sebagai Unesco Global Geopark. Hal ini terwujud setelah melewati rangkaian penilaian dari Unesco, termasuk visitasi lapangan dari Asesor Unesco pada juli 2021, sehingga pada Rapat Dewan Council Unesco Global Geopark (UGG) yang digelar di Thailand pada tanggal 4 September 2022 resmi ditetapkan sebagai Unesco Global Geopark. Secara resmi menerima sertifikat UNESCO Global Geopark (UGGp) di Kota Marrakesh, Maroko pada Sabtu, 9 September 2023 dalam momentum The 10th International Conference on UNESCO Global Geopark oleh Bupati Maros bapak Chaidir Syam dan Bupati Pangkep Yusran Lalogau dan didampingi oleh Wakil Bupati Maros, ibu Suhartina Bohari dan ketua DPRD Maros bapak Patai Amir, serta GM Geopark Maros Pangkep bapak Dedy Irfan[2].

“Geopark adalah sebuah Kawasan yang memiliki unsur-unsur geologi terkemuka (outstanding), termasuk nilai arkeologi, ekologi dan budaya yang ada di dalamnya, dimana masyarakat setempat diajak berperan serta melindungi dan meningkatkan fungsi warisan alam” (UNESCO, 2004). Geopark Nasional Maros Pangkep (GNMP) terletak di provinsi Sulawesi Selatan tercakup dalam 7 jalur geotrail, ada 50 geosite yang sesuai masterplan difokuskan untuk menuju UGGp hanya pada 29 geosite dimana 13 geosite di Maros dan 16 geosite di kab. Pangkep. Di dalam geopark terdapat 1.437 spesies flora dan fauna, termasuk 153 spesies endemic yang hanya ditemukan di Sulawesi, serta 52 spesies yang dilindungi dan terancam punah[3].

Wisata Alam dan Warisan Budaya di GeoPark Maros Pangkep

[sunting]

Geoprak Maros Pangkep menjadi Taman Bumi Global Unesco pertama di Pulau Sulawesi dan yang ke-7 di Indonesia. Setelah ditetapkan sebagai Kawasan Nasional Geopark Maros Pangkep dan Unesco Global Geopark, tentu Kawasan ini memiliki kekhasan tersendiri yang menjadikan Kawasan ini sebagai tempat wisata alam dan merupakan warisan budaya Sulawesi Selatan. Terdapat sekitar 50 situs geologi, budaya, dan biologi yang menjadi rencana utama dalam pengembangan menjadi daya tarik wisata[4].

Deretan menara karst membentang dari Kabupaten Maros bagian Selatan hingga bagian utara Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), Sulawesi Selatan. Luas Kawasan Geopark Maros Pangkep sekitar 46.200 hektare dan diyakini terbesar kedua di dunia setelah Kawasan karst di China Selatan. Kawasan Geopark Maros Pangkep memamerkan tiga bentuk lahan utama yang terdiri dari batuan metamorf dengan kadar rendah hingga sangat tinggi, batuan sedimen laut dalam, dan blok tektonik kerak samudera, yang dimana formasi ini berasal dari 70-135 juta tahun yang lalu. Hal tersebut menjadi bukti penting evolusi awal Pulau Sulawesi dan berkontribusi pada pemahaman tektonik global pra-tersier[3].

Lukisan Gua Leang Tedongnge

Gugusan karst Maros Pangkep memiliki lanskap karst menara yang megah yang di dalamnya terdapat 572 gua yang menunjukkan karakteristik speleothem. Gua terpanjang membentang sejauh 27 km dan berfungsi sebagai bagian dari sistem hidrologi, yang menghubungkan sengai bawah tanah ke doline, yang berfungsi sebagai pintu masuk gua. Lebih dari 332 jenis artefak prasejarah telah ditemukan di gua-gua dalam Kawasan Geopark Maros Pangkep. Di Kawasan ini pula ditemukan temuan tertua yaitu lukisan babi berusia 45.500 tahun di Leang Tedongnge.

Formasi karst Maros Pangkep menunjukkan hubungan lintas sectoral dengan batuan vulkanik Neogen. Setiap pulau di dalam Kepulauan Terumbu Karang di Kepulauan Spermonde memiliki geologi yang signifikan, yang menunjukkan keterkaitan fitur daratan dan lautan dalam satu lanskap. Pulau-pulau terumbu tersebut mewakili bagian dari segitiga karang global, yang merupakan contoh karbonat ekuatorial modern dan berkontribusi pada pemahaman evolusi paleogeografi Sulawesi.

Logo Taman Nasional Bantimurung

Kawasan Geopark Maros Pangkep merupakan tempat dimana kera hitam Sulawesi (Macaca Maura) dapat ditemui yang merupakan kera endemik di hutan Sulawesi. Selain itu terdapat pula Taman Wisata Alam Bantimurung yang merupakan rumah bagi sekitar 240 spesies kupu-kupu, sehingga Kawasan Bantimurung dijuluki sebagai Kerajaan kupu-kupu atau The Kingdom of Butterfly[4].

Masyarakat yang mendiami Kawasan ini adalah suku Bugis dan Makassar. Cara hidup masyarakatnya sangat dipengaruhi oleh adat istiadat leluhur, yakni nilai-nilai moral dan sosial terhadap sesama manusia dan lingkungan alam. Adat istiadat yang ada tercermin dalam karakteristik daerah, termasuk bahasa, seni, dan pola kehidupan sehari-hari. Cerita Bugis kuno yang disebut naskah Lontarak, I La Galigo, menceritakan kisah-kisah tentang Bissu dan sejarahnya, yang mewakili warisan budaya yang kaya dari peradaban Bugis di Sulawesi Selatan dari abad ke-19[3].

Referensi

[sunting]
  1. https://geoparkmarospangkep.id/about-us/
  2. http://repository.unhas.ac.id/id/eprint/38140/2/P022222005_tesis_27-08-2024%20bab%201-2.pdf
  3. 3,0 3,1 3,2 https://www.unesco.org/en/iggp/geoparks/maros-pangkep
  4. 4,0 4,1 https://indonesia.go.id/galeri/foto/193