Lompat ke isi

Pogi Diculik?

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas

Sinopsis

[sunting]

Rombongan anak penguin yang ditinggal para orang tuanya sibuk untuk mencari pemimpin supaya bisa bertahan hidup. Namun, setelah mereka berhasil ada pemburu yang ingin menangkap anak penguin untuk pertunjukan sirkus. Untungnya si anak penguin berhasil selamat dan bertemu kembali dengan rombongan anak dan orang tua penguin.

Tokoh

[sunting]
  1. Pogi
  2. Penguin paling muda
  3. Penguin lain
  4. Ibu Pogi
  5. Pemburu

Lokasi

[sunting]

Padang es kutub selatan

Cerita Pendek

[sunting]

Bersenang-senang

[sunting]

Rombongan anak penguin yang hidup di padang es kutub selatan sedang kebingungan untuk mencari makan setelah ditinggal orang tua mereka.

“Kita harus milih pemimpin kita, nih! Tapi, gimana caranya, ya?” tanya penguin paling muda di antara yang lainnya.

Gimana kalau kita lomba nyelam untuk nangkap ikan di bawah es?” saran dari penguin lainnya.

“Boleh juga, tapi, kita bagi jadi tiga kelompok aja, supaya ikan-ikan yang ditangkap bisa langsung dimakan. Terus, kelompok yang menang, pemimpinnya bisa jadi pemimpin kita semua. Gimana, Teman-Teman, setuju?” tanya penguin yang paling ganteng di antara lainnya. Dialah si Pogi.

“Setuju!” jawab serentak dari rombongan anak penguin.

Setelah itu, mereka langsung memulai lomba. Anak-anak penguin itu begitu lincah berseluncur di atas es dan menyelam ke bawah air. Itu semua karena sirip, kaki, dan bentuk tubuh mereka yang unik.

“Ayo! Sedikit lagi kita menang!” teriak Pogi yang sudah melihat banyak tumpukan ikan yang dikumpulkan oleh teman-teman sekelompoknya. Pogi juga melompat kegirangan sambil mengeluarkan nyanyian khas penguin.

Teman-teman Pogi tambah semangat saat mendengar suara Pogi yang merdu dan tariannya yang lincah. Akhirnya, kelompok Pogi berhasil menang, dan Pogi menjadi pemimpin rombongan anak penguin itu.

“Terima kasih, ya, Teman-Teman. Kalian memang perenang yang hebat!” ucap Pogi pada teman-teman sekelompoknya yang sudah berhasil memenangkan perlombaan.

“Sama-sama, Pogi,” jawab penguin lainnya.

Ditengah kegirangan anak-anak penguin itu, Pogi merasa ada yang aneh. Lapisan es seperti bergetar, pertanda ada yang mau datang ke rombongan anak penguin itu.

“Ayo, sembunyi, Teman-Teman!” teriak Pogi sambil berlari dan meluncur dengan cepat.

Ternyata ada sekelompok pemburu dan seekor serigala kutub yang mengincar anak penguin untuk dijadikan hewan sirkus. Pogi sudah mengetahui keberadaan para pemburu itu.

“Kalian pergi duluan! Biar aku yang ngelawan para pemburu ini,” ucap Pogi. Akan tetapi, teman-temannya menolak dan ingin bersama-sama melawan para pemburu itu.

Nggak, Pogi. Kami mau bilang apa ke orang tua kamu, kalau mereka nanti pulang terus nyariin kamu?” tanya penguin paling muda dengan suaranya yang sudah serak dan hampir menangis.

“Kalian harus bilang, Pogi pasti menang dan pulang,” kata Pogi dengan gagah sambil berselancar di atas es. Pogi dan rombongan anak penguin itu berpisah. Bukan untuk melarikan diri, melainkan Pogi harus melawan musuh serta menyelamatkan teman-temannya dari incaran para pemburu.

Perlawanan Pogi

[sunting]

Pogi menjerit dengan sangat kencang untuk memanggil para pemburu yang sudah dekat dengan rombongan anak penguin. Pogi sengaja melakukan itu, supaya teman-temannya bisa lari dari kejaran pemburu.

Tak disangka, pemburu itu sudah dekat dengan Pogi. “Ayo, cepat! Tangkap anak penguin itu!”

Iiiikk. Iiiikk. Iiiikk.” Pogi meringkik kencang seolah memanggil para pemburu dan si serigala kutub agar segera datang untuk menangkapnya. Sayangnya, Pogi tidak menyadari kalau dua ekor serigala kutub telah mengepung di depannya.

Guuk! Guuuk! Geeerrrr.” Salah satu serigala menyalak kencang dan bunyi gemeretak giginya sudah siap untuk memangsa Pogi. Tak berapa lama, pemburu pun datang. Mereka mengelilingi Pogi di tengah-tengah.

“Ayo, keluarkan jalanya!” teriak salah satu pemburu. Namun, Pogi terus menjerit sambil melompat-lompat. Ternyata itu cara Pogi untuk menyelamatkan diri. Tiba-tiba lapisan es yang jadi tempat mereka berdiri retak dan terbelah. Akhirnya mereka semua masuk ke dalam air yang sangat dingin.

Pogi memang juara dalam menari, bernyanyi, dan berenang. Dia sangat lincah menyelam dan mencari jalan keluar untuk lari dari incaran para pemburu.

“Kita tak jadi kaya!” Salah satu pemburu berteriak sambil menangis ketika melihat si anak penguin Pogi telah menghilang.

Kemenangan Bersama

[sunting]

Setelah semalaman rombongan anak penguin itu berpisah dengan pemimpinnya, Pogi belum juga kembali. Semua anak penguin begitu cemas dan gelisah menunggu kehadiran Pogi. Tiba-tiba terasa getaran di atas lapisan es tempat persembunyian kawanan anak penguin tersebut.

“Siapa yang datang?” bisik penguin paling muda pada teman-temannya.

Shuuutt! Diam!” sahut penguin lainnya.

Kawanan anak penguin itu baru menyadari ketika ada yang bersuara seperti penguin juga. Ternyata itu adalah orang tua mereka yang sudah pulang dan menemukan tempat persembunyian anak-anak penguin tersebut.

“Hore! Ayah! Ibu!” teriak anak-anak penguin itu saling bersahutan. Mereka bersuara dengan nada yang beragam dan hanya dikenali oleh orang tua mereka, begitu juga sebaliknya.

Sayangnya, di tengah kebahagian itu, orang tua Pogi tak menemukan anaknya. Sampai suara ibunya Pogi serak, karena berteriak terus-menerus mencari Pogi. Akhirnya, penguin paling muda mendatangi ibunya Pogi.

“Kami sudah melarang Pogi untuk berhenti melawan para pemburu dan pergi bersama kami, Tante, tapi ....” Penguin paling muda itu tidak bisa melanjutkan ucapannya. Kemudian, tangis mereka pun terdengar bersahutan.

“Maafkan kami, Tante.”

“Tidak! Tidak bisa. Kamu harus bertanggung jawab. Kamu harus menjadi anakku sekarang,” ucap ibunya Pogi yang masih marah dan kesal setelah kehilangan Pogi.

Namun, orang tua penguin lainnya tidak bisa mencegah ataupun menolak keinginan ibunya Pogi. Mereka semua juga ikut sedih dan iba melihat Pogi yang sudah pergi diculik para pemburu.

“Tante, Pogi titip pesan, kalau dia akan melawan para pemburu dan kembali ke rombongan kita,” bisik penguin muda yang sedang tidur di sebelah ibunya Pogi.

Malam itu, semuanya bersedih atas penculikan Pogi. Keesokan harinya, tak ada yang menyangka kalau Pogi bisa bebas dan kembali ke rombongan penguin.

“Ada yang datang, Teman-Teman!” jerit penguin muda yang mengenal langkah kaki di atas lapisan es itu.

“Pogi? Pogi?” Ibunya Pogi langsung memanggil dengan nada suara yang hanya dikenali Pogi. Ternyata dari kejauhan terdengar sahutan suara Pogi.

“Pogi, syukurlah kamu kembali.” Kedua orang tua Pogi langsung memeluk Pogi.

“Pogi untung kamu kembali, kalau nggak, aku yang diculik orang tua kamu, dan gantiin kamu,” ucap penguin muda sambil tertawa dan diikuti semua kawanan bersorak gembira.

“Tentu saja aku kembali, karena kita adalah hewan yang setia dan bertanggung jawab,” jawab Pogi sambil bernyanyi dan menari. Lalu, semua rombongan mengikuti gerakan Pogi.


TAMAT.