Lompat ke isi

Putri Kembang Remigo

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas

Dongeng Putri Kembang Remigo

[sunting]
Menceritakan seorang Puteri yang bernama Puteri Kembang Remigo yang menikah dengan Raja Naga

Adolah Rajo ngan Penatia, nikah la lamo tapi anak lum jugo ado.

Ada sebuah cerita, seorang raja dan istrinya, Penatia. Mereka sudah lama menikah, tetapi belum kunjung dianugerahi seorang anak.

Suatu aghi pegilah Rajo ni ke tepi laut, pantai namo o. Nginaklah ke arah laut, cak diinaki banyak tegalau awan batan ujan di langit arah laut. "Kelo, kalu aku punyo anak, ku enjuak namo Puteri Kembang Remigo. Kalu la besak kelo, aku enjuak kah ngan Rajo Nago," kato Rajo.

Suatu hari, Raja berjalan ke tepi pantai. Dia melihat ke arah laut. Waktu dilihat ada banyak awan hitam yang mengarah ke laut. "Nanti, kalau aku punya anak, ku beri nama Puteri Kembang Remigo. Jika sudah besar nanti, akan ku berikan dengan Raja Naga," kata Raja.

Seorang raja dan istrinya melihat awan hitam di pantai dan menginginkan anak yang bernama Puteri kembang Remigo

Lum lamo tu udim tu, Rajo ngan Penatia dienjuak ketughunan sughang anak tino yang dienjuak o namo Puteri Kembang Remigo. Semenjak Puteri Kembang Remigo lair, Rajo nido ngajung Puteri Kembang Remigo keluagh ghumah. Saking nido buliah o, rumbungan jemo dusun nido diajung o bemuni. Nido buliah sampai tedengagh ngan jemo jak di dusun seberang tentang kelahiran Puteri.

Belum lama setelah itu, Raja dan Penatia diberikan keturunan yang diberi nama Puteri Kembang Remigo. Semenjak Puteri Kembang Remigo lahir, dia tidak mengizinkan untuk Puteri keluar rumah. Bahkan penduduk desa diperintahkan untuk tutup mulut, jangan sampai didengar dengan orang di desa seberang tentang keberadaan Puteri

La sebulan, duo bulan. La setaun, duo taun dan sampai kini la besak pulo Puteri Kembang Remigo ni. Rajo Nago jak di laut ngajungka ikan keciak, "Oy, Sanak, aku ni ndak mintak tulung cubo Kaba gaghi kuday ke ghumah Puteri Kembang Remigo anak jak Rajo Ulu Sungai."

Sudah satu bulan, dua bulan. Satu tahun, dua tahun dan sekarang Puteri Kembang Remigo sudah besar. Raja Naga dari laut memerintahkan ikan kecil. "Teman, aku minta tolong coba kamu datang ke rumah Puteri Kembang Remigo anak Raja Ulu Sungai."

"Siap," kate o.

"Siap," jawabnya.

Udim tu, ikan Bilis pegi ke ulu sungai. Ingkaso ado gegebai dang ngambiak aiak gunoka bada aiak jak di gerigiak. Dimasuak ka o ikan Bilis ke dalam gerigiak ngan gegebai tu. Pas nian pulo, gegebai tu ngambiak aiak batak ke ghumah Rajo. Pas itu Puteri Kembang Remigo ndak nerimo lemang.

Setelah itu, ikan kecil pergi ke ulu sungai. Ternyata ada ibu-ibu sedang mengambil air menggunakan tempat air dari bambu. Ikan Bilis melompat masuk ke dalam tempat air tersebut dan kebetulan ibu-ibu mengambil air untuk dibawa ke rumah Raja karena Puteri Kembang Remigo akan menerima hantaran lemang (nasi dalam bambu).

Cak masuak ikan Bilis ke dalam ghumah Rajo. Nengagh kicikan Rajo, "Nah kapo kaba ni begangan la di ghumah ni karno Puteri Kembang Remigo ndak betunaan ngan Bujang Mengkurung di berang sano laut, janji cuman tujuah malam. Nido buliah nyo keruan ngan Rajo Nago". Tetibo gerigiak bada ikan Bilis ni tadi tekibagh, nepecit melenting-melenting ngulang begilighan ke laut. (Ikan Bilis ni tadi matak kabar batan Rajo Nago)."

Di saat ikan kecil ini masuk ke rumah, ia mendengar perkataan Raja. "Nah, kalian silakan memasak jamuan di rumah ini, karena Puteri Kembang Remigo akan menikah dengan Bujang Mengkurung dari seberang laut dan waktu hanya tinggal 7 malam dan ingat jangan sampai berita ini terdengar dengan Raja Naga". Tiba-tiba tempat air yang di dalamnya ada ikan kecil tidak sengaja tumpah sehingga ikan kecil mengikuti tumpahan air dan kembali ke laut membawa kabar untuk Raja Naga.

Sesampai o di bada Rajo Nago, "Rajo Nago kalu Kaba ndak ngan Puteri Kembang Remigo, ku enjuak waktu cuman tujuah malam, jemo kini la mulai begangan," Ikan Bilis ngadu ke Rajo Nago.

Sesampainya di tempat Raja Naga. "Raja Naga, kalau mau Puteri Kembang Remigo waktu cuman 7 malam. Sekarang orang-orang sudah mulai menyiapkan jamuan untuk acara lamaran Puteri Kembang Remigo," lapor Ikan Bilis.

Nengagh aduan ikan Bilis, ngangat Rajo Nago ni. Diajung o la ikan besak batan nyampaikah crito ke Rajo Ulu Sungai. Ikan besak langsung nepecit pegi nyampaikah crito Rajo Nago. Cak sampai o, tetemulah ngan jemo tuo mpai ndak mandi. "Ui pindo, Muanai. Aku ni nyampaikah crito jak di Rajo Nago. Puteri Kembang Remigo uji ndak nunak janji tujuah malam. Ini la tinggal empat malam." Perintah Rajo Nago ngajung mintak antatkah Puteri Kembang Remigo ke tepi mandian. Mo la udim, ajung Puteri meratika Rajo Nago, pacak Rajo Nago napatkahnyo (Ikan besak bepesan ngan jemo tuo). Pegilah Jemo tuo ni tadi, disampaikah crito rajo Nago ngan Rajo Ulu Sungai.

Mendengar kabar dari ikan kecil, membuat Raja Naga marah. Lalu Raja Naga memerintahkan ikan besar untuk menyampaikan pesan untuk Raja Ulu Sungai. Sesampainya di sana, ikan besar bertemu dengan orang tua yang ingin mandi. "Wahai Saudara, aku membawa kabar dari Raja Naga untuk Raja Ulu Sungai. Apakah benar Puteri Kembang Remigo akan menikah dalam waktu tujuh malam ke depan? Sedangkan ini sudah malam keempat, Raja Naga untuk berpesan untuk membawakan Puteri Kembang Remigo ke tepi pemandian dan jika sudah siap, Puteri Kembang Remigo silakan memanggil Raja Naga, Raja Naga sendiri yang akan menjemputnya," kata ikan besar. Akhirnya, orang tua ini tadi langsung menyampaikan pesan dari Raja Naga ke Raja Ulu Sungai.

Nengagh pesan jak Rajo Nago, nyo mintak antatkah Puteri Kembang Remigo. Rajo Ulu Sungai ni masang akal disiuak i lah Degenam batan nggantikah Puteri Kembang Remigo. Sampai ke tepi aiak, meratika la Degenam icak-icak nyadi Puteri, "Uy si Rajo Nago, dapat ka aku di tepi laman mandian," gaikan Degenam. Mangko ditimbalinyo jugo ngan Rajo Nago. Kato Rajo Nago, "Kalu lembagh sampai ke aiak, tintingkan tanggai menungkat langit." Udim itu diuraika nian gumbak ngan Degenam tapi nido sampai ke aiak, ditintingkan tanggai nido pulo bemuni.

Mendengar pesan dari Raja Naga, dia meminta diantarkan Puteri Kembang Remigo. Raja Ulu Sungai mencari akal. Ia mendandani Degenam untuk menggantikan Puteri Kembang Remigo. Sesampainya di tepi air, Puteri Kembang Remigo mencoba memanggil Raja Naga. "Wahai Kakak si Raja Naga, jemput aku di tepi sungai ini," Teriak Degenam. Mendengar panggilan tersebut, Raja Naga menjawab, "Kalau kamu memang Puteri Kembang Remigo, coba uraikan rambutmu sebanyak 16 helai, jentikkan kuku panjangmu menghadap langit." Lalu Degenam mencoba menguraikan rambutnya, akan tetapi tidak sampai ke air, hanya sebatas pundak. Dijentikkan kuku panjangnya menghadap ke langit akan tetapi tidak ada bunyi terdengar.

"Nido, nido iluak itu kaba Puteri Kembang Remigo," Rajo Nago ngangat. Pegilah Rajo Nago diajung o la anak bua o ngeruanka Puteri Kembang Remigo apo nido. Pas dikinaki nyegui Degenam. Pegi anak bua Rajo Nago disampaikah ngan Rajo Nago.

Bukan, tidak seperti itu Puteri Kembang Remigo," Raja Naga memanas. Datang Raja Naga dan disuruhnyalah anak buahnya untuk mengetahui Puteri Kembang Remigo apa bukan. Saat dilihat ternyata Degenam dengan tampilan berantakan. Datanglah anak buah Raja Naga disampaikanlah dengan Raja Naga.

"Ukan Puteri Kembang Remigo, tapi Degenam, nyo nunggu di tepi mandian tu Rajo Nago."

Bukan Puteri Kembang Remigo, tetapi Degenam. Dia menunggu di tepi mandian, Raja Naga.

"ditrajangka o di situ a, Degenam," perintah Rajo. Pegilah ditrajang o nggut nyangsai Degenam ni tadi. La nangsai mangko dicrito kah nyo batan Rajo Ulu Sungai ngan Degenam. "Kalu nido diantatka dalam duo aghi mangko dusun ni dighendam o ngan aiak," crito Rajo Nago.

"Banting di situ, Degenam," perintah Raja. Datang anak buah Raja Naga, dibantingnya Degenam hingga jera. Kemudian Degenam diperintahkan menyampaikan pesan untuk disampaikan ke Raja Ulu Sungai yaitu kalau Puteri Kembang Remigo dalam dua hari ini tidak diantarkan ke Raja Naga, maka Desa Ulu Sungai akan terkena banjir yang teramat besar.

Degenam tadi baliak nyampaikah crito Rajo Nago. Nengagh itu ukan o nurut malah Rajo melawan, Puteri Kembang Remigo nido diantatkah. Rajo Nago ngangat meraso dimadak ka, dilantak ka o nyo ujan deghas teghendam la galo guma sedusun. Mangko jemo sedusun ragat tu pegi galo ke ghumah Rajo, kato jemo tu.

Degenam langsung menyampaikan pesan Raja Naga. Mendengar itu bukannya nurut, malah Raja Naga melawan, Puteri Kembang Remigo tidak diantarkan. Raja Naga memanas merasa diremehkan, diturunkannya hujan deras dan terendam semua rumah-rumah. Jadi, orang sedesa yang banyak itu datang ke rumah Raja, kata orang itu.

"Luak mano kito ni, Emak? aiak ni nambah lamo nambah besak bae, ingunan la mati galo."

Kita harus bagaimana ini, Bu? Air ini semakin lama semakin besar aja, hewan peliharaan sudah mati semua.

Bemuni la Puteri Kembang Remigo, "Bak, antatkah la aku ni ke tepi mandian."

Bilanglah Puteri Kembang Remigo ke bapaknya, "Bapak, antarkan aku ini ke tepi mandian."

"Luak mano kaba ru akap kaba ndak betunaan ngan Bujang Mengkurung jak berang sano laut."

"Bagaimana kamu ini, pagi-pagi kamu itu mau menikah dengan Bujang Mengkurung dari seberang laut."

Dijawab o ngan Puteri Kembang Remigo, "Daripado kito mati galo, ajung la Rajo Nago tu susut kan la aiak, panas kan la aghi gancang akap-akap, mangko antatkah la aku ke tepi aiak."

Dijawabnya dengan Puteri Kembang Remigo, "Daripada kita meninggal semua, suruhlah Raja Naga itu untuk menyusutkan air dan esok pagi panaskan cuaca dengan suhu tinggi dan jemput aku di tepi mandian.

Disampaika la ke Rajo Nago pesan Puteri ni, mangko disusutkan o aiak, akap-akap o panas.

Disampaikan pesan Puteri dengan Raja Naga dan kemudian dia menyusutkan air, paginya biar cuacanya panas.

"Aku nyayangi nian kaba, Nak, tapi la telanjur bejanji. Amo nido, nyelah ini a jadi o, Nak," kato Rajo.

Aku sayang dengan kamu, Nak. Tetapi janji harus ditepati. Kalau tidak benar seperti ini ya apa boleh buat, Nak," kata Raja.

Puteri Kembang Remigo akap o diantatkah ke tepi mandian ngan batak jamuan. Mangko pegilah Puteri Kembang Remigo pas nian dipanggil o la Rajo Nago.

Pada suatu pagi, Puteri Kembang Remigo diantarkan ke tepi mandian dengan membawa perjamuan. Kemudian, datanglah Puteri Kembang Remigo ketika dipanggil oleh Raja Naga.

"Nago belang, Nago brandi iluak kutung tuo nian dalam gelumbang laut api pengulu perang kuday nian aku la benamo Puteri Kembang Remigo, dapat ka aku di tepi mandian."

"Nago Belang, Nago brandi, iluak kutung tuo nian dalam gelombang laut api pengulu prang dulu sekali aku la bernamo Puteri Kembang Remigo, jemputlah aku di tepi mandian."[Puteri Kembang Remigo membaca mantra]

Kato Rajo Nago, "Ngapo luak suaro Puteri Kembang Remigo manggilku?"

Kata Raja Naga, "Kenapa kok seperti suara Puteri Kembang Remigo memanggil aku?"

"Tando Putri Kembang Remigo nian uraika gumbak panjang 16 helai nggut sampai ke aiak, tintingkan tanggai munio nerungkat langit."

Jika kamu benar-benar Puteri Kembang Remigo, uraikan rambut sebanyak 16 helai, jentikkan kuku panjangmu hingga bersuara sampai ke langit.

Diuraika nyo gumbak dengan Puteri Kembang Remigo. Yak nyampai nian ke aiak, mangko ditintingkan nyo tanggai nerungkat langit, bemuni.

Rambut Puteri Kembang Remigo diuraikan dan benar saja rambutnya sampai menyentuh ke air dan ketika dijentikkan kukunya ke langit, ada suaranya.

Na nyela nian Putri Kembang Remigo, di ajak o kantin-kantin o ngan Rajo Nago batak njemput Puteri Kembang Remigo ni tadi.

Nah, benar sekali kalau itu Puteri Kembang Remigo. Diajaknya semua teman Raja Naga tadi untuk membawa Puteri Kembang Remigo.

La betenga pejalanan aiak tu nganyut ke ulu. Na kato Puteri Kembang Remigo, "la ndak sampai, Rajo Nago. Jemo la siap galo nunggu kedatangan Rajo Nago."

Sudah di tengah perjalanan, air terlihat mengalir ke ulu. "Kita mau sampai. Orang-orang siap menunggu kedatangan Raja Naga," kata Putri Kembang Remigo.

Lum lamo datang nian Rajo Nago tujuah ikuak tando Rajo Nago nian calai tanduak emas besisiak emas, sampai la Rajo Nago. Sampai tu wujud manusio, rupo budak bujang besak tinggi putiah. Disalami galo jemo banyak, dipamitkahnyo dengan rajo, "Aku ni nemuni janji Rajo Ulu Sungai, saghini aku ndak mataki Puteri Kembang Remigo ke seberang laut batan jadi bini ku,"

Belum lama datang, Raja Naga pun tiba dengan menunjukkan ciri khasnya memakai tanduk emas dan bersisik emas. Namun, ketika sampai, ia berubah dalam wujud manusia, seperti lelaki muda berbadan besar, tinggi dan putih. Ia menyalami banyak orang, berpamitan kepada Raja, "Aku datang menagih janji Raja Ulu Sungai. Hari ini aku akan membawa Puteri Kembang Remigo ke seberang laut untuk menjadi istriku."

Rajo nido pacak mantah, akhiro dibataklah Puteri Kembang Remigo ke seberang laut ngan Rajo Nago.

Raja tidak bisa membantah. Akhirnya, dibawalah Puteri Kembang Remigo ke seberang laut dengan Raja Naga.

Lum lamo itu, Rajo Nago dienjuak o anak tino agi. Dienjuak namo Puteri Kembang Melugh

Belum lama itu, Raja Naga dianugerahi anak perempuan lagi. Kemudian, dikasih nama Puteri Kembang Melugh.

Dongeng didapat dari penuturan Sajid, 30 tahun, pengisi suara

Dongeng bersumber dari Buku Nandai Mak