Ragam Tradisi dan Budaya Indonesia/Naek Ayun: Tradisi di Kutai Kartanegara untuk Keselamatan Bayi
Kutai Kartanegara, sebuah kabupaten yang terletak di Provinsi Kalimantan Timur, Indonesia, memiliki kekayaan budaya yang menarik. Salah satu tradisi unik yang masih dilestarikan hingga saat ini adalah Naek Ayun. Tradisi ini merupakan ritual adat yang dilakukan pada bayi yang baru lahir sebagai ungkapan syukur dan harapan akan keselamatan serta kebaikan bagi sang bayi. Melalui surat keputusan Mendikbudristek RI No.414/0/2022 tanggal 21 Oktober 2022, tradisi tersebut telah ditetapkan menjadi Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia tahun 2022.
Asal-usul Naek Ayun
[sunting]Naek Ayun berasal dari tradisi masyarakat Kutai yang mempercayai bahwa bayi yang baru lahir masih sangat lemah dan rentan terhadap gangguan makhluk halus. Oleh karena itu, bayi perlu diletakkan di tempat yang aman dan nyaman, yaitu di dalam ayunan.
Tradisi ini juga diyakini telah ada sejak masyarakat Kutai mengenal Islam, sekitar abad ke-15, ketika Islam mulai masuk ke Kalimantan Timur. Ajaran Islam mulai mempengaruhi budaya masyarakat Kutai, termasuk dalam pelaksanaan tradisi Naek Ayun. Tradisi ini telah mengalami adaptasi dan dipadukan dengan nilai-nilai keagamaan dan budaya Islam, seperti pembacaan ayat-ayat Al-Qur’an yang menjadi bagian wajib dari rangkaian upacara tersebut.
Prosesi Naek Ayun
[sunting]Upacara Naek Ayun biasanya dilakukan setelah bayi berusia 1 bulan. Sebelum upacara Naek Ayun dilaksanakan, bayi akan diberi nama melalui upacara ritual Tasmiyah. Prosesi Naek Ayun diiringi dengan doa dan seni hadrah atau puji-pujian kepada Nabi Muhammad SAW.
Prosesi ini terdiri dari beberapa tahap sebagai berikut:
- Pembacaan ayat suci Al-qur’an
- Ceramah dari Ustad
- Menaikkan atau menidurkan bayi ke dalam ayunan
- Mengambil lapik
- Memotong rambut bayi
- Mengoleskan tepong tawar
- Menaburkan beras kuning
- Mengusapkan koin
- Mengelilingkan dan melepaskan ayam
- Becerak lilin
- Memberi makan kanak
- Menginjakkan kaki bayi ke batu (dipelas)
- Betumbang apam
- Betimbang
Perlengkapan Upacara Naek Ayun
[sunting]Upacara Naek Ayun juga disertai perlengkapan dengan simbol dan fungsi tertentu, diantaranya:
- Ayunan, yang telah dihisi dengan berbagai ornamen khas Kutai.
- Kelapa muda kuning, digunakan sebagai wadah untuk menyimpan rambut bayi yang telah dipotong. Hal ini menyimbolkan penyatuan seluruh elemen diri bayi.
- Gunting dan air tepung tawar. Gunting digunakan untuk memotong rambut bayi, sementara air tepung tawar (campuran air putih dan pupur putih) dipercikkan ke kepala, pundak kanan dan kiri bayi. Hal tersebut diharapkan agar bayi terhindar dari bahaya, serta tumbuh menjadi anak yang taat dan saying kepada orang tua.
- Ketan yang di atasnya diberi telur ayam rebus, berfungsi sebagai “pengeras” atau “benteng” untuk melindungi bayi dari bahaya.
- Apam merah, melambangkan cinta kepada Allah, Rasul, dan wali.
- Uang logam yang dimasukkan ke dalam gelas berisi air, yang kemudian diusapkan ke mata bayi. Hal ini dimaksudkan agar penglihatan bayi menjadi jelas.
Makna dan Nilai dalam Tradisi Naek Ayun
[sunting]Upacara Naek Ayun adalah wujud rasa syukur kepada Tuhan dan permohonan keselamatan untuk bayi. Kegembiraannya dirayakan bersama keluarga, kerabat, dan teman dengan makan bersama. Selain itu, upacara ini juga menghormati makhluk lain agar tidak mengganggu manusia, terutama bayi.
Nilai-nilai utama dalam upacara ini adalah:
- Nilai keagamaan: Rasa syukur kepada Tuhan terlihat dalam seluruh prosesi dan doa-doa yang dipanjatkan untuk keselamatan sang bayi. Kelahiran bayi dianggap sebagai karunia dan tanggung jawab dari Tuhan yang dipercayakan kepada orang tua.
- Nilai sosial: Prosesi melibatkan keluarga besar dan menjadi ajang berkumpul serta memperkuat hubungan kekerabatan. Anak-anak kecil belajar tentang hubungan sosial, pembagian peran, dan norma-norma melalui ritual ini.
- Nilai kesejahteraan materi: Sang bayi didoakan agar sejahtera secara materi.
Referensi
[sunting]- https://budaya-indonesia.org/Naik-Ayun. Diakses pada 11 Februari 2025.
- https://www.instagram.com/p/DCi8H3TPCxz/?utm_source=ig_web_copy_link&igsh=MzRlODBiNWFlZA==. Diakses pada 10 Februari 2025.
- Nalarnews. “7 Budaya Tak Benda Kaltim Ditetapkan Sebagai WBTN Indonesia 2022”. Nalarnews.id. Diakses pada 10 Februari 2025, dari https://nalarnews.id/7-budaya-tak-benda-kaltim-ditetapkan-sebagai-wbtn-indonesia-2022/.
- Prokom Kukar. “Adat Kutai Mendukung Tegaknya Moralitas”. Prokom.kukarkab.go.id. Diakses pada 10 Februari 2025, dari https://prokom.kukarkab.go.id/index.php/berita/sosial-budaya/adat-kutai-mendukung-tegakknya-moralitas.
- Septiawati, Juriana Elida. (2019). “Nilai-nilai Pendidikan Islam dalam Upacara Naik Ayun Suku Kutai di Tenggarong”. Tesis, Universitas Islam Negeri Antasari. Diakses pada 11 Februari 2025, dari https://idr.uin-antasari.ac.id/11392/.
- Sukapti. (2022). “Upacara Naek Ayun Masyarakat Kutai di Kabupaten Kutai Kartanegara pada Masa Kini”. Diakses pada 12 Februari 2025, dari https://repository.unmul.ac.id/bitstream/handle/123456789/40615/Fixed%20%20Neak%20Ayun%20HASIL%20KAJIAN%20PENULISAN%20KARYA%20BUDAYA%20.pdf?sequence=1.