Lompat ke isi

Ragam Tradisi dan Budaya Indonesia/Tegal Deso: Tradisi Sedekah Bumi yang Masih Lestari di Surabaya

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas
Kirab budaya dalam rangkaian tradisi sedekah bumi

Tegal Deso (bahasa Jawa: ꦠꦼꦒꦭ꧀ꦝꦺꦱꦺꦴ) adalah tradisi sedekah bumi yang merupakan ritual adat yang dilakukan di beberapa wilayah di Surabaya, sebagai tanda rasa syukur masyarakat kepada Tuhan Yang Maha Esa (Allah SWT) atas hasil panen yang melimpah. Ritual ini diwariskan dan dilestarikan secara turun-temurun dan berlangsung rutin setiap tahunnya, yang biasa dirayakan setiap musim panen pada bulan September, Oktober, dan November.[1]

Tradisi memberi sedekah kepada ibu Bumi, yang merupakan ritual dan manifestasi syukur atas “Kekuatan Tak Terlihat” yang dianggap memiliki kekuatan untuk menentukan keberhasilan dan kegagalan panen, telah lazim dilakukan oleh masyarakat agraris atau masyarakat pedesaan di Jawa. Tradisi ini juga dilestarikan dengan baik oleh orang-orang di sebagian wilayah di Surabaya sampai kini. Meskipun sebagian besar mereka bukan lagi masyarakat agraris dan telah menjadi bagian dari masyarakat urban modern di Surabaya, tradisi ini telah diwariskan dari generasi ke generasi sebagai manifestasi dari rasa terima kasih, penghargaan kepada bumi, sarana untuk memperkuat persaudaraan di antara komunitas plural, dan cara untuk mendapatkan kemakmuran dan berkah dari Tuhan. Tradisi sedekah  bumi ini dilangsungkan untuk mendoakan agar desa aman, tentram. Tradisi ini merupakan sebuah warisan sejarah, yang akan terus dilanjutkan dan dilestarikan.[2]

Pelaksanaan tradisi ini di Surabaya dapat ditemukan di beberapa daerah, seperti di Kelurahan Jeruk,[1] Lakarsantri; Kelurahan Made[2] dan Bringin,[3] Sambikerep; Kampung Kebangsren,[4] Genteng; Kelurahan Putatgede,[5] Sukomanunggal; Kelurahan Tubanan[6] dan Kelurahan Karangpoh,[7] Tandes; dll.

Asal-usul dan makna tradisi

[sunting]

Rangkaian kegiatan

[sunting]
Gulat Okol dilakukan usai upacara Sedekah Bumi di Kelurahan Made kecamatan Sambikerep

Rangkaian kegiatan tegal deso atau sedekah bumi di Surabaya secara umum dilaksanakan selama 1 malam 2 hari. Acara ini biasanya dimulai pada Sabtu malam diawali dengan acara tayub, kemudian dilanjut pada pagi hari dengan kirab budaya, doa bersama sambil makan bersama, lalu diakhiri ludruk/wayang di malam hari. Bentuk kegiatan di masing-masing kampung maupun kelurahan dapat berbeda-beda, tetapi secara garis besar sebagai berikut:

Doa Bersama

[sunting]

Warga berkumpul di balai desa atau tempat yang dianggap sakral untuk berdoa bersama, dipimpin oleh sesepuh desa atau tokoh agama.

Kirab Budaya

[sunting]

Warga membawa berbagai hasil bumi seperti padi, buah-buahan, dan sayuran dalam arak-arakan menuju tempat upacara.

Tumpengan, arak-arakan, dan makan bersama

[sunting]

Tumpeng sebagai simbol rasa syukur dibagikan kepada seluruh warga. Salah satu kegiatan yang selalu dinantikan dalam tradisi ini adalah pembuatan dan iring-iringan ancak. Dalam tradisi ini, masyarakat membuat tumpengan dan gunungan setinggi sekitar satu meter yang disusun dari buah-buahan serta hasil panen. Gunungan tersebut biasanya disebut ancak atau ancakan. Ancak sendiri, adalah sebuah wadah makanan atau hasil bumi yang disusun secara megah dan indah, dan selanjutnya makanan tersebut diperebutkan warga, yang terlihat antusias menyemarakkan acara tersebut.[8]

Pertunjukan Seni Tradisional

[sunting]

Kesenian seperti wayang kulit, ludruk, dan kesenian lain sering kali dipertunjukkan sebagai bagian dari perayaan. Rangkaian acara ini juga diiringi dengan berbagai ritual khas, seperti lantunan gending, pertunjukan Tari Remo, Jaranan, dan Jula-Juli. Salah satu bagian yang paling menarik adalah Okol, yaitu kesenian gulat tradisional yang dimainkan oleh anak-anak desa, yang dapat menambah kemeriahan dalam perayaan ini.

Peran Masyarakat dalam Melestarikan Tradisi

[sunting]
  • Partisipasi warga, dari anak-anak hingga orang tua
  • Dukungan dari tokoh masyarakat dan pemerintah
  • Upaya menjaga tradisi di tengah modernisasi

Tantangan dan masa depan tradisi

[sunting]
  • Pengaruh perkembangan zaman dan teknologi
  • Potensi wisata budaya dari tradisi ini
  • Strategi pelestarian agar tetap dikenal generasi muda

Kesimpulan

[sunting]

Daftar Pustaka

[sunting]
  1. 1,0 1,1 Tajuddin, R., & Trilaksana, A. (2015). Perubahan Tradisi Ritual Sedekah Bumi di Kota Metropolitan Surabaya: Analisa Perubahan Tradisi Ritual Sedekah Bumi di Dusun Jeruk Kelurahan Jeruk Kecamatan Lakarsantri Kota Surabaya Tahun 1990-2014. Avatara, e-Journal Pendidikan Sejarah, 3(3), 429-439. https://ejournal.unesa.ac.id/index.php/avatara/article/view/12802
  2. 2,0 2,1 Nugroho, H. (2018). Dimensi teologi dalam ritual sedekah bumi masyarakat Made. Islamika Inside: Jurnal Keislaman Dan Humaniora, 4(1), 24-49.
  3. Pramudita, R., & Susilo, D. (2021). Gambaran Identitas Sosial pada Warga Penganut Budaya Bersih Desa Wilayah Sawo Kelurahan Bringin Surabaya. EXPERIENTIA: Jurnal Psikologi Indonesia, 9(2), 81-93.
  4. GUNAWAN, A. (2004). UPACARA SEDEKAH BUMI (Studi Tentang, Pergesentn Nilai dan Fungsi Upacara Sedekah Bumi di Kampung Kebangsren, Kecamatan Genteng, Kotamadya surabaya) (Doctoral dissertation, Universitas Airlangga).
  5. Maudiningrum, A. A., & Fauzi, A. M. (2023). Habituasi Baru Tradisi Sedekah Bumi Pada Masa Pandemi dan Pasca Covid-19 di Punden Kelurahan Putat Gede Kota Surabaya. Paradigma, 12(2), 111-120.
  6. Putri, A. S. K. (2003). TRADISI SEDEKAH BUMI (Kajian Tentang Keberadaan Tradisi Sedekah Bumi di Kelurahan Tubanan, Kecamatan Tandes, Kotamadya Surabaya) (Doctoral dissertation, UNIVERSITAS AIRLANGGA).
  7. SUSANTO, N. E. R. (2017). SEDEKAH BUMI SEBAGAI ATRAKSI WISATA “Studi deskriptif Sedekah Bumi Sebagai Atraksi Wisata di Desa Gadel Kelurahan Karangpoh Kecamatan Tandes Surabaya.
  8. https://kominfo.jatimprov.go.id/berita/tradisi-sedekah-bumi-di-kampung-sambikerep-kota-surabayadiakses pada tanggal 13 Februari 2025