Lompat ke isi

Ragam Tradisi dan Budaya Indonesia/Tradisi Hajat Laut di Pesisir Pangandaran

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas
Tradisi Petik laut yang hampir sama dengan Hajat Laut.

Hajat laut [1]adalah serangkaian upacara yang dilaksanakan oleh masyarakat pesisir Pangandaran setiap bulan Muharam. Hajat laut bertujuan sebagai ungkapan rasa syukur terhadap Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rejeki serta keselamatan terhadap para nelayan. Selain itu, sebagai ritual atau do’a meminta keselamatan untuk para nelayan yang mencari ikan di laut khususnya umumnya bagi masyarakat pesisir Pangandaran supaya terhindar dari segala macam bencana laut. Hajat Dilaksanakan disepanjang pesisir Pangandaran mulai dari Kawasan pantai Timur sampai pantai Barat Pangandaran.

Pelaksanaan Tradisi Hajat Laut di Pesisir Pangandaran

[sunting]

Berikut rangkaian upacara tradisi Hajat Laut masyarakat Pesisir Pangandaran:

  1. Pembuatan Dongdang yaitu berupa keranda yang terbuat dari kayu dan bambu kemudian dihias yang nantinya akan digunakan untuk tempat penyimpanan berbagai macam sesajen. Sesajen yang digunakan adalah berbagai bahan makanan dan minuman yang biasa dikonsumsi oleh masyarakat setempat, baik makanan dan minuman tradisional ataupun modern.
  2. Kemitan Dongdang yaitu menjaga dongdang semalaman suntuk dengan tidak tidur sampai pagi secara bergantian oleh tim khusus yang dipersiapkan oleh panitia acara. Selama kegiatan kemitan dilokasi tersebut akan ditampilkan kesenian buhun dan sawala budaya.
  3. Kirab Dongdang akan diikuti oleh sesepuh adat, pupuhu lembur, tokoh masyarakat, warga dan pihak-pihak yang mau berpartisipasi. Seluruh peserta diwajibkan menggunakan pakaian adat tradisional Sunda (pangsi dan kabaya).
  4. Prosesi Penyambutan Dongdang dilakukan setibanya rombongan kirab di pesisir disambut dengan karesmen upacara adat yang diiringi kecapi suling dan dipandu oleh Ki Lengser dan ada seorang Wanita yang memakai kostum layaknya ratu Pantai Selatan. Sekarang ini, biasanya disambut juga dengan lantunan sholawat.
  5. Larung Dongdang dilakukan di tengah laut, dongdang dibawa ke tengah laut untuk dilakukan acara larung (pelepasan). Prosesi ini diikuti oleh perahu-perahu hias dengan berkonvoi mengikuti perahu yang membawa dongdang ke lokasi yang sudah ditentukan. Dongdang berada diperahu inti yang didalamnya ada sesepuh atau tokoh masyarakat, sedangkan warga masyarakat yang ingin mengikuti prosesi larung menaiki perahu-perahu lain.
  6. Tasyakuran dilaksanakan ketika larung dongdang ketengah laut. Dilokasi kegiatan akan dilaksanakan kegiatan tasyakuran yaitu berupa berdo’a bersama (tawasulan) yang merupakan bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala nikmat yang telah diberikan, dan berlangsungnya prosesi inti hajat laut yang sudah berjalan lancar.
  7. Cucurak adalah istilah makan bersama dengan perbekalan masing-masing yang dibawa dari rumah setelah acara tasyakuran dan sekembalinya peserta yang mengikuti prosesi larung dongdang di tengah laut ke lokasi semula untuk berkumpul duduk bersama beralaskan tikar sepanjang pesisir atau jalan.

Nilai-Nilai Pendidikan Karakter Terkandung dalam Tradisi Hajat Laut

[sunting]

Nilai pendidikan karakter yang bersumber dari kebudayaan lokal, dalam hal ini berpusat pada nilai-nilai kebudayaan Sunda. Senada dengan nilai pendidikan, masyarakat Sunda memiliki pandangan hidup yang merupakan salah satu landasan di dalam kehidupan berbudaya orang Sunda. Hajat Laut merupakan kegiatan yang bersifat universal memiliki nilai-nilai budaya yang sangat tinggi, sebagai kontrol sosial serta sebagai pedoman masyarakat dalam interaksi sosial dengan masyarakat yang lain merupakan momen yang baik untuk menjadi media silaturahim antar warga masyarakat. Perilaku tersebut merupakan gambaran prilaku “nyunda tri-silas” yang meliputi silih asih, silih asuh dan silih asah. Dalam prosesi Hajat Laut syarat akan nilai religi, erat kaitannya dengan nilai budaya atau karakteristik perilaku masyarakat Sunda yakni “catur jati diri insani” yang meliputi pengkuh agamana, luhung élmuna, jembar budayana dan rancagé gawéna (Sudaryat, 2020)[2].

Pada prosesi pembuatan dongdang, penyambutan dongdang,larung dongdang, dan tasyakuran terkandung nilai pengkuh agamana karena merupakan simbol ungkapan rasa Syukur terhadap Sang Pencipta, merupakan cerminan moral manusia terhadap Tuhan dengan adanya ungkapan rasa syukur itu menunjukan bahwa mereka memiliki iman dan takwa kepada Tuhannya. Selanjutnya, pada prosesi kemitan dongdang terdapat nilai moral manusia terhadap manusia lain dan silih asih. Karena dalam kemitan ini diberlakukan sistem bergantian oleh tim khusus, artinya saling manghargai dan memahami bahwa manusia itu butuh istirahat tidak bisa semalaman terjaga tanpa tidur, akhirnya dibuatlah tim khusus itu yang merupakan laki-laki dewasa yang sehat, masih muda dan mampu untuk begadang menjaga dongdang secara bergantian. Pada prosesi kirab dongdang terdapat perilaku silih asuh dengan kebersamaan dan gotong royong membawa dongdang tersebut dengan cara dipikul bersama-sama, bergotong royong semua elemen masyarakat yang hadir.

Referensi:

[sunting]
  1. Hajat Laut, Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
  2. Sudaryat, Y. (2020). Wawasan Kesundaan. Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia.