Lompat ke isi

Ragam Tradisi dan Budaya Indonesia/Tradisi Sadranan pada Masyarakat Jawa

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas

Karakteristik Masyarakat Jawa

[sunting]
Gotong royong salah satu karakteristik masyarakat Jawa

Masyarakat Suku Jawa dikenal memiliki karakter unik yang mencerminkan budaya dan nilai-nilai yang dianut oleh mereka. Orang Jawa umumnya ramah dan sopan dalam berinteraksi dengan orang lain. Tata krama dan etika yang tinggi dalam berbicara dan bertindak, serta menghormati orang lain, terutama yang lebih tua, bekerja bersama dalam berbagai kegiatan sosial, gotong royong untuk acara adat, dan lainnya sangat dijunjung tinggi oleh masyarakat Suku Jawa.

Mayoritas masyarakat Jawa menganut agama Islam. Masyarakat Jawa mengutamakan keharmonisan dan keseimbangan dalam kehidupan mereka. Mereka cenderung menghindari konflik dan lebih memilih untuk menjaga perdamaian dan kerukunan baik dalam keluarga maupun komunitas. Spiritualitas sangat penting bagi masyarakat Jawa. Selain menjalankan ibadah agama, mereka juga sering melakukan ritual-ritual tradisional seperti selametan, kenduri, dan upacara adat lainnya sebagai bentuk penghubung antara manusia dengan Tuhan dan alam semesta. Tradisi nyadran mempunyai nilai kearifan hubungan antara manusia dengan Tuhan, manusia dengan sesamanya dan manusia dengan lingkungan.[1]

Pelaksanaan Tradisi Sadranan

[sunting]
Sadranan sebagai tradisi masyarakat Jawa

Tradisi Sadranan atau Nyadran merupakan bentuk akulturasi budaya Hindu dengan Islam pada masyarakat Suku Jawa. Tradisi Sadranan dilaksanakan untuk menyambut Bulan Ramadhan. Sadran atau Sya'ban menurut jawa dinamai dengan Ruwah yang berasal dari kata "ngluru" dan "arwah", yang artinya adalah mengunjungi arwah atau mengunjungi makam tempat arwah orang mati itu berada.[2]

Pelaksanaan Sadranan biasanya diwarnai dengan suasana kekeluargaan dan gotong royong yang kental di antara warga. Masyarakat yang akan mengikuti tradisi ini, mereka menyiapkan aneka sajian atau masakan, seperti tumpeng, kue dan berbagai jenis makanan lainnya yang nantinya akan dibagikan kepada orang lain.

Pada hari yang telah ditentukan, masyarakat bersama-sama pergi ke pemakanan dengan berjalan kaki dengan membawa makanan tersebut. Sesampainya di pemakaman, warga berkumpul dan duduk di atas tikar. Acara dimulai dengan membaca Al Qur'an, berdzikir, tahlil dan berdo'a bersama yang dipimpin oleh tokoh agama atau sesepuh desa untuk memohon berkah dan kesejahteraan serta mendoakan arwah leluhur yang telah meninggal dunia. Setelah doa, makanan yang dibawa oleh warga kemudian dibagikan kepada semua yang hadir sebagai bentuk rasa syukur dan simbol kebersamaan. Acara Sadranan biasanya diakhiri dengan kegiatan bersih-bersih makam atau resik di area pemakaman dari rumput liar dan sampah.

Nilai-Nilai Pendidikan dalam Tradisi Sadranan

[sunting]

Tradisi Sadranan atau Nyadran mempunyai nilai luhur, antara lain :

  1. Tradisi Sadranan mengajarkan pentingnya gotong royong dan kebersamaan di antara masyarakat, seperti terlihat saat membuat sajian, berjalan kaki ke pemakaman, dan membersihkan makam.
  2. Melalui doa bersama dan pembersihan makam, masyarakat diajarkan untuk menghormati dan mengenang jasa para leluhur yang telah meninggal dunia.
  3. Tradisi Sadranan juga menekankan pentingnya hubungan spiritual dengan Tuhan dan alam semesta melalui doa dan ritual yang dipimpin oleh tokoh agama atau sesepuh desa.
  4. Tradisi Sadranan mengajarkan pentingnya rasa syukur atas berkah yang diterima dan berbagi dengan sesama.
  5. Kegiatan bersih-bersih makam saat Sadranan menunjukkan pentingnya menjaga kebersihan dan kelestarian alam sekitar.
  6. Tradisi Sadranan menunjukkan sikap saling menghormati dan menghargai keberagaman agama dan kepercayaan lainnya.

Referensi

[sunting]
  1. Rahayu, Puji. 2019. Tradisi-Tradisi Islam Nusantara Perspektif Filsafat dan Ilmu Pengetahuan. Semarang : Forum Muda Cendekia, hlm. 148
  2. Amru, Abu Maryam Kautsar. 2018. Memantaskan Diri Menyambut Bulan Ramadhan. Kautsat Amru Publishing