Lompat ke isi

Rakyat 2030

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas

Cahaya matahari menyelinap masuk ke dalam jendela apartemenku. Aku segera terbangun dari mimpiku. Tidak terasa sudah beberapa tahun ini, aku sudah hidup lebih layak daripada sebelumnya. Lupakan sejenak soal itu. Memang bagian dari masa laluku. Tetapi hidup terus berjalan.

Aku menyambar meja di dapur untuk membuat sarapan untukku. Serba cepat karena sudah ku siapkan sedari malam. Buah-buahan terasa cocok saat sarapan. Kalau diingat-ingat aku dulu susah sekali beli apapun termasuk makanan. Selalu banyak pertimbangan jika ingin membeli sesuatu. Baik apakah benar-benar dibutuhkan atau hanya sekedar pemuas keinginan batin.

Aku yang sampai di titik ini tidak pernah membayangkan apakah aku bisa meraihnya. Hari - hari yang harus ku lalui bagai neraka dunia. Katanya dunia ini indah namun yang kualami tidak. Melalui hari itu dulu bagai siksaan yang menderaku selalu ada. Berita-berita pada tahun 2025 lalu membuatku cukup terluka mental.

Tidak aku saja yang mengalami ini tetapi rakyat bekas negara itu mengalaminya semua. Tak semua nasib rakyat itu mendapatkan nasib yang baik ada nasibnya tak tahu harus menjadi warga negara mana karena ketika negara itu masih ada mereka menganggap tak akan ada kejadian seperti ini. Nasi sudah menjadi bubur. Banyak warga yang malang nasibnya mencari suaka ke negara yang mau menerima mereka. Aku salah satu rakyat yang beruntung.

Dulunya aku seorang mahasiswa yang tak mau tahu soal politik. Peduli apa tentang politik bagiku toh juga tidak akan ada pengaruh ke kehidupan seseorang. Apa politik ganggu saat kita makan juga? Ah menurutku tidak mungkin. Menjalani hari dan melakukan apa yang semestinya saja sudah cukup melelahkan. Belum lagi ada perut yang harus diisi dengan gizi setiap hari.

Bagiku hidup kan sesuai dengan takdir yang diperoleh manusia dari Tuhan. Yang bisa mengubah ya dari perilaku atau kebiasaan kita sehari-hari. Bukan dari politik. Kalau kebiasaannya malas ya tak akan pernah sukses. Kalau giat dan tekun menjalani sesuatu pasti mendapatkan apa yang semestinya.

Memang seperti hukum alam yang berlaku menurutku pada saat itu. Untuk apa berdemo ke pemerintah yang ada membuat kemacetan parah. Capek-capek menyuarakan ya ujung-ujungnya tetap seperti ini. Tidak bisa menjadi kaya dalam sekejap setelah berdemo atau negara menjadi lebih baik. Aku tak melihat satupun dampaknya apapun itu. Kerusuhan terjadi dimana-mana karena aspirasi rakyat tak kunjung direalisasikan. Harusnya orang-orang itu bersyukur dengan hidup yang sekarang.

Ngapain bersusah payah seperti itu toh hidup yang menentukan itu Tuhan. Mestinya kita bekerja sehari-hari saja kan sudah termasuk berusaha. Pikiran orang-orang itu kolot sekali apapun diprotes. Memangnya mereka bisa bekerja seperti yang duduk di kursi parlemen saat ini. Sok tahu sekali orang-orang kebanyakan di sekitarku. Emangnya informasi yang diterima itu sudah betul akurat begitu?. Begitulah ucapanku saat itu.

Apalagi kegiatan membaca buku menurutku sangat membosankan. Apa yang harus dibaca pula. Kan bisa melihat video berita yang beredar di sosial media yang ada. Mengapa harus repot-repot fokus membaca sesuatu. Sungguh tidak menarik. Membosankan. Seperti kegiatan orang-orang jaman dulu yang belum ada teknologi smartphone.

Apalagi temanku Mita, suka sekali baca buku-buku yang membosankan itu. Setiap waktu istirahat dia pakai untuk membaca. Menikmati waktu dengan cara yang membosankan. "Mita, kamu kenapa sih baca buku mulu sih" ucapku. "Gapapa lah biar ga bosan, lagian kerjaan udah ngurus sosial media, ya kali istirahat diisi lihat sosial media terus. Penat lihatnya." Ucap Mita sambil membolak-balik halaman bukunya.

Mita agak aneh menurutku padahal dia dulu cuek sekali sama sekitar. Tiba-tiba suka ngomong soal pemerintah itu menyebalkan. Menurutku Mita seperti sok tahu aja soal politik. Apasih bahas politik sangatlah tidak asik seperti orang-orang tua saja. Lagipula aku sama Mita hanya masyarakat biasa, apa pengaruhnya kita ke negara juga. Menurutku mana mungkin ada pengaruh yang membawa perubahan ke negara. Toh kita bisa bekerja dan mendapatkan gaji. Yang penting kan perut tidak kelaparan.

Lebih baik mengurusi perut masing-masing yang masih belum sanggup dipenuhi. Makan saja sulit apalagi mengurusi politik suatu negara. Memangnya akan mendapat apa dari mengurusi hal tersebut. Yang penting aku sekarang bekerja dan mendapatkan gaji menurutku sudah aman untuk mengisi perutku untuk bertahan setiap hari. Selagi kerja mengikuti peraturan perusahaan tidak akan dikeluarkan begitu saja.

Apa menurut kalian bekerja yang penting sudah mengikuti peraturan dan standar operasional perusahaan akan membuat kalian aman dari pemutusan hubungan kerja? Tentu belum pasti. Aku merasa baik-baik saja bekerja selama ini. Tidak melanggar peraturan sekalipun. Begitu pula Mita. Tapi hari ini, aku dipanggil ke ruangan HRD untuk menandatangani surat pemutusan hubungan kerja. Kacau sekali hatiku. Tak percaya hal ini terjadi padaku.