Lompat ke isi

Rapat Meja Bundar di Warung Kopi

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas

Di warung kopi pinggir jalan, seorang pejabat duduk dengan wajah penuh minyak goreng, membicarakan nasib bangsa sambil menawar harga rokok.

Di depannya, seorang mahasiswa yang baru saja pulang dari demonstrasi hanya bisa tertawa getir—bukan karena lelucon, tapi karena lapar.

“Kamu tahu,” kata si pejabat, “demokrasi itu soal perut.”

“Lalu mengapa perut rakyat tetap kosong?” tanya si mahasiswa.

Keheningan sejenak. Hanya sendok yang beradu dengan gelas, seperti dentang jam kematian yang terlalu malas untuk berhenti.

Pejabat itu tersenyum, “Karena yang kenyang selalu lebih dulu bicara. Dan yang lapar hanya punya teriakan.”

Mahasiswa itu bangkit. Ia tinggalkan kopi yang bahkan belum sempat ia cicipi.

Di langkah kakinya, ia sadar: perjuangan bukan sekadar bicara di meja bundar warung kopi, tapi merobohkan meja itu bersama kursinya—agar semua orang bisa duduk di tanah yang sama rata.