Lompat ke isi

Relawan Sosial

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas

Relawan Sosial

Karya: Widiarini

Cerita Pendek Anak

[sunting]

Pukul sembilan malam. Anak-anak di rumah Gani sudah mulai terlelap. Tiba-tiba terdengar suara kentongan keras sekali. Ya, kentongan itu yang berasal dari pos kamling kampung Reo, Manggarai, Nusa Tenggara Timur.

“Ayah, ada apa ini? Apa yang terjadi?” Gani terkaget-kaget mendengar suara kentongan. “Ibu, Ibu ayo kita keluar rumah,” seru Ayah seakan tidak mendengar pertanyaan Gani, malah menggandengnya dan Aswan, adik Gani.

“Iya Ayah,” Jawab Ibu sambil tergopoh-gopoh lari dari arah dapur.Warga sekitar kampung Gani semuanya berhamburan keluar rumah. Mereka saling berpegangan dan anak-anak kecil dipeluk Ibunya. Suasana sekitar begitu mencekam. Sesekali terdengar suara tangisan bayi dan anak kecil yang masih terjaga. Ada juga anak-anak yang terpaksa digendong orangtuanya dibawa keluar rumah dalam keadaan tidur.

Sekitar setengah jam bumi kampung Gani berguncang. Setelah kejadian itu juga semua warga bersepakat berjaga di luar rumah. Mereka membuat tenda-tenda darurat menggunakan perlengkapan seadanya yang mereka punya seperti terpal, banner bekas, juga meja kursi ruang tamu.

“Gani, Aswan sekarang sudah aman. Ayo lanjutkan istirahatmu. Jangan lupa berdo’a semoga besok tidak gempa lagi.” Kata Ibu yang sudah menata dan merapikankasur untuk Gani dan Aswan.

“Ya Bu, tapi Ibu, Ayah tidur dimana?”tanya Gani polos. “Ibu disini sama kalian, Ayah biar berjaga-jaga dengan teman-temannya.” terang Ibu sambil mengusap jidat Aswan yang sudah mulai mengantuk. Gani pun menurut kata Ibu, dan mulai menguap tanda harus segera tidur.

Keesokan harinya, para warga sibuk memeriksa rumah masing-masing. Beruntung rumah Gani masih relatif utuh, hanya beberapa bagian tembok samping rumah agak retak.

“Alhamdulillah Ibu, rumah kita masih aman. Terimakasih ya Allah.” Ayah terharu sambil berucap syukur. Ayahpun memeluk Ibu dan kedua anaknya.

“Ohya Bu, nanti Ayah mau bantu tetangga kita. Ibu disini saja jaga anak-anak. Seperti biasanya Ibu juga siapkan makanan untuk anak-anak, syukur bisa lebih untuk anak-anak tetangga kita. Pasti mereka juga butuh makan.”

“Baiklah. Ayah hati-hati ya.” Ibu menyambut baik saran Ayah, lalu menyalami dan pergi membaur dengan para tetangga.

Atas kejadian tadi malam, terdata puluhan rumah yang mengalami kerusakan paling parah. Pemerintah menurunkan bantuan kemanusiaan dan membuat tenda darurat di sekitar rumah yang rusak. Tujuannya adalah untuk menampung anak-anak dan para Ibu untuk sementara. Beberapa mobil bak terbuka berdatangan ke kampung Gani. Berbagai kebutuhan makanan pokok, mie instan, telur, pakaian pantas pakai dibagikan kepada para warga.

“Ibu, lihat. Itu banyak yang pakai baju seragam.” Rupanya Gani sedari tadi memperhatikan orang-orang yang berada di mobil pick up itu.

“Oh iya Nak. Coba kamu baca. Di baju mereka ada tulisannya” sambut Ibu mengetes Gani yang baru kelas satu SD ini.

Dengan berusaha berpikir keras, Gani mendekati mobil dan berusaha membaca tulisan warna orange itu. Tak lama kemudian, Gani kembali mendekati Sang Ibu.

“Hmm.. Nanti kalau benar, Gani minta dibuatkan susu ya Bu,” pinta Gani kepada Ibu bersemangat. Ibu tersenyum dan menganggukkan kepalanya tanda setuju.

“Oke Bu. Tulisan di baju Kakak itu dibaca Relawan.”

“Wah, Gani memang anak hebat! Benar. Relawan. Tepatnya Relawan Sosial. Nah, sekarang Ibu langsung buatkan susu. Tunggu disini ya. Jaga Aswan sebentar.” Ibu menyerahkan Aswan di pangkuan Gani.

“Gani, ini susunya segera diminum.” Ibu menyodorkan gelas putih berisi susu spesial untuk Gani. “Terimakasih ya Bu.” Gani segera menyambutnya dan meminumnya.

“Assalamu’alaikum. Maaf Ibu mengganggu. Kami dari Tim Relawan Gempa ingin bertemu dengan Bapak.” seseorang tak dikenal mengenakan seragam mendatangi keluarga Gani. “Wa’alaikumsalam. Maaf, ada keperluan apa ya. Mungkin saya boleh tahu.” Jawab Ibu penuh selidik. Belum sampai pihak tim relawan menjawab, Ayah datang. “Ada apa ya?” tanya Ayah. Orang berseragam tadi menyalami dan mulai bicara.“Begini Pak, mohon maaf kami dan Tim Relawan ditugaskan untuk menjaga situasi dan kondisi kampung ini. Dan kami bermaksud akan membangun dapur umum untuk para korban gempa. Nah, letak yang cukup aman menurut kami disini, di rumah Bapak dan Ibu. Untuk itu kami mau meminta persetujuannya.” Jelas sang Relawan. Ayah dan Ibu Gani pun menyetujui permintaan Tim Relawan. Mereka bekerja bahu membahu membuat dapur umum di teras rumah Gani yang cukup luas. Gani pun merasa gembira bersama anak-anak sekampung Reo.

Berkat usaha bersama Tim Relawan dan para warga saling bergotong-royong, berangsur-angsur kehidupan masyarakat menuju kondisi lebih baik. Ayah, Ibu Gani dan masyarakat kampung saling mendukung dan membantu. Benar-benar menunjukkan kebersamaan yang membawa kebahagiaan para warga, tim relawan dan pemerintah setempat.


____________

Relawan Sosial adalah seseorang atau kelompok masyarakat baik yang berlatarbelakang pekerjaan sosial maupun bukan tetapi melaksanakan kegiatan sosial.