Lompat ke isi

Renungan Tahun Depan

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas

Tema

[sunting]

Finansial

Genre

[sunting]

Slice of Life

Premis

[sunting]

Sasmita dibuat geram akibat seumur hidup tidak pernah merayakan ulang tahunnya karena kondisi ekonomi keluarga. Namun, di hari ulang tahun yang ke-13, Sasmita bertemu dengan seorang Nenek yang memberikannya petuah hingga terjadilah hal yang tidak terduga.

Tokoh

[sunting]
  1. Sasmita
  2. Ibu
  3. Nenek Ami

Lokasi

[sunting]

Perkampungan kediaman Sasmita

Cerita Pendek

[sunting]

Aku melihat kalender yang tergantung pada paku di dinding pojok rumah kami. 15 September 2022, hari ini, hari kelahiranku. Berulang tahun untuk ke-13 kalinya. Namun, tidak sekali pun pernah merasakan manisnya tart ulang tahun dan gurihnya makaron yang menghias di atasnya. Keluarga kami kurang bercukupan, bapak hanya seorang kuli, dan ibu hanya buka laundry kecil di rumah.

Harapanku untuk mendapat perayaan ulang tahun, harus kutimbun dalam-dalam untuk kesekian kalinya. Mengapa banyak orang hidup lebih beruntung daripada diriku?

Nduk1, Ibu minta tolong antarkan cucian milik Bu Ani, ya! Kemarin beliau sedang nggak enak badan, jadi kasihan kalau harus ambil ke sini sendiri,” Ibu menyodorkan kantong plastik berwarna merah.

Aku meraihnya, “Siap bu!”

Sejurus kemudian, aku berlari ke luar rumah. Matahari sedikit tak bersahabat. Ia menyembunyikan wajah di balik awan mendung.

“Astaga, sudah hujan saja, kah?” gumamku seraya menodohkan tangan guna mengecek apakah benar-benar hujan.

Aku berteduh. Di seberang sana ada seorang wanita tua, dia terdiam duduk di gazebo menunggu hujan reda. Aku duduk di sampingnya.

Nuwun sewu2, mbah apakah saya boleh duduk di samping sini?”

Wanita tua itu hanya mengangguk, tatapannya kosong menengok gelapnya awan di atas sana.

Suasana lengang sejenak, canggung, sampai nenek itu memulai percakapan.

“Selamat ulang tahun, Sasmita. Semoga di tahun berikutnya, hidupmu bisa lebih baik. Nenek Ami hanya bisa mendoakanmu seperti itu dari sini.”

Aku terpelongo, Bagaimana beliau bisa tahu?

Nenek itu menoleh, “Tapi ingat, semakin bertambah usiamu. Jatah hidupmu di dunia ini semakin berkurang. Semakin berat pula beban yang akan kau pikul di pundakmu. Jangan terlalu terlena dengan duniamu. Ulang tahun bukan melulu soal perayaan megah. Sederhana, ulang tahun hanya seperti alarm bagi manusia. Menjadi pengingat agar manusia bersyukur masih bisa menginjak usia selanjutnya.”

Aku terpaku dalam diam, beliau tetap meneruskan ucapannya hingga tak memberi celah untuk aku bicara.

“Sebelumnya, bagaimana Nenek bisa tahu perihal itu? Apakah kita pernah bertemu?” aku mengernyitkan dahi.

Nenek itu membuka mulut, bukan untuk menjawab pertanyaanku. “Nak, tahukah kamu tentang dongeng Putri Pencuri dan Sejuta Kebahagiaan? Biar Nenek ceritakan kepadamu.”

***

Nun jauh di sana, di Negeri antah-berantah terdapat sebuah kerajaan yang dipimpin oleh Raja Chaesar, bernama Kerajaan Royal Edelweis.

Raja Chaesar memiliki seorang putri yang diberkahi dengan paras teramat cantik, bernama Putri Edela.

Akan tetapi, sejak kecil, Putri Edela selalu mengurung dirinya di kastil sang raja. Dia tidak mau bermain dengan anak-anak di luar sana. Wajahnya selalu muram dan tertekuk, membuat kecantikannya seolah tersembunyi.

Suatu hari, seorang badut singgah di Negeri mereka untuk menghibur anak-anak kampung. Sang putri mulai penasaran karena suara bising yang ditimbulkan oleh tawa anak-anak di luar. Dia memantau mereka dari atas kastil.

Tampak kebahagiaan terpancar dari raut wajah mereka karena kedatangan sang badut. Mereka selalu bermain di halaman kastil kerajaan. Namun, sang putri merasa terganggu dengan bising tawa mereka.

Dia berteriak kencang, “Hei, kalian! Bisa, kah, kalian diam? Suara tawa kalian mengganggu jam tidurku!” seru sang putri marah.

Mendengar suara lantang tersebut, anak-anak ketakutan.

“Maafkan kami, Putri,” ujar sang badut sambil menunduk hormat.

Bersama sang badut, mereka mencari tempat untuk melanjutkan bermain. Mereka pergi ke halaman hijau yang cukup jauh dari kastil kerajaan.

Akan tetapi, sang putri masih bisa melihat mereka dari atas kastil. Meski suara tawa itu tidak lagi terdengar, sang putri masih tampak risih dengan raut wajah kebahagiaan dari anak-anak kampung tersebut.

Lantas, sang putri turun dari atas kastil menuju ke ruangan sang ayah.

“Ayah, Edela merasa sangat bersedih hari ini,” adu sang putri ketika masuk ke ruangan Raja Chaesar.

“Ada apa dengan putriku yang cantik ini?” tanya Raja Chaesar.

“Beberapa hari yang lalu, ada seorang badut datang ke Negeri kita, Ayah. Dia selalu bermain dengan anak-anak kampung di luar sana. Hal itu membuat Edela sangat risih. Bisa, kah, Ayah melakukan sesuatu untuk Edela?” ujar Putri Edela.

Raja tampak berpikir keras seraya bertanya kembali pada Putri Edela, “Apa yang bisa Ayah lakukan untuk membuat putri Ayah nyaman kembali?”

“Akan, kah, Ayah mengabulkan permintaan Edela?” Kedua mata Putri Edela berbinar-binar.

Raja Chaesar mengangguk, “Tentu saja, Putri.”

“Tolong usir Paman Badut itu dari Negeri kita, Ayah. Lalu, larang semua orang yang tinggal di Negeri ini untuk tertawa dan tersenyum. Putri sangat risih dengan suara menggelitik itu,” pintah Putri Edela.

“Jika Ayah mengabulkan permintaan Putri. Apakah putri Ayah ini akan kembali bahagia?”

Putri Edela mengangguk mantap.

“Baiklah, Ayah akan mengabulkannya, Putri.”

Lantas, beberapa hari setelah itu. Raja Chaesar mengutus para prajurit untuk mengusir Paman Badut dari Negeri tersebut dan membacakan pengumuman pada seluruh rakyat yang melarang mereka untuk membuat suara tawa dan bahagia.

Perintah dipatuhi oleh semua rakyat. Ibu dan ayah dari anak-anak kampung tersebut selalu menegur mereka agar tidak tertawa, sebab hal tersebut sudah dilarang oleh sang raja.

Seiring berjalannya waktu, suara tawa yang menggelitik sudah tidak pernah terdengar lagi di Negeri Putri Edela tinggal.

Namun, pudarnya suara tawa tersebut ternyata malah mendatangkan bencana yang lebih besar bagi Putri Edela. Kesedihan mulai menyelimuti Negerinya. Membuat anak-anak kampung murung dan menangis tanpa henti.

Sang putri kembali terusik dan mendatangi ayahnya.

“Ayah, mengapa setelah Ayah melarang semua orang untuk tertawa. Edela masih tidak bisa merasakan kebahagiaan. Edela kembali terusik oleh suara tangisan dari anak-anak kampung di luar sana, Ayah. Mengapa?” tanya sang putri tegas.

Raja Chaesar tersenyum dan mempersilakan Putri Edela duduk di kursi kosong sampingnya.

“Begini, Anakku, kamu hendak tahu mengapa kamu masih belum bisa bahagia sampai saat ini?” kata sang raja.

Putri Edela mengangguk.

“Karena jauh di dalam hati kamu, kamu merasa sangat kesepian. Kamu menganggap bahwa dengan mencuri kebahagiaan orang lain, kamu bisa bahagia dengan sendirinya. Nyatanya tidak. Sebab kebahagiaan hanya bisa didapat ketika hatimu bersih dari kebencian,” kata sang raja.

Sang putri terdiam, memahami perkataan ayahnya.

Raja Chaesar melanjutkan perkataannya, “Apakah kamu sudah mengerti saat ini? Setiap orang memiliki cara untuk bahagia. Maka, kamu harus mencari kebahagiaanmu sendiri. Bukan dengan merenggut kebahagiaan orang lain.”

Untuk pertama kalinya, sang putri tersenyum pada sang ayah dan mengangguk.

Semenjak saat itu, peraturan yang melarang rakyat di Negeri Putri Edela untuk tertawa, dicabut oleh Raja Chaesar. Sang raja dan sang putri telah sepakat untuk membiarkan kembali suara tawa dan kebahagiaan menyelimuti Negeri mereka.

***

Bau tanah basah yang tersiram derasnya hujan menyengat masuk ke dalam indra penciumanku. Kami masih tertahan di gazebo.

“Nak, percayalah. Banyak orang hidup di dunia ini dengan caranya. Mereka mengingat hari lahirnya, hingga terlena akan dunia. Kebahagiaan dalam kehidupan bukan semata-mata soal harta yang berlimpah, tetapi bahagia terletak di hatimu. Berbahagialah, Nak. Kesalahan manusia adalah mengira mereka memiliki waktu.”

Hujan reda, awan mendung sirna. Sekejap nenek itu beranjak dari gazebo. Aku masih memandang kosong tempat duduknya.

Seseorang menepuk pundakku, Ibu. Ia menjemputku dan membawa payung. “Ada apa, Nduk?” lontarnya. “Kenapa melamun? Maaf ya Ibu baru datang.”

Seketika, aku menoleh. Lalu tersenyum seraya menggelengkan kepala, “Tidak apa-apa, bu.”

Kami berangkat ke rumah Bu Ani bersama, kemudian pulang ke rumah kecil di sudut gang, rumah kami.

***

Malam harinya.

Ibu dan bapak mengetuk kamarku. Aku membukanya.

“Kejutan!” Mereka memasang wajah sumringah seraya memegang tart. Aku balas tersenyum, “Pak, Bu, bukannya Gendis tidak menghargai. Tapi hendaknya tahun depan, ulang tahun Gendis tidak perlu dibeginikan. Gendis masih bahagia bisa hidup bersama bapak dan ibu di rumah kecil ini.”

Ibu dan bapak saling menatap, lalu melempar senyum lagi padaku seraya mengangguk.

“Em … Gendis mau tanya, ibu dan bapak kenal Nenek Ami? Beliau baik banget tadi nemenin Gendis di gazebo.”

Ibu dan bapak saling menatap lagi, “Kamu nggak salah, Nduk? Nenek Ami itu sudah meninggal, hari ini peringatan kematiannya.”

Aku diam membatu.