Rindu Yang Menyusul Pulang
Lyra duduk di kamar kos sederhana di lantai dua sebuah gang sempit. Dari jendela, ia bisa melihat deretan tempat tongkrongan kecil yang selalu ramai mahasiswa, suara motor berderu tak putus, bercampur dengan nyanyian pengamen di kejauhan. Malam terasa lengang, tetapi pikirannya penuh sesak. Di tangannya, ponsel masih terbuka pada foto lama wajah Hary, mantan kekasihnya, menatap dari layar. Mereka dulu sering berjalan berdua di pusat kota, berfoto di sudut jalan yang penuh lampu, makan di warung pecel lele pinggir jalan, atau sekadar berbincang di tepi jembatan yang membentang di atas sungai. Semua kenangan itu menempel pada setiap sudut kota ini, membuat Lyra sulit melepaskan bayangannya. Padahal sekarang ia sudah punya kekasih baru yang bernama Gilang, Lelaki itu hangat dan penuh perhatian. Ia sering mengajak Lyra berkeliling kota dengan motor tuanya, berhenti di angkringan untuk membeli segelas jahe hangat, atau sekadar menemaninya duduk di trotoar menikmati lalu lintas malam. Gilang selalu hadir, nyata dan sederhana.Tetapi di sela tawa dan percakapan mereka, Lyra kerap dikejutkan oleh rindu yang tak bisa ia tolak. Rindu kepada Hary, Rindu yang muncul tiba-tiba saat melihat kain batik di pasar tradisional, saat mendengar gitar pengamen membawakan lagu lama, atau saat matahari terbenam dan langit kota berubah jingga. "Kenapa kamu melamun lagi?" tanya Gilang suatu sore, ketika mereka duduk di tepi sungai yang membelah kota. Lyra tersentak. Ia tersenyum tipis. "Enggak apa-apa. Cuma kepikiran tugas kuliah," jawabnya. Padahal hatinya baru saja tertarik ke masa lalu. Gilang menatapnya lama. Ada sesuatu di matanya seolah ia tahu Lyra sedang menyimpan seseorang lain di dalam pikirannya, tapi ia memilih untuk tidak menyinggungnya. Ia hanya menggenggam tangan Lyra, erat dan hangat.Lyra merasa bersalah. Ia tahu dirinya mencintai Gilang, tapi di sisi lain, ia tak bisa menghapus Hary. Rasanya seperti berjalan di jalan kota yang sama: satu jalan ditemani Gilang, tetapi bayangan Hary tetap mengikuti dari kejauhan. Malam itu, sebelum tidur, Lyra menulis di buku hariannya:
"Aku mencintai Gilang, sungguh. Tapi rindu kepada Hary masih melekat pada dinding-dinding kota ini. Mungkin suatu hari bayangan itu akan hilang, mungkin juga tidak. Untuk sekarang, aku hanya bisa bertahan di tengah cinta yang nyata dan rindu yang tak pernah benar-benar mati."
Di luar, kota tetap berdenyut. Hujan deras turun, membasahi lampu jalan yang menyala, pedagang kaki lima berlarian menutup gerobak, dan suara musik dari kafe kecil terdengar samar di sela rintik. Seolah hujan memahami isi hati Lyra, yang di kamar kos sempit masih berjuang antara cinta yang ia genggam dan rindu yang tak bisa ia buang.