Tanah yang Dihormati, Tanah yang Dikhianati
Kata Pengantar
[sunting]Empat penulis bersuara dalam karya ini, saling menyambung dan menyayat, saling membisik dan menggugat. Cerita dan puisi tidak berdiri sendiri, melainkan seperti potongan cermin yang ketika dirangkai membentuk satu refleksi besar: tentang siapa kita, dari mana kita berpijak, dan apa yang telah (atau belum) kita jaga.
Semoga kisah dan bait iini tidak hanya dinikmati, tetapi juga direnungkan. Karena mungkin, dari akar yang disentuh dengan penuh hormat, hingga luka yang dibiarkan menganga, kita sedang menulis ulang sejarah. Apakah akan tetap menjadi penjaga, atau justru pengkhianat bumi yang melahirkan kita.
Sinopsis
[sunting]Terkadang ayah pulang dengan membawa kumpulan lembaran-lembaran pamflet, salah satu pamflet yang aku ingat terdapat sebuah puisi, yang itu bentuknya berbeda dengan puisi yang ada dalam tugas bahasa Indonesiaku. Di dalam pamflet itu terdapat puisi yang berjudul yang sedang sekarat. Aku baru mengerti kalau sebuah puisi bisa menggunakan kata-kata yang lugas seperti itu, tanpa menggunakan kata-kata yang sukar dimengerti.
Tubuhnya terlihat tidak begitu sehat
Banyak luka yang belum kering
Dan terbuka lagi sakit pada bagian lain
Menangis sudah tidak bisa dinikmati lagi
Sedih sudah bukan menjadi pelaras emosi
Ia melihat seorang perempuan berjalan perlahan dari arah timur. Langkahnya mantap namun penuh kelembutan. Di lengannya, tergantung sebuah bakul anyaman berisi kembang setaman, beras kuning, dan seikat dupa. Wajahnya tak asing, meski waktu telah menorehkan garis-garis halus di sana.
Di kaki pohon beringin,
kabut pagi menggantung rendah,
membelai akar-akar yang menjulur,
dirawat oleh waktu dan bisu doa ribuan tahun.