Lompat ke isi

Rumah Sebelah

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas
Rumah Sebelah

“Tada… ini rumah baru kita” kata ayah dengan senyum merekahnya.

“Uwaa” aku melihat dengan takjub dengan menggenggam tangan ibu.

Aku berlari masuk dan menarik tangan ibu, ibu tertawa kecil sambil mengikutiku dari belakang. Aku melihat sekeliling dan melihat ada taman belakang yang cukup luas untuk aku bermain bola dengan sepupuku jika mereka berkunjung ke rumah ini. Ayah dan ibu berbagi tugas untuk merapikan dan membersihkan rumah agar lebih tertata sesuai dengan keinginan ibu. Aku masuk kek kamar yang langsung aku jadikan hak milikku. Aku bergegas mengambil barang- barangku dan mengemasnya agar kamarku sesuai dengan keinginanku. Dan tak lupa pula aku menempelkan poster- poster pemain bola kesukaanku. Aku sibuk terus merapikan dan tak terasa hari mulai gelap.

“Duk… Duk”, tiba- tiba ada suara seperti memukul dinding dari arah kamarku. Seperti bersebelahan dengan kamarku. Aku mengabaikan dan membiarkanya saja. Dan melanjutkan kegiatan, karena kau berjanji akan siap merapikan kamarku hari ini dengan ibu agar besok aku bisa bermain di taman sepuasnya bersama teman- temanku.

"Haru... ayo kesini makan, ibu masak rendang kesukaanmu. Tanpa jeda sedikit pun aku langsung lari menuruti permintaan ibu karena ini soal makanan yang tak akan aku abaikan. "Iya bu..." aku melepaskan lem yang sedangkan kupegang sebelumnya. Setelah, makan aku bergegas kembali ke kamar dan melanjutkan tugasku merapikan kamar. Dan lagi "Duk.. Duk" suara itu kembali terdengar. dan semakin lama kuabaikan semakin sering terdengar. Aku pun kali ini makin penasaran dan menempelkan telingaku ke dinding. "Duk" kali ini suaranya makin keras. Jantungku berdebar dan karena takut aku memutuskan untuk tidur bersama ayah dan ibu. Aku menceritakan kepada mereka tentang apa yang ku dengarkan dari dinding sebelah kamarku. Dengan entengnya ayah hanya menjawab mungkin itu tetangga sebelah. "Tapi tidak ada suara apapun yah, selain suara Duk, seperti bena tumpul yang dipukul ke dinding. "Sudah ayo kita periksa besok", kata ayah menenangkanku.

Keesokan harinya, Haru mengajak ayahnya untuk mendatangi rumah sebelah. "Halo..." panggil ayah agak sedikit teriak. aku berdiri disamping ayah sambil memegang bajunya. Selang beberapa detik keluarlah seorang perempuan tua sambil memegang tongkat ditangan kanannya datang menghampiri kami. "Iya... Nak ada apa?" tanya nenek itu. Ayah tersenyum an menyerahkan sekotak kue itu kepada nenek dan memperkenalkan dirinya. Aku masih berdiri disamping ayah dan cengkramanku ke baju ayah makin kuat. "Terima kasih, nak. Ayo masuk" sambil merima kue yang ayah berikan. aku masuk kedama mengikuti ayah. dan tiba- tiba lewat seoarang anak kecil dengan memegang sebuah bola. aku melihat kearahnya dan dia tersenyum. Nenek menghidangkan beberapa buah dan minuman untuk diminum. akupun memberanikan diri untuk bertanya dengan nenek. "Nek, apa nenek punya cucu laki", tanyaku dengan pelan. Nenek pun dengan pelan bangkit dari tempat duduknya. Nenek kembali dan membawa sebuah album foto dan memberikanya kepadaku. Aku membuka album itu dengan perlahan dan melihat anak laki- laki tadi yang membawa bola ditangannya. Tanganku bergetar dan langsung mengajak ayah pulang. Kami pun bergegas pulang. Sampai di rumah aku menceritakannya kepada ayah tentang apa yang kulihat.