Lompat ke isi

SANG PENGACARA RAKYAT/Bab 10 - Jejak Darah di Balik Pasal

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas

BAB 10 – JEJAK DARAH DI BALIK PASAL

[sunting]

Malam Pulang dari Senayan City

[sunting]

Langit malam Jakarta dipenuhi cahaya dari gedung-gedung. Ari menyetir sendiri, pikirannya masih terjebak dalam perdebatan bersama Rafael: tentang idealisme, sistem, dan harga yang harus dibayar untuk tetap menjadi manusia dalam dunia hukum yang semakin berlapis kepentingan.

Hampir tiba di apartemen, ponselnya bergetar. Nomor tak dikenal. “Ya, selamat malam. Dengan saya, Ari,” jawabnya.

Suara gemetar di seberang: “Pak Ari… saya butuh bantuan. Saya bukan pembunuh. Sumpah… saya cuma nolong korban kecelakaan, tapi malah dituduh membunuh. Sekarang saya jadi tersangka.”

“Siapa nama Anda?” tanya Ari. “Nama saya Rehan, Pak. Saya supir taksi online. Korbannya ibu muda. Saya lihat dia jatuh—kayak tertabrak motor. Saya angkat ke pinggir jalan… tiba-tiba orang ramai, ada yang teriak saya pelaku. Saya langsung dipukul, ditangkap, lalu ditahan.”

Kasus Heboh Masuk TV

[sunting]

Keesokan paginya, kasus Rehan meledak di media. Headline TV nasional menayangkan rekaman warga yang menggambarkan “pengemudi misterius” diduga pelaku pembunuhan. Wajah Rehan disensor, tapi narasi sudah terbentuk: “Pria yang mengaku menolong, kini jadi tersangka.”

Ari duduk di sofa, menatap layar TV. Nama kasus terpampang: “Kasus Ibu Muda dan Supir Online.”

Di tempat berbeda, Rafael menonton siaran dari co-working space. Ia langsung mengetik: “Lo pegang kasus Rehan itu?” Ari membalas singkat: “Iya. Gue nggak bisa diem.”

Bertemu Rehan di Tahanan

[sunting]

Hari itu, Ari mendatangi kantor polisi. “Nama saya Muhammad Ari Pratomo, pengacara Rehan,” tegasnya.

Di ruang tahanan, Rehan tampak lelah, wajah lebam. “Ceritakan semuanya. Detil. Sekecil apa pun,” pinta Ari.

Rehan menjelaskan: ia hanya menolong korban tabrak lari. Tapi warga terprovokasi, menuduhnya pelaku, lalu polisi menahannya. “Pak, saya cuma nolong. Saya bahkan kasih jaket saya buat nahan lukanya,” suaranya pecah.

Analisis Fakta: Ari Menyelidik

[sunting]

Malam itu, Ari kembali ke lokasi. Ia memeriksa CCTV toko terdekat: tampak motor matic melintas cepat sebelum Rehan muncul. Ia mencatat jam dan arah.

Saksi mata juga menguatkan: “Banyak warga terprovokasi. Ada yang langsung bilang, ‘Itu yang nusuk!’ padahal dia cuma pegang korban,” kata seorang tukang rokok.

Ari bergumam dalam hati: “Ini bukan sekadar salah tangkap. Ini tentang betapa cepat opini massa terbentuk, sebelum fakta bicara.”

Persidangan Dimulai

[sunting]

Kasus masuk pengadilan cepat. Jaksa bersikeras Rehan pelaku tunggal, sementara polisi mengabaikan CCTV motor mencurigakan.

Di sidang pertama, Ari berkata lantang: “Yang Mulia, hari ini bukan hanya nyawa klien saya yang dipertaruhkan. Tapi juga harga keadilan—apakah kita membiarkan opini publik menggantikan alat bukti?”

Fakta Demi Fakta

[sunting]

Ari menghadirkan ahli forensik: luka korban akibat benturan keras, bukan serangan langsung.

Saksi warga akhirnya mengaku ditekan. Seorang pengemudi ojek online juga bersaksi: “Bukan Pak Rehan, Pak. Saya lihat dia lari bantu ibu itu,” katanya sambil menangis.

Intervensi Rafael

[sunting]

Rafael mengikuti sidang lewat berita. Dalam hati ia berbisik: “Gila… Ari masih bisa segini tulusnya…”

Malam hari ia mengirim pesan: “Lo menangin satu kasus, rasanya lebih dari sepuluh kontrak internasional. Gue salut, Ri.” Ari menjawab pendek: “Ini bukan tentang menang. Ini tentang siapa yang masih peduli.”

Putusan Akhir

[sunting]

Hari putusan, ruang sidang penuh. Hakim mengetuk palu: “Majelis Hakim menyatakan terdakwa Rehan… tidak bersalah.”

Tangis Rehan pecah. Ia memeluk Ari erat. “Terima kasih, Pak. Terima kasih…”

Di luar sidang, masyarakat bersorak. Aktivis mengangkat spanduk: “Bukan Semua Yang Ditangkap Itu Bersalah.”

Kembali ke Balkon

[sunting]

Malamnya, Ari berdiri di balkon apartemen. Jakarta tetap gemerlap. Ia menatap langit, lalu berbisik pada dirinya sendiri: “Satu orang bebas. Satu nyawa diselamatkan. Mungkin ini kecil. Tapi bagi dia, ini seluruh hidupnya.”