SANG PENGACARA RAKYAT/Bab 11 - Konfrontasi dalam Sunyi
BAB 11 – KONFRONTASI DALAM SUNYI
[sunting]Kantor Hukum Kecil di Sudut Jakarta
[sunting]Beberapa hari setelah vonis bebas Rehan, kantor hukum Ari kembali sepi. Tak ada karangan bunga. Tak ada tepuk tangan. Tak ada tepuk bahu dari kalangan elite.
Yang datang hanya satu amplop lusuh, berisi surat tangan dari keluarga Rehan: "Terima kasih, Pak Ari. Anak-anak kami masih bisa melihat ayahnya pulang. Bukan karena pasal, tapi karena hati Anda."
Ari membacanya dalam diam. Hatinya hangat—namun juga sunyi. Sebab tak banyak yang tahu, bahwa di balik pembelaan penuh idealisme itu, ada tekanan diam-diam. Sponsor mundur. Undangan seminar dibatalkan. Teman lama menjauh, menganggapnya terlalu berpihak pada rakyat, bukan karier.
Di antara sunyi itulah, konfrontasi terjadi. Bukan di ruang sidang. Tapi di dalam hati sendiri: antara tetap berjalan di jalur sunyi… atau bergeser sedikit demi stabilitas, koneksi, dan reputasi yang lebih profesional.
Pesan dari Rafael: Sebuah Ajakan Kedua
[sunting]Suatu sore, pesan dari Rafael muncul. "Ri, besok gue mau ke kantor lo. Gue bawa klien penting, mungkin lo bisa bantu. Tapi gue juga mau ngobrol. Ada hal yang masih mengganjal."
Ari membalas singkat: "Datang saja."
Keesokan harinya, Rafael benar-benar datang. Tanpa klien. Hanya membawa satu folder, dan satu kantong kopi favorit Ari.
Mereka duduk di ruang konsultasi kecil yang dindingnya penuh buku hukum tua. Tak ada aroma wangi karpet firma elite. Tak ada resepsionis. Hanya suasana apa adanya—dan sunyi.
“Ari,” kata Rafael setelah menaruh kopi. “Gue masih nggak habis pikir... Lo benar-benar nolak segalanya demi kasus kayak Rehan?”
Ari tidak langsung menjawab. Ia menatap rak buku. Beberapa lembar pasal usang menempel di dinding. “Raf,” katanya akhirnya. “Hukum itu bukan bisnis, meski kita bisa menghasilkan dari sana. Tapi saat dia kehilangan jiwa, maka yang kita kerjakan hanya menjual pasal demi pasal. Sama seperti birokrat yang menjual tanda tangan.”
Rafael Melawan
[sunting]Rafael mengangguk pelan, lalu duduk lebih dekat. “Tapi sistem ini keras, Ri. Dan kadang idealisme lo itu... menyiksa diri sendiri. Gue cuma takut lo habis, lo hancur. Hati lo kehabisan bensin. Terus siapa lagi yang bisa bantu mereka nanti?”
Ari menatap sahabatnya. “Gue juga pernah takut. Tapi takut kehilangan hati jauh lebih buruk daripada kehabisan uang.”
Rafael mendesah. “Gue bukan musuh lo, Ri. Gue cuma ingin lo lebih kuat. Tapi lo memilih jalan yang... sunyi banget. Sendiri.”
Ari tersenyum kecil. “Dan justru dalam sunyi itu, gue bisa dengar suara yang paling jujur: nurani.”
Konfrontasi Emosional: Teman vs Prinsip
[sunting]Suasana mengental. Rafael menatap Ari tajam, untuk pertama kalinya terlihat frustrasi. “Jadi lo nganggap semua yang kerja di firma besar itu udah jual diri?”
“Gue nggak bilang gitu,” jawab Ari pelan. “Tapi gue percaya satu hal: semakin besar uang yang masuk, semakin kecil ruang bagi kebenaran bicara. Kecuali lo benar-benar siap kehilangan sebagian dirimu.”
Sunyi. Rafael menunduk. “Lo tahu, waktu gue di Amerika, dosen gue pernah bilang: ‘Some lawyers save the world, others protect it from changing.’ Dan gue baru ngerti sekarang... mungkin lo yang pertama.”
Ari bangkit, mengambil dua gelas, menuang air putih, lalu duduk kembali. “Kita nggak harus jadi sama, Raf. Tapi kita harus saling jaga. Kalau suatu hari lo lupa siapa lo dulu, biar gue yang ingetin. Dan kalau gue lelah, biar lo yang tarik gue lagi.”
Rafael tertawa pahit. “Itu artinya kita konfrontasi selamanya?” Ari mengangguk. “Tapi konfrontasi yang lahir dari cinta.”
Menutup Hari, Menyimpan Tekad
[sunting]Rafael pamit sore itu. Sebelum pergi, ia berkata: “Kalau satu hari nanti dunia ini berubah... semoga suara lo masih nyala. Karena gue akan butuh itu.”
Ari menjawab: “Kalau suatu hari nanti lo bisa kendalikan sistem dari dalam... pastikan rakyat kecil tetap punya pintu masuk. Jangan tutup semua jalur.”
Mereka bersalaman. Sunyi. Tapi hangat.