Lompat ke isi

SANG PENGACARA RAKYAT/Bab 12 - Jalan yang Tak Bertanda

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas

BAB 12 – JALAN YANG TAK BERTANDA

[sunting]

Ketika Langkah Tak Lagi Punya Papan Petunjuk

[sunting]

Pagi itu, Jakarta baru saja diguyur hujan. Jalanan basah, dan kabut tipis masih menggantung di jendela kantor kecil milik Ari. Tidak ada agenda pasti hari itu, tidak juga ada perkara baru yang masuk. Tapi justru di saat sunyi itulah, Ari merasa gelisah. Ada kegamangan yang tidak ia mengerti sepenuhnya.

Ia berjalan mondar-mandir di ruang kerjanya, membuka kembali tumpukan berkas kasus Rehan yang sudah resmi ditutup. Semua berkas telah rapi. Namun di satu sisi batinnya, belum ada yang benar-benar selesai.

"Setelah ini… apa?" gumamnya dalam hati.

Tidak ada sorotan media lagi. Tidak ada panggilan wawancara. Bahkan Rafael, sahabatnya, tidak lagi mengirim pesan selama seminggu terakhir. Dunia terasa diam. Dan diam itu, bagi Ari, jauh lebih menantang daripada hiruk pikuk pengadilan.

Pertemuan dengan Seorang Mahasiswa

[sunting]

Siang hari, seorang mahasiswa hukum dari universitas negeri datang menemuinya. Namanya Satria. Ia datang membawa catatan tangan dan raut wajah penuh semangat.

“Pak Ari… saya menulis skripsi tentang idealisme dalam profesi advokat. Saya ingin wawancara Bapak.”

Ari menyambutnya dengan hangat, meski dalam hati masih merasa kosong. “Kenapa kamu pilih tema itu?” tanya Ari sambil menyuguhkan teh hangat.

Satria menjawab cepat, “Karena saya takut, Pak. Takut kalau nanti setelah lulus, saya justru jadi bagian dari sistem yang menggilas orang-orang kecil. Saya lihat banyak pengacara pintar, tapi... hanya sedikit yang berani tetap jujur.”

Ari tersenyum tipis. “Lalu kamu pikir saya termasuk yang sedikit itu?” Satria mengangguk. “Saya mengikuti semua berita kasus Pak Rehan. Dan saya tahu Bapak tak dibayar. Tapi tetap maju.”

Ari menatap mata mahasiswa itu dalam-dalam. Dalam kejujuran tatapannya, Ari melihat dirinya sendiri… dua puluh tahun lalu.

Percakapan Tentang Pilihan yang Tak Punya Petunjuk

[sunting]

Ari mulai bicara. “Menjadi pengacara itu… aneh. Kita diberi buku tebal, pasal, yurisprudensi, bahkan prosedur teknis. Tapi tidak ada satu pun dari semua itu yang memberi tahu bagaimana cara tetap manusia di tengah tekanan.”

Satria mencatat dengan cepat.

Ari melanjutkan, “Dan yang lebih berat, kita sering berjalan di jalan yang tak bertanda. Tidak ada penunjuk arah mana yang benar. Kadang, perkara yang terlihat kecil justru menyelamatkan banyak orang. Kadang, perkara besar hanya membanggakan diri tapi kosong makna.”

Satria mengangguk perlahan. “Lalu bagaimana Bapak memilih?”

Ari memandang ke luar jendela, ke jalanan kecil yang masih basah. “Gue memilih untuk mendengar suara paling sepi—yang sering diabaikan: hati nurani.”

Ketika Ragu Adalah Bagian dari Jalan

[sunting]

Setelah Satria pergi, Ari duduk sendiri. Ia memandangi pantulan bayangan dirinya di kaca. Untuk pertama kalinya, ia berani mengakui bahwa selama ini ia juga takut. Takut gagal. Takut salah jalan. Takut menjadi idealis yang kelelahan sendiri.

Tapi ia juga tahu… bahwa berjalan di jalan yang tak bertanda bukan berarti tersesat. Kadang, itu hanya berarti… kita sedang menciptakan jalur baru. Jalur yang belum dinamai, tapi akan dikenang.

Rafael Mengirim Pesan Lagi

[sunting]

Malam itu, setelah seharian dalam renungan, sebuah pesan masuk dari Rafael:

"Ri, gue nonton ulang sidang Rehan dari YouTube. Gila... gue jadi ingat kenapa kita dulu masuk fakultas hukum. Dunia ini butuh lebih banyak orang yang mau jalan di tempat yang nggak nyaman. Thanks udah tetap di sana."

Ari membaca pesan itu pelan. Tidak membalas. Tapi di dalam dadanya, ada kedamaian kecil yang mengendap.

Karena pada akhirnya, jalan tanpa tanda itu bukan berarti gelap. Tapi tempat di mana cahaya kecil dari dalam diri kita... punya ruang untuk menyala.

Penutup

[sunting]

“Dalam hukum, tidak semua keputusan tertulis di pasal. Kadang, keputusan terpenting justru dibuat saat tak ada yang melihat, tak ada yang membimbing, dan tak ada jalan yang jelas. Di situlah nurani diuji. Dan di situlah, hukum menemukan kembali jiwanya.”