Lompat ke isi

SANG PENGACARA RAKYAT/Bab 13 - Hukum dalam Bahaya

Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas

BAB 13 HUKUM DALAM BAHAYA

[sunting]

Pagi yang Hening, Namun Penuh Kekhawatiran

[sunting]

Mentari pagi baru menyentuh kaca jendela kantor hukum Ari. Kota Jakarta baru saja bangun, tapi hati Ari justru resah. Seperti ada sesuatu di udara yang terasa berbeda. Ia membuka laptop, dan seketika dahi Ari berkerut membaca headline besar di portal hukum nasional:

“RUU Advokat Baru Dikebut: Sistem Multibar Akan Disahkan, Organisasi Advokat Tak Lagi Satu.”

Tangannya gemetar. Ia membaca cepat isi naskah berita itu. Intinya: dalam waktu dekat, para advokat tidak lagi bernaung di bawah satu organisasi tunggal. Setiap kelompok bisa membentuk bar-nya sendiri. Otoritas etik akan tersebar. Pengawasan akan menjadi relatif. Dan disrupsi akan masuk dalam nama “kebebasan berorganisasi”.

Tapi Ari tahu... ini bukan sekadar kebebasan. Ini jalan pelan menuju kekacauan.

Telepon dari Seorang Rekan Senior

[sunting]

Tak lama, ponselnya berdering.

“Lo udah baca RUU-nya?” suara Pak Bram, advokat senior yang disegani. “Baru saja. Dan saya… kecewa.” “Multibar ini… akan memecah profesi kita, Ri,” ujar Bram. “Tidak ada standar tunggal. Siapa pun bisa bikin organisasi, kasih stempel, dan pengacara pun lahir. Tanpa proses etik yang terkontrol. Tanpa landasan idealisme bersama.” Ari menatap jauh ke jendela. “Dan pada akhirnya, profesi ini kehilangan identitasnya.”

Edukasi: Apa Itu Multibar dan Mengapa Bisa Bahaya

[sunting]

Hari itu, Ari menyiarkan video di kanal pendidikannya dengan judul: “Multibar dan Masa Depan Profesi Advokat: Kemerdekaan atau Kekacauan?”

Dalam video itu, ia bicara: “Multibar, secara konsep, memang tampak demokratis. Bebas memilih organisasi. Tapi hati-hati: ketika semua bisa membuat organisasi sendiri, maka pengawasan etik menjadi relatif. Hari ini satu pengacara ditegur, besok ia pindah organisasi yang lebih longgar.”

Ia melanjutkan: “Standar profesi akan terfragmentasi. Pendidikan berkelanjutan tidak seragam. Sanksi etik menjadi negosiasi, bukan refleksi moral. Dan pada akhirnya, yang rugi adalah publik. Mereka tidak lagi tahu siapa pengacara yang benar-benar menjunjung integritas.”

Komentar dan Reaksi

[sunting]

Video Ari menyebar cepat. Banyak advokat muda mulai menyadari bahwa multibar bukan hanya soal hak—tapi juga soal tanggung jawab.

Komentar membanjir:

  • “Terima kasih Pak Ari, saya baru sadar risikonya. Awalnya saya pikir multibar itu keren.”
  • “Kalau begini, siapa yang lindungi publik dari oknum pengacara? Kalau semua bar bisa bentuk sendiri?”

Namun, seperti biasa, tak semua respon positif. Beberapa organisasi pendukung multibar menyerang balik, menyebut Ari sebagai “penghalang kemajuan”.

Tapi Ari tidak gentar.

Dialog dengan Rafael: Pandangan Berbeda

[sunting]

Malam itu, Rafael kembali menelepon. Kali ini suaranya lebih hati-hati.

“Ari, lo yakin ini bukan arah demokrasi yang sehat?” “Bukan soal demokrasi, Raf. Tapi soal arah. Kalau organisasi advokat jadi seperti ormas—bisa dibentuk siapa saja, standar bisa dinego, etik bisa dibeli—itu bukan demokrasi. Itu pasar.” Rafael terdiam. Lalu berkata, “Tapi sistem satu bar juga punya banyak masalah.” Ari mengangguk. “Betul. Tapi memperbaiki satu bar bukan berarti menghancurkan semuanya. Kalau fondasi retak, kita perkuat. Bukan dibikin serpihan.”

Sunyi yang Panjang dan Bahaya yang Nyata

[sunting]

Hari-hari berikutnya, RUU itu terus dibahas. Ari menolak undangan forum politik yang hanya menjadikannya simbol. Ia lebih memilih berbicara lewat edukasi, tulisan, dan komunitas kecil.

Ia sadar, suara sunyi kadang lebih jernih daripada teriakan panggung.

Dan dalam sunyi itu, Ari kembali menulis: “Hukum tidak sedang mati. Tapi ia sedang diambang krisis identitas. Dan krisis ini tak bisa kita biarkan jadi biasa. Karena saat hukum tak lagi punya arah, maka yang memimpin adalah kekuasaan. Dan kekuasaan tanpa hukum... adalah ketakutan.”

Ketika Profesi Tak Lagi Punya Satu Cermin

[sunting]

Di sore hari yang murung, Ari kembali duduk di ruang kerja, memandangi cermin kecil yang tergantung di dinding. Ia teringat satu hal yang pernah dikatakan dosennya di kelas etika hukum dua dekade silam:

“Profesi itu butuh satu cermin—tempat di mana setiap anggota bisa bercermin dan melihat nilai yang sama. Kalau cerminnya pecah, maka kita semua hanya melihat bias.”

Dan kini, dengan multibar, Ari sadar… profesi advokat akan kehilangan cermin itu.

“Jika setiap organisasi membuat standar etik sendiri, maka tidak ada lagi ukuran yang sama. Yang salah di sini, bisa dianggap benar di sana. Dan yang benar bisa dimusuhi hanya karena memilih ‘cermin’ yang berbeda.”

Ilmu yang Perlu Dipetik: Mengapa Organisasi Profesi yang Kuat Itu Penting

[sunting]
  • Standar Etik Tunggal: Jika satu profesi punya banyak organisasi tanpa standar bersama, maka tidak ada kontrol yang adil. Ketika pengacara melakukan pelanggaran, dia cukup ‘pindah bar’—dan lolos dari tanggung jawab.
  • Pendidikan dan Pembinaan Konsisten: Organisasi tunggal bisa mengarahkan visi bersama, memperbarui kurikulum etika, menggelar pelatihan yang setara untuk semua. Dalam multibar, pelatihan bisa jadi formalitas, bahkan jual beli sertifikat.
  • Kepentingan Publik Dilindungi: Masyarakat awam tidak memahami perbedaan antar organisasi. Mereka hanya tahu satu kata: “pengacara”. Ketika pengacara buruk merusak nama profesi, yang tercoreng bukan hanya organisasinya—tapi seluruh kepercayaan publik.
  • Kemerdekaan Profesi dari Kekuasaan: Jika organisasi terpecah, maka akan lebih mudah dikendalikan oleh kekuasaan politik. Organisasi kecil cenderung bergantung pada sponsor atau afiliasi. Akhirnya, pengacara tidak lagi netral—tapi menjadi alat.

Tanggung Jawab Seorang Advokat Bukan Hanya pada Klien, Tapi Juga Bangsa

[sunting]

Ari menulis di papan tulis putih kecilnya: “Advokat bukan hanya bertanggung jawab membela klien. Ia juga bertanggung jawab menjaga wibawa hukum, martabat profesi, dan kepercayaan masyarakat.”

Ia merenung, lalu menambahkan: “Dan yang paling berbahaya… bukan ketika pengacara bersalah. Tapi ketika pengacara berhenti peduli.”

Refleksi: Hukum Tak Akan Pernah Lebih Baik dari Moral Pengacaranya

[sunting]

Malam itu, di antara berita politik dan gosip selebritas, Ari menonton ulang sidang etika lama yang ia ikuti sebagai peninjau. Dalam video itu, seorang pengacara muda dihukum karena terbukti memanipulasi bukti untuk memenangkan klien kaya.

Komentarnya saat itu terekam: “Hukum tidak akan pernah lebih agung dari moral orang yang menegakkannya.”

Dan malam itu, Ari kembali merasakan keyakinannya diperkuat: bukan multibar atau satu bar yang menyelamatkan hukum, tapi kesadaran moral kolektif.

Namun ia tahu, kesadaran moral tidak tumbuh di ruang politik… melainkan dari pembacaan yang jujur, pendidikan yang konsisten, dan suara yang tak berhenti mengingatkan—meski sering diabaikan.

Ari menyalakan mikrofon podcast-nya. Malam itu, ia bicara langsung ke pendengarnya:

> "Kalau kamu mahasiswa hukum, atau pengacara muda yang sedang bingung melihat ke mana arah profesi ini, dengarkan ini baik-baik: Jangan sibuk membela eksistensimu, sebelum kamu bisa membela nuranimu. Karena kalau kamu membiasakan membela apa yang salah hari ini… kamu akan terbiasa membenarkan yang sesat besok."

> "Dan kalau kita diam saat hukum dibelokkan, kita sedang membantu mereka yang ingin mematikan hukum itu dari dalam."

> "Hukum dalam bahaya, bukan karena ia tak tertulis. Tapi karena ia ditulis ulang oleh mereka yang tak lagi menjunjung keadilan. Maka tetaplah jadi suara di tengah sunyi. Karena suara itu mungkin satu-satunya yang tersisa… untuk menjaga agar hukum tetap hidup."